SANG PEWARIS HAVILAH

SANG PEWARIS HAVILAH
SATU


__ADS_3

Pada sore bulan November yang panas itu, sebelum libur Natal dimulai, Olivia kembali ke apartemen trendinya ditengah kota dan melihat lampu di mesin penjawab teleponnya berkedip-kedip. Ia menekan tombol sambil bersandar santai dikonter dapur untuk mendengarkan pesan-pesan itu. Sambil menunggu, Olivia menendang lepas sepatunya, berpikir ingin berenang santai dan beristirahat.


Olivia memandang surat-suratnya, memilah-milah dengan cepat. Ia sangat menantikan liburan musim panas panjang ini. Tahun ini benar-benar melelahkan. Gadis-gadis remaja jelas tidak mudah dihadapi. Terutama mereka yang telah mengenal percintaan.


 


Ada kartu pos dari teman yang selalu mengunjungi tempat-tempat eksotis dunia kali ini Peru, karena kartu posnya bergambar reruntuhan Machu Picchu; setumpuk undangan ke acara dan pesta Natal; tagihan telepon disertai buklet berisi berbagai petunjuk; surat ucapan terima kasih atas sumbangan Natal yang ia berikan pada yayasan amal yang mengkhususkan diri membantu keluarga--keluarga yang membutuhkan. Olivia membantu dengan senang hati, bahkan merasa itu merupakan kewajibannya.


Kariernya sebagai guru sekolah menengah cukup sukses. Ia berhasil mengajar dengan baik di Ormiston Girls Grammar yang bergengsi tiga tahun lalu, seolah pekerjaan itu memang tercipta untuknya. Ia memperoleh gaji lumayan dan memiliki harta pribadi. Jadi kenapa ia tidak memberikan sesuatu kepada masyarakat? Ia juga mengirimkan cek pada beberapa yayasan amal lain.


 


Pesan pertama yang terekam berasal dari Matt Edwards yang beberapa kali berkencan dengannya. Matt ingin tahu apakah Olivia berminat menikmati akhir pekan romantis di resor pantai Noosa yang mewah diSunshine Coast. Ia harus mempertimbangkan tawaran itu dulu. Olivia senang menghabiskan waktu bersama Matta. Pria itu menarik, tapi sayangnya tidak memikat. Hanya sedikit pria yang memikat, dan itu lebih baik demi para wanita karena pria-pria memikat dapat berubah menjadi berbahaya dalam sekejap. Lebih baik memilih pria yang setia dan tenang, pikir Olivia.


Sebenarnya Matt cukup menarik, dengan selera humoris sedikit sinis yang cocok bagi Olivia. Matt hampir mendapatkan reputasi yang sangat baik sebagai pengacara korporat. Dia juga baru membeli mobil mewah dan dengan ajaibnya mengizinkan Olivia mengendarai mobil itu mengelilingi blok. Jarang sekali ada pria yang menghargai kemampuan mengemudi wanita, apalagi kecerdasannya, tapi Matt memang menghabiskan sebagian besar energi untuk menenangkan hati Olivia dengan niat mengajaknya menikah. Sayangnya, Matt tidak berhasil. Olivia tahu ia takkan pernah mencintai pria itu.


Olivia tahu banyak tentang cinta jenis cinta yang membuat seorang bahagia atau hancur. Pilihannya surga atau neraka, tak ada pilihan diantara keduanya. Daya tarik biasa tak ada artinya setelah mengalami cinta seperti itu. Sebentar lagi Olivia harus memberitahu Matt bahwa dia menyia-nyiakan waktu yang berharga. Olivia tak bisa berkomitmen. Mungkin semua itu berakar dari fakta bahwa dirinya pernah nyaris menikah. Kadang, saat lelah atau tertekan, tanpa sadar Olivia teringat akan kenangan ketika merasa dirinya akan selalu sendirian. Dulu ia menggunting gaun pengantin dan kerudungnya, lalu seminggu kemudian memotong rambut panjangnya. Tak ada lagi pria yang akan menyusurkan jemari dirambutnya.


"Liv, kau sengaja menjauhkan para pria!" Itulah kata temannya, Julie sering berniat membuatnya jengkel. Masalahnya, sulit sekali melupakan cinta bahkan setelah cinta itu berakhir.


Pesan kedua berasal dari ibu salah satu siswa yang sangat bermasalah dalam pelajaran Matematika, yang sering sekali keluar kelas dengan marah-marah. Olivia tak mau menoleransi hal itu. Ibu siswa itu berterimakasih padanya karena memperoleh "hasil yang baik dengan Charlotte"; pesan ketiga dari rekan kerja yang belum lama menikah yang mengundang Olivia dan Matt makan malam" Aku pulang lebih cepat, Nak! Kau benar-benar populer."

__ADS_1


Pesan terakhir membuat Olivia sangat terkejut. Pembuka surat terjatuh dari tangannya yang lemas, berdenting dilantai. Olivia bergegas mendekati mesin penjawab telepon, jantungnya berdetak liar, seakan menunggu kabar buruk yang menurut nalurinya akan segera terdengar.


Suara itu terdengar seakrab suaranya sendiri, tapi yang terdengar bukan suara penuh sayang dan menyenangkan seperti biasa. Grace Gordon, pengurus rumah tangga keluarga Harry selama bertahun-tahun, terdengar sangat cemas. Kata- katanya terucap begitu cepat sehingga Olivia kesulitan mendengar apa yang sebenarnya Grace ucapkan.


 


"Livvy, ini aku. Ini Gracie, Sayang." Suara Grace memenuhi dapur kecil itu dengan sangat keras, bergema disepanjang lorong. "Livvy, kau harus pulang."


 


Olivia memejamkan mata erat-erat. Ada masalah apa? Olivia segera menyadari pasti sesuatu terjadi pada Harry. Padahal Harry sangat sehat untuk ukuran pria berumur tujuh puluhan.


"Sesuatu yang buruk terjadi." Kata-kata itu terdengar serak ditelepon. "Aku tak bisa menghubungimu di sekolah. Ada wanita mengerikan dia kasar sekali bilang bahwa kau sedang rapat dengan kepala sekolah dan tidak bisa diganggu. Aku tak suka menjadi pembawa berita buruk, Sayang." Ada jeda saat suara Grace tersekat isak tangis, "Ini sikap Paman Harry-mu,"Grace meratap, memastikan ketakutan terburuk Olivia."Dia kena serangan jantung berat. Dia meninggal, Livvu! Jam tiga sore ini saat aku menyiapkan teh untuknya. Kejutan yang sangat menyedihkan kejadiannya tiba-tiba sekali. Tadinya dia baik-baik saja. Jason begitu baik. Pria itu seperti pilar kekuatan kami."


Dengan segera Olivia merasa lukanya terbuka kembali. Ada beberapa orang bernama Jason disana? Nama itu menyentaknya lagi dengan kuat. Olivia terhuyung dan bersandar pada konter berlapis granit, meletakkan sebelah tangan ke dadanya yang berdebar kencang. Apa yang dilakukan Jason di Havilah? Pria itu tak berhak memperlihatkan wajah lagi disana!


"Pulanglah, sayang,"Grace memohon, tak mampu mengendalikan tangisan."Jason tahu kau pasti ingin mengatur pemakaman Harry. Tolong balas teleponku, Sayang, secepatnya. Aku minta maaf karena suaraku kacau sekali, tapi aku sangat sedih."


Dan bagaimana denganku? Dalam kebingungan Olivia berhasil melangkah ke ruang tamu, meninggalkan surat-suratnya tergeletak berantakan dilantai dapur. Ia terduduk ke kursi, merasa tertohok. Harry meninggal. Jason seperti pilar kekuatan. Sepertinya ada hal aneh yang terjadi. Bagaimana dana kenapa Jason ada di Havilah? Bukankah Jason menjadi pengelola perternakan diOutback, tinggal bersama istri dan anaknya? Ternyata Jason kembali. Tapi kenapa? Yang lebih penting, kenapa Harry tidak memberitahuku? pikir Olivia.


Karena Harry tahu bicara mengenai Jason akan sangat melukai hatiku, kata suara hati Olivia. Dulu Jason Corey membuat Olivia terluka sangat dalam. Bertahun-tahun lalu, saat berumur dua puluh tahun, Olivia merasa hidupnya berakhir saat tunangannya Jason meninggalkannya semalam sebelum pernikahan mereka. Sekarang ini pada usia 27 tahun, Olivia mengira telah berhasil membebaskan diri dari kepedihan dan rasa malu itu. Tapi ia hanya perlu mendengar nama itu, dan semuanya kembali. Kesedihan dan kepahitan seakan menuruni pipi Olivia dalam bentuk air mata.

__ADS_1


"Jason seperti pilar kekuatan."


Bahkan dari cara Grace mengucapkan kalimat itu sejak dulu Olivia tahu itu pasti Jason-nya.


Jason-nya? Olivia merasakan tikamana benci pada diri sendiri karena bahkan dalam keadaan setertekan ia kembali memikirkan jason dengan cara demikian. Jason tak pernah menjadi miliknya. Bahkan saat pria itu menyatakan cinta padanya, dia tidur dengan wanita lain , Menghamili wanita itu. Olivia percaya sepenuhnya pada Jason dan ia takkan pernah memaafkan pria itu. Seperti ia juga takkan pernah memaafkan Megang Duffy yang dulu merupakan teman masa kecil sekaligus salah satu dari empat gadis yang akan menjadi pengiring pengantin wanita.


Sekarang nama wanita itu Megang Corey, istri Jason, ibu anak mereka. Mungkin mereka punya anak lebih dari satu karena Jason jelas sangat maskulin. Tak ada yang akan memberitahu Olivia soal itu. Semua orang tahu Olivia tak ingin tahu. Dalam pandangan Olivia, Jason dan Megan hanyalah trauma masalalu. Karena Itulah Olivia tidak percaya Harry membiarkan Jason kembali ke Havilah. Saat Olivia menderita, Harry juga menderita. Paman Harry-nya yang merupakan paman Harry membesarkan Olivia sejak orangtuanya meninggal dalam kecelakaan kereta apai saat ia berumur sepuluh tahun. Harry tak pernah menikah, tak seorang pun, bahkan Harry sendiri, tahu alasannya dan dia mewarisi rumah keluarga, tanah Pertanian Havilah di daerah tropis Quennsland Utara. Keluarga Linfield merupakan perintis industri gula, terutama karena sebagian besar produksi gula nasional disumbangkan oleh daerah tropis Utara. Dulu, Havilah menjadi tuan rumah acara peringatan Kapten Louis Hope, yang dianggap sebagai bapak industri gula. Lahir di Skotlandia. Kapten Hope mendirikan perkebunan tebu pertama tepat diluar Brisbane pada awal tahun 1860-an. Sejak saat itu industri gula berkembang pesat sehingga setiap tahunnya Australia berhasil menjual 40 juta ton gula mentah berkualitas tinggi ke pasar dunia. Sejak dulu keluarga Linfield sangat bangga dengan keturunan mereka. Ketika membuat surat wasiat, orangtua Olivia menujuk Harry sebagai walinya bila sesuatu terjadi pada mereka. Saat itu, keputusan tersebut merupakan tindakan masuk akal. Orangtua Olivia selalu digambarkan sebagai "Keluarga muda Linfield yang glamor".


Mereka kaya dan diberkahi wajah menawan. Mereka menyandang nama keluarga dengan bangga dan benar-benar berniat hidup hingga usia tua.


Ternyata itu bukan takdir mereka. Kematian datang setelah dua belas tahun masa pernikahan yang romantis, saat mereka masih berusia tiga puluhan Sama seperti keluarga miskin, keluarga kaya takkan luput dari kematian. Tiga anak lelaki keluarga Linfield meninggal saat berjuang untuk sekutu dalam dua Perang Dunia.


Olivia nyaris tak percaya bahwa kurang dari seminggu lalu ia masih bicara dengan Harry. Kadang ia menelpon beberapa kali dalam seminggu, terutama sejak Paman Harry semakin tua, tapi kegiatan akhir tahun di sekolah membuatnya sangat sibuk. Kadang ia merasa benar-benar perlu melihat Havilah lagi, tapi tahu dirinya takkan tahan. Terlalu banyak kenangan.


Ia lelah menderita. Dulu, rencananya resepsi pernikahan Olivia akan diadakan di lumbung besar Havilah. Harry telah mengubah lumbung tersebut menjadi aula pesta sekaligus Ballroom yang sangat luar biasa, dengan lantai kayu cemara musim semi. Setiap detail terakhir telah direncanakan dengan sempurna. Harry mengeluarkan biaya tanpa batas, semua orang begitu gembira sehingga udara pun begitu terasa manis. Seakan pernikahan tersebut memang direstui surga. Dulu, terkadang Olivia mengira tak mungkin bisa merasakan kebahagiaan sebesar itu. Olivia memuja Jason.Ia tak bisa bertahan hidup tanpa pria itu. Ia tertarik pada Jason. Dan Jason tertarik padanya.


Ternyata semuanya bohong. Jason, citra cinta sejati yang sempurna itu, ternyata hanyalah pembohong.


Sekarang Harry-nya yang tercinta, yang mengetahui semua trauma dan keberhasilan Olivia, telah pergi. Olivia memikirkan betapa baik pamanya selama ini, benar-benar terlibat dalam setiap aspek hidupnya. Pendidikan Olivia sangat baik, ia lulus dari universitas dengan gelar di bidang pendidikan saat berusia dua puluh tahun. Ia yakin dapat memperoleh posisi disalah satu sekolah tinggi distrik ini selama beberapa tahun sebelum ia dan Jason mulai membangun keluarga. Setelah anak-anak yang sangat mereka dambakan cukup besar, ia dapat melanjutkan kariernya kembali.


Mimpi! Tapi bagaimana aku bisa tahu bahwa justru yang sebaliknya yang akan terjadi? Semua orang disekeliling Olivia yakin Jason tergila-gila padanya, mencintainya tanpa bisa berubah. Terbukti dari mata Jason saat menatapnya! suara Jason saat bicara kepadanya.

__ADS_1


"Dia memujamu!"Atau begitulah yang dulu selalu dikatakan orang banyak.


Mengerikan sekali saat tahu hanya waktu semalam bahwa Jason sudah mulai membangun keluarga dengan Megan Duffy. Sebagai gadis pendiam.


__ADS_2