
Jason berusaha keras menahan perasaannya yang juga teraduk-aduk. Saat remaja, Olivia memang manis. Tetapi setelah dewasa, wanita itu jadi amat sangat cantik.Setiap bagian wajah wanita itu tampak semakin jelas. Seandainya aku bisa mengatakan betapa cantiknya diam pikir Jason. Tetapi tentu saja ia tak bisa melakukan itu. "Ibuku meninggal, Olivia, "jelas jason. "Kejadiannya lebih dari dua tahun lalu. Aku pulang agar bisa menemaninya pada saat-saat terakhir."
"Aku ikut berduka."Olivia menunduk, tidak senang karena tak bisa menawarkan simpati yang lebih layak." Aku suka ibumu. Aku tak pernah berselisih dengannya, begitu juga sebaliknya. Dan setelah ibumu meninggal, kenapa kau tidak kembali ke Outback?"
"Karena Harry menawariku pekerjaan,"balas Jason.
"Suatu hari kami bertemu secara tidak sengaja. Aku bicara, Harry mendengarkan. Sejak dulu Harry memang pendengar yang baik dan sangat adil. Dua tahun terakhir ini, aku mengelola Havilah dan bisnis-bisnis lain yang menjadi minat Harry."
Potongan berita itu pasti akan membuat Olivia hancur bila ia belum sehancur ini. "Dan Harry tak pernah mengatakan apa-apa padaku." Pikiran itu membuatnya sangat marah.
"Harry tak mau berbohong ataupun berpura-pura."
Mata Jason seakan membakar wanita itu. Olivia mengenakan kemeja sutra dan rok berwarna keunguan, seperti bunga jacaranda. Warna lavender terang itu memantul dimata Olivia. "Harry tahu bagaimana kau akan bereaksi," tambah Jason tenang.
Olivia tak tahan berada begitu dekat dengan Jason. Ia berbalik, melangkah menuju pintu kaca, menatap hampa ke arah kebun.
"Kepikir Harry menyayangiku." Terdengar kesedihan dalam suaranya.
"Kau segalanya bagi Harry,"Jason memprotes, dengan segenap hati dan jiwanya. Ia tak sanggup melihat Olivia tampak begitu dikhianati.
Olivia menggeleng, gerakannya nyaris kasar."Dia mengizinkanmu kembali dalam hidupnya," tegar Olivia sinis.
Mata Jason tampak sangat menderita. "Harry memaafkanku Olivia. Dia tahu seperti apa hidupku setelah aku kehilangan dirimu."
Olivia berbalik, matanya berkilau seperti permata."Oh, bagus sekali!"dengus Olivia sengit. "Kau menikahi orang lain, Jason. Ingat? Kau punya anak perempuan dengan wanita itu. Apakah ada anak lain?"
"Hanya Thalia,"ujar Jason, ekspresinya berubah menjadi sedih.
"Seharusnya Harry tidak melakukan itu," Sekali lagi Olivia sakit hati karena dikhianati. Bukankah pada akhirnya pria akan berpihak pada sesama pria?
Sejak dulu Harry memang menyayangi Jason yang tak memiliki ayah lagi.
__ADS_1
"Tapi Harry melakukannya," tegas Jason datar.
"Bukan sekedar tindakan baik hati, meskipun Harry memang sangat baik. Ketika itu Harry mencapai tahap dalam hidupnya ketika dia sangat butuh bantuan. Dia tahu aku mampu menangani pekerjaan tersebut. Aku sangat terlibat dalam seluruh operasional Linfield, Liv. Aku tidak yakin kau mampu menemukan orang yang lebih baik, atau yang bisa bekerja lebih keras, dariku."
"Tapi aku jelas akan mencoba!" balas Olivia pedas.
"Tentunya aku tahu suatu hari nanti kau harus pergi, bukan?" Olivia tak mampu menahan anda kemenangan dalam suaranya.
Jason mengangguk lalu mendongak, menampakkan wajahnya yang murung. "Tentu, dan aku siap pergi, Olivia. Aku tak bisa membahayakan apa pun yang lebih buruk daripada berkeliaran disini dan terus-menerus dikritik olehmu. Aku bekerja untuk Harry. Mencoba bekerja untukmu pasti sangat berbeda. Duluzp Harry butuh orang yang dia percaya untuk menjalankan bisnisnya. Otak bisnisku cukup baik dan kami berhasil mengubah gagasan-gagasan progresifku menjadi keuntungan. aku banyak melakukan perubahan baik disini Harry menghargai usahaku. Aku akan selalu berterima kasih padanya karena memberikan kesempatan kedua. Baginya, ini tidak selalu mudah. Harry tidak suka karena harus menutupi hal ini, tapi dia sangat memahami perasaanmu. Faktor terpenting adalah bahwa Harry mencapai tahap ketika dia butuh bantuan. ternyata bantuankulah yang dia butuhkan."
"Itu bantuan yang takkan dibutuhkan lagi, mulai saat ini."
"Aku bertanya-tanya berapa lama yang dibutuhkan untuk membuatmu sadar bahwa kau tidak mampu mengambil alih?"ejek Jason.
"Kau takkan ada disini untuk mengetahuinya."Olivia menggeleng, rambut panjangnya terkibas. Rambut itu semakin panjang selama enam tahun terakhir.
"Dimana kau tinggal?"desak Olivia, seolah entah bagaimana Jason mungkin berhasil tinggal dirumah ini.
"Dan Rentan?"Ekspresi menjaga jarak di wajah Olivia sedikit melunak.
"Dia masih tinggal di rumahnya sendiri. Dia sering mengasuh anakku."
"Megan terlalu sibuk untuk merawat putri kecilnya?" Begitu mengucapkannya, Olivia marah karena telah menyebut nama Megan.
"Megan sudah pergi, Olivia,"ujar Jason, mengejutkan Olivia.
"Pergi?"Olivia sama sekali tidak mengira akan mendengar itu. "Kemana?"
Tiba-tiba Jason menyadari sejak tadi ia menahan napas, menunggu munculnya pertanyaan itu. "Pernikahan kami tidak berhasil, Liv. Aku tak pernah mencintai Megan. Aku tak bisa membuat diriku mencintainya, meskipun aku berusaha keras mempertahankan pernikahan kami. Masalahnya, tak seorang pun bisa mencintai dengan terpaksa. Pada akhirnya, Megan menjadi begitu getir dan marah sehingga dia pergi."
"Semudah itu?" Bibir Olivia melengkung tidak percaya. "Meninggalkan pria yang tidak mencintaimu memang mudah. Tetapi meninggalkan anak? Bagaimana dia melakukannya? Ataukah aku menolak membiarkan Megan mengasuh Thalia ? Apakah aku mungkin melakukan itu?"
__ADS_1
"Megan tidak menginginkan Tahlia, "kata Jason blak-balkan."Tahlia merupakan beban yang tidak ingin ditanggung Megan.Menurutku, Megan bukan ibu yang baik. Sejak awal dia tidak membentuk ikatan yang kuat dengan Thalia. Dia benar-benar tidak memiliki naluri keibuan seperti yang seharusnya dimiliki para wanita. Ada sudut-sudut gelap dalam jiwanya, Megan yang malang."
Olivia menatap Jason teranga-terangan, terlalu terkejut untuk memahami apapun kecuali keheranannya.
"Jadi dimana dia sekarang?"
Jason mengangkat bahu. "Terakhir kudengar, dia tinggal dengan seorang pria di Territory."
"Well, Jason, ternyata aku membuat kesalahan besar," ujar Olivia ketus, mengizinkan emosinya keluar sejenak."Tapi aku kasihan pada Thalia. Dia pasti sedih dan merasa diabaikan."
Rahang Jason yang seakan terpadat berubah kaku.
"Kurasa Tahlia mengalami saat-saat yang cukup berat dengan Megan saat aku tidak ada."
Olivia mengerjap. "Apa maksudmu?"tanya Olivia tajam. Saingannya, Megan selalu tenang dan patuh.
"Aku tak mau memperpanjang masalah ini, Olivia."
Nada suara Jason tajam. "Masa kecil Megan tidak mudah. Ada beberapa hal yang hilang dari hidupnya. Aku mungkin tak bisa mencintainya, tapi aku mencoba melakukan hal yang benar baginya. Pada akhirnya aku senang dia pergi, karena aku khawatir suatu saat mungkin dia bisa menyakiti Thalia. "
"Dan kapan Megan pergi?"
"Megan pergi waktu Thalia hampir berumur empat tahun,"jawab Jason, benar-benar tampak kesal.
"Thalia tidak mirip denganmu."Olivia terkejut sendiri mendengar ucapannya. "Dia juga tidak mirip dengan Megan, Meskipun ada sesuatu yang familiar dengan diri Thalia, "
"Kepikir matanya mirip dengan mataku." Jason mengangkat bahu.
Olivia berpaling sebelum air matanya turun. Hanya karena mata kalian sama-sama biru. Seandainya aku bisa ikut prihatin atas kekacauan yang kulakukan dalam hidupmu, Jason, tapi aku bukan orang munafik."
"Dulu aku tak pernah kekurangan rasa iba,"ujar Jason, Seakan menerangkan pandangan Olivia."Dulu aku tidak kejam."
__ADS_1
"Aku memang tidak bangga pada diri sendiri,"kata Olivia, rona merah merambat dipilihnya. "Lagi pula, aku sudah cukup mendapatkan hal itu dari Harry, jangan mengharapkannya dariku. Setelah pemakaman, Jason, aku tak mau melihatku lagi."