
Mereka berkendara menyusuri jalanan dengan pohon-pohon palem menjulang berjejer disisinya. Palem jenis Cuban Royal. Dua belas pohon di masing-masing sisi jalan, seperti penjaga. Sejak menjejakkan kaki di aspal bandara, Olivia tahu ia telah pulang. Inilah daerah tropis. North of Capricon daerah tropis paling selatan. Keharuman bunga-bunga. Aroma garam. Aroma laut. Meskipun taksi dilengkapi Ac, Olivia menurunkan kaca jendela sedikit agar dapat merasakan panas dalam darahnya. Sejauh mata memandang Olivia melihat pepohonan hijau subur, bersaing dengan aneka warna cerah. Lengkung cakrawala luas di atas kepalanya berwarna biru kobalt.
Pemandangan tepian Wet area yang terdiri atas tanah kering dan air benar-benar indah. Pohon cascara keemasan mulai berbunga, begitu juga pohon flamboyan yang menghiasi tanah. Pandangannya berpindah ke pohon magolia indah dengan bunga-bunga besar yang seakan berlapis lilin; kelopak oranye tulip, aneka warna luar biasa bugenvil yang selalu ada; berbagai spektrum ungu, keemasan, putih, oranye kekuningan, perak, merah tua, fuchsia, violet, dan merah muda. Bugenvil adalah bunga khas daerah tropis. Pohon-pohon itu tampak luar biasa. Menjulang, mencolok, manarik kupu-kupu sama baiknya dengan bunga lantana.
"Tempat ini indah," si sopir taksi berkomentar, memandang ke kanan dan ke kiri dengan kagum. "Ini pertama kalinya saya mengantarkan seseorang ke sini. Hebat sekali. Apakah Anda tamu, Miss?"
"ini rumahku."
"Yang benar?" Sopir taksi begitu terkejut hingga nyaris menghentikan mobilnya mendadak. "Kupikir daerah ini milik Mr. Linfield?"
"Aku keponakannya. cucu keponakan." Olivia tak sanggup mengatakan bahwa Harry telah meninggal. Lagi pula, sebentar lagi beritanya pasti akan menyebar luas.
"Sepertinya benar." Si sopir melirik ke belakang memandang Olivia dengan mata berbinar dan tersenyum. "Anda dan rumah itu sangat serasi." Berkelas, pikir si sopir. Keturunan kelas atas. Sangat anggun.
Taksi tiba didasar tangga marmer putih dan lebar yang menuju teras. Si sopir menurunkan tas-tas Olivia, lalu meletakkannya di beranda, sementara Olivia berdiri dibawah sinar matahari, menatap rumah itu. Rumah itu luas. Rumah besar bergaya kolonial dengan cat putih klasik, dengan jendela dan pintu berwarna biru gelap yang seingatnya dulu berwarna hijau. Menurutnya biru tua mengkilap. itu tampak bagus. Perubahan yang bagus. Bagian tengah bangunan berlantai dua dan berpilar itu berdiri tegak, diapit bangunan besar berlantai satu disisi-sisinya. Pilar putih indah dibagian tengah bangunan diselimuti bunga trompet yang merambat lebat, berwarna biru-ungu dengan dedaunan hijau. Daunnya sendiri secantik bunganya.
Seakan aku tak pernah pergi, pikir Olivia. Cerita khayal bahwa ia sudah melupakan masa lalunya seakan terbongkar. Sejak dulu Havilah memang menawan. Rasa damai menyenangkan itu tetap sama. Semangat Harry masih menyelimuti perkebunan ini. Harry benar-benar baik.
Olivia membayar sopir taksi dan menambahkan tip lumayan besar. Perjalanannya jauh, tapi si sopir cukup menyenangkan dan sopan, tidak mengganggu Olivia dengan terlalu banyak mengajak bicara. Olivia menunggu sampai taksi itu pergi, tiba-tiba dikuasai kesedihan.
Harry tidak bisa menyambutnya lagi. Samar-samar Olivia merasakan panas matahari di kepala nya. Ia telah mengambil langkah pencegahan, mengenakan kacamata hitam untuk melindungi matanya dari sinar matahari yang menyengat. Udara disekitar rumah menguatkan aroma kuat bunga Gardenia dan kamboja. Halaman luas itu tampak lebih indah daripada terakhir kalinya dia disini, rumput dihalaman itu terpangkas sempurna. Seolah ada satu tim tukang kebun yang merapikannya delapan jam sehari. Harry pasti sangat bahagia melihat pemandangan ini. Olivia tak pernah bertanya soal bisnis ataupun pekerja, tapi sepertinya Harry menemukan mandor yang hebat.
__ADS_1
Naiklah, perintah Olivia pada diri sendiri, menggerakkan kaki satu persatu. Ini rumahku. Milikku. Beberapa hari kedepan pemakaman Harry kemungkinan bertemu Jason Corey harus dihadapi. Blus sutra Olivia sedikit menempel dipunggung akibat keringat. Olivia ingat, seperti juga sering diingatnya pada masalalu, aroma panas udara tropis benar-benar sensual. Tanpa diundang, kenangan akan malam bersama Jason di pantai muncul. Suara laut. Bagaimana pasir putih selalu menemukan jalan kembali ke tikar, Gerakan mereka. Bibir Jason di bibirnya. Tangan Jason dipayudaranya, tubuhnya yang memaanas pada setiap sentuhan Jason.
Gairah diantara mereka! Benarkah itu hanya gejolak masa muda? Sejak saat itu, Olivia tak pernah lagi merasakan gairah sebesar itu. Gumaman manis yang tertahan dibibir mereka, lalu lenyap saat gairah memuncak begitu tinggi sehingga mereka tak mampu lagi bicara. Jauh didalam sel, darahnya masih mengalirkan kenangan itu. Olivia takkan pernah bisa bebas dari kenangan kenangan itu. Gairah. Berakhir ataupun tidak, kenangan itu pernah mengisi dirinya.
Dengan hati sakit, Olivia menaiki anak tangga menuju keteduhan teras yang tinggi. Tidak ada siapa-siapa disekitarnya. Olivia tak mengerti kenapa begitu. Ada gerakan dibawah sana, meskipun Olivia memang tak bisa melihat melewati pepohonan lebat dibawahnya dan kebun rahasia yang sangat ia sukai. Olivia tahu Grace pasti nyaris tak berdaya menghadapi kematian Harry. Grace sangat memuja Harry. Hampir tiga puluh tahun wanita itu berkerja untuk Harry dan Harry adalah majikan terbaik didunia.
Olivia melangkah ke lorong ada kesenyapan, tempat lantai marmer putih berlanjut. Segalanya mengingatkan Olivia akan rasa kehilangan, terutama aroma kuat mawar merah indah yang menggantung dari mangkuk kristal diatas lemari pendek. Mawar bunga favorit Harry. Meskipun sulit sekali menjauhkan hama dari mawar-mawar yang ditanam di kebun bunga tropis Havilah yang subur.
"Grace?" panggil Olivia, ingat bahwa Grace sudah cukup tua dan mungkin pendengaraannya sedikit berkurang.
Olivia mendongkak dan memandang balkon dilantai atas, mengalihkan tangga utama yang indah. Olivia benar-benar mengira Grace akan muncul dan mulai cemas saat hal itu tidak terjadi. Lorong masuk tampak indah seperti biasa, tempat sempurna untuk karya seni yang menghiasi dinding diatas ambang pintu ganda yang mengarah kebagian kanan ruang tamu formal, sedangkan sebelah kiri mengarah ke perpustakaan. Cahaya mengalir masuk kedua ruangan tersebut melalui pintu bergaya Prancis. Olivia tidak me manggil-manggil lagi. Ia memutuskan mencari Grace. Kemungkinan besar wanita itu ada didapur, dibagian belakang rumah.
Olivia mulai menyusuri lorong saat tiba-tiba mendengar suara samar langkah kaki dari belakangnya Olivia berbalik, terkejut saat melihat gadis kecil berambut ikal berantakan, mengenakan T-shirt putih dan celana pendek bermotif bunga bergegas menuju salah satu pintu, tampaknya ingin pergi ke pintu depan.
"Kau mau kemana, Gadis kecil?"
Si anak perempuan tidak mencoba berlari lebih jauh. Ia berbalik, berdiri tegak seperti orang dewasa mini. "Kau siapa?" tanyanya, balas menatap Olivia dengan mata biru terangnya.
"Aku Olivia."
"Aku Thalia. Aku menjaga Grace."
__ADS_1
"Sungguh?" Olivia nyaris meledak tertawa, menyadari nada bangga disuara gadis kecil itu. "Dan dimana Grace?"
"Dia didapur. Kau ingin aku memanggilnya?"
"Sebaiknya kita berdua pergi kesana," kata Olivia sambil mengulurkan tangan.
Thalia mendekat. "Kau Cantik," Katanya dengan suara tomboi, menatap dan menerima uluran tangan Olivia.
"Terimakasih. Kau juga cantik."
"Aku suka antingmu. Dan jam tanganmu."
"Seleramu bagus. Nama Thalia kependekan dari apa?
Aku tidak tahu."
"Natalie," dengus si gadis kecil."tidak ada yang memanggilku begitu."
"Mana ibumu?" tanya Olivia, mengira thalia salah satu anak staf pengurus rumah.
Mata biru terang thalia berpaling. "Aku tidak tahu."
__ADS_1
"Jangan Khawatir, kita akan menemukannya."
Tiba-tiba Thalia tertawa keras. "Seharusnya aku berdoa setiap hari, tapi aku tidak melakukannnya."