
Jason punya putri kecil, Thalia yang perlu ia jaga. Ia harus hidup dengan benar demi putrinya. Thalia yang bermata biru tua benar-benar menyenangkan. Jason hanya bisa melihat sedikit, kalaupun ada, ciri Megang dalam diri putrinya. Ikal hitam tebal yang lembut itu menunjukkan keturunan Italia Thalia, meskipun anak itu tidak mewarisi kulit cokelatnya.
Jason sudah dekat rumah saat melihat Harry duduk di bang ku taman dekat danau kecil berhiaskan sekumpulan lili air merah muda dan krem serta lotus biru. Entah kenapa, Jason merasa aneh melihat posisi Harry. Jason menghentikan kendara, melangkah keluar jalan masuk berkerikil. Harry tidak mendongak, jadi Jason me manggil-manggil nama Harry. Udara siang itu terlalu panas bagi Harry untuk mendaki ke rumah.
Jason berharap Harry menoleh dan melambai, tapi Harry tidak bergerak. Harry terus menatap air dengan permukaan hijau berkilauan itu.
Jason menyadari dirinya berlari menuruni halaman berumput tebal dan empuk. "Harry?" Ia telah mengalami begitu banyak kejutan dalam hidup sehingga telah mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Tidak ada jawaban dari sosok Harry yang tidak bergerak. Jason tiba, membungkuk dan menatap wajah. Harry yang separuh tertutupi ujung lebar topi Panama putih kesayangannya.
Harry! Harry tersayang! Teman tersayang! Apakah aku memang harus selalu kehilangan? Pikir Jason.
Jason menyentuh bahu kurus mentornya dengan penuh kasih sayang. Harry mengetahui semua kesedihan mendalamnya saat kehilangan Olivia. Kantong berisi potongan-potongan kecil roti tampak terbuka dan tergeletak di kaki Harry, meninggalkan remah-remah di rumput hijau. Jason sedikit lega karena wajah Harry begitu damai. Harry meninggal saat memberi makan angsa hitam kesayangan pria itu. Jason memandang ke seberang danau yang dikelilingi bunga lili dan berdoa dalam hati.
__ADS_1
Setelah Harry kembali kerumah, diiringi tangisan histeris Grace, barulah Jason memikirkan akibat kematian Harry.Olivia harus segera diberitahu. Olivia merupakan kerabat terdekat dan tersayang Harry, sang perwaris. Grace harus memberitahukan Olivia, jika Jason dapat menghentikan tangis wanita itu. Liv jelas takkan mau mendengarkan kabar dariku, pikir Jason. Sepengetahuan Liv, Jason masih mengurus peternakan diOutback. Harry tak pernah memberitahukan perubahan besar di Havilah ataupun fakta bahwa dia menyewa Jason Corey untuk mengelola Havilah pada Olivia. Harry tak pernah menjelaskan alasannya. Mereka sama-sama tahu Liv akan bereaksi keras, tidak diragukan lagi. Jadi Olivia tak pernah diberitahu.
Karena kini Havilah akan menjadi milik Olivia, Jason harus pindah. Padahal Thalia mulai mencintai tempat ini. Jason bertekad tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum meletakkan mawar merah tua kesukaan Harry dinisan pria itu.
Olivia naik penerbangan lebih awal daripada rencana semula. ketika ia menelepon Doktor Hilary Lockwood, kepala sekolah Ormiston Girls Grammar untuk menyampaikan berita duka itu, Doktor Lockwood sangat simpatik. Wanita itu menyakinkan bahwa Olivia agar tak perlu datang ke sekolah esok harinya. Mereka pasti akan kehilangan Olivia pada pesta perpisahan-- selama ini ia sangat terlibat dalam masa persiapan tapi semua orang bisa mengerti ia sedang tak ingin berpesta. Doktor Lockwood menyampaikan simpati tulus sekali lagi, berterimakasih atas segala usaha Olivia untuk sekolah sepanjang tahun itu. Usahanya sangat dihargai.
Sejak awal Olivia memutuskan akan langsung menelpon Grace agar mengirimkan seseorang untuk menjemputnya begitu tiba di bandara. Grace jelas takkan meminta bantuan Jason Corey. Kemarin malam Olivia berbaring dengan mata terbuka hingga dini hari, menangisi kepergian Paman Harry-nya tersayang, mencoba menebak-nebak kenapa Jason Corey ada diHavilah saat Harry meninggal.
Mungkinkah Jason pulang untuk menemani ibunya? Kesehatan Antonella Corey memang kurang baik. Sebagian orang bilang kesehatan Antonella memburuk sejak sang suami pergi begitu saja. Apakah nenek Jason, Renata, telah meninggal? Sepertinya itu sulit dipercaya. Sejak dulu Renata awet muda. Sangat percaya diri. Konyol sekali berpikir begitu. Selalu ada perubahan besar dalam hidup. Kadang Olivia sulit percaya sudah begitu lama ia pergi.
Betapa naif dirinya dulu. Kini ia tak lagi menangisi peristiwa itu. Itu hanya kisah fiksi. Cinta dan pengkhianatan. Tipuan sang rival. Selama bertahun-tahun ini. Olivia menyadari bahwa sudah sejak lama Megan jatuh cinta pada Jason, bukannya Megan satu-satunya wanita yang jatuh cinta pada pria itu. Jason Corey benar-benar memancarkan sensualitas. Banyak wanita tertarik pada Jason. Mereka menganggap pria itu tampan, mulai dari warna kulit yang indah, struktur tulang yang bagus, sampai cara berjalan Jason. Daya tarik seakan berdenyut di sekeliling Jason dalam gelombang-gelombang besar.
Tapi dulu Jason miliknya. Olivia begitu yakin pada Jason tak pernah terpengaruh rasa cemburu atau takut wanita lain akan merebut Jason darinya. Tak ada yang dapat merebut pria itu. Jason mencintai Olivia. Olivia mencintai Jason. Mereka sama-sama tak dapat membanyangkan menyakiti yang lain. Segalanya jadi semakin indah selagi hubungan mereka semakin kuat dan dalam. Pengkhianatan benar-benar tak terpikir olehnya.
__ADS_1
Hingga Megan Duffy.
Olivia duduk diam di pesawat, menyandarkan kepala di jendela lonjong pesawat yang dingin, menatap ke luar ke arah awan putih menggumpal dan sayap pesawat yang sangat besar dan keperakan. Pria di sampingnya berusia tiga puluhan, tampak menarik dengan mata gelap yang tajam mencoba memulai percakapan, tapi perlahan menyadari bahwa ia tak ingin diganggu. Ia tak dapat melarikan diri dari pikiran-pikiran sedih itu, bahkan dalam tidur.
Hampir dua jam kemudian pesawat mendarat, Olivia mengambil seluruh bagasinya dan menaikkannya ke troli. Lalu ia menelepon rumah. Olivia terkejut karena teleponnya tidak diangkat. Lima menit kemudian Olivia menelepon kembali. Hasilnya sama. Grace tidak menjawab teleponnya. Wanita itu bisa berada dimana pun. Rumah itu besar. Sekarang rumah itu memang sudah diperluas, tapi dulu pun Grace mungkin tak bisa mendengarkan dering telepon. Olivia menyesal karena tidak menelepon Grace dari Brisbane dan malah menunda hingga saat ini. Itu kesalahan besar Grace mengira Olivia baru akan tiba beberapa jam lagi. Wanita itu mungkin sedang mempersiapkan kamar tidur lama Olivia; atau merapikan seluruh rumah. Banyak orang akan menghadiri pemakaman Harry. Mereka semua pasti ingin kembali ke rumah setelah pemakaman.
Pemakaman Harry.
Olivia mengigit bibir kuat-kuat. Setelah berhasil menenangkan diri, ia mengangkat kepala. Di luar terminal bandara tampak deretan taksi. Salah satunya bergerak menjauh. Lima taksi lagi masih mengantre. Perjalanan ke Havilah cukup jauh. Sebaiknya ia segera berangkat.
"Biar saya bantu, Miss." Porter muncul disamping Olivia dan mengambil alih trolinya yang penuh.
"Apakah Anda dijemput atau akan naik taksi?"
__ADS_1
"Taksi, terima kasih," Olivia tersenyum pada porter itu, bersyukur atas bantuannya.