
Karena benar-benar ingin menyentuh wanita itu, meskipun ia tahu takkan pernah bisa melakukannya lagi, Jason mencengkram tangan Olivia. "Kemarahanku pada diri sendiri bahkan lebih besar daripada kemarahanmu padaku."
"Jason, Jason, hentikan!" Olivia menjerit." Aku tidak sanggup!" Olivia merenggut tangannya dari genggaman Jason, mundur beberapa langkah. Air mata menggenang di mata nya, tapi Olivia menahan diri sekuat mungkin. Kemarahan mulai muncul, memuncak. Seakan hidupnya hancur seperti pecahan kaca. Ia ingin melemparkan pecahan-pecahan itu ke arah Jason. Menyakiti pria itu, Bukankah Jason juga begitu menyakitiku?pikir Olivia. "Ajaklak Megan kemari," tuntut Olivia, tubuhnya gemetar."Aku ingin menatap mata Megan. Lucy, koordinator pengiring pengantin memperingatkan bahwa aku mengambil resiko besar jika berteman dengan Megan, tapi aku yang terlalu mempercayai orang ini memang bodoh dan malah kasihan pada gadis itu.
Hidup Megan sulit. Ayahnya maniak. Kau sudah memikirkan itu? Ayahnya membunuhmu.
Kenapa kau bisa membuat Megan Duffy hamil?
Bagaimana mungkin itu terjadi?
Kapan?
itulah intinya. Kita tak pernah terpisah. Mengapa kau tak pernah bilang apa-apa?
Kau sudah gila, Jason? Apakah waktu itu kau hilang kendali?
Kenapa?
Kau punya aku. Kau mencintaiku. Kau mengatakannya begitu sering sampai-sampai tak bisa kuhitung lagi. Kau tidak suka Megan Duff. Bagaiamna mungkin kau bercinta dengan gadis yang bahkan tidak kausukai?"
Kata-kata Olivia seakan mengoyak hati Jason. "Alhkohol, apa lagi alasannya?" Ujar Jason sedih. "Waktu itu aku pasti mengira dia adalah kau... tapi, tidak!"
__ADS_1
Jason langsung menolak penjelasan tersebut. "Tidak, dia tak mungkin seperti dirimu. Aku mabuk, Liv, aku harus hidup dengan kenyataan itu seumur hidup. Kapan terjadinya? Beberapa bulan lalu, sesudah pesta ulang tahun Sean Duffy. Waktu kubilang padamu aku akan mampir. Yang menyebalkan, sebenarnya aku tak mau datang tapi aku merasa harus muncul, walaupun hanya sebentar. Karena Sean anggota tim-ku."
Olivia memaksa diri agar tidak menangis meraung-raung. Tangis itu harus ditahan sampai ia sendirian.
"Anggota timmu? Padahal aku bangga sekali pada kemampuan atletismu. Kau memang atlet handal, tapi Sean Duffy... kau tahu dia pemabuk. Kenapa kau berteman dengan orang seperti itu?" Olivia memukul dada Jason begitu kuat sehingga pria itu kehilangan keseimbangan. "Kumohon, jangan sampai aku berteriak,"jerit Olivia tertahan. "Kau bercinta dengan Megang Duffy, pengiring pengantin ku? Itu keterlaluan." Olivia memeluk diri sendiri, berjuang agar tetap berdiri tegak. Ia harus melawan rasa nyaris pingsan ini. Kulitnya yang indah berubah pucat. "Apakah ini mimpi?" Olivia mendongak, menatap langit biru tak berawan seolah langit dapat memberikan jawaban. "Ini hanya mimpi buruk, kan? jawab aku!"
Kepala Jason yang berambut pirang menggeleng, malu dan putus asa. "Aku tak tahu bagaimana itu bisa terjadi, Liv. Aku sendiri tidak percaya ini bisa terjadi." Bahu tegap Jason merosot. "Aku rela mengorbankan apapun asal bisa memutar waktu. Aku takkan pernah memaafkan diriku karena membuatmu begitu sedih."
"Sedih?
Apa maksudmu, sedih?
"Olivia mengertakan gigi." Bagaimana dengab rasa malu sialan ini?
Jangan mendebatku. Kau mempermalukanku. Aku menyerahkan hatiku. Jiwaku. Tubuhku. Setidaknya aku tidak menjebakmu agar menikahiku karena aku hamil, karena itulah yang bakal kau rasakan dengan keluarga Duffu. Semoga kau dan Megan bahagia. Padahal aku rela pergi ke ujung dunia bersamamu jika kau memintaku. Aku benar-benar tertipu.
Dan untuk si penghianat kecil Megan, selama ini aku merasa membantunya padahal mungkin dia memanfaatkan ku. Kau benar saat mengatakan dia sepertinya menyembunyikan sesuatu. Aku begitu bahagia, gembira, sampai tidak melihat apa yang ada tepat dihadapanku."Olivia menghembuskan nafasnya yang sejak tadi tertahan." Ah Jason!" Kesedihan menggantikan kemarahannya." Aku benar-benar mencintaimu. Matamu yang biru! Dulu kupikir indah itu jendela jiwa. ternyata tidak ada apa-apa didalam jiwamu."
Jason menarik nafas pendek-pendek, merasakan malu yang amat sangat. "Kau benar." Ia kehilangan Olivia. Ia benar-benar hancur.
Binar mata Olivia juga menghilang. "Aku mencintaimu seumur hidupku. Teganya kau mengkhianati kami, mengkhianati dirimu sendiri."
__ADS_1
"Aku tahu." Jason merasa dirinya adalah pecundang. Seperti ayahnya.
"Kau tahu?" Olivia mengangkat dagu. Dengan sangat sempurna memperlihatkan kemarahan dan harga diri. "Hanya itu yang bisa kaukatakan! Kau tahu! Sialan kau, Jason." Suara Olivia mulai bergetar. Sotoy matanya berubah menjadi kilau amarah murni. Dengan sengaja ia mengangkat tangan kiri yang mengenakan cincin Jason dan menampar wajah tampan pria itu sekeras mungkin. Tamparan tadi meninggalkan semburat merah di kulit cokelat Jason, juga sedikit darah ditempat cincin itu mengenai wajah. "Tinggalkan aku," Kata Olivia penuh kebencian. "Ini cincinmu, meskipun jelas itu tak ada artinya untukmu." Olivia melepaskan cincin bermata berlian tunggak itu dari jari dan melemparkannya pada Jason dengan jijik. "Aku tak mau melihatmu lagi." Nafas Olivia tersekat amarah dan kesedihan."Pergilah, Jason Corey. Pergilah dan jangan pernah kembali."
Jason tersadar dari lamunannya saat tangan besar yang berjelaga mendekat jendela truk pick up yang terbuka dan menyentuh bahunya. Membuat Jason terperanjat.
"Bruno?"
"Kau baik-baik saja, Teman?"Bruno, yang mengendarai salah satu traktir pertanian menatapnya cemas.
"Pasti panas sekali didalam pick up itu. Aku mau kelumbung untuk mengambil bir dingin. Kau juga mau?"
Jason mengerjap keras, berharap ekspresinya tidak tampak seterkejut yang sebenarnya ia rasakan. Kenangan yang tiba-tiba muncul itu terasa lebih gamblang daripada sebelumnya. "Tidak, trims, Bruno," ujar Jason, terkejut karena suaranya terdengar sangat normal. "Kau saja. "Kau saja. Perkembangannya bagus. Mr. Linfield memintaku menemaninya." Jason melirik jam tangan. "Lebih baik aku segera pergi."
"Kalau begitu, sampai ketemu nanti, Bos." Bruno, Si pria raksasa, menjauhi pick up, memberi salam singkat pada Jason sambil berkendara menjauh.
Aku harus menyingkirkan rasa putus asa dan gagal yang menguasaiku, pikir Jason. Sepertinya perasaan itu muncul begitu saja. Kenangan memang cenderung memunculkan perasaan-perasaan itu. Jason meyakinkan diri bahwa semakin lama ia semakin baik mengendalikan diri. Ia memang sama sekali belum menjadi pria kuat dan percaya diri seperti yang diperkirakan banyak orang. Jason hanya butuh sedikit celah masa lalu untuk kembali terjatuh kegelapan hampa.
Mengapa kenangan-kenangan itu menggangguku hari ini? Jason bahkan tidak terlalu sering lagi memimpikan Liv. Jason belajar mengendalikan diri, bahkan alam bahwa sadarnya. Jason punya tanggung jawab. Semakin lama Harry semakin bergantung padanya. Belakangan ini, bisa dibilang Jason-lah yang mengelola Havilah.
"Kau orang kepercayaanku, Jason. Aku lebih dekat denganmu daripada orang lain selain Olivia tersayang."
__ADS_1
Jason memang sangat kuat. Cepat belajar. Harry tak pernah perlu memberitahukan sesuatu dua kali, sama seperti pemilik Peternakan Caramba yang berusaha keras mempertahankan Jason. Penyakit kanker ibunya dan kematian cepat wanita itulah yang membuat Jason pulang. Saat itu benar-benar sulit. Ia menyayangi ibunya sekaligus membenci ayahnya yang meninggalkan mereka. Tapi hidup terus berjalan.