
Jason menghabiskan pagi ini dengan mengatur penanaman besar berikutnya, penamaan buah yang disebut-sebut buah ajaib, anggota famili Sapotace yang ternyata sangat populer untuk pasar lokal maupun ekspor. Buah yang berasal dari pohon hijau kecil berkarakteristik unik yang membuat rasa asam dan pahit terasa manis.
Buah ajaib yang asamnya tak bisa dibandingkan dengan lemon. Pohon-pohon yang sudah dewasa akan dipenuhi buah kecil berbentuk Olive dan berwarna merah terang, dengan daging buah putih dan biji mengilap.
Mereka tak lagi menanam buah tropis biasa seperti mangga, pisang, sejenis pepaya dan leci lalu menggantinya dengan buah jaboticaba, rambutan, nangka, sawo, belimbing yang berbentuk seperti bintang, sapodilla dan manggis. Tanaman-tanaman itu tumbuh dengan cepat dan cocok untuk wilayah tropis. Dan buah-buahan tropis dari Perkebunan Havillah banyak dipesan orang.
Ketika itu, Harry meminta Jason menemaninya minum teh sore dirumah besar. Jason tidak terlalu suka minum teh, meskipun Harry adalah salah satu pemilik perkebunan teh dan kopi diTableland. Akhir-akhir ini, karena Harry tidak seaktif dahulu, Jason-lah yang bertugas mengawasi perkebunan itu. Jason suka menemani Harry dan Harry pun masih suka ia temani. Dalam hati, Jason harus mengakui Harry membuatnya merasa Liv masih menjadi bagian hidupnya.
Betapa Jason mencintai wanita itu! Hati Jason masih membuncah saat membayangkan kebahagiaan yang dihadirkan wanita itu, meskipun ia mencoba tidak terlalu sering memikirkan Liv. Diluar pekerjaan, Jason mulai terbiasa menjalani hidup penuh keputusasaan. Ia mencurahkan seluruh diri dalam pekerjaan. Selama masa dua tahun ia kembali bekerja pada Harry, orang-orang didaerah ini sepertinya telah melupakan atau setidaknya memaafkan kesalahan Jason yang memutuskan hubungan dengan Olivia Linfield tersayang. Ahli waris Harry Linfield.
Olivia telah atau mungkin masih punya kelas tersendiri. Sejak dulu wanita itu merupakan pencampuran berbagai latar belakang bangsawan. Gelombang migrasi keluarga Italia misalnya, telah membuka daerah Utara, memberikan kontribusi besar pada perkembangan industri gula. Dalam diri Jason juga mengalir darah Italia, meskipun nyaris seluruh penampilan fisinya mirip ayahnya yang berasal dari Irlandia.
Olivia Linfield bagaikan putri raja bagi mereka. Wanita itu juga menikmati statusnya. Dia impian semua pria, tapi Olivia memilih Jason. Putri yang dirayu dan dimenangkan pemuda dengan latar belakang berbeda.
Sejak umur enam belas tahun, Ayah Jason bekerja sebagai pemotong batang tebu seperti kakek Jason. Pada masa itu, pemotong tebu mekanis belum menggantikan buruh manual. Ibunya membantu pekerjaan rumah tangga di Rumah Besar, bukannya hal itu memalukan. Dalam berbagai cara, pekerjaan itu dianggap sebagai keberuntungan bagi mereka yang posisinya kurang menguntungkan untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi. Ketika Jason berusia dua belas tahun dan nyaris dewasa, ayahnya meninggalkan keluarga. Suatu hari ayahnya ada disana, pria dengan suasana hati naik-turun dan pemarah dan hari berikutnya dia pergi.
__ADS_1
"Syukurlah!" seru nenek Jason yang berasal dari Italia, mengguncang-gucangkan kepalan tangan ke langit. Neneknya memang dramatis. "Dia memang berengsek!" Ayahnya kadang memang menampar ibunya.
Biasanya pada saat-saat mabuk, bukan mabuk karena gembira, tapi siap meledak. Sebenarnya ayah Jason tidak jahat. Ada juga saat-saat menyenangkan. Tetapi Ayahnya adalah pria kompleks yang membenci hidupnya sebagai orang miskin.
Ayahnya tidak cocok dengan kehidupan buruh. Bukankah ayahnya jelas-jelas pintar? Dan tampan. Jason ingat betapa tampan ayahnya. Memesona, begitu kata ibunya. Tinggi, berotot, anggun seperti kucing hutan yang lincah. Ayah Jason sangat suka membaca. Dia menyukai buku, selalu ingin belajar. Nenek Jason, yang iri terhadap cinta sang Putri pada pria itu, menyebut ayahnya berengsek. Ayah Jason tidak begitu.
Pada saat-saat terakhir ayah Jason memberitahu mereka bahwa dia merasakan desakan untuk melukis. Waktu mulai habis. Dia perlu banyak belajar. Sejak dulu Niall Corey memang bisa menggambar. Manusia. Hewan. Burung. Apapun yang diinginkannya. Ayah Jason meninggalkan pesan untuk istrinya, memberitahu bahwa dia mengikuti jejak Gauguin. Apakah itu berarti sang ayah berlayar ke Tahiti? Seperti Gauguin, si pelukis terkenal, ayah Jason meninggalkan istri dan keluarganya.
Mereka tidak pernah mendengarkan kabar ayahnya lagi.
Jason tidak melihat Megan hingga wanita itu berada disamping mobil, mengetuk jendela penumpang supaya Jason membukanya.
"Hai, Megan." Jason menurunkan kaca jendela, memaksa diri tersenyum padahal wanita itu membuatnya malu sekaligus takut. Sejak dulu Jason tak pernah suka Megan Duffy. Wanita itu cukup cantik, tapi sedikit aneh. Liv selalu baik pada Megan, karena memang begitulah sifat Liv. Liv bahkan meminta megan menjadi salah satu pengiring pengantin, yang sebenarnya tidak direncanakan Jason, tapi hari pernikahan merupakan hari istimewa pengantin wanita. Sebenarnya, sejak malam pesta Ulang tahun Sean Duffy yang ke 25, Jason ketakutan jika berpapasan dengan adik Sean.
" Ada apa?" tanya Jason, mengira tak mungkin ada masalah. Ia dalam perjalanan menemui Liv, cinta sejatinya. Tak ada yang dapat menghalangi dirinya dan Liv.
__ADS_1
"Aku harus bicara denganmu, Jason." Mata Megan Terbelalak, kantong matanya tampak gelap di kulitnya yang pucat. Ia kelihatan tidak sehat.
Sensasi mirip rasa takut mengalir ditubuh Jason."Baik. Naiklah. Aku akan kerumah Liv. Aku bisa sekalian mengantarmu dalam perjalanan kesana."
Jason mencoba ramah, meskipun segala sesuatu dalam diri wanita itu membuatnya panik. Rasanya ia merasakan serangan klaustrofobia saat Megan duduk disebelahnya dalam mobil. Ia merasakan hal aneh, seakan ia nyaris kehabisan nafas. Jason menelan ludah, tenggorokannya terasa kering sekali, tapi sepertinya kelenjar ludahnya juga menegering, lalu melirik Megan, memandang wajah Megan yang pucat."Ada apa, Megan?"
Suara Megan nyaris tak terdengar."Aku terlambat," katanya.
Jason begitu ketakutan sampai-sampai tertawa."Apanya yang terlambat?"
"Dua bulan."Sekarang Megan mulai menangis bercak-bercak merah nyaris langsung muncul dipipi dan ujung hidungnya.
"Aku hamil, Jason. Aku terus saja mual."Suara Megan semakin tinggi hingga nyaris histeris.
"Ini bayimu, Jason. Bayimu... Waktu itu aku masih Perawan."
__ADS_1
Kebanyakan pria memang mengira Megan masih Perawan. "Jangan lakukan ini padaku! Kau yakin Megan?"Jason mengerang, dengan shock menyadari bahwa tangannya gemetar." Hanya sekali, Aku bahkan tidak ingat. Aku tak pernah semabuk itu seumur hidup. Oh, buat apa membicarakannya! Kau sudah periksa ke dokter?" Hanya Jason, merasa dirinya ikut sakit.