
"Di kota ini?" Dengan gaya sedih, Megan mengusap bibir menggunakan punggung tangan. "Lagi pula, aku harus memberitahumu lebih dulu, Jason. Kau Ayahnya. Aku belum pernah melakukan itu dengan pria lain.
"Oh, Megang!" Jason meninju lututnya sendiri benar-benar malu."kenapa kita sampai membiarkan itu terjadi?"
"Maaf,Jason,"kata Megan terbata."Tapi kau terlalu kuat. Tubuhmu besar dan kuat. Waktu itu nyaris seperti pemerkosaan, tapi aku takkan memberitahu orang lain tentang hal ini."
Meskipun Megan gemetar ketakutan, tiba-tiba saja ucapannya terdengar seperti ancaman. Jason menginjak rem, memaksa mobil berhenti mendadak di tepi jalan. "Tidak, Megan." Aku mungkin bodoh, tapi aku tahu pasti aku tak pernah memaksamu-----itu bukan gaya ku. Kau berhak marah, tapi kau pasti juga mendorongku melakukan itu, bukan?"
Dengan sangat lembut, Megan menyentuh lengan Jason meskipun pria itu langsung mundur. "Kau sendiri bilang, Jason. Waktu itu kau sangat mabuk." Megang menatap pria itu, airmata memenuhi mata cokelat nya dan menuruni pipinya yang pucat. "Aku takut sekali. Ayahku bakal membunuhku jika tahu. Aku belum pernah melakukannya dengan orang lain, Jason. Kau tidak tahu itu? Ada darah diseprai."
Jason menarik diri."Aku tidak melihat darah."
"Kau tidak melihatnya," ujar Megan sedih.
"Aku harus mengambilkan pil penghilang rasa sakit untuk menghilangkan mabukmu. Kau masih mabuk keesokan harinya-----hampir sepanjang hari. Memangnya kau pikir aku menginginkan ini, Jason? ini kesalahan besar. Olivia temanku-----dia begitu baik padaku.
Dia tak pernah merendahkan keluarga kami. Menurut Mum, Olivia wanita sejati.Mum selalu mengatakannya seolah aku ini pelacur dan kau tau sendiri bahwa itu tidak benar. Ini juga kejutan mengerikan untukku. Kau tak tahu betapa berat rasanya mencoba mengendalikan diri, mengunci diri dikamar mandi. Tadi pagi Mum bertanya apakah aku ingin mengatakan sesuatu. Kurasa dia tahu."
"Bahwa kau hamil?"Jason memandang perut Megan yang rata.
"Ya,"kata Megan sedih."Aku tahu apa yang kau pikirkan, Jason. Kau membenciku."
Jason meletakkan lengan dikemudi, menunduk lemas. Sepertinya ia takkan pernah tersenyum lagi.
"Aku tidak membencimu, Megan. Ini bukan salahmu. Ini salahku."
__ADS_1
"Jadi apa yang akan kita lakukan?"
Jason mengerang sedih rasanya ia ingin menyingkirkan seluruh dunia. Bahkan sinar matahari seakan mulai menghilang. Apa yang akan kulakukan tanpa kekasihku Liv? Lebih baik aku mati, pikir Jason. Mulutnya terasa pahit, seakan ia memakan besi, tapi Jason menegakkan tubuh."Aku akan menjagamu, Megan,"janji Jason."Ini juga bayiku. Tanggung jawabku. Sejak dulu aku tahu bahwa kehidupan takkan indah."
Liv merupakan mimpi indah itu. Jason memang selalu merasa Liv terlalu baik baginya.
Megan tampak seperti ingin memeluknya, tapi Jason mundur dan bersandar ke pintu mobil, rasanya ingin memecahkan kaca jendela. "Olivia mencintaimu,"ujar megan, suaranya begitu tegang seolah kata-kata itu tercekat di tenggorokan nya.
"Dia akan menemukan pria lain," gumam Jason merasa hidupnya berakhir.Seseorang yang pantas untuk Olivia.
Perlahan kemarahan Jason mereda saat rasa ibadah menderanya. Megan begitu kecil dan putus asa, sedangkan ayah wanita itu, Jack Duffy, sangat brutal. Dia pemabuk dan pecundang dan Jason dapat membayangkan pria itu akan bersikap kasar pada putrinya. Megan butuh dukunganku, juga bayi yang dikandung wanita itu. Bayi itu bayiku, pikir Jason. Pada akhirnya, bayi itu yang terpenting. Karena pernah diabaikan ayahnya, Jason merasa tak punya pilihan lain kecuali menerima tanggung jawab."Anak kita layak memperoleh masa depan, Megan,"ujarnya." Aku takkan melarikan diri."
Sejam kemudian Jason cukup bisa mengendalikan diri untuk menemui Olivia. Gadis itu berlari menuruni tangga utama Havilah untuk menyapa Jason, rambutnya yang panjang dan halus berkibar-kibar dibelakangnya seperti bendera yang tertiup angin. Begitu indah, begitu anggun, senyumnya bercahaya hingga hati Jason tercabik-cabik. Jason takkan pernah, bahkan sampai mati, melupakan Liv.Atau berhenti merindukan wanita itu. Hadiah yang datang semakin banyak," seru Olivia penuh semangat sambil mengangkat wajah, menanti ciuman Jason.
"Bisakah kita keluar sebentar, berjalan-jalan?"
"Tentu saja sayang."Olivia menyelipkan lengan ke pinggang Jason. "Ada apa?" Rasa cinta Olivia pada Jason membuncah, lalu ada sekilas rasa takut. Wajah tampan Jason seakan tertutup kepedihan.
Satu-satunya cara adalah langsung memberitahu Olivia."Aku punya berita buruk, Liv."Jason membimbing Olivia ke teras depan yang bertiang.
"Bukan tentang ibumu, kan?" Mata abu-abu Olivia yang indah tampak khawatir. Kesehatan Antonella Corey memang tidak terlalu baik.
"Bukan Mama."Jason menggeleng."Ibuku baik-baik saja."Tapi tidak lama lagi itu akan berubah. Ibunya pasti sangat sedih. Neneknya akan mengamuk.
"Ini mengenai hal lain. Ayo kita jalan-jalan di taman."
__ADS_1
"Kau membuatku takut Jason."Olivia mengaitkan lengan di lengan Jason, menatap wajah penuh tekad serta rahang kuat pria itu yang tampak muram.
"Aku amat sangat menyesal."Bahkan saat itu Jason tak bisa memperkirakan besarnya kepedihan itu.
Olivia mengguncang lengan pria itu. "Jason, ada apa?"Benak Olivia berpacu cepat. Terakhir kali bicara dengan Jason, hanya beberapa jam lalu, pria itu begitu gembira. Sekarang Jason tampak sangat sedih. Bahkan kulitnya yang keemasan seakan pucat akibat emosi.
Jason berhenti sejenak didekat pergola berhiaskan bunga mawar, bunga-bunga itu. Semua mawar itu dibeli untuk menyempurnakan pesta pernikahan mereka. Seluruh pergola digantungi untaian-untaian bunga merah muda berkelopak ganda yang harum."Aku tak tau bagaimana harus memberitahu hal ini padamu, Liv," Jason berkata. "Seumur hidupku, ini berita buruk yang harus kusampaikan. Tapi aku tak bisa menikahimu."
Olivia menatap Jason hampa. Lalu menggeleng pelan seolah ingin memperjelas penglihatannya. "Jason sayang, kau bicara tidak masuk akal. Kau akan menikahiku besok. Aku mencintaimu. Kau juga mencintaiku ."
"Aku tak bisa menikahimu Liv."Kepedihan meluap-luap dalam dirinya. Jason mengangkat tangan, seakan ingin mengusap pipi Olivia. Lalu membiarkan tanganya terkulai. "Beberapa bulan lalu aku melakukan perbuatan gila. Tak bisa dimaafkan."
Olivia menangkupkan tangan, seakan hendak berdoa. "Katakan padaku,"Olivia mendesak, rasa takut menyerbu matanya yang bercahaya dan hitam.
"Aku mencintaimu, Liv,"gumam Jason. Rasanya ia nyaris mati. "Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri. Sejak dulu aku tahu aku layak menjadi kekasihmu."
"Kau layak. Kau layak! Apa maksudmu?" Olivia mencengkram kemeja Jason, berpegangan disana.
"Megan Duffy mendatangimu tadi siang," Ujar Jason dingin. "Dia bilang dia hamil."
Olivia terbalalak."Megan Duffy! Apa hubungannya dengan kita? Megan Duffy!" Tiba-tiba Olivia berbalik, membuat Jason hanya bisa melihat punggungnya yang ramping. "Sepertinya aku tak mau tahu. Apakah ini hukuman Tuhan karena aku terlalu bahagia?"
"Liv, Kumohon, Kau menghancurkan hatiku. Kuharap, entah betapa besarnya, aku tak perlu memberitahukan ini, tapi aku ayah bayi itu, Liv."
Sesaat Olivia berdiri tanpa suara seperti patung, lalu dengan sengit berbalik menghadap Jason, sorot matanya tajam seperti mata wanita yang terkena pukulan keras. "Aku tak tahu apa yang terjadi,"ujar Olivia tegang hingga nyaris taj terdengar." Apa maksudmu kau ayah bayi itu? Bagaimana mungkin? kau mencintaiku. Kita akan menikah, ingat? Harry sudah menghabiskan jutaan dollar untuk memastikan segalanya berlangsung sempurna. Kau bohong."
__ADS_1