SANG PEWARIS HAVILAH

SANG PEWARIS HAVILAH
DELAPAN


__ADS_3

Olivia baru saja akan menanyakan maksud kata-kata itu ketika Grace menerobos pintu ayun yang digunakan untuk keluar masuk dapur. Saat melihat Olivia dan Thalia begandengan tangan, wanita itu sangat terkejut.


"Kalian sudah bertemu, kalau begitu?" bisik Grace," suaranya sama terkejutnya dengan ekspresi wajahnya.


"Hai, Grace, ada apa?" Olivia melepaskan tangan Thalia. Ia bergerak cepat menghampiri pengurus rumah tangga Havilah, memeluk wanita itu. "Ayolah, jangan menangis," bisik Olivia, menepuk-nepuk pundak Grace, berharap ia sendiri tidak menangis.


"Aku tak bisa menahannya." Bahu gemuk Grace sedikit gemetar.


"Aku tahu.


Thalia mendekat sedikit, tiba-tiba melingkarkan lengan di kaki Olivia dan bergabung dalam pelukan mereka. "Aku takut."


Olivia dan Grace segera menjatuhkan lengan mereka , memusatkan perhatian pada anak itu. "Tidak perlu takut, Thalia, "Kata Olivia lembut, menenangkan.


Thalia menggelengkan kepalanya yang berambut hitam, matanya membelalak sedih. "Kau Miss Olivia?"


"Panggil aku Olivia saja."


"Kau datang karena Paman Harry meninggal?"


Di sebelah Olivia, Grace menggeleng-geleng." Seharusnya aku memberitahu mu semalam. Aku benar-benar malu pada diri sendiri. Aku sudah mencoba."


"Memberitahu Apa?" Olivia menyelidiki mata penjaga rumahnya. Mata Grace memerah. Bahkan, wajah Grace yang biasanya penuh canda dan ramah membengkak akibat tangis.


"Aku tidak berani."


"Oh, ayolah," desak Olivia. "Ada apa, Grace? Bicaramu sema sekali tidak masuk akal.


"Kau harus memberitahu nya," kata Thalia pada Grace.


"Aku Thalia Corey." Tangannya menarik tangan Olivia. " Apakah kau akan membenciku?"


Olivia menunduk, menatap gadis kecil itu dalam diam. Apa yang baru saja dikatakan anak itu?


Kepala Olivia berputar-putar seolah akan pingsan. "Berapa usiamu, Thalia?" Tanya Olivia, sambil berpikir: Ini putri Jason. Mirip siapa anak ini? tidak mirip Jason maupun Megan. Tapi anak ini jelas tampak Familiar.


"Sebentar lagi aku berumur tujuh tahun," Thalia mengumumkan bangga. "Aku lebih tinggi daripada anak-anak seumuranku. Aku setinggi temanku, Danny, tapi aku tidak suka membaca komik-komik bodoh."


Olivia mengalihkan pandangan pada Grace, sotoy matanya sangat terkejut. "Apa yang sebenarnya terjadi disini, Grace?"


Grace bergerak-gerak gelisah. "Aku tidak berhak memberitahu mu, Livvy."


"Memberitahu apa?


Bahwa Thalia yang mengatur rumah ini?


Bahwa dia memanggil Harry Paman Harry?


Dimana rumah Thalia, Grace?

__ADS_1


Dimana ibunya?


Apa yang dia lakukan disini?


Tadi dia bilang dia yang menjagamu."


"Dasar Nakal," Ujar Grace sayang sambil mengggeleng.


"Jangan marah," ujar Thalia. mengamati ekspresi Olivia.


"Jangan bertanya pada Grace. Tanyakan pada Dad."


"Ayahmu disini?" Sekarang Olivia begitu jengkel sehingga tak tahu lagi apakah dapat mengatasi situasi ini.


"Aku akan mengantarkanmu untuk bertemu Dad," Thalia menawarkan diri. "Kalian bisa mencoba berteman lagi."


"Takkan pernah!" Seru Olivia dengan dagu terangkat.


"Tentu saja bisa. Kalian sudah dewasa. Kalian harus mencoba." Mata Thalia, bundar dan memohon, menatap wajah Olivia yang terkejut.


"Tahlia, Sayang," Grace mencoba menghentikan komentar polos anak itu.


"Tetaplah disini. Aku akan memanggil Dad." suara Thalia benar-benar tegas. Anak itu sangat dewasa untuk anak seusianya.


Olivia melangkah kedepan anak itu. "Tidak, terimakasih, Thalia."


"Maaf, Thalia, tapi lebih baik jika aku tidak bertemu Ayahmu saat ini." Tambahan sampai selamanya, memang tidak diucapkan tapi seakan jelas terdengar.


"Kau pasti tahu Dad tidak membencimu," Thalia memohon.


"Kau pasti menganggap ku sangat buruk, Livvu."


Grace *** tangan dengan kencang. "Aku benar-benar malu. Seharusnya aku memperingatkan mu." Pengakuan itu membuat Grace kembali menangis.


"Grace Please." Olivia berusaha menangkan wanita itu. Ia tak bisa menyalahkan Grace karena tidak memberitahu nya. Grace hanya menjalankan perintah.


"Grace yang malang!" Thalia mencoba menenangkan Grace dengan memeluk tubuh gempal wanita itu.


"Tidak apa-apa. Jangan cemas. Daddy akan segera datang."


"Dad sudah disini," terdengar suara dalam pria dari suatu tempat diluar beranda. "Thalia, keluarlah," kata suara itu tegas. "Kenapa kau pergi tanpa bilang padaku?"


"Hanya mampir untuk melihat keadaan Grace," Thalia mengeraskan Volume suaranya, tapi sama sekali tidak bergerak.


"Lain kali beritahu aku dulu."


Jason melepaskan sepatu bot kerja yang berdebu, meninggalkannya di beranda. "Kau memanjakannya, Grace." Sambil menunduk, Jason memasuki pintu depan. " Setiap kali aku bekerja didekat rumah, Thalia langsung lari"


Jason mendongkak, melihat Olivia. Keterkejutannya begitu besar sehingga suaranya pecah saat mengucapkan kata-kata terakhir. Gelombang-gelombang panas menderanya, mendidih seakan ia baru menyentuh kabel listrik. "Liv!" Telapak tangan mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

__ADS_1


Grace yang sudah sangat gelisah melihat momen itu sebagai kesempatan untuk menyingkir. Grace bergerak cepat, menggenggam erat tangan Thalia dan menggiringnya keluar dapur sambil menggumamkan sesuatu mengenai es krim cokelat.


Dengan kekuatan tekad, Olivia tetap berdiri disana. Hatinya menyuruh Olivia pergi, melakukan apapun selain berdiri disitu dan berhadapan dengan pria yang telah mengkhianatinya. Ia berpegang disusuran tangga untuk memantapkan diri. Jason tak bisa menyakitinya lagi. Olivia takkan membiarkan pria itu melakukannya. Lalu kenapa air mata mulai menusuk mataku? pikir Olivia. Ia membuka mulut, tapi tenggorokannya begitu sesak sehingga kata-kata tak bisa keluar. Melihat pria itu membuat semua perasaan yang selama ini ia pendam bermunculan kembali.


Oh Tuhan, jangan! harap Olivia dalam hati. Pasti ada yang sangat salah pada dirinya. Ia berhasil mengangguk kaku, tidak sadar bahwa gejolak emosinya terpancar jelas dimata. Sudah enam tahun lebih berlalu, tapi kenangan lama itu menderanya lagi, rasa , malu, amarah, patah hati tanpa akhir, kerinduan fisik akan Jason, meskipun pria itu telah mengkhianatinya. Semuanya kembali dengan sangat nyata, seakan itu baru terjadi kemarin.


"Kami kira kau baru akan tiba sore ini." Suara Jason seakan memcah keheningan yang menyesakkan.


Olivia menelan muda dengan susah payah, menahan amarah. Mengendalikan diri sangatlah penting.


"Aku juga tidak berharap bertemu denganmu," kata Olivia dingin.


"Apa yang kau lakukan disini, Jason?"


Pada akhirnya Olivia memang harus tahu.


"Aku bekerja disini, Liv," ujar Jason, tanpa sadar mendekati wanita itu. Melihat wanita itu berdiri dihadapannya nyaris seperti mukjizat, seperti mimpi, sesaat Jason mengira ia akan melakukan sesuatu yang sangat bodoh mencoba memeluk Olivia atau lebih buruk lagi, mengatakan bahwa ia masih menginginkan wanita itu. Itu takkan berhasil. Seumur hidup, Jason belum pernah melihat wanita sedingin itu.


"Tetaplah disana. Jangan mendekati ku," Olivia memperingatkan Jason ketus, melangkah mundur dengan gerakan jelas.


"Maaf." Jason berhenti beberapa langkah dari wanita itu, dilingkupi kebencian pada dirinya sendiri." Aku tidak bermaksud menakutimu, Liv. Kita harus bicara."


Olivia memaksa diri tertawa, suaranya sama sekali tanpa humor, "Aku tak mau mengatakan apa-apa padamu, Jason. Aku ingin kau pergi." Ada kesenangan tersendiri saat melihat sudut-sudut wajah Jason menjadi kaku. Pria itu tampak lebih tua, kuat, keras dan tampan. Bagian terburuknya, sepertinya Jason terbiasa memegang kendali.


"Aku akan pergi dengan senang hati, Olivia," sela Jason. "Setelah kau memberiku waktu beberapa menit. Aku perlu menjelaskan beberapa hal yang tidak sempat diberitahukan Harry padamu.


"Misalnya apa?" Olivia tak ingin menatap pria itu, tapi tak sanggup berpaling. Jason mengenakan pakaian kerja yang mendukung pernyataan pria itu bahwa dia berkerja di Havilah. Kemeja biru tua seakan memeluk bahu lebar dan dadanya yang berotot, celana jins menggantung rendah dipinggulnya yang ramping, sangat pas dengan kakinya yang panjang. Pakaiannya sederhana tapi sangat sesuai dengan tubuhnya. Jason melepaskan sepatu kerjanya sebelum masuk kerumah dan pria itu berdiri tegak setinggi lebih dari 180 sentimeter, hanya mengenakan kaus kaki berdebu. Efek keseluruhan nya berupa sensualitas alami yang sangat menarik.


Olivia merasakan dahinya berkeringat. Rasa kesak pada dirinya sendiri meliputinya, membuatnya tidak berdaya. Seharusnya ia mengingat kesalahan besar telah dilakukan Jason, bukannya merespon kemaskulinan nyata pria itu.


Mana harga diriku? pikir Olivia. Sejak awal ia memang tahu takkan siap menghadapi pertemuan ini, tapi jelas berharap lebih daripada ini.


"Aku tahu kau ada di Havilah saat Harry meninggal," ujar Olivia, merasa tak perlu menyembunyikan amarah. "Aku tahu kau yang pertama kali tahu Harry meninggal, Aku ingin berpamitan dengannya."


"Tentu saja, Aku bisa mengantarmu," tawar Jason pelan. "Jenazanya ada dirumah duka."


"Rumah suka Aronson?" Olivia merasa air matanya menggenang, lalu mengerjap untuk menyingkirkannya.


"Ya." Jason tahu betapa berdukanya Olivia.


"Aku bisa kesana sendiri." Olivia langsung menolak tawaran pria itu.


"Aku tidak membutuhkanmu Jason. Sudah terlalu terlambat untuk berpira-pura menjadi teman. Aku lelah, perjalananku panjang. Apa yang ingin kaukatakan? Aku ragu beritamu bisa membuatku tertarik. Jadi kau berkerja disini? Aku tak tau kenapa Harry bisa mengizinkanmu bekerja disini. Aku sama sekali tak bisa memaafkanmu."


"Bisakah kita bicara di perpustakaan?" Jason mengusulkan." Suara-suara merambat di lorong ini."


Dari kerutan dahi Jason yang penuh kosentarsi, Olivia tahu pria itu mengira anaknya bisa mendengar pembicaraan mereka. Olivia menurut hanya karena alasan itu, berjalan lebih dulu ke ruang tamu yang tampak indah dan anggun seperti biasa. Ia berbalik menghadap pria itu, tak ada pilihan lain dan merasakan dahi kanannya berdenyut keras. Ia bahkan memijat dahinya. "Kau hanya punya semenit, Jason, lalu aku ingin kau meninggalkan Havilah. Bagaimana bisa istrimu setuju kau kembali kesini?


Bukankah kau Mengelola peternakan diOutback?"

__ADS_1


__ADS_2