Sea : The Long Journey

Sea : The Long Journey
I. Hari Pertama


__ADS_3

Иote Author : Disarankan membaca menggunakan mode malam aka background hitam, untuk sensasi yang luar biasa.


×××


Aku terbangun dan menyadari jika saat ini aku sedang berada diatas kapal kecil yang memang sedang berada ditengah lautan lepas, sejauh mata memandang aku hanya dapat melihat birunya lautan.


"Apa yang terjadi?"


Awalnya, panik mulai menerjang. Tapi beruntung, beberapa serpihan memori ingatan ku mulai kembali bermunculan.


Aku adalah Devon, berumur 21 tahun. Seorang politikus biasa yang kemarin entah kapan itu, aku memenangkan pemilihan umum yang bertujuan untuk membubarkan perlemen sehingga dapat dilakukannya pemilihan ulang.


Beberapa saat kemudian, aku diundang kesalah satu vila ditepi pantai. Yang mengundang ku adalah para oposisi yang katanya ingin melakukan kerjasama, namun sayangnya aku berpikir terlalu naif saat itu.


Siapa sangka jika teman-teman ku juga telah merencanakan ini bersama mereka dan akhirnya menyingkirkan ku, sekarang aku terbangun dalam keadaan linglung ditengah lautan yang damai ini.


Matahari benar-benar berdiri ditengah langit, cahayanya terlalu panas. Beruntungnya, atap kapal masih dapat menutupi diriku walaupun terkesan agak sia-sia karena udara panas masih dapat menerjang ke arahku.


Disaat seperti ini, aku berusaha untuk tetap tenang. Setenang ombak saat ini, walaupun seperti ini aku juga berusaha mencari sesuatu dari dasbor kapal.


Beberapa majalah tentang bagaimana caranya membuat makanan laut ala Asia timur, satu majalah tentang badai, dan satu lagi majalah tentang motivasi yang berjudul "Teori Pengkajian Fiksi, ciptaan Dr Octopus."


Dibawah kursi kapal, rupanya ada sebuah tempat penyimpanan. Namun sayangnya itu digembok dengan kunci kecil.


Sekarang entah kenapa aku memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya merogoh kantong celana dan menemukan bahwa kunci kecil itu ada padaku.


"Bagaimana mungkin?"


Saat membuka penyimpanan itu, rupanya terlihat sebuah kotak berwarna merah dengan panjang setengah lengan kemeja. "Alat Pancing." Tidak lupa dengan panduan dan pancingannya yang dapat digulung.

__ADS_1


Saat melihat kearah luar dari setir kapal, rupanya didepan moncong kapal ada sebuah kotak yang tergeletak begitu saja.


Saat membukanya, terlihat jika ini berisi alat memasak. Sebuah kompor kecil beserta gas kaleng kecil dan beberapa bumbu dapur.


[Apapun yang terjadi, tetaplah bertahan hidup.]


Demikian sebuah kertas yang terselip didalam kotak itu, setelah membacanya. Aku benar-benar kesal dibuatnya.


"Cih, sialan!!" Umpatku.


Dengan kesal, aku kemudian berusaha pergi dari kapal ini. Sayangnya aku hanya dapat memandang lautan, bahkan dari kejauhan pun semua masih tetap sama.


Merasa putus asa, akhirnya aku duduk terdiam dikursi kapal. Berusaha untuk tetap tenang, walaupun pikiranku benar-benar penuh dengan tekanan.


Beberapa jam kemudian, kapal benar-benar berjalan tidak beraturan karena ombak kecil yang memandu nya. Membuat ku akhirnya mabuk laut.


Ingin rasanya segera pergi dari sini karena aku sudah muak muntah hampir 4 kali, tapi semua percuma saja. Aku tidak dapat kemana-mana selain tetap berada didalam kapal ini sembari mencoba beradaptasi dan menahan mual ini.


Dengan keadaan lemas, aku benar-benar haus. Namun didalam kapal ini, aku tidak menemukan jawaban atas rasa haus ku. Akhirnya, secara terpaksa aku mencicipi air laut yang terlihat jernih ini.


*UHUK!!*


Yah, rasa asinnya. Aku benar-benar lupa sebelum akhirnya tersadarkan jika air laut ini benar-benar asin. Sialnya lagi, rasa asinnya memaksa rasa mual ku untuk keluar.


Saat berjalan kearah kursi kapal, aku baru sadar jika diatas atapnya ada sebuah kotak yang tertempel. Saat mencoba untuk membukanya, rupanya itu berisi air botolan. Jumlahnya ada lima, setidaknya aku senang saat melihat itu.


Satu botol aku habiskan begitu saja, sekarang rasa asin dari mulutku sirna begitu pula dengan dahaga yang sempat menyiksaku.


Saat melihat sekeliling, cahaya oranye matahari sudah mulai nampak. Matahari kini mulai terbenam, memperlihatkan sesuatu yang cukup indah. Benar-benar indah.

__ADS_1



Dia baru saja membuat ku lupa, tentang dimana aku sekarang dan bagaimana selanjutnya.


Rasa lelah dari pikiranku akhirnya secara perlahan sirna, diiringi dengan terbenam sang mentari. Sekarang aku mulai berpikir rasional, tentang bagaimana aku harus dapat bertahan hidup ditengah lautan lepas ini.


Setidaknya, akan aku tunjukkan kepada mereka. Jika aku masih dapat bertahan hidup dan menyingkirkan mereka, lihat saja. Bahkan ketika para dewa mencoba menghentikan ku sekalipun, setidaknya aku ingin mencoba untuk melawannya.


Malamnya, perutku mulai mengeluarkan gejala lapar dan aku tidak bisa terus menerus menahan lapar dengan meminum air botolan. Berhubung persediaan yang sangat terbatas.


Aku ingat dengan satu set kotak berisikan kompor dan bumbu dapur, butuh beberapa menit sebelum akhirnya aku paham bagaimana merakit kompor kecil itu.


Namun, saat telah berhasil menyalakan apinya. Aku lupa tentang bahan makanannya.


"Bodohnya aku!!"


Tenanglah, aku masih punya alat pancing. Walaupun didalam kotak pancing itu juga ada beberapa kertas panduan, setidaknya ini pertama kalinya aku memancing.


Pertama, panjangkan dulu pancingannya. Kedua pasang kailnya dan mulai memasang umpannya, selanjutnya emm-- lemparan seperti didalam televisi kan ya?


"Sialan, panduannya cuman setengah. Sisanya terlihat ada bekas robekan, aish sepertinya mereka berusaha menyiksaku disini."


Tenanglah, sekarang lemparan kailnya keatas layaknya di acara televisi. Setelah itu aku duduk ditepi kapal, mencoba memperhatikan kail yang mulai bergerak.


Namun, perhatian ku tiba-tiba terfokus. Ke salah satu malam yang cukup indah, bintang kali ini benar-benar terlihat sangat jelas. Jumlah mereka ada ribuan-- tidak, bahkan ratusan ribu.



×××

__ADS_1


Иote Author.



__ADS_2