
Cahaya yang menyilaukan itu, sedikit demi sedikit membangunkan ku dari tidur. Secara perlahan, aku mulai bangkit dan mengetahui jika badai telah berlalu.
Senang, bahagia, dan sedih. Semua bercampur menjadi satu, entah aku harus bagaimana lagi. Setidaknya aku telah selamat.
Melihat kearah langit, awan putih dengan cahaya samar dari matahari yang cukup indah. Burung-burung terbang diatas sana dengan leluasa, saat melihat kebawah lagi.
Kapal yang aku naikin tidak berjalan, padahal ombak berkali-kali mendorong kapal ini. Setelah diusut, rupanya kapal ini berada ditepi sebuah pulau.
Pulau pasir kecil yang berukuran sebesar lapangan bola basket, ditengahnya terdapat sebuah pohon kelapa yang berdiri membengkok. Disampingnya, ada sebuah batu besar. Ukurannya tidak lebih tinggi hingga pinggang ku.
Sebelum turun dari kapal, aku melepas sendal. Kini rasa pasir yang aku sentuh, benar-benar sangat nikmat. Walaupun tahu jika daratan ini hanya ada sedikit saja.
Mendekati pohon kelapa, aku melihat beberapa buah kelapa diatasnya. Berwarna coklat tua dan sisanya berwarna hijau.
"Haruskah aku mengambil itu?"
Tapi bagaimana caraku untuk membuka itu? Walaupun memiliki pisau, tapi aku belum tahu cara membukanya.
Berhubungan dengan pisau, aku kemudian secara terburu-buru berlari kembali menuju kapal. Kemudian mengecek barang-barang diatas kapal, adakah yang menghilang?
Beruntung, satu set kompor, makanan kaleng, minuman, dan satu set pisau masih berada disini. Walaupun tahu, mereka benar-benar basah yang pada akhirnya aku memutuskan untuk menjemur mereka.
Majalah-majalah ini benar-benar basah, tulisannya juga luntur karena air. Kupikir akan percuma untuk menjemurnya, tapi mungkin majalah ini bisa digunakan untuk membuat api walaupun secara pasti aku tidak tau bagaimana membuat api dengan batu.
-----
----
---
--
-
Aku telah memanjat pohon kelapa, mengambil 4 kelapa yang menggantung. Saat mencoba menusuk sebuah kelapa berwarna coklat tua, pisau kecilku patah.
"Aish, teori didalam pramuka lebih mudah dari apa yang dipraktekkan."
Kecuali kelapanya, siang hari mulai membuat ku kelaparan. Walaupun aku ada makanan kaleng, itu benar-benar terbatas jumlahnya.
Aku tidak ingin membuang-buang sumber makanan dan memutuskan untuk menangkap kepiting yang berjalan di pesisir pulau, lucunya mereka jalan menyamping dengan capit diarahkan keatas.
"Uang! Uang! Uang!" Teriakku sambil mengikuti beberapa kepiting yang menjauh.
*SLASH!!*
__ADS_1
Singkat cerita aku menusuk mereka dengan pisau, beruntung itu dapat menembus cangkang mereka. Walaupun sebelumnya aku ragu dan jijik untuk memburu kepiting ini.
Aku telah mengumpulkan sebanyak 5 kepiting, selanjutnya aku menggunakan air minum sedikit untuk merebus mereka.
Kompornya sudah kering total, namun agak susah untuk dinyalakan pada saat-saat awal. Mungkin sekitar dua jam baru dapat menyala saat aku mengotak-atik kompornya.
Aku memutuskan untuk merebus kepiting itu selama 30 menit.
"Oke aku gak punya jam, aku juga gak tahu 30 menit itu kapan. Arghh, bagaimana cara menghitung waktu disaat seperti ini!?"
-----
----
---
--
-
Setelah beberapa waktu, airnya terlihat udah blebek-blebek. Kupikir itu udah matang dan aku mulai mencobanya, butuh beberapa kali percobaan untuk memecah cangkang kepitingnya dan kemudian memakan daging kecilnya itu.
"Hmm, rasanya gak jauh beda kaya masakan Chef Jun."
Tapi siapa sangka, 5 kepiting dengan bumbu seadanya itu. Masih belum cukup untuk membuat perutku kenyang.
Haruskah aku berburu kepiting lagi? Namun air tawar yang digunakan untuk merebusnya itu memiliki jumlah terbatas, apalagi gas yang aku gunakan untuk memasak.
Haruskah aku memakan beberapa makanan dalam keadaan mentah? Berhubung aku teringat jika sebagian makanan jepang itu tidak dimasak terlebih dahulu, tapi tunggu. Makanan apa itu? Ikan kan? Tapi ikan apa?
"Sial aku tidak memperhatikan bagian kecil ini saat sedang makan di restoran jepang."
-----
----
---
--
-
Kau tau apa yang aku lakukan dari siang hingga sore hari? Jawabannya agak merugikan, tapi cukup membuat beberapa orang penasaran.
Intinya, sekarang aku sedang duduk sila diatas batu besar. Mencoba melakukan meditasi seperti didalam film dengan tujuan untuk menenangkan pikiran, namun nyatanya pikiranku mulai semakin kacau. Belum lagi duduk seperti ini diatas batu malah membuat pinggang ku sakit.
__ADS_1
Sepertinya meditasi bukan hal yang harus aku lakukan untuk saat seperti ini, apalagi disaat sore hari mulai menampakkan dirinya.
Saat turun dari batu, aku terkejut dan baru menyadari. Jika air laut mulai naik atau mungkin pulau ini mulai tenggelam? Karena air lautnya sudah setinggi mata kakiku bahkan didekat pohon kelapa sekalipun.
Dengan panik, aku berusaha untuk berlari menuju kearah kapal. Tidak butuh waktu lama, sebelum penglihatan ku teralihkan pada sebuah botol kaca yang mengapung.
Aku sempatkan diri untuk mengambilnya dan naik keatas kapal, botol kaca ini terlihat berembun didalamnya. Pikiranku jadi menebak-nebak apa isi didalamnya.
Saat dibuka, ada bunyi.
*POP!!*
Mengintip kedalam, rupanya ada sebuah surat disana. Karena penasaran, akupun mengeluarkan kertas itu dan mulai membacanya.
[
Eiffel, hari ini aku bersama dengan prajurit lainnya mulai pergi untuk menaklukkan negara-negara tetangga.
Kuharap dimasa depan, aku masih dapat melihat mu.
-Leon.
]
Demikian sebuah surat yang ditulis menggunakan tulisan latin, aku sendiri tidak mengerti apa makna tulisannya karena menggunakan bahasa asing.
Sepertinya surat ini tidak ada unsur istimewanya, jadi aku memutuskan untuk menyimpannya bersamaan dengan botol kacanya itu.
Yah, kupikir perjalanan untuk hari ini berakhir disini saja.
×××
Disisi Lain.
Rumah Devon.
"Delon, kamu ditangkap atas tuduhan penculikan!!" Demikian sang deputi mengutarakan isi surat perintah itu saat Delon membuka pintu rumah.
Pria itu hanya memasang wajah terkejut, dia berusaha mengatakan sesuatu namun rasa takutnya itu malah menghentikan dirinya.
Pada akhirnya, dia ditangkap tanpa perlawanan dan kemudian dibawa menuju kantor polisi untuk introgasi lebih lanjut.
"Kenapa kita harus menangkap Adiknya?" Demikian wakil deputi melontarkan pertanyaan itu kearah sang deputi.
Dia terlihat tidak menjawab pertanyaannya itu dan hanya sedikit melirik kearah mobil polisi dimana Delon sudah duduk di kursi belakang.
__ADS_1
"Kita tahu, hubungan kakak dan adik mereka tidak harmonis. Bisa jadi ada unsur balas dendam didalamnya, sehingga membuat Devon kakaknya sekarang menghilang." Jawab sang deputi yang kemudian pergi meninggalkan wakilnya itu begitu saja.
Namun sang wakil deputi itu masih memasang wajah kebingungan, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Atau lebih tepatnya, dimana Devon itu berada.