Sea : The Long Journey

Sea : The Long Journey
VII. Hari Keenam


__ADS_3

Berpikir jika semuanya baik-baik saja, sekarang aku malah merasa sedang membohongi diri sendiri. Akankah ombak ini membawa ku pulang? Sial, aku sudah muak dengan bau laut.


Apakah ini disebut sebagai takdir? Apakah semua terjadi karena karma yang telah aku perbuat sebelumnya? Apakah karma itu benar-benar ada?


Haruskah aku mati bunuh diri? Menyerah atas apa yang terjadi sekarang, tapi apakah itu akan menyakitkan? Sepertinya aku harus mengurungkan niat terburuk itu, bahkan untuk mati sekalipun aku masih takut.


Dengan wajah yang pucat dan juga dengan rasa lelah yang sudah merangkul seluruh tubuhku, aku hanya dapat memandang jauh lautan.


Tatapan kosong akan keputusasaan yang telah memenuhi pikiranku, kini rasanya benar-benar mustahil untuk kembali. Bahkan aku hanya dapat berharap dan mengkhayal jika ini tidak pernah terjadi.


-----


----


---


--


-


Oh iya, aku memiliki suatu kisah.


Dulu kakekku, dia mengidap kanker dan dia ada di rumah sakit. Kemudian ada satu waktu ketika Aku dan Delon mengunjunginya dan ketika ingin pergi, dia meminta kita untuk memeluknya.


Tapi waktu itu aku terlalu takut, seperti aku tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Yang aku tahu saat itu hanyalah dia sedang sakit dan pada waktu itu aku berpikir...


"Yo, jika aku memeluknya apakah aku akan ikut sakit? Dan akankah aku menggunakan alat-alat seperti itu juga?"


Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tidak memeluknya dan kemudian itu adalah hari terakhir aku melihatnya. Aku benar-benar menyesali tindakan bodoh ku itu dan sampai saat ini pikiran itu benar-benar menghantui ku sesekali.


Itu sedikit cerita tentang kakekku, namun itu semua belum berakhir. Aku masih memiliki beberapa cerita lagi.

__ADS_1


Dulu saat Delon baru diperkenalkan kepada ku, pada saat itu aku marah. Bayangkan, setelah mendiang ibuku meninggal. Dia membawa orang baru dalam kehidupan ku dalam 3 bulan.


Pada saat itu, aku langsung berlari menuju kamar. Menguncinya dan menangis seharian, betapa kacaunya saat Delon mulai masuk kedalam keluarga ku ini.


Setiap pagi, orang tua ku selalu mengetuk pintu. Menyuruh ku untuk keluar, setidaknya dia ingin kita saling akrab dan berbagi.


Didalam aku berharap ketika aku pergi keluar, sebagai gantinya aku akan bertemu dengan wajah baru. Kau tahu, karena sekarang sudah lewat beberapa hari. Aku merasa canggung seperti sampah di kehidupan nyata.


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan disekitar orang baru dan setiap waktu aku mendapat pacar ini, selalu berakhir karena kurangnya komunikasi yang aku punya.


Itu mulai membuat ku depresi, itu yang terburuk dalam sebuah keputusan hidup. Itu tidak hanya akan menyakitiku, tapi juga akan menyakiti orang-orang disekitar ku.


Jika aku tidak hati-hati, aku telah menyakiti beberapa orang. Karena depresi yang aku miliki.


×××


Disisi Lain


Sudut pandang, Delon.


Aku memutuskan turun di halte yang kebetulan terletak cukup jauh dari rumah, bukan turun disalah satu halte terdekat dari rumah. Aku tidak tau kenapa, namun intuisi ku berkata demikian.


Hari sudah gelap, aku berjalan seperti biasa menuju ke rumah. Kemudian aku merasa jika ada seseorang yang sedang mengawasi ku dari belakang, saat menengok kebelakang aku melihat sosok gelap didalam gang yang sedang berjalan kearah ku.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamku.


Nafasku seketika menjadi tidak beraturan, tapi aku tahu jika sekarang adalah saat yang buruk untuk tidak tenang.


Mungkin agak sulit untuk tenang sekarang, namun jika aku tidak bersikap tenang sekarang. Mungkin orang yang mengikuti ku itu akan tau jika sekarang aku sedang merasa ketakutan atau gugup, selanjutnya aku hanya terus melanjutkan langkah dan tetap waspada terhadap lingkungan disekitar ku.


Beruntung aku sekarang sedang mengenakan jaket berwarna hitam, sambil mencoba untuk berpikir jernih. Aku memainkan resleting jaket dan kemudian berlutut untuk sekedar memperbaiki ikat tali sepatu yang memang tidak terlepas.

__ADS_1


Sambil memandangi sekitar, apapun itu yang akhirnya dapat membuat ku tenang termasuk tarik nafas dalam-dalam.


"Dan sekarang aku membutuhkan sebuah rencana." Pikirku.


Aku mulai melanjutkan langkah, sambil melihat sekeliling ku yang mungkin nampak aneh. Sekarang, aku mencoba mendengarkan naluri dan insting tentang apa pilihan yang akan aku gunakan nanti seperti lawan atau lari.


Sebelumnya aku tidak sempat memperhatikan orang itu, karena memang dia keluar dari gang yang gelap. Bahkan ciri-cirinya itu tidak terdeteksi pada saat itu.


Kemudian, aku berpura-pura berjalan ke suatu tempat yang memaksa untuk mengambil rute memutar. Membuatnya seakan, aku ingin pergi jalan-jalan terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang.


Sialnya, aku malah gugup dan beberapa kali salah belok gang. Sekarang rute yang sebelumnya telah aku rencanakan tiba-tiba menjadi kacau, aku tidak tahu harus pergi kemana setelah keluar dari gang ini. Walaupun begitu, aku mencoba untuk tidak terlihat sedang tersesat.


Saat sedikit melirik kebelakang, orang berjaket hitam yang mengenakan topi berwarna biru itu masih ada dibelakang ku. Itu membuktikan jika dia benar-benar sedang mengikuti ku.


"Baiklah Delon, jangan terus-terusan melirik kebelakang." Gumamku.


Jika aku terus melakukan ini, mungkin juga akan membuatnya sadar jika aku sedang memperhatikannya dan pada akhirnya akan membuatnya menyerang ku.


Aku sekarang telah merasa jika jarak kita semakin mendekat, dengan sigap aku memasukan kedua tangan ke masih-masing saku jaket yang telah berisi kunci rumah. Tangan kananku mengepal kunci itu dengan menyisakan ujung kunci yang runcing jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk memukulnya.


Ponselku mulai aku keluar, sesaat aku mulai menghubungi Rena. Adik dari pacar kakakku dan disaat itu, aku memberitahunya jika aku sedang berada dijalan Veteran II. Memberitahu, jika sewaktu-waktu aku menghilang dan tetap mengobrol bersamanya di ponsel hingga akhirnya sampai di rumah.


Besoknya, aku mengintip dari jendela. Melihat kearah luar jika ada dua mobil berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari bahu jalan, mobil itu benar-benar sangat mencurigakan.


Dihari ini juga, pesan ku tidak kunjung dibalas oleh kakak. Membuat ku berpikir jika dia sedang ada di apartemen pacarnya.


Sebelum keluar, aku menyempatkan diri untuk memberi pesan kepada Reina jika aku akan berkunjung disana.


Beruntung, kakak pernah memberitahu ku jika berpapasan dengan orang yang tak dikenal. Aku harus menatap matanya, tapi seperti nasehatnya dulu. Jangan menatapnya terlalu lama, cukup beberapa saat seraya kamu ingin mengatakan "Aku melihat mu!!"


Sebenarnya dia sering menatap mataku untuk melihat aku sedang berbohong atau tidak, walaupun sejujurnya aku selalu tidak merasa nyaman jika ditatap seperti itu.

__ADS_1


Namun sebelum sempat keluar dari rumah, suara bell rumah terdengar cukup nyaring.


Saat mengintip keluar, dia adalah pria yang mengenakan jaket hitam dan topi biru yang sama. Pria yang sebelumnya membuntuti ku semalam.


__ADS_2