
"Cepatlah menyingsing sialan!!" Umpatku saat sedang berdiri dalam keadaan menggigil.
Semalaman aku benar-benar kedinginan, siapa sangka jika angin malam sedingin itu. Membuat ku terjaga sambil menyalakan kompor dengan api kecilnya selama berjam-jam untuk sekedar menghangatkan diri.
Kesabaran ku habis semalam, secara nyata aku tidak mendapatkan apa-apa dari hasil memancing ku. Hanya sampah plastik yang tersangkut di kailnya, padahal aku udah senang duluan saat tau kailnya itu mulai bergerak-gerak.
"Woah!! Akhirnya cahayanya menyambar tubuhku!!"
Walaupun rasanya belum terlalu panas, setidaknya cahaya matahari masih dapat menghangatkan tubuh. Akhirnya aku dapat kembali hidup, setelah semalaman meringkuk kedinginan. Berharap malam cepat berlalu.
Berhubung dengan semalam, aku tanpa sengaja menendang dasbor. Sehingga membuatnya lepas, kau tahu apa yang aku temukan dibalik dasbor itu? Itu adalah sebuah koper kecil berwarna biru.
Isinya ada beberapa makanan kaleng, setelah dihitung jumlahnya tidak lebih dari 30 kaleng. Tapi aku tidak tau itu matang atau tidak, karena makanan kaleng itu menggunakan bahasa Rusia.
Fakta menariknya, aku makan itu semalam. Awalnya agak susah untuk membuka kalengnya, tapi untungnya di selipan koper ada satu set pisau yang memiliki berbagai macam ukuran.
Rasanya agak sedikit berbeda dari daging pada umumnya, mungkin karena bumbu yang sudah tercampur didalam kaleng itu sehingga membuat cita rasa tersendiri.
-----
----
---
--
-
Siang hari, panasnya benar-benar kacau. Mungkin aku bisa masak dari panasnya matahari, setidaknya aku malah yang seperti sedang terpanggang.
Sambil mencoba memancing, aku meninggalkannya sendiri yang dimana pancingannya aku gantung dengan seutas tali didekat tiang kapal.
Sambil menunggu ikan menggigit umpan, aku usahakan membaca beberapa majalah. Awalnya, aku membaca majalah yang membahas tentang berbagai macam badai.
Tapi siapa sangka jika rasa bosan ku datang terlalu cepat, sehingga membuat ku melihat majalah lainnya. Seperti majalah masakan laut ala Asia timur.
Walaupun agak kesal karena majalah itu menggunakan bahasa Inggris, setidaknya aku mengerti beberapa kata dan beruntungnya lagi majalah itu memiliki gambar.
__ADS_1
-----
----
---
--
-
Pancingnya mulai bergerak, aku dengan tersenyum langsung datang menghampirinya dan mulai menarik pancingannya. Tapi siapa sangka, jika itu akan jadi berat jika ditarik.
Entah apa yang menggigit kailnya, itu benar-benar meronta didalam laut. Aku harus menggunakan tenaga lebih untuk menaklukkan mangsa.
Beberapa menit berselang, aku bersama pancingan tidak menemukan sebuah kemajuan sekalipun. Benang pancingnya seperti tertahan oleh sesuatu didalam laut dan aku hanya dapat mengintip dari permukaan saja, berhubung berenang bukan keahlian ku.
Menit kemudian mulai berlalu lagi, aku tidak tahu pastinya. Setidaknya benang pancingnya mulai bergerak lagi dan dengan sigap aku menahannya dan mulai menariknya lagi.
"Arghh!! Berat banget, apasih yang gigit?"
Oh iya, tarik ulur. Itu kata-kata yang aku ingat dalam sekejap dari sebuah acara televisi, tapi siapa sangka melakukan itu tanpa dasar benar-benar sangat tidak membantu. Aku takut pancingnya akan patah jika terus melakukan itu.
*BRUAK!!*
Aku terlempar kebelakang, saat dengan sekuat tenaga menarik pancingannya. Rupanya, ikan yang menggigit kailnya telah lepas.
Saat mengetahui itu, bukan lagi sakit yang aku rasakan. Melainkan rasa kesal karena tenaga ku terbuang sia-sia.
"WTF!!!"
"Aish, kalau tahu nangkap ikan sesulit ini mungkin dulu aku tidak meremehkan para nelayan."
-----
----
---
--
__ADS_1
-
Beberapa jam kemudian, aku duduk terdiam diatas kursi kapal. Masih sedikit kesal mengetahui apa yang baru terjadi, namun kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Air laut kali ini benar-benar tenang, kapalnya tidak bergoyang karenanya. Udara panas, seketika berubah menjadi hembusan lembut udara dingin.
Langitnya? Saat melihat kearah atas, seketika tubuhku bergetar. Seraya tahu, jika akan ada hal buruk yang menghampiri.
"Badai?"
Sial, jika itu benar-benar terjadi. Kapal kecil ini tidak akan dapat bertahan, buruknya lagi aku bahkan tidak dapat berenang.
Dengan cepat aku pergi ke tepi kapal, mencoba mendayung menggunakan tanganku. Namun hasilnya sia-sia karena kapalnya nampak tidak bergerak sama sekali, kecuali awan berwarna hitam itu yang dengan cepatnya mulai menutupi langit.
Saat melihat kebelakang, aku dapat mengetahui jika mesin kapal masih terpasang. Saat membuka wadah bensin, itu benar-benar masih terisi penuh.
Tapi itu semua menjadi kacau ketika tali yang biasanya digunakan untuk menarik dan menghidupkan mesinnya tidak ada.
"Bagaimana ini ya tuhan?"
*SREEET---*
*DUAR!!*
"AAA!! Aku takut petir." Terikku yang kemudian langsung meringkuk masuk kebawah atap.
Kilatan cahaya benar-benar terlihat dengan jelas, buruknya lagi suara petir setelahnya dapat memekakkan telinga.
Buruk, aku benar-benar punya trauma dengan hal-hal itu dimasa kecil dan sekarang aku dipaksa untuk menikmatinya?
Sial, tuhan macam apa yang mempermainkan takdir ku seperti ini. Bahkan dia sudah melakukan itu dari awal.
"Apa kau dengar suara hati ku itu hah?!!" Teriakku dalam posisi meringkuk, dengan mata yang aku tutup dan telinga yang aku tutupi dengan kedua tangan.
"Cih, setidaknya jawab aku. Buat aku pergi dari tempat ini!!"
"Sialan!! Kau yang memulainya!! Aku benar-benar membencimu!!"
__ADS_1