Sea : The Long Journey

Sea : The Long Journey
VIII. Malam Yang Indah


__ADS_3

Setelah ini apa yang akan terjadi? Entah kenapa, aku mulai berhenti memikirkannya.


Selalu saja berakhir seperti ini, bahkan sekarang aku merasa jika seluruh orang di dunia ini sedang mencoba untuk menyingkirkan ku.


Tapi siapa sangka, jika di tengah lautan lepas ini aku tidak merasa kesepian sedikitpun. Deru angin dan ombak saling mengiringi, tidak lupa bintang-bintang yang berkelap-kelip indah dilangit.


Awalnya, aku tidak ingin mempedulikan itu semua dan berusaha untuk mengutuk takdir yang menimpaku ini.


"Tanpa internet dan tanpa orang yang dapat diajak berbincang, mungkinkah aku akan mati dalam kesendirian?"


-----


----


---


--


-


Dear Reina.


Aku tak pernah bisa menyampaikannya dengan baik kepada mu, namun apakah kamu sadar jika aku telah pergi? Karena aku meninggalkan dirimu tanpa sempat mengatakan apa-apa.


Kini jalan yang ku tempuh masih panjang, semoga saja kamu tidak berhenti berharap. Yakinlah aku akan pulang dan pasti akan pulang, walaupun nantinya waktu yang akan menjawab itu semua.


Yang kutahu sekarang, kamu begitu mencintai ku tanpa karena dan aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan itu lagi saat bertemu dengan mu nanti.


Waktu itu aku terdiam disisi mu, karena aku sadar jika kata-kata saja tidak akan cukup. Seharusnya kisah cinta ini tak perlu membuat orang lain tahu, betapa kacaunya diriku ini.

__ADS_1


Karena cukup kita saja yang saling mengerti, memang kamu berhak membenci ku karena semua pengkhianatan ku.


Namun percayalah, jika kamu memberikan ku sebuah kesempatan lagi. Aku akan mengakuinya, memperbaikinya, dan menghakimi diriku sendiri. Seperti yang pernah kamu berikan kepada ku dulu, sebuah kasih sayang.


Sekarang aku mulai menyadari, betapa berharganya sebuah hubungan itu disaat aku kehilanganmu. Andai saja aku dapat memutar waktu, mungkin aku tak akan senaif ini.


Hingga aku bertemu kamu lagi, aku akan tetap mencintaimu. Meski, kamu menolakku sekalipun.


Meski kenangan-kenangan ku bersamamu itu membuat ku sedih, namun aku percaya jika ini semua masih dapat diperbaiki seperti semula. Meskipun aku sadar akan kesepian ku saat ini dan hampir kehilangan semua harapan-harapan yang tersisa.


Namun semua itu malah membuat ku tetap bertahan, aku percaya kamu akan menunggu ku. Karena berkat dirimu, aku merasakan sebuah kasih sayang.


×××


Disisi Lain


Sudut pandang, Wakil Deputi.


"Ya." Jawabannya singkat, sambil mulai keluar dari mobil dan kemudian menyalakan rokok.


Sebenarnya, kita sedang melakukan pengintaian didepan rumah Devon. Tapi seperti kata Deputi sebelumnya, jika Delon akan pulang terlambat dan memilih untuk turun di halte bus yang letaknya cukup jauh dari rumahnya.


Setelah beberapa menit menunggu, Delon akhirnya pulang sambil menelpon seseorang. Ekspresinya terlihat cukup serius, bahkan dia sendiri tidak dapat fokus membuka gembok rumah sehingga membuat kuncinya terjatuh berkali-kali.


"Ini aneh, dia seperti ketakutan." Kataku.


"Mungkin saja karena seseorang di telpon itu." Jawab Sang Deputi yang kemudian masuk kedalam mobil setelah menghabiskan rokoknya itu.


"Tapi, apakah benar Devon menghilang?" Tanyaku ragu kearahnya.

__ADS_1


Dia hanya melirikku sebentar, sebelum akhirnya memalingkan wajahnya dan tertawa secara perlahan.


"Benar, dia menghilang. Anggota dewan membuat laporannya kemarin."


Aneh, sebelumnya dia berkata jika Para Dewan telah melaporkan bahwa Devon menghilang 5 hari lalu. Tapi kenapa laporannya berubah menjadi kemarin?


"Aku belum melihatnya." Kataku, mengarahkan pembicaraan ke laporan itu.


Kata-kata ku barusan malah membuat tempat ini kemudian menjadi sunyi selama beberapa saat.


"Hmm, apa yang kau pikirkan? Apa yang akan terjadi jika media tahu Devon menghilang?" Tanyanya dengan tatapan serius dimatanya itu. "Media akan meledak, semua orang akan dicurigai. Dia menghilang bagaikan seorang aktivis, itulah sebabnya mengapa atasan kita masih menahan laporan itu." Jawabnya.


"Jadi maksudnya kita sedang melawan waktu? Berharap media tidak tahu terlalu cepat jika Devon menghilang?" Tanyaku memastikan.


"Ya, sekarang lihat pria disana." Jawabannya yang kemudian menunjuk kearah seorang pria yang mengenakan jaket berwarna hitam.


Dia terlihat sedang berdiri didepan gerbang rumah Devon yang tertutup, seperti sedang mengintai dan merencanakan sesuatu. Tapi, apakah dia sedang mengincar Delon didalam? Apakah dia seorang pencuri atau perampok? Lalu kenapa Deputi malah terlihat biasa saja?


"Intelijen Negara, siapa sangka jika mereka ada disini juga." Kata Deputi memecah suasana serius ku.


Aku yang mendengar itu kemudian bertanya-tanya dalam pikiran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada Intelijen Negara didepan rumah yang sedang kita intai ini?


"Mereka bukan di pihak kita." Kata Deputi. "Siapa tau, merekalah yang sebenarnya menculik Devon. Lalu sekarang sedang mencari peluang untuk melakukan hal yang sama kepada adiknya itu." Lanjutnya, berusaha membangun opini kearah ku.


Apa ini sungguhan? Sebenarnya kau ada di pihak siapa wahai Deputi? Lalu kenapa kau dengan tenangnya dapat mengatakan jika mereka bukan di pihak kita? Sebenarnya, apa yang sedang kau sembunyikan?


Berusaha untuk tetap tenang, aku kemudian mengambil walkie talkie diatas dasbor mobil. Namun belum sempat menyentuhnya, Deputi memegang tanganku dengan cepat seraya ingin memberitahu "Tidak seharusnya aku menyentuh itu."


"Bantuan tidak akan datang Berlin." Katanya singkat yang kemudian secara perlahan melepaskan tanganku dan melihat kearah sebaliknya, sekarang dia memberiku sebuah keputusan antara mengambil walkie talkie itu atau tidak.

__ADS_1


Ragu, itulah yang terjadi. Untuk pertama kalinya, aku meragukan seniorku. Untuk pertama kalinya juga, aku meragukan keputusan ku ini.


"Ya." Jawabku singkat sambil menjauhkan tanganku dari walkie talkie itu.


__ADS_2