
Hujan beserta angin kencang secara tiba-tiba turun, kini ombak besar mulai mengangkat kapal kecil ini dan kemudian melemparnya dengan kasar. Barang-barang didalam geledak kapal mulai berhamburan keluar, sedangkan aku berusaha menahannya supaya tidak jatuh ke laut.
Petir-petir terdengar cukup kencang, cahaya kilat yang dibuatnya kini telah menjatuhkan mental ku. Tidak butuh waktu lama sebelum kapal kecil ini, mulai kembali terangkat keatas oleh ombak.
Aku dapat merasakannya, kini tubuhku basah. Hujannya benar-benar sangat besar, tidak ada tempat yang aman untuk berteduh.
Bahkan aku dapat melihat pusaran angin diatas laut, itu benar-benar mengerikan. Sejujurnya aku mencoba bertahan, sembari menahan barang-barang supaya tidak berhamburan keluar. Sambil berharap badai ini cepat berlalu, namun harapan itu terasa sangat sia-sia.
"Ya tuhan maafkan aku, kumohon aku tidak mau mati seperti ini apalagi tenggelam. Aku janji jika aku selamat, seluruh konspirasi di wilayah pemerintahan akan aku akhiri dan juga aku akan menyerahkan diri atas kasus penggelapan uang. Kumohon, ampuni aku--- sebelumnya aku benar-benar tidak sengaja."
Disaat itu pula, aku masih dapat merasakan jika lautan besar ini masih mengamuk. Suara gemuruh air, memecah suasana yang semakin mencekam.
(Aku akan mati seperti ini? Tenggelam ke dasar laut, beserta dosa yang telah aku buat sebelumnya? Sungguh memalukan.)
Kini, kapal ini terlempar cukup kasar setelah sebelumnya terangkat oleh ombak. Beruntung, kapalnya tidak terbalik ataupun terbelah karenanya.
Namun, aku dengan sadar masih dapat melihat ombak besar sedang mengarah kesini. Berusaha untuk melahap seluruh kapal kecil ini beserta isinya dalam sekali telan.
Mengetahui hal itu, aku hanya dapat terdiam kaku bergetar dan ketakutan. Padahal, dulu aku tidak pernah merasa setakut ini.
-----
----
---
--
__ADS_1
-
Ya, disaat seperti inipun aku mulai teringat akan segala kesalahan yang pernah aku perbuat dulu.
Disaat itu, aku memiliki seorang kekasih. Dia adalah Reina, seorang kekasih yang begitu sempurna bagiku. Beruntung, aku dapat memilikinya dengan hal sederhana yang bernama cinta itu.
Namun, tanpa aku sadari. Bosan mulai menghantui ku yang pada akhirnya membuat ku sedikit mengkhianati cinta ini. Lucunya, aku juga melakukan itu dengan adiknya sendiri.
Disisi politik, disaat telah memenangkan pemilihan tahun lalu. Aku mulai memberlakukan rencana yang bertujuan untuk membersihkan lawan politik, sehingga pada akhirnya aku melakukan beberapa cara kotor. Mereka semua aku jebak dengan berbagai macam hal, seperti kasus narkoba, penyuapan, bahkan pemerkosaan.
Aku juga teringat tentang suatu hal, ketika aku pergi ke sebuah supermarket di daerah pedesaan waktu itu. Ada anak kecil yang menabrakku, rupanya dia memang sengaja melakukan itu untuk mengambil dompet didalam jas yang aku kenakan.
Saat tertangkap, dia berkata bahwa dia membutuhkan uang itu untuk merawat adiknya yang sedang sakit. Awalnya aku tidak percaya dengan perkataannya itu dan kemudian aku bawa dia menghadap kekantor polisi, sayangnya beberapa hari berikutnya aku mendapatkan kabar jika adiknya meninggal tergeletak ditepi jalan.
"Tapi,... Tidak!!"
Seketika pikiranku kacau beberapa saat, jujur waktu itu aku membutuhkan beberapa pengalihan. Sebuah pelampiasan, sulit dipungkiri jika aku memiliki seorang adik tiri.
Setiap hari, anak laki-laki itu selalu aku panggil sebagai "Anak Haram." Memperlakukannya layaknya seekor anjing, menyuruhnya tidur di gudang dan makan dilantai.
"Cih!!"
Aku benar-benar membencinya, karenanya Oma meninggal. Anak lacur itu, seharusnya tidak tinggal bersama kami.
Ya tuhan, entah aku harus bersyukur atau mengutuk takdir ini. Beberapa plot nyatanya sulit untuk diterima, apalagi dijalani.
Apakah aku menyesal telah berpikir seperti ini? TIDAK!! Lalu apakah aku harus mulai menyembah para iblis untuk menuntut keadilan diakhirat kelak? Sepertinya juga tidak.
__ADS_1
Nyatanya, memang aku yang terlalu melebih-lebihkan segalanya dan aku terlalu lemah untuk menerima semua ini.
Maaf, aku benar-benar menyesal. Kumohon, dengar aku. Walaupun sekali saja.
-----
----
---
--
-
Ombak besar menghantam kapal lagi, kupikir kapal ini akan tenggelam karenanya. Namun siapa sangka, jika airnya itu malah membasahi geladak kapal dan bahkan berkali-kali tanpa sengaja air asin itu terminum olehku.
Mataku benar-benar perih karenanya, rasa lelah sudah menyelimuti tubuhku yang berusaha berpegang erat sambil menahan barang-barang supaya tidak terbawa keluar.
Suara pecah dari ombak yang saling bertabrakan, dibarengi dengan rintikan hujan yang semakin deras. Membuat suasana mencekam ini semakin sulit aku terima, apalagi disaat hawa dingin benar-benar membuat ku membisu.
Jujur kapal kecil ini berkali-kali tenggelam, namun tidak butuh waktu lama sebelum kapal ini terangkat kembali keatas oleh ombak.
Disaat itu terjadi, aku dapat melihat langit kelam berwarna biru yang begitu menakutkan. Nafasku sudah sangat basah, detak jantung ku juga semakin sulit untuk diatur lagi.
Agak lucu disaat seperti ini, ada beberapa ekor ikan yang menabrak badanku. Entahlah, antara tertawa atau ketakutan. Aku bingung untuk mengekspresikannya, hanya mataku saja yang mulai berlinang air mata.
Hidup dan mati ku kini, bukan aku lagi yang menentukannya. Hanya alam-- maksudku sang pencipta lah yang tahu.
__ADS_1
Kuharap aku masih memiliki kesempatan untuk mengakui semua dosaku dihadapan orang-orang banyak, sambil berharap bahwa mereka tahu sisi kelam ku yang tidak pernah diketahui itu.