Sea : The Long Journey

Sea : The Long Journey
VI. Kabut


__ADS_3

Malam sebelumnya, awan yang membawa badai itu hanya sekedar lewat tepat diatas ku. Sambil membawa terror yang tidak kunjung berhenti untuk menghantui pikiranku.


Saat setelah awan hitam nan kelam itu menghilang, ombak laut telah kembali tenang. Bahkan hembusan angin yang sebelumnya lumayan besar pun kini berganti menjadi hembusan angin sepoi-sepoi, layaknya tidak pernah terjadi apa-apa.


Anginnya membawa hawa dingin yang menusuk, aku bahkan tidak dapat tidur walaupun rasa kantuk sudah mendekap ku dari belakang.


Berkali-kali aku tertidur, namun juga itu hanya berlangsung selama beberapa menit saja. Rasanya benar-benar sangat melelahkan.


Semua itu akhirnya membuat ku terjaga, sambil duduk aku mencoba menenangkan diri. Ketika mengetahui rasa mual mulai melilit perutku.



Deru nafas ku mulai tidak beraturan, udara kali ini benar-benar sangat tipis. Mataku bahkan mulai berlinang, berkali-kali juga aku berusaha untuk muntah. Namun hasilnya nihil, aku sekarang malah seperti orang sakit.


"Apakah wajahku pucat?"


Sambil mendekati tepi kapal, aku  kemudian memutuskan untuk mencuci muka ku dengan menggunakan air laut yang  cukup asin dan juga dingin ini.


Belum lewat beberapa detik, aku mulai menggigil yang pada akhirnya membuat ku meringkuk dipojokan kapal. Sayang sekali, ombak sebelumnya membuat satu-satunya baju yang aku miliki basah karenanya.


Tubuhku bergetar dan sesekali aku mencoba mengepalkan kedua tangan dan meniupnya, seraya membuat kehangatan disepanjang telapak tangan. Namun hasilnya sama saja, bahkan nafas mulut ku kini telah berubah menjadi dingin.


"Ya tuhan, berapa lama ini akan segera berakhir?"


-----


----


---


--


-


5 Juni.

__ADS_1


Setelah membersihkan lawan politik yang ku anggap sebagai parasit dimasa depan, semua harta kekayaan mereka aku alihkan menjadi nama kepemilikan ku.


Seketika setelah semua itu berhasil dipindah tangankan, aku menjadi orang terkaya dinegeri ini. Cukup mengesankan bukan? Apalagi ini seperti merebut permen dari anak bayi.


Namun, para **** mulai mengendus bau uang. Bahkan aku sendiri tidak tahu siapa yang benar-benar tulus mengikuti ku pada waktu itu.


Semuanya menjadi rumit, ketika Badan Anti Korupsi Pemerintah mulai bertindak diluar dugaan. Untuk mengelabuhi mereka, beberapa batang emas dan surat-surat berharga aku kubur secara terpisah.


Didekat taman nasional, ada sekitar 40 batang emas dengan berat 40 kg aku kubur ditengah hutan. Bodohnya lagi, aku malah lupa menaruh salinan dimana aku mengubur itu.


Sedangkan untuk surat berharga, aku menaruhnya diruang tersembunyi didalam kamarku. Semoga saja, rumah yang sekarang ditempati oleh adik tiri ku itu tidak terbakar atau semua usahaku untuk menyembunyikan itu semua akan berakhir sia-sia.


Jujur, hanya aku seorang yang mengetahui ini dan secara samar aku juga telah memberi tahu kepada 3 orang lainnya tentang apa yang sebenarnya aku sembunyikan itu.


-----


----


---


--


-


Tapi tenggorokan ku benar-benar kering, aku ingin minum air walau sedikit. Namun rasa mual itu, selalu menghantuiku setiap kali aku meminum air.


Lemas, itulah yang terjadi. Aku bahkan hampir tidak memiliki tenaga untuk berdiri, mungkin sekarang selain tenggorokan ku yang kering, mataku juga merasakan hal yang sama.


Perih kini mulai melanda mataku, aku benar-benar harus tidur. Namun saat ingin berbaring sekalipun, asam lambung ku langsung naik yang pada akhirnya membuat ku harus tidur dalam posisi meringkuk.


"Sial, aku benar-benar sakit. Ditengah laut sekalipun, aku bisa sakit."


Beberapa waktu kemudian, aku terbangun karena ombak. Mengetahui jika langit mulai berwarna putih, namun kabut masih menyelimuti sekitar tempat ini.


Sialnya, sakit yang ku derita belum juga menghilang. Sebelumnya kupikir jika itu akan segera berlalu disaat aku tidur walaupun sebentar saja.

__ADS_1



"Apakah itu kapal?"


Sangat disayangkan, aku terlalu lemas untuk berteriak. Bahkan untuk berdiri sekalipun, aku tidak bisa.


Hanya meringkuk dengan tatapan lemas dan rasa haus yang masih mengancam tenggorokan ku, bahkan aku mulai terbiasa dengan dinginnya udara.


×××


Disisi lain.


Kantor Kepolisian


Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya Sang Deputi keluar dari ruang introgasi dengan wajah kesal.


"Apa yang terjadi?" Demikian Wakil Deputi melontarkan pertanyaan itu kepadanya.


Sang Deputi hanya menggeleng kepalanya seraya tidak ingin memberitahu apa-apa.


"Bukankah seharusnya kita memasang alat perekam?" Kemudian pertanyaan berikutnya kembali diajukan kearah Sang Deputi yang baru saja duduk diatas sofa.


Memang benar, alat perekam biasanya ditaruh didalam ruang introgasi. Tujuannya tidak lain adalah supaya kita dapat mengulangi jawabannya lagi dan mengidentifikasi apakah dia sedang berbohong atau tidak.


Namun kali ini berbeda, bahkan saat introgasi sekalipun. Sang Deputi hanya ingin melakukannya sendiri dan bahkan diluar ruangan pun hanya ada Wakil Deputi seorang.


"Tidak ada yang perlu didengarkan, dia tidak mengatakan apa-apa." Jawab Sang Deputi.


Wakil Deputi yang mendengar itu hanya mengangguk kecil, rasa ragu masih menyelimuti pikirannya.


Bagaimana bisa, ada surat penangkapan yang tertuju kepada Delon dengan tuduhan penculikan terhadap kakak tirinya sendiri. Secara, saat membaca laporannya. Aku bahkan tidak menemukan nama si pelapor didokumen tersebut.


"Haruskah aku membuat laporannya? Jika kita baru saja melakukan introgasi?" Tanya ku dengan tatapan ragu kearah Sang Deputi.


Dia yang melihat kearah ku hanya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kita harus mencari tahu dimana Devon berada, sebelum akhirnya seluruh media menyadari jika dia menghilang." Demikian jawaban Sang Deputi, dia kemudian menepuk pundak ku dan kemudian berjalan pergi. "Aku yang akan membuat laporannya itu, kau istirahatlah dan bawa Delon ke penjara." Lanjutnya.


__ADS_2