
keesokan harinya Annisa bangun dengan mata bengkak sehabis menangis semalam, walaupun wajahnya jadi bengkak kecantikan yang dimilikinya tetaplah terpancar walaupun cahaya diwajahnya meredup. Annisa memalingkan wajahnya kearah dimana Bayu sedang terlelap tidur, sekarang baru pukul 05:46 pagi.
Annisa berjalan dengan perlahan menuju kamar mandi dan terdengar suara percikan air di pagi buta yang membuat Bayu membuka matanya. di depan cermin kamar mandi Annisa sedang menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan yang kosong. terlihat kesedihan yang begitu dalam dari sorotan matanya yang memerah akibat menahan tangis.
Annisa keluar dari kamar mandi dan sempat terkejut saat melihat Bayu yang sedang duduk dipinggiran tempat tidur sedang memainkan ponselnya. dengan acuh Annisa berjalan melewati Bayu yang juga mengabaikannya, setelah Bayu masuk kedalam kamar mandi Annisa segera menggelar sajadah, dan menunggu Bayu selesai di kamar mandi.
tidak ada kalimat yang terucap dari bibir mereka, tapi Bayu tetap melaksanakan kewajibannya sebagai Imam di dalam rumah tangganya. setelah dari kamar mandi barusan Bayu sempat kagum dengan Annisa yang terbungkus kain mukena yang terlihat sangat indah. mereka berdua melaksanakan shalat berjamaah dalam kekhusyuan, suara Bayu terdengar indah saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"barusan mama kamu sempat nelpon.......katanya sebelum menempati rumah baru, kita harus menginap dulu dirumah keluarga kamu......" kata Annisa memecah keheningan
tidak ada sahutan ataupun penonalakan dari Bayu yang membuat Annisa menjadi tidak enak hati, dia berpikiran apakah dirinya telah mengatakan sebuah kalimat yang salah. diamnya Bayu membuat Annisa kembali terpuruk dan sedih, pandangannya bahkan kabur oleh air mata. dia begitu terpukul dengan sikap Bayu kepadanya sekarang.
selama ini dia hanya melihat sisi yang hangat dari Bayu, tepatnya sebelum mereka menikah. dia benar-benar tidak menyangka dengan hadirnya sikap dingin dari Bayu yang selama ini tidak pernah terlihat. bahkan dulu Bayu selalu menghadapi suatu masalah dengan hangat bahkan kepada musuhnya sekalipun.
"apakah kamu lapar?" tanya Bayu setelah lama hening
" nggak, tapi jika kamu lapar aku akan meminta pelayan mengantarkan sarapan untukmu......" Annisa berjalan mendekati telpon hotel dan menghubungi bagian dapur agar mengantarkan sarapan untuk Bayu
Annisa menyibukkan dirinya dengan ponsel digenggamnya, dia tidak ingin terlihat lemah hanya karena sikap acuh tak acuh kepadanya.
"tok.....tok.....tok.......pelayanan datang" kata sang pelayan sambil mengetuk pintu
__ADS_1
Annisa berjalan menghampiri pintu dan membukanya, sarapan yang dipesannya untuk Bayu telah datang.
" tolong taruh dimeja saja...." kata Annisa ramah mempersilahkan1 sang pelayan wanita masuk
tatapan pelayan wanita itu saat memasuki kamar hotel tertuju pada sosok Bayu yang memang sangat memukau di atas tempat tidur. Annisa yang melihat kejadian itu hanya diam, karena dia juga telah berjanji tidak akan mengurusi kehidupan suaminya, jika tidak berhubungan dengan kewajiban seorang istri.
pelayan itu keluar dengan wajah kesal, mungkin dia masih belum puas mengagumi kharisma Bayu. Annisa berjalan mendekati Bayu yang sedang fokus pada berkas yang ada di tangannya.
"kak Bayu sarapannya udah siap....." kata Annisa dengan lembut
"hemmm......." sahut Bayu dan meletakkan berkas yang di bacanya
Bayu segera menuju sofa untuk menghabiskan sarapannya dalam keheningan. sedangkan Annisa hanya duduk dalam diam di depan cermin rias, seperti tidak ada semangat. gerakan halus dimulai Annisa untuk merias dirinya, hanya perlu sedikit sentuhan makeup saja kecantikan Annisa menjadi semakin memukau, dijangkaunya hijab yang tersampir disampingnya dengan senyuman kecil.
saat sampai di lobi hotel mereka jadi pusat perhatian, dengan wajah tampan dan tubuh gagah milik Bayu bersanding dengan wanita cantik nan anggun dengan ujung hijabnya yang panjang melambai-lambai mengikuti langkah sang pemakai. wajah Bayu yang semulanya terlihat dingin kini menjadi cerah saat berada di kerumunan manusia.
"aku ingin menemui beberapa kenalan dulu, kamu tunggulah disini....." kata Bayu dengan nada perintah
"baik....." belum selesai kalimatnya Bayu telah melangkah pergi " aku memang wanita bodoh....... karena telah memilih untuk menikahi laki-laki sesempurna dirinya......" gumam Annisa sedih setelah jauh dari jangkauan Bayu
mata Annisa kembali berkaca-kaca, saat menyadari betapa bodoh dan rendahnya harga dirinya sekarang hanya karena laki-laki yang tidak pernah menganggapnya ada. bahkan nasibnya sekarang jauh lebih menyedihkan dari seorang janda yang ditinggal suaminya. Annisa hanya bisa meremas ujung hijabnya menahan kekesalan yang hampir meluap keluar, ternyata pilihannya untuk menikahi laki-laki yang sangat dikaguminya adalah pilihan yang sangat salah.
__ADS_1
pikirannya melayang kemana-mana dan membuatnya ingat akan pesan seorang teman yang membuatnya menjadi seorang wanita Sholehah seperti sekarang. dia merindukan sosok Hasan yang akan selalu mendukung dan menasihatinya dalam keadaan apapun itu. banyak kenangan indah mengenai sosok Hasan dalam ingatannya, hingga membuatnya tersenyum simpul memandang suaminya di ujung sana yang sedang berjalan kearahnya.
"maaf kamu sepertinya harus pulang sendirian.....ada beberapa hal yang harus kuurus dikantor terlebih dahulu......" kata Bayu saat telah berada di hadapan Annisa
"aku ngerti, aku bisa pulang sendiri......" kata Annisa dengan senyum manis
setelah mencium tangan Bayu dan berpamitan Annisa segera berbalik dan berjalan dengan riang melangkah ke jalan yang akan menentukan kehidupan rumah tangganya. mereka berbeda tujuan dan itu adalah hal yang akan menentukan kehidupan mereka kedepannya tapi Annisa melangkah dengan riang kearah yang berlawanan dengan Bayu.
apakah Annisa akan hidup dengan baik selanjutnya atau wajah itu hanya akan menjadi topeng di kehidupannya yang akan datang. sedangkan Bayu melangkah dengan wajah yang datar kembali menemui teman-temannya yang sedang menggodanya.
" mungkin ini adalah awal yang membingungkan....." gumam Annisa sambil menunggu taksi
" neng Annisa ya?" tanya seorang laki-laki paruh baya
" iya benar...."
" taksinya ada di sebelah sana neng........ mari saya bawakan......" kata sang sopir dengan ramah ingin membawakan tas bawaan ku
" makasih pak, tapi saya bisa membawanya sendiri...." tolak Annisa ramah
di dalam mobil Annisa duduk dengan diam sambil memainkan ponsel genggamnya. diluar langit sedang mendung sangat indah untuk dilewatkan, karena suasanya menjadi semakin indah dengan pemandangan burung-burung yang berterbangan di langit menambah kekaguman setiap orang yang melihatnya. Annisa menggumamkan kalimat pujian kepada Sang Pancipta saat matanya memandang keluar jendela mobil.
__ADS_1
mobil masih melaju dengan santai dijalankan kota yang mulai beberapa hari ini telah jarang terjadi kemacetan. di depan telah terlihat bangunan mewah milik keluarga Bayu bahkan lebih mewah dari rumah Annisa sendiri yang jelas-jelas usaha orangtuanya lebih unggul dari milik keluarga Bayu. dilihat dari bangunannya yang angkuh dan gagah, sepertinya ini dibangun menuruti keinginan seorang wanita yang sangat tahu tentang sejarah.