
hari demi hari berlalu dengan perlaha hingga membuat Annisa merasa bahwa dia sedang di permainkan oleh waktu. penyiksaan demi penyiksaan yang diterima Annisa setiap hari semakin mengerikan, bahkan para pembantunya sendiri telah melewati batas wajar. tadi pagi saat Annisa sarapan, dia merasa ada yang tidak wajar dengan masakan yang disediakan oleh pembantunya di meja makan.
masakan hari ini terlihat lebih layak dimakan dari biasanya dan mengenai rasa semuanya sempurna, tapi karena Annisa tidak ingin berprasangka buruk, dengan lahapnya ia menghabiskan sarapan pagi ini. dia bukan bodoh hanya saja terlalu bodoh, kecurigaan yang nyata bahkan di abaikannya hanya karena ingin berprasangka baik.
"ah........ perutku kenapa lagi....." rintihnya sambil berusaha menuju kamar mandi
ini yang ke tujuh kalinya dia mondar mandir ke kamar mandi mengeluhkan perutnya yang sakit. sebenarnya pagi tadi para pembantu licik itu dengan sengaja memasak makanan yang enak tapi ditambah dengan bahan yang sangat rahasia, dan bahan itu adalah obat pencahar perut. mereka semua dengan bahagia memasukkan obat itu hanya karena ingin menyaksikan sang majikan menderita.
"apakah obat yang kita masukkan telah bereaksi?" tanya Desta salah satu pembantu yang sangat suka menyiksa Annisa
__ADS_1
"aku tidak tahu, semenjak sarapan selesai wanita itu tidak keluar kamar...." jawab Ika
"sepertinya telah bereaksi, barusan saat aku membersihkan lantai atas, kudengar suara wanita itu menjerit kesakitan dari dalam kamar...." kata Ilin yang baru saja turun dari lantai atas
"kalian rasa penyiksaan ini terlalu berisiko nggak sih? aku takut nantinya dia melaporkan perbuatan kita pada keluarganya gimana......" kata Tia dengan raut wajah serius
"aku juga sempat mikir gitu....... tapi yang minta kita beginikan tuan......." Ilin menimpali
"aku mau lanjut kerja dulu kalau gitu....." kata Tia melengos pergi
__ADS_1
perkumpulan kecil itu membubarkan diri setelah merasa cukup membicarakan hal yang tidak berguna. seperti apa yang dikatakan Desta selama Annisa tidak keluar rumah mereka akan baik-baik saja, karena Annisa begitu bodoh. segala alat dan media komunikasi yang memungkinkan Annisa menghubungi keluarganya telah disita Bayu, sehingga Annisa tidak bisa memberitahukan keadaannya sekarang pada keluarganya.
di kamarnya yang mewah dan besar ini bahkan tidak terdapat satupun alat yang bisa digunakannya, semua benda canggih ini hanya bisa dikendalikan oleh Bayu. hidup satu Minggu dirumah besar ini serasa hidup berabad-abad lamanya, Annisa bahkan tidak bisa menentukan perasaannya sekarang.
semua perlakuan Bayu yang diterimanya bahkan dia masih bingung haruskah dia membenci suaminya atau hanya diam dan semakin mengaguminya. begitu rumitkah pemikiran wanita bodoh ini, sehingga hal sekejam ini dia masih bingung menentukan bagaimana perasaannya.
"kenapa semakin lama perut ini semakin sakit....... akhg....... aku nggak kuat......" pandangan Annisa menjadi kabur dan gelap
kesadarannya masih ada namun kepala dan perutnya terasa begitu melilit bahkan terasa hampir pecah. Annisa sempat minum sebutir obat yang tidak dia ketahui untuk apa obat itu disiapkan oleh salah satu pembantunya tadi pagi di atas meja. wajahnya semakin lama semakin pucat dan puas, bahkan suaranya tidak bisa dikeluarkan lagi, karena menahan sakit yang sangat mematikan.
__ADS_1
tubuhnya menjadi kaku dan menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan, bahkan wajahnya terlihat begitu kesakitan dan menderita. mungkin bagi Bayu dan para pembantunya saat seperti inilah kepuasan itu bisa dinikmati, disaat seseorang yang ingin kau sakiti terlihat begitu menderita dan kasihan.