SECRET : Takdir Cinta Al-Zea

SECRET : Takdir Cinta Al-Zea
BAB II : Hilang Kabar


__ADS_3

"Jangan percaya siapapun sampai kamu ketemu opa.


Jaga dirimu sayang sampai nanti."


Itulah kalimat yang saat ini tergiang-ngiang di telinga Zea. Keringat terlihat sangat jelas mengalir di pelipisnya.


"Baiklah s'karang fokus dan selamat tinggal zona nyaman"


Itulah kalimat yang saat ini terucap dari bibir mungilnya.


Ucapan Zea itu seakan terdengar oleh takdirnya sendiri dan jika memang takdirnya dapat menjawab perkataan Zea itu ia pasti akan berkata :


Semoga dirimu beruntung jika bertemu denganku.


Zea bersembunyi di balik pohon besar sedikit lagi ia akan dapat masuk dalam markas Gambino.


Lelah~


Takut~


Bahagia~


Beruntung~


Kesialan~


Rasa penasaran~


Seolah bercampur aduk dipikirannya saat ini.


"Selamat datang di dunia yang kelam ini Zea" ucap seseorang yang keberadaannya tidak diketahui olehnya.


"SIAPA KAMU?!" Tanya Zea sembari menantang.


Terdengar kekehan kecil dari orang itu.


"Ohh ayolah Zea santailah sedikit, ayo bermainlah denganku"


"SIAPA KAMU BGST!" Tuntut Zea. Ia kesal karna tidak tau di mana posisi orang itu.


"bagaimana kalo kita main tembak menembak, owhhh pasti seruu.! Mau cantik?" Tawarnya.


Zea hanya diam. Ia diliputi rasa penasaran yang membuncah siapa pria gila ini?


satu hal yang dia tau saat ini hanya bahwa lawannya ini seorang pria.


Zea terkejut dan menoleh kearah seseorang yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.


Seorang pria dengan jeket kulit hitam, celana jeans dan sepatu boot bersandar di pohon besar tepat dibelakang pria itu. Tangannya terlipat di depan dada sambil menggenggam Senjata.


Flyton !!


Pria itu tersenyum pada Zea yang membeku melihatnya.


"Jangan terlalu kaget adik kecil, kita akan memainkan permainan yang seru. Ingatkan aku supaya jangan terlalu menyakitimu RUSSELIA ZEANIC CROSSWEL." Jelas Flyton.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Zea.


"kau menanyakan hal itu padaku? Bukankah tadi siang aku sudah memberitahumu untuk bersiap survival test? Atau kamu hanya pura-pura lupa supaya kamu bebas dengan mudahnya dariku?" Tanya flyton dengan celaan untuk Zea.


Tak ada tanggapan. Zea hanya mendengus menahan marah. Ia tidak tau kalau masuk Gambino harus melewati hal yang bisa saja mengakhiri hidupnya.

__ADS_1


"Jangan memikirkan untuk mundur dari test ini adik kecil, karena kau sudah masuk dalam lingkaran setan Geng Gambino." Sergah Flyton dibarengi tawa keras darinya.


Ya, Zea memang meminta kepada opanya Buffalo agar ia boleh masuk ke dalam Gambino.


Ia terinspirasi dari kakaknya Zidan, semenjak Zidan masuk dalam organisasi itu Zidan mengajarkan bela diri padanya, Zidan tidak menyangka kalau adiknya itu mempunyai keinginan untuk masuk Gambino.


Zidan sempat melarang Zea agar jangan menghubungi opanya untuk memberitahukan keinginan gila adiknya itu.


Tapi karena dia sedang sibuk dengan urusannya di luar negeri maka ia tidak tau bahwa adiknya dengan diam-diam meminta bantuan Flyton anak buah opanya untuk menghubungi opanya dan memutuskan untuk masuk di dalam dunia Gelap Gambino.


Dan saat ini Zea sangat merutuki nasibnya ini karena percaya omongan dari Flyton dari pada kakaknya sendiri.


Diantara keterlamunan Zea, suara tembakan terdengar dari pistol yang dipegang Flyton dan jeritan tertahan keluar dari mulut  Zea. Ia baru menyadari kalau Flyton saat ini tengah menembaknya tepat di bahu kirinya.


"Jangan melamun adik kecil, atau kau akan mati sia-sia."


Zea berlari dan sesekali berguling, melompat dan bahkan jatuh tengkurap agar dapat meloloskan diri dari timah panas yang saat ini mengejarnya. Ia bersembunyi di balik pohon besar, ia menyeka peluh pada pelipisnya dan tangan kanannya menekan bahu kirinya yang tertembak tadi.


"Hanya segitu kemampuanmu Fly ?" Tanya Zea dengan nada mengejek.


Flyton terkekeh geli dengan pertanyaan Zea padanya.


"Kau sangat lucu adik kecil, dengan keadaan sekarat seperti itu jangan memancing emosiku!" hardik Flyton.


Zea memutar otak. Dengan nada mengejek lagi ia berkata "Kau terlalu cerewet Fly Sama seperti wanita saja! dan pakai pistol? Haha, banci!"


Flyton tersulut emosi. Ia berjalan ke tempat persembunyian Zea dan ketika dia akan menembak kepala Zea,


BUKKK!!


Zea memukul wajah Flyton dengan tiba-tiba tubuhnya jatuh menyentuh tanah belum sempat dia menarik napas, Zea sudah menghadiahinya tendangan keras pada perutnya.


Baru saja dirinya hendak bangun dan akan melayangkan tembakan pada Zea. Zea segera menindihnya kuat dengan sebelah kakinya. Membuat Flyton mengerang dan kembali terkapar.


Dengan cepat Zea mengambil pistol yang ada ditangan Flyton dan beberapa barang lainnya yaitu pisau lipat dan peluru bius juga jarum yang telah dibubuhi serbuk bius.


Zea menancapkan 2 jarum bius dileher Flyton. Setelah dilihatnya flyton tidak sadarkan diri barulah dia pergi dari situ.


****


Zea berlari ke arah markas Gambino. Dia sesekali menyelinap diantara pepohonan.


Zea memandang ke arah gedung itu. Terlihat begitu megah dengan memiliki 3 lantai yang sangat besar dan luas. Namun sayangnya pintu besar gedung itu ditutup rapat. Dan didepan lantai gedung itu terlihat ada berbagai perlengkapan tempur.


Zea mengambil beberapa yang diperlukan.


Tak terasa hari sudah malam, dan malam ini dia akan mengejar keinginannya menjadi anggota Gambino. 


Zea menembakan tali kawat keatas gedung itu. Lalu ia ditarik keatas gedung itu. Tidak sampai 15 detik dia sudah tiba di atas gedung. Ia senang karna tidak perlu bersusah payah untuk memanjat karena ada alat bantu semacam itu.


Rasa senangnya seketika menghilang dan berganting dengan ketegangan yang menyelimuti. Di depannya ia melihat seorang perempuan cantik dengan mimik wajah datar.


"Bisa juga kamu mengalahkan Fly, ku kira kau hanya gadis manja yang berlindung pada Russel!" Tanyanya remeh pada Zea.


"Ohh, ternyata ka Zidan dikenal dengan nama Russel ya? Perlu kau tau aku mau berlindung sama siapapun itu bukan urusanmu!" Cercah Zea tajam.


"Ya, ya, setidaknya bahu kamu sudah lecet sedikit." Sergah perempuan itu sembari melihat pakaian Zea yang berlumuran d*rah.


Zea diam, otaknya bekerja untuk memikirkan berbagai cara agar perempuan di depannya ini bisa kalah.


"Dan pikirku pasti kau akan mat* dengan perlahan, atau kamu mau aku mempercepatnya?" lanjut perempuan itu dengan Serigaian tercetak jelas di wajahnya. Selanjutnya dengan cepat dia menyerang Zea melayangkan kaki kanannya tepat di perut Zea. 

__ADS_1


BRUKK!!


Zea terjerembah kebelakang menyentuh lantai, ia meringis kesakitan. Tapi hal itu tak menyurutkan semangat perempuan itu untuk memukul Zea.


Zea dibuat babak belur olehnya, dia menarik kuat rambut Zea dan meninjunya seakan wajah Zea itu samsak. Tak sampai disitu tendangan diberikannya untuk Zea layaknya seperti menendang bola.


Zea terkulai lemas, rasa nyeri yang sangat hebat dirasakannya. Peluh bercampur dengan darah seakan merembes disetiap jengkal tubuhnya. Malam itu semakin gelap, angin malam terasa menusuk tubuhnya dan pandangan Zea mulai kabur sampai dia tak sadarkan diri.


****


Tepat pada malam yang sama itu juga Seorang lelaki tengah cemas menunggu sang kekasih untuk mengabarinya. Namun sampai saat ini tidak ada tanda-tanda dari wanitanya menelpon.


"Ada apa dengannya ? Tidak biasanya dia blum memberi kabar, atau apa mungkin dia lupa?" tuturnya cemas. 


Dirga mendial nomor wanitanya...


Namun, sudah beberapa kali dihubungi nomor hp Zea tidak aktif. 


"Kamu membuatku khawatir sayang" ujarnya lirih sembari meletakan hpnya di atas meja kecil.


30 menit berlalu...


Dirga masih duduk di ujung kasurnya dalam keterlamunan. Detik berikutnya terdengar suara pintu kamarnya yang terbuka.


"Kamu belum tidur?" Ujar Jacob Abraham ayahnya.


"Eh, ya ayah ada apa?" Jawab Dirga setelah tersadar dari lamunannya.


"Sepertinya kamu banyak pikiran nak, ayah datang kemari untuk memberitahukan sesuatu untukmu"


"Informasi apa ayah?" tanya Dirga.


"Kakek kamu ingin bertemu denganmu, dia ingin kamu mempersiapkan diri untuk menjalankan sebuah misi"


"Kenapa harus sekarang? Aku masih mau sekolah ayah dan ini tahun terakhirku di SMA! Apa kalian mau merusak masa sekolahku?" Tutur Dirga dengan raut wajah dingin.


"Ayah tau nak, tapi ini permintaan kakekmu. Kamu harus menemuinya besok setelah pulang sekolah." Ucap ayahnya memberi penjelasan.


Setelah itu, ayahnya keluar dan menutup pintu kamarnya.


Tidak mau terlalu larut dalam perasaan cemas terhadap wanitanya dan ketidaksukaan informasi yang baru didapatnya.


Dirga memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


.


.


.🔜


Sekedar info untuk kalian jika tidak ada halangan cerita ini akan di update setiap hari.


**Like, Komen, Vote dan Rate.!


Follow juga IG-ku @Ceritahalu17.


Jangan jadi silent readers yaa 💕🤗**


Terima kasih sudah masuk dalam duniahalu bagian ini Chocolaters.


Stay safe and keep reading ceritahalu ❤

__ADS_1


__ADS_2