
ROOFTOP MARKAS GAMBINO
Suara kicauan burung saling bersahutan mengganggu tidur seorang gadis atau lebih tepatnya menyadarkan seorang gadis dari pingsannya.
"Shh.. aww..shh.." rintihnya menahan rasa sakit.
Matanya belum terbuka sempurna, kedinginan menyelimuti tubuhnya.
Detik berikutnya melalui pandangan yang buram, Ia melihat seseorang berjalan kearahnya dan menyeretnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak diketahuinya.
saat di tengah perjalanan, kaki Zea lemas dan tidak kuat berjalan lagi. seketika itu juga Zea jatuh tersungkur.
BRUKK!!
"Cih! Menyusahkan sekali!" Kesal orang yang menyeret Zea tadi.
Ia di seret ke ruang bawah tanah, lebih tepatnya penjara bawah tanah Gambino.
Zea meringis kala orang itu menghempaskan dirinya ke dalam penjara dan terbentur di dinding.
"Apakah aku akan mati di sini? Demi Tuhan aku tidak sanggup lagi" pasrahnya dalam hati.
Derap langkah kaki orang berjalan terdengar mendekat ke arahnya. Ia mendengar sayup-sayup mereka berbicara.
"Tuan B. dia masih bernapas, tapi keadaannya sekarat. Ada luka tembak di bahu kirinya, ada sayatan juga dan beberapa lebam serta luka lainnya." Ujar pria yang membawa Zea.
Pria yang disapa tuan B itu mengganguk dan melihat ke arah penjara itu.
Cucu perempuan yang disayangnya kini terlihat buruk dengan rambut acak-acakan dan mata tertutup. Dengan perlahan dia mendekat ke arah jeruji dan masuk ke dalam. Dia mengecek tubuh Zea dan melihat seberapa parah luka tembak di bahu kiri gadis itu.
"Zack bawa cucuku ke lantai 2" perintah tuan B.
Zack adalah pria tadi yang menyeret Zea dari atap gedung ke ruang bawah tanah ini. Ia adalah anak buah yang sangat loyal kepada Buffalo Gambino atau yang sering disapa tuan B.
Zack adalah nama yang dia gunakan dalam Gambino. Nama aslinya adalah Zacky Franco.
Zack mengganguk lalu mengangkat tubuh Zea untuk dibawa ke ruangan laboratorium yang berada di lantai 2.
Zea diletakan di atas brankar dalam ruangan laboratorium.
Di dalam ruangan itu sudah ada Johan dan Gladys. Mereka juga adalah anak buah dari tuan B.
"Jo kau harus melakukan operasi kecil padanya untuk mengeluarkan peluru di bahunya dan kau juga harus menjahit beberapa sobekan di tubuhnya. untuk kau Blood, tugasmu yaitu membantu Jo saat operasi sedang berlangsung." ujar Zack memberi perintah.
"baiklah. akan kami lakukan." jawab keduanya.
Tidak ada bantahan dari mereka berdua karena mereka tahu ini pasti perintah mutlak dari tuan B.
Johan dan Gladys begitu telaten mengoperasi tubuh Zea.
__ADS_1
Jo adalah panggilan untuk Johan dalam organisasi Gambino dan Blood adalah panggilan untuk Gladys.
Gladys adalah lawan terakhir Zea saat mereka bertarung di atap markas. dia juga yang membuat Zea terkapar lemah saat ini.
"Tubuhnya cukup bagus, aku tak menyangkah dia bisa bertahan sampai sejauh ini." Ujar Gladys sambil memperhatikan Zea.
"Ya, aku setuju pendapatmu. Nyalinya cukup besar untuk mau bergabung dengan kita." Timpal Johan.
"Apakah tuan B akan tetap melanjutkan survival test ini ?"
"Entahlah, jika dilihat dari kondisi gadis ini sangat tidak mungkin dia bisa melanjutkannya." Ragu Johan.
****
CARAY Corp
Gedung pencakar langit yang sangat mewah. Terletak di tengah-tengah kota Amest, dengan 25 lantai yang terlihat begitu megah dan menawan. Tidak sedikit orang-orang yang sedang mencari pekerjaan bekerja di sana. Saat ini nama perusahaan Caray Corp sedang digadang-gadang menjadi perusahaan terbaik selama 2 tahun terakhir. Perusahaan yang dirintis oleh seorang yang bernama Jacob Abraham. Nama yang begitu populer dijajaran pengusaha-pengusaha sukses.
Namun dibalik kesuksesan Perusahaan itu, Tidak ada yang tau mengenai seluk beluk perusahaan tersebut.
Tidak ada yang tau bahwa perusahaan sukses Caray Corp bernaung dibawah nama Al Caray.
Al Caray.
Kelompok ini adalah salah satu kertel narkoba di dunia. Mereka memiliki kontrol atas 11 negara bagian di dunia dan ditakuti sebagai kelompok terselubung di negara Indo.
kelompok ini terlibat dalam penjualan manusia dan sindikat pembunuh bayaran. Kelompok ini adalah kertel paling kejam dan paling canggih.
Sebutan Mafia yang terselip di Al Caray Geng membuat siapapun yang berada di dunia hitam para mafia-mafia di seluruh dunia mengenal kelompok tersebut.
*****
Rapat diadakan dalam salah satu ruangan Caray Corp, dengan suasana remang-remang. Tujuh orang berpakaian rapi duduk mengitari meja panjang menghadap sang pimpinan. Gurat keseriusan nampak jelas di wajah mereka meskipun hanya cahaya layar proyeksi yang jadi penerang.
Sosok pria paruh baya memberi perintah seperti biasa.
"Lakukan misi ini dengan baik, bawalah berita yang enak didengar olehku. Jangan melakukan kesalahan yang dapat merusak namaku maupun Al Caray." Ujarnya tegas.
"Misi kali ini Aldirga akan ikut dengan kalian, dia akan menjadi ketua kalian dalam misi ini." Lanjutnya lalu melirik Dirga yang duduk tepat di sebelah kanannya.
Dirga berdiri dari tempat duduknya.
"Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik dan jangan menyusahkan!" Ketusnya dengan tatapan datar dan dingin kepada mereka.
Alexander menatap jam tangannya sekilas.
"Ada yang ingin bertanya?" Ia menatap semua anak buahnya yang ada di ruangan itu dan semuanya kompak menggelengkan kepala.
"Baiklah, selamat bertugas."
__ADS_1
Mereka semua mengganguk patuh tapi hanya Dirga yang tidak dan hanya menatap kakeknya itu dengan mimik datar.
Mereka otomatis serempak berdiri, membungkuk sedikit lalu keluar dari ruangan itu.
"Kakek harap kamu dapat mengambil alih Lovely bar di bagian Caliko." Ucap Alexander.
Dirga menatap kakeknya dan mengangguk sekilas lalu keluar dari ruangan itu menuju ke ruang rahasia.
Di ruang Rahasia itu, enam orang anggota Al caray sementara sibuk mempersiapkan berbagai persenjataan yang akan dipakai mereka dalam misi.
"Kita akan mulai bergerak tepat tengah malam nanti" titah Dirga terdengar dingin dan mereka hanya mengganguk patuh.
****
Di dalam mobil terlihat kecemasan yang ada di wajah Dirga, dari semalam Zea kekasihnya tidak memberi kabar bahkan telpon dan chat darinya tidak ada yang direspon oleh Zea.
Mobil yang dikendarai oleh Dirga berhenti tepat di depan rumah mewahnya. Ia turun lalu masuk ke dalam rumah.
Dirga melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Al, ayo turun makan!" Seru Dinda ibunya.
Tidak menunggu lama Dirga menuju ke ruang makan. Bik Inah dan ibunya terlihat sedang meletakan makanan di atas meja dan di sana sudah ada ayahnya.
Dirga bergabung dengan kedua orang tuanya untuk makan bersama.
Dirga memakan makanannya dengan tenang.
Ia sebenarnya tidak terlalu berselera, tetapi karena ibunya yang menyuruhnya makan maka ia menuruti saja kemauan ibunya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.🔜
Terima kasih sudah membaca bagian ini Chocolaters ❣
Like,Vote, Rate !
Kalian juga bisa mengomentari bagian ini.
__ADS_1
Stay Safe and keep reading Ceritahalu17 ❤
Sampai jumpa di bagian selanjutnya 🤗💕