SECRET : Takdir Cinta Al-Zea

SECRET : Takdir Cinta Al-Zea
BAB VI : Cucu Pemilik Kampus!


__ADS_3

Zea merasa ada yang mengganggu tidurnya. Tangan besar Zidan tengah mengguncang pelan bahunya dan sesekali mengelus lembut pipinya itu.


"Ayo bangun gadis kecil, apa kau tidak lapar?" Tanya Zidan sambil terus berusaha membangunkan adik kesayangannya.


Zea yang belum sadar sepenuhnya. Menepis tangan kakaknya itu.


"Tugas kuliahku telah kuselesaikan semua, jadi biarkan aku beristirahat lebih lama Blood."


kemudian merapatkan kembali selimutnya dan tidur membelakangi Zidan.


Zidan menggeleng pelan kepalanya. Kelakuan adiknya itu benar-benar tidak berubah apalagi kalau sedang tidur, Zea pasti susah dibangunkan.


"Ini sudah sore Zeanic, apakah kamu masih tidak mau bangun? Kau ternyata sering merepotkan Gladys." Ujarnya kembali sembari mengelus pipi adiknya itu. Namun nyatanya Zea masih tertidur pulas.


Zidan tidak kurang akal, Dia kemudian mengecup kedua mata Zea bergantian membuat Zea risih dengan kelakuannya.


Tidak disangkah cara seperti ini memang sangat ampuh untuk membangunkan adik kecilnya yang pemalas.


Zea bangun dengan mata terbuka lebar dan melotot ketika melihat ternyata bukan Gladys yang mengganggu tidurnya melainkan kakaknya Zidan yang ada di hadapannya saat ini.


"Eh, ka Zidan. Aku rindu." Ucapnya langsung berhamburan memeluk Zidan.


"Apa kau selalu seperti ini, jika aku tidak ada gadis kecil?" Tanya Zidan.


"Tidak, aku hanya kelelahan saja. Karena tadi di kampus habis ujian akhir semester." Elak Zea.


"Benarkah yang kau katakan?"


"Sejak kapan adikmu yang cantik ini berbohong, hm?"


Zidan tersenyum melihat tingkah Zea yang begitu manja kepadanya.


"Baiklah, aku percaya. Sekarang mandi dan kita akan makan di luar."


Zea mengangguk kemudian beranjak ke dalam kamar mandi.


****


Tepat di sebuah restoran bintang lima, nampak dari kejauhan sepasang kakak beradik yang terlihat sangat menikmati setiap hidangan yang tersaji di meja makan mereka.


Zea bercerita banyak hal pada Zidan tentang apa yang dilakukannya selama tinggal di kota Caliko.


Zidan sesekali tersenyum lembut kearah Zea, ketika Zea mulai menuturkan keadaan dirinya, kampusnya dan juga berbagai misi sulit yang dikerjakannya selama di kota ini.


Di restoran yang sama itu pula, namun di meja makan yang berbeda. Nampak seorang pria yang sementara menatap Zea dan Zidan dengan tatapan yang menyelidik.


"Aku yakin itu dia, aku sangat mengenalnya dengan baik. Tidak mungkin aku salah lihat." Gumamnya.


Malam semakin larut dan mengharuskan semua orang untuk mengistirahatkan tubuh mereka, karena aktivitas yang mereka lakukan.


Begitu juga Zea dan Zidan.


Setelah makan malam bersama, kedua kakak beradik itu kembali ke apartement untuk istirahat.


****


Pagi harinya, Zea yang masih terlelap di ranjangnya, dipaksa bangun oleh Zidan.


"Zea sayang, ayo bangun. Apa kau tidak akan kekampus?" ujar Zidan, mengelus lembut rambut Zea.


"Hmm, 10 menit lagi ka." jawab Zea dengan mata tertutup.


"Ayo bangun gadis pemalas. Kau akan terlambat nantinya!" Seru Zidan.


Zea tidak bergeming dari ranjangnya, perkataan Zidan dianggap seolah bualan semata.


"Baiklah jika itu maumu, jangan salahkan kakak jika kamu terlambat." Tutur Zidan, final.


Kemudian ia mengecup sekilas puncak kepala adiknya itu, kemudian berlalu dari kamar adiknya.


Waktu terus bergulir dan Zea masih saja nyaman diposisinya saat ini.

__ADS_1


Langit menunjukan bahwa hari semakin siang Sang surya berada tepat di titik tengah langit itu. Hawa panas begitu terasa jka orang-orang berlalu-lalang di jalan raya.


Namun, bagi Zea itu tetap tidak akan mengusik tidurnya. Sampai akhirnya dering ponselnya berbunyi memenuhi kamarnya.


Dengan Sebal dia mengangkat panggilan dari ponselnya tanpa melihat siapa si penelpon.


"Hm." gumam Zea.


"............"


"Di apart. Kenapa?"


"..........."


"Memangnya jam berapa sih ini?"


".........."


"Benarkah!, ******.!"


Zea terbangun dari tidur nyenyaknya, ia kaget mendengar kabar dari Gladys bahwa tadi diadakan kuliah pagi dan Zea tidak hadir.


Dengan cepat ia beranjak dari ranjangnya ke kamar mandi, Kemudian bersiap untuk segera ke kampus.


Dengan langkah tergesa-gesa, Zea keluar kamar menuju ke ruang tamu.


Zidan yang sementara menonton tv menatap Zea, adiknya itu yang tampak buru-buru.


"Kenapa?" tanya Zidan, bingung.


Zea menoleh. "Aku terlambat. Kakak kenapa nggak bangunin aku!" Seru Zea.


"Kenapa jadi kakak yang disalahkan." protes Zidan.


Zea mendelik tajam. "Pokoknya kalo nilaiku rusak kakak yang tanggung jawab!"


Gerutu Zea kemudian keluar dari ruangan dan menutup pintu unit apartementnya dengan kencang.


****


Kampus Binar Harapan


Zea menemui Gladys di taman kampus.


Dari jauh Gladys sudah melihat aura kekesalan Zea.


"Kenapa nggak masuk tadi?" Tanya Gladys, sambil menatap wajah Zea.


"Gila! Gue tidur, terus nggak dibangunin ka Zidan sama s'kali." cetus Zea, kesal.


"Kamu aja yang tidur nggak tau diri!" Sindir Gladys.


"Kok gue sih?" ucap Zea, tidak terima.


"Russel udah coba bangunin, Tapi kamunya aja yang nggak sadar." jelas Gladys.


"Masa sih? Kok aku nggak tau ya?"


Gladys memutar bola mata, memandang malas kearah Zea.


"Memang benar kata Russel, butuh kesabaran ekstra untuk memahami sikapmu yang seenaknya ini." Tutur Gladys.


"Yaudah, minta maaf gue salah. Terus sekarang ada mata kuliah apa lagi?" Tanya Zea, mengalihkan pembicaraan.


"Hari ini mata kuliah kita diganti dengan kuliah umum. Dan pematerinya adalah cucu dari pemilik kampus ini, menurut kabar yang beredar. Cucu dari pemilik Kampus ini masih muda, umurnya sama seperti kita." Tutur Gladys, memberi penjelasan.


"Kalo umurnya masih setara sama kita, ngapain didengerin. Palingan juga penjelasannya kayak kita di kelas kalau lagi presentasi." Cibir Zea, enteng.


"Walaupun dia masih muda, dia mendapatkan pendidikan khusus. Makanya dia tidak kuliah sama seperti kita.


Diusianya yang masih muda ini, dia sudah hidup berkecimpung di dunia bisnis, jadi pengalaman dan pengetahuannya sangat banyak." Jelas Gladys, lagi.

__ADS_1


"Kenapa lo tau semua tentang dirinya? Apa jangan-jangan lo--"


"Berikan hamba kesabaran ekstra Tuhan." Sela Gladys cepat.


Zea berdecih tak suka.


"Ayo, kita ke aula s'karang." Ucap Gladys kemudian menarik pergi Zea dari tempat itu. Zea dengan malas mengikuti sahabatnya.


****


Setelah sampai di ruangan aula kampus, Zea dan Gladys duduk di urutan kursi paling belakang.


Ruangan itu telah terisi penuh dengan mahasiswa yang lain.


Zea memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosannya.


Tapi bukan Zea kalo ia mau lama menunggu.


"Lama banget sih!" gerutunya.


"Sabar. Tugas mahasiswa memang harus menunggu." ucap Gladys, tenang.


Walaupun bosan, akhirnya Zea menuruti kemauan sahabatnya itu.


Lima belas menit telah berlalu. Dengan kezal Zea berdiri.


"Aku bosan! Nggak mau ikut kuliah umum ini. Kalau ada hal penting yang dia sampaikan jangan lupa beri tau aku." Katanya kemudian keluar dari pintu samping aula.


Bersamaan dengan keluarnya Zea.


Seseorang yang ditunggu-tunggu itu masuk dalam ruangan aula tersebut.


Pria tampan yang adalah Cucu dari pemilik kampus itu, masuk dalam ruangan aula.


Ketika pandangannya menyapu semua orang yang tengah duduk menunggunya. Tatapannya berhenti saat melihat seorang wanita yang berdiri dari tempat duduknya dan keluar dengan cepat dari aula.


Ini kedua kalinya, aku melihatnya. Apa yang dia lakukan?


Kenapa dia keluar dari ruangan ini? Apakah dia tidak tau siapa yang akan menjadi pemateri saat ini ? Ucap pria itu membatin.


Kuliah umum yang diadakan oleh kampus Binar Harapan berjalan dengan baik.


Semua orang yang mendengarkan materi terkesima dengan penjelasan bahkan sikap dari cucu pemilik Kampus itu.


Di usianya yang masih muda, ia dapat menjalankan dengan baik perusahan ayahnya dan juga membanggakan kakeknya dengan semua hal yang dilakukannya.


.


.


.


.


.


.


.


.🔜


Haiii Chocolaterss 🙋


Author Choco Update lagii!!!


Tetap support Author yaa...


**LIKE, KOMEN, VOTE & RATE.


FOLLOW JUGA IG AUTHOR CHOCO : @Ceritahalu17**

__ADS_1


STAY SAFE AND KEEP READING YAAAA 😘


__ADS_2