SECRET : Takdir Cinta Al-Zea

SECRET : Takdir Cinta Al-Zea
BAB VIII : Cantik dan Menantang


__ADS_3

Tepat pukul satu dini hari, tim alpha bergerak duluan untuk mengeksekusi anak buah Al Caray yang menjadi penyusup pada kemarin hari.


Sedangkan tim beta menyusup masuk ke dalam Lovely Bar dengan menyamar sebagai pelanggan dalam bar tersebut.


Zea dan Gladys dengan langkah santai berjalan ke arah meja bartender.


"Dua, Margarita." ucap Zea, tenang.


"Baiklah. Silahkan duduk yang nyaman nona sementara saya menyiapkan pesanan anda." Ujar Bartender dengan tersenyum ramah.


Gladys yang duduk di samping Zea, terlihat sedang memasang aerphone di salah satu telinganya sembari menunggu minuman berjenis koktail yang terbuat dari tequila dan triple sec dengan jeruk nipis danย jusย lemon itu.


"kita berdua sudah di dalam." Bisik Gladys pada seseorang yang terhubung dengan earphone yang terpasang.


"Sebentar lagi alat pelacaknya akan aktif, tetap tenang di sana." Ujar Zacky memberitahu Gladys.


Pria itu berada tepat di atap bar.


Ruangan yang dipenuhi manusia dan alunan musik yang sengaja diputar sangat kencang melebur menjadi satu menambah keidentikan Lovely bar.


Bar yang sangat terkenal di Kota Caliko.


"Masih lama?" Tanya Zea.


Gladys menoleh, "lima menit lagi."


Zacky menghubungi Gladys lewat aerphone yang terpasang di telinga itu.


"Sekarang waktunya." Tutur Gladys setelah memastikan bahwa Zacky sudah selesai dengan persiapannya.


Zea kemudian berdiri akan beranjak mencari ruangan pemilik bar. Namun, ketika hendak melangkah Gladys menahan lengannya dan berbisik.


"Jangan berulah gadis nakal, kita hanya mencari tahu siapa dalang dibalik kekacauan yang telah terjadi."


Zea menoleh menandang Gladys. "Jangan khawatir, jaga tempat ini dengan baik ya." Ujarnya sambil tersenyum.


Gladys merasa tidak tenang ketika mendengar penuturan Zea sepertinya sahabatnya itu akan memperumit misi kali ini pikirnya.


"Jangan sampai Russel menghukummu bodoh, jaga perilakumu!"


"Percayalah padaku Blood, Ini bukan misi pertamaku." Sergah Zea, jengah.


Kemudian ia berlalu dari tempat itu.


Zea melangkah menaiki tangga untuk ke lantai dua. Dengan tenang ia menyusuri koridor lantai dua bar itu. Ia menatap CCTV yang berada di sudut lorong koridor, lalu tersenyum ke arah CCTV tersebut.


Langkah Zea berhenti tepat di depan pintu besar yang di penuhi ukiran Glamor.


"Apa ini ruangan bossnya?" tanya Zea memastikan.


"Ya, masuklah dan letakkan alat pelacak di dalam ruangan itu." Ucap Zacky yang saat ini meninjau lokasi Zea sekarang dari atap bar.


Zea masuk dalam ruangan tersebut tanpa mengetuk terlebih dahulu. Setelah di dalam Ia disuguhkan dengan aroma maskulin yang menyeruak dan langsung tercium oleh hidungnya.


"Sepertinya seorang pria." Gumam Zea.


Ia meneliti setiap sudut ruangan tersebut, menyentuh semua barang-barang yang tertata rapi di dalam ruangan.


Setelah selesai menentukan tempat yang pas untuk meletakan alat pelacak, ia kemudian duduk sebentar di sofa.


"Kenapa dia tidak ada diruangan ini? Sayang sekali padahal aku sudah menyiapkan perayaan kecil untuk menyambutnya." Bermonolog sendiri.


Zea kemudian tersadar ketika melihat CCTV dalam ruangan itu, detik berikutnya ia tersenyum.


Kemudian dengan cepat ia naik ke atas sofa dan menatap CCTV itu.


Setelah dirasanya cukup untuk berbasa basi, ia mengambil buku yang ada di atas meja lalu merobeknya.


Ketika akan menulisnya ia mengambil lipstik di kantongnya dan menulis nomor ponselnya.


****

__ADS_1


Di lain tempat, lebih tepatnya di atap gedung apartemen.


Tim alpha sementara bersiap-siap untuk masuk di salah satu unit apartemen itu. Ketika mereka berhasil masuk, mereka terlibat perkelahian dengan seorang pria yang diduga adalah penyusup itu.


1Karena berbeda jumlah maka dengan mudahnya pria itu ditangkap dan dibius.


Setelah selesai dengan misi tersebut, ketua tim alpha menghubungi Zacky selaku ketua tim beta.


"Roxy apartemen,clear."


"Misi selesai." Balas Zacky memberitahu.


Kedua tim kembali ke markas dengan membawa pria penyusup tersebut. Ia diseret ke ruang bawah tanah dan dikunci dalam penjara. Sebelum mereka beristirahat, hal yang mereka lakukan yaitu melaporkan semua hal yang dilakukan selama misi berlangsung.


"Misi selesai dan tidak meninggalkan jejak selain pria itu yang kami bawa." Lapor ketua tim Alpha.


"Kami tidak bertemu langsung dengan bosnya, namun kami sudah memasang alat pelacak di setiap sudut ruangan lovely bar." Lapor Zacky selaku ketua tim beta.


"Baiklah, kerja bagus. Sekarang istirahatlah." Tutur Zidan mengakhiri rapat akhir dari misi tersebut.


"Ahh.. akhirnya selesai juga." Ucap Zea seraya meregangkan tubuhnya.


"Huaaeem, sepertinya diriku akan bolos kuliah lagi." Lanjutnya sambil menguap dan dengan langkah gontai berjalan keluar dari ruang rapat.


"Ya, aku juga. Mataku mulai remang-remang." Balas Gladys seraya mengikuti Zea dari belakang.


"Mau istirahat di mana?" Tanya Gladys


"Sepertinya hanya di markas saja. Diriku terlalu lelah untuk mengemudi."


"Oh oke baiklah. Bagaimana jika kita tidur di ruanganku saja?" Tawar Gladys


Belum sempat Zea menjawab, Zidan datang dan berbicara.


"Kamu ngantuk?" Tanya Zidan.


Zea yang terlihat lelah itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ayo istirahat di ruangan kakak saja." Ajak Zidan.


"Ehm aku tidur di ruanganku saja Russel. Sampai nanti, bye" ujar Gladys kemudian menuju keruangan pribadinya.


Zea melambaikan tangan sebentar menanggapi Gladys, lalu beralih menatap Zidan di depannya.


"Ka Zi, gendong. aku capek." Ujarnya sembari menjulurkan tangannya ke depan Zidan.


tanpa menunggu lama Zidan kemudian memeluk Zea dan mengendongnya layaknya koala lalu membawanya ke dalam ruangannya.


Zea dibaringkan Zidan di ranjang yang ada di balik pintu rahasia ruangan itu.


"Tidur yang nyenyak sweetheart." Ucap Zidan kemudian menarik selimut tebal menutupi tubuh adik kesayangannya.


Lalu mengecup sekilas puncak kepala Zea.


Ketika dilihatnya Zea sudah tertidur dengan pulas ia kemudian keluar dari kamar dan beristirahat juga di sofa ruangannya.


****


Lovely bar


Matahari pagi menyambut seseorang dalam ruangan kerjanya.


Terlihat seorang pria sedang manatap layar leptopnya dengan senyuman di wajah yang tak pernah pudar sejak 10 menit lalu.


Dengan tangan yang sementara menggenggam sehelai kertas yang bertintakan lipstik, pandangannya tetap diarahkan ke layar leptopnya.


"Hai, apakah kau pemilik ruangan ini ? Jika ya, maka maafkan aku sudah memasukinya tanpa meminta izinmu. Kukira kau ada didalam ruangan ini, tapi ternyata dugaanku salah. Kau kelihatannya seorang pria. Aku mengetahuinya ketika mencium aroma maskulin yang begitu menyengat dalam ruangan ini. Aku penasaran seperti apa dirimu, jika kau tidak keberatan kau bisa menghubungiku, akan aku tulis nomor ponselku dan kuletakan dimeja kerjamu. Sampai jumpa pria tampan"


Begitulah isi dari rekaman tersebut.


"Kamu sangat berbeda sekarang sayang, tampak cantik dan menantang." Batinnya.

__ADS_1


Dia terus memutar kembali rekaman CCTV di ruangannya, semenjak ia mendapat kabar dari anak buahnya yang bertugas memantau CCTV bar.


Informasi bahwa ada seorang wanita yang masuk tanpa izin di ruang pribadinya. Ia dibuat terkejut karena kabar tersebut, pikirnya sangat bodoh jika orang itu mencari gara-gara dengannya. Namun, setelah dilihatnya dalam rekaman itu siapa sosok yang begitu berani itu, Ia langsung bahagia.


Seseorang yang sudah lama ditunggunya dan dirindukannya sekarang dengan sikap menantang datang menghampiri tempatnya.


Ia memandang setiap angka yang tertera di kertas yang digenggamnya kemudian mendial nomor tersebut.


Panggilan pertama tidak diangkat, dahinya berkerut.


Tapi tidak menyurutkan keinginannya untuk terus menelpon.


Ketika panggilan kedua dilakukannya, akhirnya tersambung.


"Hallo?" Sapa wanita dari seberang telpon.


"Hallo, ini siapa ya?"tanya wanita itu selanjutnya.


Pria yang saat ini sementara menelponnya tetap diam.


"Ish, siapa sih! Aneh!." Ketus wanita itu kemudian menutup panggilan.


Pria itu mengulas senyumnya, ia nampak bahagia mendengar suara wanitanya.


Hanya suara namun mampu membuatnya terus mengingat masa lalunya dengan wanita itu.


"Aku rindu, janjiku kita pasti akan segera bertemu." Pria itu bermonolog sendiri.


Detik berikutnya dering ponselnya berbunyi, namun bukan dari wanita tadi melainkan anak buahnya.


"Ada apa?"


"..........."


"Dugaanku ternyata benar. Biarkan saja dia untuk saat ini."


".........."


"Sudah kukatakan, aku akan bertanggung jawab untuk hal itu."


".........."


"Sekarang tugas-mu. Siapkan mobilku, aku akan bertemu dengan wanitaku sebentar malam."


"........."


"Dan pastikan juga bahwa hanya dia sendiri yang ada dalam apartemennya."


.


.


.


.


.


.


.


.๐Ÿ”œ


**Sekian dulu yaa Chocolaters โ˜บ


Bisakah kalian Memberikan komentar kalian mengenai cerita ini?


Supaya saya bisa mengenal kalian dan berteman dengan kalian Chocolaters ๐Ÿ˜Š


LIKE VOTE & RATE juga jangan lupa disisipkan pada bagian ini ๐Ÿ˜„

__ADS_1


Jika ingin mengenal Author Choco lebih dekat juga bisa Follow IG : ceritahalu17


Sampai jumpa di BAB selanjutnya Chocolaters ๐Ÿ™‹ ๐Ÿ’•**


__ADS_2