SECRET : Takdir Cinta Al-Zea

SECRET : Takdir Cinta Al-Zea
BAB VII : Rahasia Gambino Gangster


__ADS_3

Di dalam mobil Sport warna hitam terdengar seorang pria yang mengemudikan mobil itu berbincang dengan seseorang di ponselnya.


"Apakah kau sudah memastikan tempat tinggalnya?"


"......."


"Baiklah kirimkan sekarang data-datanya di emailku."


"......"


"Jangan khawatir aku akan bertanggung jawab. Segera lakukan perintahku!"


Segaris senyum tercetak di bibirnya.


Matanya menyiratkan betapa rindu dirinya pada Gadis yang selama ini ia cari.


****


Pria tersebut turun dari mobilnya dan berjalan masuk dalam bar.


Terlihat semua karyawan menunduk memberi hormat padanya. Dengan tatapan datar ia masuk dalam ruangannya dan tidak melirik sedikitpun pada karyawan-karyawannya.


Di dalam ruangan yang nampak tertata rapi, pria iti mengambil leptopnya untuk melihat sesuatu yang baru saja didapatkan oleh anak buahnya.


Matanya nampak berbinar, rahang kokoh itu menarik senyum menyeringai.


Ia nampak puas dengan informasi yang dikirimkan oleh anak buahnya.


"Aku menemukanmu sayang."


Tuturnya penuh keyakinan menatap Gambar seorang gadis di layar leptopnya.


****


Zea berada di dalam kamarnya. Terlihat serius berkutat dengan ponselnya.


Tadi sewaktu pulang dari kampus Zacky menelponnya memberitahu kalau ada masalah serius di markas Gambino.


Ada penyusup yang berani membobol informasi mengenai Geng Gambino.


Hampir semua informasi mengenai sepak terjang Buffalo Gambino dan anak buahnya di dunia hitam para Mafia dan gengster terkuak.


GENG GAMBINO


Salah satu kelompok paling kejam di dunia, kelompok ini didirikan oleh BUFFALO GAMBINO di Amest.


Anggota geng ini adalah orang-orang yang dilatih khusus oleh Buffalo sendiri.


Mereka memulai kejahatannya di Amest, Indo.


Anggota mereka mengidentifikasi diri mereka melalui beberapa tanda seperti pakaian, simbol, warna, perhiasan, tato, dan grafiti.


Gambino Gangster memiliki 65.000 anggota yang tersebar di 120 kota, mereka terlibat dalam sindikat pembunuh bayaran.


Kelompok ini adalah bagian dari penyelundupan barang haram, pasar gelap, dan penjualan senjata.


Syarat utama untuk menjadi anggota geng ini adalah memiliki keahlian khusus dan harus mengucap sumpah setia pada kelompok ini.


Kira-kira seperti itulah rumor yang beredar mengenai Geng Gambino.


Zea melotot menatap fakta yang dia lihat di ponselnya saat ini.


Dengan terburu-buru dia turun dari kasurnya dan mengambil Jaket dengan Logo Gambino bersama kuncil mobilnya, Kemudian berlalu meninggalkan apartemennya.


Dengan kencang Zea melajukan mobilnya membelah jalan raya.


Zea sampai di kota Amest tepatnya markas Gambino pada malam hari. Dengan langkah cepat Zea memasuki ruangan rapat.


"Maaf aku terlambat."


Ucapnya ketika semua anggota serempak menatapnya.


"Duduk!" Titah Zidan.


Zidan menjelaskan semua permasalahan dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi ketika identitas Gambino telah terkuak.


"Saya sudah melacak di mana tempat tinggal penyusup itu. Dia anak buah dari geng Al Caray. Tapi kalian semua harus berhati-hati karena dia begitu telaten dan begitu setia pada bosnya akan sedikit sulit jika kita mengorek informasi darinya."


Semua orang yang berada di ruangan itu mengangguk paham.

__ADS_1


"Saya akan membagi dua tim. tim alpha yang akan meringkus penyusup itu dan tim beta akan menyelidiki informasi ten--"


Belum sempat Zidan meneruskan perkataannya, Zea menyela.


"kenapa harus dua tim? Hanya untuk masalah seperti ini." Kata Zea, enteng.


Semua menatap Zea dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apa aku salah?" Tanya Zea bingung.


Zidan menatap tajam adiknya.


"Saya tidak menyuruh anda untuk berbicara! Lebih baik anda diam!" Sentak Zidan yang terdengar begitu dingin.


Zea meneguk ludahnya, kasar. "ma..maaf" ucapnya tertunduk takut.


"Dengar penjelasannya baik-baik dan jangan sok tahu!" Tegas Zidan.


Zea tidak menyangkah kenapa kakaknya yang begitu penyayang sekarang terlihat menakutkan.


Nyali Zea menciut.


Sepertinya itu bukan kakak Zidan, bantinnya.


"tim beta. Zack, Blood dan Zea"


Zea sadar dari keterlamunannya ketika namanya disebut.


Baru saja ia akan berkomentar. Tapi setelah melihat wajah Zidan yang datar, Ia mengurungkan niatnya.


"Lakukan sesuai perintah tadi, jangan ada kesalahan sedikitpun!"


Setelah Zidan mengatakan itu, ia keluar dan menuju ke ruangan khususnya.


Semua orang dalam ruang rapat dengan teratur keluar dan menuju ke tempat persenjataan.


"Pertanyaan yang bodoh!" Sindir Gladys dengan berbisik di telinga Zea.


"Yah, mana ku tau kalau ka Zi akan se murka itu."


"Wahh, goblokmu memang natural."


"KAU!" Sergah Zea menatap tajam Gladys.


"Sudah ku bilang Russel itu Jika lagi serius mode datar plus dinginnya keluar. Dia tidak akan berkompromi dengan siapapun itu walaupun kamu itu adik kesayangannya."


"Yah mana ku tau." Elak Zea, mengedikkan bahu.


"Udah males aku liat ego kamu!" Ucap Gladys sembari berjalan mendahului Zea.


Zea berdecak sebal. "Tungguin ****!" Tutur Zea sambil mensejajarkan langkah Gladys.


Tak lama kemudian ponsel Zea berdering, nama Zidan terpampang nyata di layar ponselnya.


"Gawat ka Zi, nelpon." Zea menatap takut ponselnya yang belum berhenti berdering itu.


"M*mpuslahh, dirimu sayang hahaha.."


Gladys menertawakannya.


"Ishh! Awas kau ya!" Ucap Zea, sebal.


"Uhh cup cup cup. adik manis nggak boleh marah." ledek Gladys lagi.


"kamu bisa diam tidak!"


"Ups." Gladys kemudian tertawa lagi.


Ia sangat menyukai ekspresi kesal Zea saat ini.


Tanpa mereka sadari dering ponsel Zea berganti dengan suara notifikasi whatsapp.


Ka Zidan ❤


Keruanganku sekarang!


Ketika Zea melihat isi chatnya, dengan terburu-buru ia meninggalkan Gladys.


"Hei! Kenapa aku ditinggalin!"

__ADS_1


"Udah diam. Kau duluan saja ke ruang persenjataan."


"Emangnya kamu di suruh kemana?"


"Bacot! Mau dibunuh ka Zi Akunya."


Gladys yang mendengar hal itu seketika tertawa dengan kencang.


****


Disinilah Zea sekarang duduk di sofa dalam ruangan khusus kakaknya. Dengan kepala yang tertunduk enggan menatap mata kakaknya.


Sudah 5 menit berlalu.


Zea dan Zidan sama-sama tidak mengeluarkan satu katapun.


Zidan yang masih menatap datar Zea dan Zea yang tertunduk takut.


Dengan perlahan Zea mengangkat wajahnya dan sedikit menatap Zidan. Ketika dilihatnya Zidan menatap balik dengan tatapan datarnya, nyali Zea menciut dan menunduk kembali.


Sedangkan Zidan yang melihat hal itu, terlihat sedang menahan senyumannya.


Adiknya itu memang terlihat benar-benar ketakutan saat ini.


"Sudah menyesal sekarang?"


Zidan membuka pembicaraan.


Zea mengangkat perlahan kepalanya dan ragu-ragu menatap Zidan.


Setelah dilihatnya Zidan merentangkan tangannya menghadap Zea, ia menjadi bingung.


"Tidak mau dipeluk?" Tanya Zidan dengan alis yang terangkat.


Seketika itu juga Zea tersenyum dan berlari memeluk kakaknya dengan erat.


"Kanapa? takut, hm?" Tanya Zidan sambil mengelus lembut rambut Zea.


Dalam pelukan Zidan, Zea mengangguk.


"Benarkah?" Godanya dengan menjauhkan Zea lalu menatapnya.


"Ish! Iyaa.!" Ucap Zea kemudian memeluk erat lagi kakaknya.


Zidan tertawa mendengarnya, Adik yang super manjanya benar-benar tidak berubah.


"Jangan lama-lama ya marahnya kak, Zea nggak suka."


"Tergantung"


"Kenapa tergantung sih!"


"Tergantung kalau kamunya mau berubah dan tidak mengulangi kesalahan kamu." Jelas Zidan.


"Iya, maafkan Zea ya." Zea mendongkak wajahnya menatap Zidan.


"Ya, ya? Kak jawab dong. Dimaafinkan?"


Zidan berdehem dan mengecup puncak kepala Zea.


.


.


.


.


.


.


.


.🔜


**Segini dulu yaaa.


Tetap dukung Author lewat LIKE, KOMEN, VOTE & RATE kalian Chocolaters 😊

__ADS_1


Follow juga IG-nya Chocolate : @Ceritahalu17


Sayang kalian 💕**


__ADS_2