
Pesta perayaan Zea sebagai anggota baru telah usai.
Tepat di atas sebuah brankar Zea terlihat begitu nyaman terlelap.
Tubuhnya belum pulih sepenuhnya dan mengharuskan dia dirawat di salah satu rumah sakit milik keluarganya.
Tuan Buffalo juga dengan setia mendampingi cucu kesayangannya yang saat ini terbaring di atas brankar rumah sakit tersebut.
Terkadang jika ada bisnis penting yang mengharuskan dirinya untuk hadir, maka dia akan menugaskan Zidan untuk menjaga Zea menggantikan dirinya.
****
3 Tahun berlalu...
Ini adalah tahun ketiga Zea dibangku kuliah.
Gadis dengan kornea mata cokelat, wajah tirus, hidung tinggi juga memiliki bentuk tubuh yang ideal terbalut rapi dalam kemeja merah kotak-kotak dan jeans hitam panjang, Tak lupa juga dengan sepatu snikers putih.
Ia terlihat sedang duduk diam sambil mengerjakan lembar ujian yang ada di atas mejanya.
Sesekali guratan keseriusan nampak di wajah cantiknya kala sedang mencari jawaban soal.
Sudah 3 tahun juga hubungannya dengan Dirga usai.
Flashback on
Di taman kota Amest
"*Maafkan aku, sepertinya hubungan kita sampai disini" ucap Zea sambil menunduk.
Lelaki yang duduk tepat di sebelahnya, tersentak dengan perkataan gadisnya itu.
"Nggak!" Bantah Dirga.
"Kenapa ngomong gitu? Selama dua hari ini kamu kemana aja! Hilang kabar dan s'karang minta putus, otak kamu sehat?" Bentak Dirga menatap tajam Zea.
Zea diam dan tetap menundukan kepalanya enggan menatap Dirga yang saat ini seakan mau menelannya hidup-hidup.
"Jawab!" ucap Dirga dengan tegas bahkan terdengar seperti sebuah desakan.
"Kita berdua udah nggak cocok..." Lirih Zea.
Dirga tidak menyangkah jawaban yang Zea ucapkan. Ia mengacak kasar rambutnya.
"Tatap mata aku." Mendengar ucapan Dirga, dengan sedikit takut Zea menatapnya. Zea dapat melihat raut wajah kekecewaan yang terpancar di mata Dirga.
"Banyak hal yang membuatku meragukanmu, Al..." Lirih Zea.
"Ada apa dengan mu? Kenapa begitu mudah kau mengatakan permintaan yang konyol itu Zea? Apa hubungan ini lelucon buatmu? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat ini sayang?" Tutur Dirga dengan wajah penuh kekecewaan.
"Ku mohon..bisakah kau mengabulkannya saja?" Tutur Zea dengan mata berkaca-kaca.
Melihat Zea menangis, rasa iba melanda Dirga.
__ADS_1
Ia menarik Zea mendekapnya dengan sayang menyalurkan kekecewaannya, frustasinya dan juga rasa rindunya.
"Baiklah, jika itu mau-mu sayang. Tapi yang harus kau ingat jika kamu ingin hubungan kita kembali seperti semula, jangan malu untuk mengungkapkannya padaku. Ataupun jika kamu cemburu ketika melihatku mendekati wanita lain katakan padaku, dan jangan menyimpan masalahmu sendiri. Kalau kamu begini rasanya aku tidak berguna menjadi pacarmu." Tutur Dirga memberi penjelasan.
Zea mengganguk mengiyakan permintaan Dirga, ia memandang sekilas wajah Dirga, tak ada kebohongan yang ditutupinya.
Tapi ia akan mencoba untuk menjauh dari Dirga seperti yang telah diperintahkan opanya.
Ia sebenarnya tidak mengerti mengapa opanya bersikeras supaya jangan berhubungan dengan Dirga.
Dia sempat menolak, tapi karena janjinya akan setia kepada semua peraturan Gambino maka ia lebih baik tidak lagi membantah opanya.
Ia mengeratkan pelukannya pada Dirga, membenamkan wajahnya di dada bidang mantan kekasihnya sekarang.
Setelah putus dengan Dirga,
Zea menyibukkan dirinya dengan semua hal di dalam Gambino Geng. Ia dilatih bahkan diberi tugas untuk menyelesaikan misi. Dan sudah cukup lama juga dia tidak lagi bertemu dengan mantan kekasihnya dulu.
**Flashback off***
****
Tidak mau terlalu jauh dalam mengingat tentang masa lalunya itu, ia segera sadar dari lamunannya ketika dosennya di depan memberi perintah untuk mengumpulkan lembaran soal dan jawaban dari semua mahasiswa yang ada di ruangan itu.
Zea telah tumbuh dewasa menjadi sosok wanita yang cantik, cerdas dan cuek dengan sekitarnya.
Di Gambino dia belajar tentang tindakan harus sama besar dengan perkataan yang dilontarkan. Walaupun hidupnya seakan tidak terlepas dari berbagai misi yang dilakukan, Ia masih diperkenankan untuk melakukan apa yang membuatnya senang dan ia bebas memilih di mana dia akan melanjutkan Studynya.
Zea berkuliah di Binar Harapan, Caliko.
Ia memiliki satu sahabat yang menemaninya pada awal masuk kuliah. Mereka berteman karena sama-sama merupakan anggota dari Gambino Geng.
Gladys. Ya, Gadis yang dulunya pernah bertarung bahkan menjadi mentornya dalam Gambino, sekarang menjadi sahabat dekat Zea.
****
Mata kuliah terakhir telah selesai sekitar 10 menit yang lalu.
Zea sekarang sedang berada di depan perpustakaan kampus seraya menunggu Gladys sahabatnya. Matanya menelusuri jalan yang ada di depan perpustakaan, segaris senyum diperlihatkannya ketika seseorang yang telah ditunggunya sedang berjalan kearahnya.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Gladys
Zea menggeleng pelan.
"Ayo balik. Kata opa, Zidan sudah pulang dari Amest." ujarnya Semringah.
Gladys yang melihat Zea yang begitu bersemangat hanya untuk melihat Zidan, dia Ikut senang juga.
Mereka berjalan keluar gedung ke parkiran kampus. Setelah menjumpai mobil Sport Merah padam, mereka segera meninggalkan area Kampus.
"Zea, gue turun di apartemen aja ya." Pinta Gladys
"Loh, kenapa?" Tanya Zea bingung
__ADS_1
"Soalnya tadi disuruh ke markas s'karang. Dan Jo sudah menunggu di apartemen." Ujar Gladys menjelaskan.
"Oh..baiklah."
Zea menurunkan Gladys di depan Gedung apartemen Gladys.
"Gue masuk dulu. salam buat Russel." ucap Gladys kemudian turun dari mobil.
Zea mengangguk. Lalu meneruskan perjalanannya ke apartemennya sendiri.
Zea berada di bassment gedung itu, kemudian beranjak menaiki lift untuk ke unit apartementnya.
Ia menelusuri ruang tamu yang terlihat kosong. "Tadi katanya kakak ada di apart, kenapa nggak ada sih. " gumamnya, Kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Di ranjang king size nya dia melihat seorang Pria berbadan tinggi dan bahu yang terlihat kekar, bulu mata yang sama panjang dengan miliknya, hidung mancung dan juga rahang tegas itu seakan menambah kesan betapa tampannya pria dihadapannya ini.
Perlahan dia mendekati ranjangnya dan duduk di tepi ranjang itu.
Zea memeluk erat tubuh pria itu. "Aku merindukanmu Brother Zi." Ujarnya dengan mencari kenyamanan dalam pelukan itu.
Zea yang terlalu nyaman dengan tubuh bahkan bau parfum kakaknya itu dengan mudahnya ia terlelap.
Tanpa Zea sadari Zidan telah bangun dan menyelimuti dirinya dengan sayang.
Zidan menatap lekat wajah Zea kemudian bergumam kecil.
"Kamu cukup kuat dalam bertahan sampai saat ini Sweetheart." Ucap Zidan tersenyum kemudian mengecup sekilas puncak kepala adik kandungnya itu.
.
.
.
.
.
.🔜
**Permintaan maaf Author Choco untuk kalian Chocolaters.
Maafkan karena baru update sekarang. Ada beberapa hal yang harus Author Choco selesaikan demi kelangsungan hidup perkuliahan Author. 😅
Mohon maklum ya guys 😊
Sebagai gantinya sebentar malam Author Choco akan update lagi BAB selanjutnya 😊
Terima Kasih untuk support kalian guys 🙏
Jika kalian suka dengan cerita ini berikan Author :
*LIKE, KOMEN, RATE DAN VOTE.
__ADS_1
mampir juga di IG yaa : @Ceritahalu17***