
Setelah kemarin weekend, sudah pasti, besok nya bakalan ketemu dengan hari yang namanya Senin.
"*Tuhan, bisa nggak sih, hari senin tuh di ganti aja namanya, atau kalau enggak,hari minggu nya jadi 2 dalam seminggu. Yang nama nya hari senin dicoret aja gitu dari nama nama hari.
Hufft... bener bener ini kesialan gue atau emang hari senin merupakan hari apes gue. Lagi lagi gue datang telat ke kentor gara gara gojek yang gue pesen tadi pagi mogok di jalan.
Dan disinilah gue sekarang, lagi di omelin habis habisan sama si presdir rese. Gak konsisten lah, teledor lah, gak becus kerja lah, main main lah, dan bla bla bla.... oke gue tau gue salah, gue dateng telat hari ini, dan gue udah bilang gue minta maaf, tapi sumpah ya.. dari tadi mulut dia tuh gak berhenti buat ngoceh, nyerocos mulu dah kaya pipa rucika yang ngalirin air sampai jauh.
" kamu tau, bahkan gara gara kamu telat, saya sampai gak sarapan pagi ini. dan kurang dari setengah jam lagi waktunya kita buat ngadain meeting sama beberapa investor perusahaan."
" Saya tau saya salah pak, saya minta maaf. Kalau begitu saya sediakan sarapan untuk bapak sekarang "
" udah nggak ada waktu lagi buat sarapan Rin, kita harus siapin bahan buat meeting nanti. uhuukk.." terdengar di akhir kaliamat ia terbatuk, sepertinya dia kurang sehat hari ini
Dan gue juga cuma diem gak tau mesti jawab apalagi, kali ini gue bener bener takut ngadepin kemarahan nya dia. Gila sih parah, satu kali kesalahan aja marah nya udah kaya gue ngelakuin kesalahan fatal berkali kali. Kapok deh kapok gue, ampun gak lagi lagi deh ah, ngeri gue.
---
" tolong kamu bawa berkas ini, dan bagikan nanti saat rapat berlangsung. Uhukk..."
" baik pak. tapi, apa perlu bapak wakilkan saja pertemuan kali ini, kondisi bapak juga kaya nya sedang tidak baik "
" nggak perlu, saya nggak papa ko "
---
Dan, disepanjang rapat berlangsung gue terus perhatiin si Nathan. kaya nya dia bener nggak enak badan deh, wajah nya pucet gitu, beberapa kali juga terlihat mengedip kan mata nya pelan kaya kurang konsentrasi.
Usai rapat, Nathan dengan segera mengajak ku menuju ruangan, gue cukup heran dengan sikap nya kali ini. Dan begitu masuk kedalam ruangan, brukkk... Nathan terhuyung di atas sofa, gue bener bener panik ngeliat dia kaya menahan sakit gitu sambil megang kepala.
" Pak, bapak kenapa pak..?!" Tanya ku panik
" aaaahh... sakiit.. sakiit... hahhh " teriak Nathan seperti sudah kehilangan kesadaran nya. jujur, aku benar benar menangis saat itu juga, entah kenapa selintas bayangan Reihan suami ku dulu begitu jelas ku ingat, bagaimana perjuangan dia melawan penyakit nya, bahkan sering kali ku dengar dia mengerang kesakitan persis seperti apa yang Nathan lakukan sekarang.
Dengan isakan tangis yang gak berhenti, dengan rasa panik yang luar biasa. juga, kebingungan dan gak tau harus ngelakuin apa, seketika aku langsung menghampiri Nathan dan memeluk nya, sementara dia terus mengerang kesakitan..
" Karin.. tolong.. ini sakit Rin..."
Ku lepas pelukan ku, lalu ku tatap Wajah Nathan yang sudah makin pucat.
__ADS_1
" kamu kenapa sih Nath, jangan bikin aku panik, kamu ada obat nggak?!"
Ucap ku dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti
" di mobil ", ucap nya
Seketika itu juga aku langsung berlari keluar menuju lift, dan begitu saat di lobi, orang orang menatapku heran, mungkin mereka merasa aneh kenapa aku berlari ditengah sibuk nya jam kantor sambil terisak
Tak ku pedulikan pertanyaan beberapa orang yang ku temui, segera ku cari sopir Nathan yang selalu stay menunggu tuan nya di area parkir. Dan benar saja, pria setengah baya yang ku tau namanya pak Diman itu sedang nangkring di pos satpam
" pak, dimana mobil Nathan " ucap ku tergesa gesa
" kenapa memang nya non? " tanya pak Diman serius
" aku mau ambil obat nya di mobil pak, cepet buka pintunya?!"
" Den Nathan kumat non? " tanya pria tua itu sambil dengan segera mengambil kotak obat dari dalam mobil, tak sempat aku menjawab
" ini non obat nya, kalau sampai den Nathan kenapa napa, non kasih tau saya, kita harus segera bawa ke rumah sakit "
Tanpa mendengar jelas apa yang dikatakan mang Diman, dengan segera aku berlari masuk ke dalam kantor, kembali jadi pusat perhatian orang orang tak masalah, yang penting sekarang adalah keadaan Nathan fikir ku.
Dan begitu sampai di ruangan, terlihat Nathan masih mengerang menahan sakit dikepala nya, dengan segera aku mengambil air yang disimpan di atas meja kerja. Tanpa banyak bertanya, aku membawa tubuh Nathan agar duduk dengan tegak di kursi, kemudian ku buka obat nya satu persatu, Nathan meminum semuanya tanpa banyak bertanya.
Sesaat setelah Nathan meminum obat nya, ku lihat tubuh nya begitu lemas dan berkeringat, bahkan kemeja biru muda yang dikenakan nya mulai basah terlihat. Dengan pelan aku membuka jas yang dikenakan Nathan, bukan maksud apa apa, ini hanya inisiatif ku saja, mungkin dengan begini tubuh nya akan merasa sedikit nyaman, aku juga mengelap keringat di wajah dan bagian leher nya dengan tissue, Nathan masih setia menutup mata sambil mengatur nafas nya, aku tau dia masih sadar ko' hanya saja meski aku melakukan ini, dia juga diam saja.
" Rin..." ucap nya pelan
" iya, kenapa? Ucap ku sambil berusaha melepaskan dekapan nya, sampai akhir nya terlepas juga. karna jujur saja, aku merasa tidak nyaman di perlakukan begitu, meski tadi saat ia kesakitan aku juga sempat memeluk nya namun itu sumpah reflek aku lakukan karna aku begitu panik dan takut melihat Nathan mengerang kesakitan seperti tadi, se olah olah yang ku lihat adalah bayangan Reihan dua tahun lalu.
" kamu tadi nangis?" Tanya nya lagi
" emmh. Itu-itu karna aku panik tadi. maaf, sudah lancang memeluk mu juga "
Nathan membuka mata sayu nya, wajah nya masih terlihat pucat.
" trimakasih " ucap nya lagi
" sama sama. Tapi sebener nya kamu sakit apa sih Nath?!" Secara tidak sadar bahasa ku sekarang sudah bukan lagi bahasa formal, aku sadari itu. tapi, karna sudah terlanjur dan dia nya gak marah juga jadi gak papa lah, toh lebih nyaman begini juga kalau cuma berdua.
" aku nggak papa ko, cuma sakit kepala biasa aja "
' apa? Tapi kaya nya nggak mungkin deh kalo cuma sakit kepala biasa, tadi yang gue liat dia kaya nya kesakitan banget, terus ini obat obatan nya juga kaya nya udah biasa dia bawa kemana mana, mana banyak banget lagi obat nya, ini kaya nya penyakit serius deh, mungkin lain kali bisa aku cari tau , untuk sekarang gak mungkin juga aku tanya tanya,kondisi dia aja masih begini " gumam ku dalam hati
__ADS_1
" emh, ya udah, kita pulang aja yuk. kamu istirahat di rumah. Biar aku anter kamu sampe ke bawah ya "
" no..! Aku mau kamu rawat aku sampe sembuh "
" apa? Ya gak bisa gitu lah "
" kenapa? Kamu kan asisten pribadi ku "
" ya tapi nggak rawat tiap hari juga dong, "
" ini juga gara gara kamu kalau kamu lupa"
" apanya gara gara aku, jangan ngaco kamu "
" gara gara kamu aku nggak sarapan tadi pagi "
" ko nyalahin aku, kenapa nggak sarapan aja sendiri, kenapa harus tergantung sama aku "
" ya itulah guna nya kamu disamping aku "
" hahhh... ya kamu kan bisa aja sarapan sendiri, udah gede ini. Ya udah deh, aku rawat kamu, tapi pulang pergi ya,"
" kenapa nggak tinggal di tempat aku aja, toh kamu sendiri juga kan "
" ya nggak bisa lah, mana boleh begitu. Pokok nya aku akan rawat kamu kalo aku bisa pulang pergi, kalo kamu nggak terima ya udah gak papa"
" oke, oke terserah.. "
" kamu telfon mang Diman gih, biar dia jemput kamu kesini, kaya nya masih lemes gitu, takut nya masih belum kuat jalan "
" gak papa, aku bisa ko "
Tapi saat Nathan berdiri hampir saja ia kehilangan keseimbangan nya. Reflek aku membantu dia memapah nya hingga kami keluar ruangan
" makanya kalo masih lemes, nggak usah so bilang masih kuat "
Nathan hanya diam, tak menanggapi ocehan ku.
Dan saat kami melewati meja sekertaris kantor, Nathan berhenti sejenak,
" jika ada hal yang sangat penting, kamu bisa menghubungi saya langsung, kemungkinan untuk dua hari ini, saya tidak ada di kantor. dan jika ada berkas yang perlu tanda tangan saya segera, kamu bisa datang ke apartemen saya " ucap Nathan sesaat sebelum kita masuk kedalam lift
" baik pak " jawab Rena dengan tatapan sisnis menatapku
__ADS_1
Enatah ada masalah apa dia dengan ku, karna kalo ku perhatikan dari awal, sejak aku jadi sekertaris pribadinya Nathan, Rena terlihat kurang menyukaiku, entah apa sebab nya. gak mau ambil pusing juga sama hal hal yang gak ada kaitan nya sama sekali dengan ku, terserah saja.
----