
Pukul 04.50 makanan untuk makan malam nanti sudah siap, Nathan hanya perlu menghangat kan nya kembali sebentar sebelum ia menyantap nya nanti. Dan semoga saja keadaan nya sekarang sudah membaik, hingga aku bisa pulang ke rumah tanpa harus menghawatirkan keadaan nya disini.
Tok.. tok... tok... ' Nath, aku boleh masuk gak ?!" Tanya ku sambil membuka pelan handle pintu kamar Nathan, dan mencondongkan sedikit wajahku kedalam untuk melihat keadaan nya sekarang.
Bukan maksud ku kurang sopan atau lancang, membuka pintu kamar tanpa ada sahutan ku dengar dari dalam, hanya saja, aku takut keadaan Nathan masih lemah seperti tadi tadi pagi, dan dia masih belum mampu berdiri dan menbuka pintu kamar untuk ku.
" Masuk aja Rin " jawab Nathan terdengar lemah
Saat aku masuk, aku kemudian mendekatinya. Terlihat Nathan menbungkus dirinya dengan selimut tebal, wajah nya semakin pucat dan sedikit bergetar.
" Nath, keadaan kamu kaya nya makin parah deh, kita ke dokter yuk "
" kepala ku sakit banget Rin " gumam Nathan terdengar lirih
" kita ke dokter ya Nath "
" gak perlu, kamu telfon aja Om Rafi, dia dokter keluarga ku, kamu cari aja kontak nya ada di handphone aku Rin "
Tanpa bertanya lagi, aku segera mengambil ponsel Nathan yang tergeletak di samping nya, ku cari kontak bernama om Rafi, lalu setelahnya aku telfon, meminta dia untuk datang ke apartemen nya Nathan. Dan benar saja, respon nya sangat cepat, dia langsung menuju kemari begitu aku beritau dia kalau Nathan sakit.
" Nath, kamu ko bisa sampai begini sih, sebenernya kamu tuh sakit apa? Gak mungkin kan kalo cuma sakit kepala biasa kamu bisa sampai segini nya " ucap ku sambil mengelap keringat di dahi Nathan dengan tissue yang ku ambil dari atas nakas samping tempat tidur.
Nathan masih setia memejamkan matanya dengan selimut menutupi seluruh badan nya hingga ke leher, dia menggigil kedinginan, tapi suhu tubuh nya ternyata panas, sepertinya dia demam. Aku benar benar dilema, jika aku pulang dengan meninggalkan Nathan yang kondisi nya seperti ini sebenernya aku tak tega. Tapi di satu sisi, aku ini janda, tinggal menginap satu atap di tempat laki laki lajang seperti ini kaya nya agak gimana gitu.
Ting ...nong... ting.. nong.. suara bel apartemen Nathan menggema di ruangan, 'sepertinya Om Rafi udah dateng ' gumam ku sambil beranjak untuk membuka kan pintu untuk nya.
Dan benar saja, se orang pria paruh baya yang rambut nya sudah terlihat memutih sebagian berdiri sambil menenteng sebuah tas yang lumayan besar.
" Nathan nya ada didalam ?!" Tanya nya berbasa basi, saat melihat ku membuka pintu
" iya om, Nathan ada di kamar nya. Mari masuk om " jawab ku ramah
" kamu ini?"
" saya Karina om, sekertaris pribadi Nathan, yang menelfon om tadi "
" oh, iya iya. Baiklah, trimakasih ya, sudah merawat Nathan disaat orang tua nya sedang tidak ada, dia pasti sangat merepotkan mu ya ?!" Tanya Om Rafi, kita bercengkrama sambil berjalan menuju kamar Nathan
__ADS_1
" tidak ko' om, ini sudah menjadi tugas saya "
" saya Rafi, Om nya Nathan sekaligus dokter pribadi keluarga Nathan, ' Nath, kenapa lagi kamu ini hemmh? Sudah om bilang, jaga pola makan dan kesehatan kamu anak muda !" ucap Om Rafi memperkenalkan dirinya namun tanpa aku menjawab ia malah menyapa Nathan yang masih terlihat membungkus dirinya dengan selimut tebal.
Tanpa terdengar jawaban apapun dari Nathan, om Rafi kemudian dengan segera mengeluarkan beberapa alat tes kesehatan dan memeriksa Nathan yang masih terlihat enggan membuka suara.
" lagi lagi kamu bandel, sudah seringkali om bilang, sebelum melakukan aktifitas apapun jangan lupa untuk sarapan terlebih dulu, jangan sampai kerja dengan perut kosong, dan lagi kurangi waktu bergadang mu, jelas jelas itu tidak baik untuk di lakukan Nathan " ucap Om Rafi sambil membereskan kembali beberapa alat nya dan memasukan nya kedalam tas yang ia bawa.
" bagaimana keadaan nya om, so' al nya saat di kantor tadi Nathan sempat mengeluh sakit kepala, dan setelah pulang juga meminum obat, kondisi nya ternyata masih seperti ini. Apa perlu kita bawa saja ke rumah sakit om?!"
" anak ini gak akan pernah mau di rawat di rumah sakit, boleh om bicara berdua sama kamu Nak?"
" boleh om, mari..!" Ucap ku sambil mempersilahkan Om Rafi untuk keluar terlebih dahulu
---
Dan disinilah kita sekarang. Aku menyusul om Rafi ke ruang tamu setelah sebelum nya ku siapkan segelas teh hangat dan beberapa cup puding yang tadi sempat aku buat sebagai kudapan. Meski ini bukan rumah ku, tapi tidak enak rasanya jika ada tamu lain datang dan tidak menghidangkan sedikit cemilan atau sekedar minuman teman ngobrol di meja.
" kamu ini, tidak perlu repot repot menyuguhkan om hidangan seperti ini nak "
" trimakasih nak, kalau saja Mas Darma lebih dulu mengenalkan mu pada anak om, mungkin kamu bisa menjadi kandidat menantu om saja "
" om ini, bisa saja. Saya hanya bekerja disini om, seebih nya saya tidak berani berharap apa apa"
" jadi begini nak, Nathan itu sebenar nya memiliki riwayat sakit kepala ber ulang ulang setelah ia mengalami tragedi kecelakaan tunggal lima bulan lalu saat ia masih tinggal di LA. Om sudah sering memberinya saran agar ia mencoba memeriksakan nya ke dokter saraf, tapi anak itu tetep kekeh menolak, alasan nya karena dia bilang masuk rumah sakit itu gak seru dan bau obat, terdengar kekanak kanakan sekali memang alasan nya itu, tapi ya itu lah Nathan, sedari kecil memang dia sudah anti sama yang namanya rumah sakit ."
" tapi om, yang Karin lihat tadi, Nathan seperti kesakitan banget. Karin cuma takut dia mengalami sakit kepala yang nggak biasa "
" itu dia yang om takut kan juga sebenernya, om ini hanya dokter umum, bukan dokter spesialis saraf, jadi diagnosa sementara Nathan terkena Migrain jika di lihat dari gejala umum yang di rasakan Nathan, dia seringkali mengeluh disebagian kepalanya berdenyut dan itu bisa berlangsung selama beberapa hari. "
" tapi yang jadi pemicu kambuh nya sakit kepala nya dia itu apa saja om? So'al nya kebetulan juga pagi itu Karin telat dateng ke kantor dan gak sempet siapin Nathan sarapan "
" Serangan Migrain mungkin saja dikaitkan dengan kondisi sistem saraf. Dan faktor yang turut berpengaruh memicu migrain diantaranya seperti Insomnia, dehidrasi, melewatkan makan, huktuasi hormon dan paparan bahan kimia.
Bahkan hingga kini belum ada obat yang efektif untuk menyembuhkan migrain. Obat migrain yang di jual dipasaran hanya untuk mencegah serangan dan mengurangi gejala yang dirasakan." *
__ADS_1
" apa itu termasuk obat obatan yang Nathan konsumsi selama ini om?"
" benar. Jadi sebaiknya Nathan perlu pemeriksaan lanjutan pada dokter saraf.karna disana nanti akan di lakukan beberapa pemeriksaan meliputi
• pemeriksaan fisik
•pemeriksaan saraf seperti memeriksa saraf sensorik
•juga, pemeriksaan penunjang seperti CT scan, MRI, atau PET scan kepala, EEG ( elektroensefalogram), EMG(elektromiografi), tes urine, tes darah, atau pemeriksaan cairan otak. "
" wah, ternyata yang namanya sakit kepala itu nggak bisa di anggap remeh ya om "
" tentu saja, jika sakit kepala yang dirasa itu masih normal normal saja, tentu penanganan nya akan sangat mudah, lakukan istirahat yang cukup, banyak minum air putih, ber olah raga, dan lakukan pola hidup sehat, maka insyaallah, penyakit pun akan terhempas dengan mudah nya dari tubuh kita. Tapi juga jangan sepelekan penyakit apapun itu, meski dikatakan sebagaian orang penyakit sakit kepala ini masih tergolong penyakit biasa, tapi tentu jangan di anggap sepele juga. Lakukan pemeriksaan lanjutan jika gejala nya terasa tidak normal. Lakukan penanganan dan pencegahan sedini mungkin. Jangan sampai baru melakukan pencegahan setelah penyakitnya parah. Karna kalau sudah seperti itu, penanganan nya pun tidak akan mudah dan memerlukan proses yang panjang"
" oke om, trimakasih penjelasan nya "
" iya sama sama, kamu juga jangan sampai terlalu over kalau bekerja. Ingat..! Kesehatan itu penting, "
" iya om, trimakasih pesan nya "
" tolong bujuk Nathan agar dia mau periksa ke dokter saraf ya Rin, sepertinya kalau dibujuk sama perempuan muda dan cantik kaya kamu Nathan akan cepet luluh deh "
" apa sih om bisa aja, om tau sendiri sikap Nathan kaya apa, dia itu keras kepala tanpa mau terima bantahan om. Rasanya akan sulit membujuk orang dengan watak keras kaya Nathan. Tapi nanti pasti Karin usaha kan ko om, semoga aja dia mau denger saran Karin "
" baiklah, ya sudah, ini tolong nanti kamu tebus obat tambahan ini di apotik ya, dan obat yang sebelum nya juga jangan lupa di berikan tiga kali sehari setelah makan, tapi hanya boleh di konsumsi jika penyakitnya kambuh saja "
" oke om, Karin mengerti "
" ya sudah kalau begitu, om pamit dulu, masih banyak kerjaan di rumah sakit so'al nya. Om titip Nathan sama kamu ya Rin, kalau ada apa apa nanti kamu bisa hubungin om" ucap Om Rafi sambil beranjak.
Dengan segera aku mengikuti langkah nya menuju pintu
" baik om. Trimakasih "
" sama sama " ucap Om Rafi sesaat sebelum dirinya menghilang masuk kedalam lift.
__ADS_1