
" kenapa kemarin mendadak minta izin? Ada masalah?" Tanya Nathan saat dirinya barusaja turun dari mobil, dan bertemu dengan Karina yang sedang menunggu kedatangan nya di lobi.
" maaf pak, kemarin temen saya masuk rumah sakit, kan saya udah jelasin alasan nya kemarin " ucap Karina pelan
' nih orang lama lama gue gibek juga ya, kemarin pas gue minta izin dengan rangkaian kata kata yang panjang kali lebar yang cuma dia jawab 'YA' sekarang malah pura pura lupa? Bener bener minta ditabok ya bos yang satu ini " gumam Karina dalam hati.
Tak terdengar sahutan lagi dari Nathan, mereka berdua fokus berjalan, kemudian memasuki lift untuk menuju ruangan sang presdir.
Tak lupa,dengan sajian wajib dipagi hari saat ngantor, Karina dengan cekatan menyiapkan sarapan untuk Nathan.
Tak ada yang spesial di hari ini, semua kegiatan berjalan dengan semesti nya, begitu pula dengan aktifitas Karin sebagai sekertaris pribadi sang presdir, ia hanya memegang jadwal harian sang bos, sementara urusan kantor sama sekali bukan tanggung jawab nya. Terkecuali jika sang bos lah yang meminta nya langsung untuk mengerjakan, selebihnya tak ada tugas khusus untuk Karina kerjakan di kantor. ' oh, sungguh pekerjaan yang menarik bukan?"
Dan sudah dipastikan, tak ada kerja lembur hari ini. Begitu jam kerja habis, Nathan juga langsung pulang, Sesuai peraturan, Karina sendiri yang harus memastikan presdir nya pulang dan mengantarnya sampai masuk kedalam mobil.
" kalau di fikir fikir, tiap hari tugas lo udah kaya baby sitter aja ya Rin, pulang pergi pak Nathan ganteng mesti banget di antar jemput sama sekertarisnya. Jemput di lobi, siapin sarapan, kerja ditemenin, sementara sekertarisnya gak ada kerjaan, terus pulangnya juga di anter sampe masuk ke mobil jemputan, emang orang kaya beneran mah enak ya hidup nya"
" woyy... sadar..!! Nathan udah pergi dari tadi juga. hayu pulang, ini gue udah duduk di jok boncengan dari tadi, lo malah ngoceh mulu, "
" lo mah, meni gak seneng pisan liat gue lagi nerawang masa depan yang cerah, duduk berdampingan dengan cowok setampan presdir Nathan, pulang pergi tiap hari, di elus elus, dimanja manja setiap hari setiap saat, aduuh romantis nya "
" Rere.. kalo nggak jalan jalan mending gue pesen gojek aja ya, gue turun nih "
" iya iya ah, ini gue jalan. Dasar penumpang gak ada akhlak lo mah "
" eh Re, kita ke rumah sakit dulu yuk, jengukin Albian bentar. Kemarin pas gue pulang dia cuma sendirian di rumah sakit, nggak tau sekarang udah ada keluarga nya jengukin dia apa belum"
" oke deh, ayok.. gue juga harus kenalan secara resmi sama calon imam "
" dasar play girl lo, barusan Nathan, sekarang Albian, liat yang bening dikit lo gaet "
----
skip.
__ADS_1
Karina dan Rere sampai di rumah sakit.
" permisi sus, saya mau tanya ruangan pasien atas nama Albian di kamar berapa ya ?"
" Oh, pak Albian ada di kamar vip room melati tiga mba "
" oh, iya. Trimakasih sus "
" iya mba. sama sama "
" ayok Re " ajak Karin, kemudian mereka mulai mencari cari ruangan tersebut
" Rin, ko lo pake tanya suster lagi, bukan nya kemarin kita sendiri tang nganter Al kesini?"
" iya, tapi kemarin Albian minta pindah kamar vip "
" wah, biaya nya pasti lumayan. Btw, Albian orang kaya ya Rin ?"
" ya mana gue tau "
" itu suara dari handphone gue bego, gue sengaja pasang suara itu dari tubetube supaya mereka pada kabur "
" hah?? Beneran?? Padahal itu terlalu beresiko tau, gimana kalo sampe ketahuan mereka, auto bonyok kita ikutan dihajar "
" tapi untung nya enggak kan?"
" iya sih, tapi semoga aja nggak ada lain kali untuk kejadian kaya kemarin ya. sumpah badan gue tremor waktu itu, untung aja nggak sampe pipis di celana saking takut nya "
" ah dasar lu, kaya bocah aja "
" ehh ini ruangan nya bukan Rin?" Tanya Rere saat dihadapan nya terlihat kamar bertuliskan vip room melati tiga
" eh, iya kaya nya, coba ketuk dulu '
__ADS_1
tok..tok.. tok... Permisi... ( pintu kamar dibuka perlahan ) ' Albian..."
seseorang disana tengah memejamkan matanya pun perlahan tersadar dan menatap kedua wanita yang baru saja masuk kedalam ruangan nya.
" Al, gimana keadaan lo? Udah baikan?" Tanya Karin, jujur ia merasa canggung takut kalau kalau kedatangan nya kali ini mengganggu pria tersebut
" ngapain lo kesini lagi ?" Tanya Albian dingin
" wey, lo ko nanya nya gitu sih, kita tuh kesini dengan niat baik mau jengukin lo tau " ucap Rere sewot
" Re, udah " ucap Karin menenangkan, ia tau sifat Rere yang blak blakan dan to the poin, gadis ini memang paling tidak suka di abaikan.
Sementara Albian, meski Karin tak begitu mengenal baik karakternya, tapi sekilas ia tau, kalau Albian adalah sosok yang tidak mudah ditebak, pembawaan nya dingin dan cuek, tampilan nya juga urakan, tato di lengan kiri, juga penampilan nya yang kadang terlihat asal asal an, meski tak mengurangi kadar ketampanan nya sekalipun, tapi untuk orang yang belum tau, mungkin akan beranggapan buruk tentang pria ini, tapi Karina tau satu hal, sejak bertemu Albian dirinya menemukan beberapa hal yang belum bisa dipastikan kebenaran nya, dalam arti, pria ini bagai menyimpan banyak misteri.
Albian hanya menatap Rere sekilas,kemudian memalingkan muka nya ke arah lain.
" kalau mau cari ribut, mending kalian pulang aja " ucap nya datar
" eh, mulut mu itu ya ..." ucap Rere terpotong, karna tangan nya di cekal Karin.
" Kita kesini gak mau cari ribut, kita kesini mau jenguk lo, sorry kita kesini gak bawa apa apa, tadi dari kantor langsung kesini, gak sempet mampir kemana mana takut nanti pulang nya kemaleman, tapi kaya nya kondisi lo juga udah membaik, dan sedang dalam keadaan tidak ingin dijenguk, jadi kita berdua permisi pamit pulang aja " ucap Karina tak kalah dingin, tapi Albian masih saja diam tak menanggapi.
" gangeng ganteng ko nyebelin " gumam Rere
" kita pamit pulang, semoga lo cepet sembuh. ' ayo Re " ajak Karina pada Rere.
Mereka pun keluar ruangan hendak pulang.
" gue jadi nyesel dateng kesini "ucap Rere kesal
" udah, jangan marah marah terus, dia mah emang gitu orang nya, tapi aslinya baik ko "
" ya elah, baik darimana nya, orang sombong kaya gitu dibilang baik "
__ADS_1
Sementara setelah kepergian Rere dan Karina. Albian hanya termenung menatap langit langit rumah sakit sambil berbaring, ingatan nya menerawang ke beberapa waktu lalu saat ia dan Karina beberapa kali pernah bertemu, " gue tau lo orang baik. Tapi sorry, ini bukan saat nya lo masuk dalam kehidupan gue " gumam Albian pelan