Sekedar Cinta Monyet

Sekedar Cinta Monyet
Chapter 1 Prolog


__ADS_3

Aku Raline, umurku sekarang hampir genap 14 tahun, aku adalah anak tunggal yang harus serba perfect.


Ya Mama harus banget orang lain melihatku dengan segala kelebihan yang aku miliki. Tapi Guru sekolah dan teman-teman menjuluki ku si “introvert”, katanya aku begitu misterius dan tertutup.


Sejak kecil aku selalu di pertemukan dengan mereka yang pemberani dan pandai bicara oleh mamaku, tapi tidak berhasil membuatku menjadi orang yang memiliki percaya diri tinggi. Teman di sekolah dan di rumah pun di biarkan tidak sama, dalih mama agar aku memiliki banyak teman dan kenalan.


Pada kenyataannya ketika aku berteman baik dan sudah cukup akrab dengan sebayaku, mama selalu menyaksikan aku berakhir menjadi pesuruh. Mereka mengancamku, katanya “aku tidak akan di temani bermain jika aku tidak menuruti apa yang dia suruh”. Imbasnya aku selalu di marahi ketika temanku menyuruhku melakukan hal yang tidak Mama sukai, lalu temanku ber playing victim menjadi anak yang sempurna di mata Mamaku.


Beberapa kali aku berganti teman main, tapi pada akhirnya aku kembali kepada mereka. Aku paling tidak suka dibanding-bandingkan dengan mereka, perilaku mereka ter-endus Mama, sampai pada akhirnya Mama bertengkar dan kami pindah rumah.


Mamaku juga selalu bilang “kamu itu cantik, mama ga mau sampe denger anak mama cantik-cantik tapi bloon - nakal, mama tuh pengennya denger anak mama udah cantik, pinter baik lagi, jangan malu-maluin mama...” begitu celotehnya,


atau “kamu itu pinter cuma males !!! jangan dibiasain males, lama-lama kalo kamu males terus kamu akan kalah sama orang yang rajin”


dan atau “mau jadi konten kreator tuh harus punya karakter, minimal hal baik nya bisa jadi contoh buat orang banyak, kalo kamu sukses, kamu akan di cari orang banyak, jangan cuma ngandelin cantik doank”. Daaaaan masih banyak lagi.


Mungkin introverku muncul dari hal-hal yang seperti itu, aku yang dulu ceria berubah menjadi si pendiam dan tidak pede-an. Sebenarnya bukan tidak pede-an aku berhasil di bentuk mamaku menjadi orang yang selalu berhati-hati dalam bertindak atau memilih teman main.

__ADS_1


Ibarat memilih antara parfum dan bangkai, seperti itu juga memilih teman, jika teman kita baik maka kita akan terbawa harumnya, jika teman kita buruk maka akan tercium bau busuknya.


Pada akhirnya, aku sendiri yang akan memutuskan akan jadi apa aku di masa depan, aku hanya anak perempuan yang baru kelas 2 SMP. Dan aku berdoa pada Tuhan, semoga takdirku selalu baik.


Aku memiliki satu sahabat karib, yakni Senni, dia teman sekaligus sudah aku anggap saudara, aku merasa cocok berteman dengannya, kami saling mendukung satu sama lain, lebihnya dia tidak toxic dan orang-orang selalu mengira kalau kami saudara kembar, karena memiliki bentuk mata yang sama. Dan aku senang mereka berkata seperti itu, bahkan kami selalu couple-an, dan orang tua kami tidak keberatan sama sekali.


Senni si pemberani dan banyak bicara, aku hanya menjadi pendengar yang baik semenjak kelas 1 SMP. banyak yang menyukainya, tapi tidak sedikit pula yang tidak suka dengan gayanya yang terlalu manja dan childish. Tak apa, aku tak terpengaruh.


Sebagai sahabat aku selalu support apa yang dia lakukan selama itu baik dan membuatnya senang. “hai bestie ku...” sapa Senni pagi itu sambil menuju bangku tempat kami duduk, kebetulan aku sedang mengerjakan PR matematika yang lupa aku kerjakan.


“besok, kita main ke taman Olah Raga yuk” ajaknya.


“mau ngapain ?”


“besok crush aku main bola”


“ga mau ah... males aku”

__ADS_1


“ih suka gitu deh...ayolah please” Senni merengek dengan gaya childish khasnya.


“ogah” jawabku agak tegas, aku paling malas jika harus menemaninya melihat crush nya, bagiku itu sangat tidak penting, dan itu privasinya,


jika urusannya dengan crush-nya, aku gak tertarik. Aku memang tau crush nya, secara fisik dia ganteng dan populer. Dia Cindo, keturunan Cina tapi lahir di Indonesia, aku tau banyak tentangnya, karena Senni sudah sering bercerita padaku.


“kenapa sih?”


“Senni, udah aku bilang itu privasi kamu, dan aku ga mau ikut-ikutan, cukup mendengarkan cerita dari kamu aja itu udah cukup buat aku.”


“Ya udahlah....”


Aku membebaskan Senni untuk bergaul dengan siapa aja. Dan gak harus jadi gak enakan kepadaku.


Dia berhak memiliki teman lain selain aku dan itu tak apa-apa. Aku sudah terbiasa sendiri, dan sebenarnya sendiri terasa lebih nyaman.


Ya itulah aku si Introvert.

__ADS_1


__ADS_2