
Ya Tuhan, bukankah itu Aland, aku kaget bukan main. Seandainya Senni ada disini, dia pasti akan sangat senang sekali.
Aku membeku di ruang UKS, dan bingung harus keluar dari ruangan itu atau tidak, ada dua laki-laki dan aku satu satunya perempuan di ruang itu, aku merasa takut, ingin rasanya aku pergi dan berlari sekencang-kencangnya dari situ.
Walau bagaimana pun, aku adalah perempuan, tidak baik jika di ruangan itu tak ada orang dewasa yang mengawasi. Batinku mengatakan aku harus segera pergi. Aku sudah beres mengikat tali sepatu.
SREEETTTT....
Aku membuka tirai penutup tempat tidur pasien, kedua laki-laki di ruang UKS itu sontak kaget sekali, dan tanpa basa-basi aku buru-buru ancang-ancang untuk berlari, aku tak melihat ada kaki yang menghalangi, aku tersandung kaki itu dan hampir terjatuh, rambut panjangku yang aku ikat asal-asalan terurai sempurna.
“Kamu ga apa-apa?” ucapnya, itu suara khas Aland
“ngga” aku melirik sedikit sambil menundukkan wajah sesekali memalingkan muka, berusaha agar tidak di lihat.
“maaf yah, aku ga tau ada kamu soalnya”
Makin lama di ruangan itu entah kenapa aku makin gerah.
“tenang Dek, kita bukan monster, pake nunduk terus segala” kata laki-laki yang satunya.
“eeee... bukan-bukan... “ aku menggelengkan kepala “eee.. gimana yah...” aku panik dan membuat mereka tertawa geli.
Raut Wajah Aland berbeda dengan saat dia main bola, aku pertama kalinya melihat dia dari dekat, ada getar rasa yang aneh muncul.
“liat deh mukanya merah tunjuk Kaka PMR di sebelah Aland. Dan semakin keras tawa mereka, dan aku semakin malu.
“Ya Tuhan... kamu lucu sekali, sumpah baru kali ini aku lihat cewe selucu kamu”
Aku jadi salting dikatain Aland, orang ganteng dan populer satu sekolah.
Aku menunduk dan meminta maaf berkali kali. Aku malu sekali, aku buru-buru melangkahkan kaki keluar ruangan namun kakiku tiba-tiba terkilir.
BRRUUUKKK...
Aku jatuh tengkurap, membuat mereka semakin tertawa renyah, lukanya sih ga seberapa, malunya luar biasa, sampe tengkurap, aku tidak bisa bangkit dengan sempurna, lututku perih karena tergesek paving blok, dan pergelangan kakiku nyeri luar biasa.
"waduh jatoh hahaha, bantuin-bantuin" kata Yoga.
Mereka berdua memapahku kembali ke ruangan UKS, sambil menahan tawa sesekali. Bodoh-bodoh-bodoh, ngapain musti jatuh segala sih ! gerutu batinku.
“Yoga... darurat nih Ga, bawain tandu” teriak Kaka PMR lainnya
“Al.. nitip ya awas kabur...” tukasnya sambil melirik padaku.
__ADS_1
Yoga segera pergi membawa tandu ke area lapangan, kami di tinggalkan berdua.
“lagian ngapain kamu lari, kita kan orang baik, mana mungkin macem-macemin kamu” Aland mengoleskan Alkohol ke lututku
“aaawwww....”
“tahan... dasar cengeng” aku nangis pelan menahan perihnya alkohol yang dia oleskan, dan tidak sengaja air matanya jatuh menetes ke tangannya yang putih, kami saling bertatapan.
jantungku lagi-lagi berdegup kencang, seakan tak percaya bahwa di depanku adalah Aland, laki-laki yang Senni sukai, begitu baik dan penuh kharisma, pantas saja banyak perempuan suka padanya.
Lalu ia meminta maaf sambil membuka sepatu kananku, dia memutar-mutar kakiku yang terkilir. Semakin perfect dia dimataku, membuat kekagumanku meningkat sepenuhnya padanya.
“oh iya, dari tadi aku belum memperkenalkan diri, namaku Aland” dia tersenyum manis padaku, astaga jantungku ga bisa dikontrol, berdegupnya kencang lagi dan lagi, apakah aku jatuh cinta?
“aku Raline”
“oh Raline, kelas berapa, soalnya aku jarang liat”
“aku kelas XII-A”
“oh... temen sekelasnya Senni ya” tebaknya, dan kini tebakannya benar, aku mengangguk pelan.
Kali ini dia tersenyum dan terkekeh pelan, kemudian berakhir dengan menceritakan Senni, katanya dia lucu, dan menceritakan kejadian kemarin.
Seketika aku tersadar, aku ini siapa, mana mungkin Aland menyukaiku, di banding aku Senni jauh lebih unggul dalam segala hal, cantiknya, manjanya, populernya, dan juga perhatiannya pada Aland.
Aland bilang padaku dia mendapat surat Cinta dari Senni sahabatku, disertai sebuah coklat tanda cintanya beberapa waktu lalu, kemudian ia bilang dia merasa menjadi orang paling Tamvan.
Upacara telah berakhir, dan pelajaran akan segera di mulai, cuaca kembali mendung dan hujan deras pun datang, perlahan aku melangkah melewati koridor sekolah menuju kelas tujuanku.
“hei...’ ucapnya memanggilku
“pake jaketku, seragam kamu kotor sekali, bekas jatuh tadi”
“ga usah Ka..”
“jangan panggil Ka, panggil Aland aja, aku ga gila hormat koq, ga usah terlalu formal”
“ga usah Aland makasih, aku takut Senni marah jika aku memakai jaketmu.”
“udah pake aja !!!” katanya sambil memasangkan jaketnya di bahuku, tak lama kemudian aku memakai jaketnya, wangi banget.
“oh ya salam buat Senni, makasih minumannya kemaren”
__ADS_1
“ok Kak... “ jawabku spontan, dia mengernyitkan dahi “eh... Aland” koreksiku. kami berdua saling membalas senyum dan berlalu pergi.
“kamu udah mendingan?masih pusing ga?” Johan datang menghampiriku dan terlihat khawatir.
Cieeee.... Anak-anak kelas menyoraki aku dan Johan, tapi tak di gubris oleh Johan, dia malah kesenengan kayanya.
“itu jaket siapa Ra?” tanyanya “bau parfumnya bau parfum laki-laki”
“oh ini haha.. punya Ka Aland, tadi aku mau ke kelas taunya jatuh, dan bajuku kotor, jadi dia kasih pinjem”
“ooohh...”
“kenapa? Cemburu?”
“nggaaa...”
“ok”
Aku ingin secepatnya bertemu dengan Senni, menceritakan kejadian hari ini, eh.. tidak-tidak, aku tidak akan menceritakan apapun, aku takut Senni marah, lebih baik perkenalanku dengan Aland aku simpan saja dalam hatiku.
Lagipula ini hanya perkenalan biasa, takan mungkin penting. Aku simpan rahasia hari ini dan jaketnya yang ia pinjamkan kepadaku.
Ya mungkin itu lebih baik, Johan pun tidak akan bercerita macam-macam pada Senni, semua akan baik-baik saja, aku meyakinkan diriku, walau bagaimanapun persahabatan lebih penting.
Jam istirahat tiba, aku malas ke kantin dan hanya nongkrong di koridor sekolah. Aku melihat ke arah lapangan, Kulihat Aland melambaikan tangannya padaku, dan sesekali kami saling mencuri pandang, setiap waktu aku jadi mengingat peristiwa tadi.
Ah sudahlah... jangan baper Raline, type-type dia mah punya pacar satu tuh kurang kataku dalam hati. Dan aku pun kembali masuk kelas. Waktu terasa lambat mengiringi hari ini, bel tanda pulang sekolah belum juga terdengar
KRIIINNNGGG KRIIINNNGGG KRRRIIINNNGGG...
Ah akhirnya pulang juga, Johan berjalan ke arahku, mengajakku pulang bersama.
“eehh eeehh...eehh.. kenapa aku di tarik?” tanya ku
“takut diculik Aland, makannya aku pegangin.”
Dia menggenggang tanganku erat, aku melaju dengannya, melewati kelasnya Aland.
“kita mau kemana Johan?”
Aku ditariknya, semu berlari, ikatan rambutku lagi-lagi jatuh dan membuat rambutku terurai, ikat rambutku dipungut Aland, aku melihatnya.
Ia memegangnya dan tersenyum ke arahku. Apakah itu sebuah isyarat ?
__ADS_1