Sekedar Cinta Monyet

Sekedar Cinta Monyet
Chapter 2. Haid Pertama


__ADS_3

Hujan deras mengguyur kota pagi ini disusupi udara dingin menambah betah berlama-lama di tempat tidur, enggan sekali untuk bangkit. Tak lama kemudian alarmku berbunyi, alarm ku bukan jam biasa, tapi teriakan Mama yang melengking dan terus berulang.


“Raline, cepet banguuuunnn” teriak Mama sambil menarik selimutku


“ntar Ma.. masih pusiiiinnnggg” jawabku seraya menahan tarikan selimut Mama.


“aduh anak perawan koq bangunnya siang terus, ntar rezekinya di patok ayam, cepetan mandi, udah itu sarapan, belum nyiapin buku, meriksa tugas, ada PR ga?”


pagi ini Mama nyerocos terus tanpa ada titik koma, jika aku tidak segera bangkit dia lanjut mengancamku dengan segayung air yang siap mendarat di wajahku.


“sekarang hari Minggu... Mamaaaaaa...”


“oh iya lupa hehe...”


“Ma... Raline ngantuk, semalem begadang lah Ma”


“kenapa begadang?”


“tau gak Ma, si Senni cerita kalo dia abis ngasih surat cinta ke Aland” aku langsung bangun dan menyeka kedua mataku.


“ngasih surat?”


“iya Ma”


“ngasihin sendiri?” tanya Mama keliatan ga percaya


“ya iyalah Ma”


“berani banget dia Nak”


“dia mah emang berani Ma”


“hooh ga kaya anak Mama, geraknya kalo niat doank !”


“ishh... Mama nih, kenapa jadi aku sih Ma”


“kamu sendiri?”


“apanya?”


“masa ga ada yang di suka kaya Senni sih”


“ah... ga lah Ma”


“Masa? Mama sering gosipin kamu loh sama Mamanya Senni”


“nggaaa Maaaa...” ucapku agak menghindar


“terus Johan siapa?”


“ahh.. Senni itu ngarang, Johan itu temen sekelas aku Ma...”


“temen apa temeeeen?” goda Mama sambil


“iya temen ga spesial”


Aku jadi salah tingkah, aku mengutuk Senni karena malah nyeritain tentang aku ke Mama nya dan sampai ke telinga Mamaku,


sontak Mamaku jadi makin kepo dan sering ledekin aku dengan memanggilku Johan.


Aku teringat surat cinta dari Johan,


jangan-jangan Mama baca surat yang ada di tas fikirku


aku buru-buru ke kamar memeriksa tasku, Johan pernah memberiku sepucuk surat dan coklat yang aku sukai, coklatnya sih sudah habis, tapi pertanyaan yang dia ajukan untukku belum aku jawab, aku beralasan bahwa aku ingin konsentrasi belajar saja, ingin berteman saja.


“duh kemana ya surat nya, koq ga ada di tas sih”


“nyari apa Nak? Surat cinta dari Johan ya?” kata Mama yang tiba-tiba dia sudah berdiri di belakangku


“ish Mama nih... kenapa sih harus kepo terus Ma, kan privasi itu Ma” betapa kesalnya aku pada Mama karena dia selalu ingin tau urusan anaknya sampai menyangkut masalah yang sangat pribadi.


“kamu masih butuh nasihat dari orang tua kamu, mungkin orang lain bisa jadi temen kamu seberapa banyak pun itu, tapi sebaik-baiknya teman adalah Mama kamu sendiri, dia akan selalu menjaga rahasiamu, kekuranganmu dan mendukungmu meskipun dirasa ia tidak sanggup melakukan itu tapi ia akan berusaha terus menjagamu sampai kapanpun” mama mulai ceramah


“ye lah tuu” jawab Papa sambil senyum-senyum menatapku.


“What Papa pun tau?” aku menatap Papa tak percaya.


“hahaha...” mereka berdua saling melirik dan tertawa bersama.


“nasehat Mama cuma omong doank, buktinya Papa tau” aku hanya bisa manyun dan emosiku berantakan, tumpah ruah semua rahasiaku pagi ini.


“Raline, salim ama Papa” ucap Mama, sambil membelokkan badanku yang tadinya mau kembali lagi ke kamar.


Setelah salim aku langsung lari ke kamar karena malu, aku langsung menyalakan komputerku dan curhat lewat aplikasi diary yang aku kunci.


Sudah umur segini aku belum juga di belikan ponsel, mama takut aku akan melakukan hal di luar kendalinya.


Sedih sih, disaat teman-teman sibuk main ponsel, aku hanya bengong dan berkutat dengan buku tulis yang aku coret-coret.

__ADS_1


Sreeetttt... tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat di celanaku, tecium bau amis, aku refleks mengangkat tubuhku dan meraba celana tidurku.


“Mamaaaaaaa....” aku berteriak sekencang-kencangnya membuat Mamaku panik


“Ada apa sih?”


“ada darah di celanaku”


“ya ampun kirain apa heboh amat”


Aku menangis terisak, seumur hidup aku baru mengalami ini, memang temanku yang lain pernah bilang itu darah haid, katanya sakitnya sangat menyiksa, banyak pantangan yang harus di lakukan.


“itu darah haid Raline, ini pertanda bahwa kamu akan melalui masa puber, ga apa-apa wajar karena perempuan memang seperti itu” Mama menenangkanku.


“terus aku musti gimana? Katanya kalo haid ga bisa pergi kemana-mana. Darahnya musti di gimanain?”


“bentar mama bawa dulu pembalut” Mama berlalu dari hadapanku untuk mengambil pembalut di kamarnya.


Aku tau kalau Mama sedang haid suka memakai pembalut, dan kadang mencucinya setiap tengah hari atau menjelang malam.


Dan aku masih berdiam diri sambil gemetar karena masih tidak percaya aku telah mengalami semua yang wanita alami. Lalu Mama kembali ke kamarku dan memberikan sebuah plastik berisikan pembalut


“nih pake !”


“ini gimana cara makenya?”


“pasang di celana, mana celana dalemz kamu”


Aku lalu mengambilnya dari lemariku dan memberikannya pada Mama, mama memberikan pengarahan padaku, dan menjelaskan apa saja yang harus dilakukan saat haid. Rumitnya menjadi perempuan dan aku merasakan keribetannya sekarang.


Aku menghela nafas panjang dan rebahan di kasur dengan tubuh yang masih gemetar.


“masih gemeteran gitu? ga apa-apa itu biasa, nanti akan rutin setiap bulan” Mama menenangkanku sambil mengelus kepalaku menenangkan.


Siangnya aku merasakan mulas yang tidak wajar, aku sering bulak balik ke air, tapi aku sama sekali tidak ingin buang air besar.


“Raliinee” teriak Senni dari balik pintu depan rumahku.


Terdengar mama membukakan pintu “eh.. Senni ayo masuk Nak” tidak lama kemudian aku melihat Senni masuk dan berjalan ke ruang keluarga,


“makasih tante, Raline nya ada?”


“ada tuh, kesana aja langsung !” tunjuk Mama


“baik tante makasih “


“tante siapin camilan dulu ya !”


“ga apa-apa, kaya sama siapa aja.”


Tak lama dari situ Senni menghampiriku,


"ihh... Kamu bukannya nyamperin aku" tegurnya, dia kaget melihatku yang mengerang kesakitan sambil memekan bagian perut. Aku terbangun dan berusaha duduk.


“Ralineeee...” dia berlari ke arahku dan langsung memelukku, dia tampak girang dan senangnya lebih dari biasanya.


“apaan nih?”


“tadi aku nonton crush aku main bola, terus abis beres aku samperin dia terus aku kasihin minuman dingin”


“terus”


“aku seneng banget, dia masih inget sama aku, katanya makasih coklatnya”


“hhmmm...”


“koq gitu sih ekspresinya datar, ga seneng apa?”


“mau jujur apa boong?”


“ya jujur lah !”


“selamat ya Sen, pendekatan kamu pelan-pelan di respon, udah setaun lebih loh cinta dalam diam dan akhirnya kamu berani, hebaaaattt...” jawabku sambil menahan rasa sakit perut yang sangat ga enak banget


“kamu kenapa Ra? Koq keringet dingin Ra, kamu sakit?”


“iya nih, aku haid”


“ya ampuun, Finally... selamat menempuh masa puber kamu yang akan penuh warna ya Ra.. congratulation”


“hehe..” aku tertawa terpaksa.


“ntar tuh ya Ra, kamu bakal ngerasain berdebar ketemu Johan, ga lagi biasa-biasa, rasanya pengen wangiiii terus, bakal kangeen terus, kalo sehari ga ketemu tuh pengennya ketemu”


“lebay ! Kamu yah bilang sama Mama kamu jadi nyampe ke telinga Mamaku, tau gak Mama, Papa jadi ledekin aku terus, dan lagi surat cinta dari Johan ketauan sama Mama aku.”


“cciiieeee....” goda Senni.


“ih malah cie...”

__ADS_1


Senni mengulang terus ceritanya dengan bahagia, sampai lupa kalau sudah malam, setelah makan malam bersama keluargaku, Senni pamit untuk pulang .


“makasih Om..Tante.. makan malemnya, Senni pamit” ucapnya


“Om anterin ya Sen..”


“Makasih Om ga usah, bentar lagi Abang aku nyampe koq, udah di Whatsapp”


“oh ya sudah kalo gitu” Tak lama kemudian Abangnya Senni datang


“sampe besok Raline” Aku tersenyum dan melambaikan kedua tanganku.


...----------------...


Senin Pagi,


Hujan masih enggan pergi pagi ini, semalaman aku tak bisa tidur, entah apa yang akan terjadi hari ini, haidku belum beres, dan ini adalah hari kedua, kemarin saja hari berlalu terasa panjang sekali.


Bersyukur kemarin Senni datang kerumah dengan segala cerita yang dia bawa, aku jadi sedikit melupakan rasa tidak nyaman karena haid, seandainya aku laki-laki, aku tidak akan repot seperti ini, jadi wanita merepotkan.


tidak seperti biasanya, aku sudah siap untuk pergi ke sekolah pukul 06.30, padahal masih gerimis, lantai dihalaman rumah becek terkena tempias rintik hujan, Papa masih sibuk dengan game di ponselnya sambil menyeruput kopi yang Mama buatkan.


"Pa... Ayo berangkat sekarang !" kataku sembari memasukkan bekal yang Mama sudah siapkan di atas meja untukku.


"sebentar lagi yah?tanggung" jawab Papa


sepagi apapun aku bersiap tetap saja berangkat di jam papa 5 menit sebelum masuk sekolah, menyebalkan.


sesampainya di sekolah, baru kali ini aku merasakan gugup sedahsyat ini, kakiku melangkah ragu dan bergetar hingga ke tangan, menjalar ke ubun-ubun dan sukses melunturkan segala rasa cuek yang dulu ku rasakan ketika masuk sekolah.


GLEEKK.. aku menelan ludah dengan sangat berat.


Apalagi Johan spontan menatapku tanpa bergeming sedikitpun, berhasil membuatku kikuk.


Aku menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan kelas, tapi tidak mendapati Senni hadir.


Johan tiba-tiba datang mendekatiku, jantungku berdegup kencang, senyumnya mengembang, aku hanya bisa bengong tanpa bisa berkata sedikitpun.


"Senni bilang katanya dia ga akan masuk, aku boleh duduk sama kamu?"


aku masih diam, Senni pasti usil dan mengatakan sesuatu pada Johan.


"emm sorry, bilang apa tadi?"


"kita duduk sebangku"


"aahhh... Ngggaa.. Ga usah jangann..." baru kali ini aku bicara panjang dengan laki-laki


"kenapa?" Tanyanya


"gapapa canggung aja, kasian temen sebangku kamu kalo kamu ga sama dia" aku berusaha menolak tawarannya.


"biasa aja dia mah" ujar Johan meyakinkan.


Dengan susah payah aku menolaknya. Bel upacara berbunyi, aku bersiap menuju lapangan di iringi Johan dibelakangku, karena risih, aku memarahinya di depan teman-teman.


Terlihat Johan sangat malu sekali, dan semua teman-teman meledeknya.


Aku semakin tidak enak berkata seperti itu padanya. Lain kali takkan aku ulangi.


Tiba-tiba nyeri haidku kumat, aku kembali merasakan keringat dingin dan pusing yang tidak dapat ditahan, nafasku mulai sesak dan pandanganku mulai kabur, Johan yang berdiri di barisan laki-laki langsung menangkap tubuhku yang tiba-tiba lunglai, setengah sadar aku di bawa ke ruang UKS untuk di periksa.


"makasih ya, sorry ngerepotin kamu"


"ga apa-apa"


"kalo ga ada kamu, aku ga tau harus ngapain"


"udah ga apa-apa" jawabnya mengulangi, mungkin dia masih tidak enak karena ditegur olehku.


"maaf soal tadi, aku tau kamu kaya gini karena sikapku tadi, aku cuma ngerasa risih, takut temen-temen yang lain heboh"


"udahlah ga usah dibahas !!" tampak semburat kesal di wajahnya "aku sadar koq, kamu ga suka sama aku, makannya kamu ga balas cinta aku, mungkin aku bukan type kamu"


"…" aku tak menjawab apapun, hanya bisa tertunduk.


"ya udah ga apa-apa kita berteman aja dulu, mungkin kamu butuh waktu" tandasnya


"hmm.. Kita temenan aja dulu, makasih ya udah mengerti aku"


"iya, aku harus ke lapangan lagi, kamu ga apa-apa kan disini sendiri?


"gapapa"


Akhirnya aku sendirian di ruang UKS sementara anggota PMR lainnya sibuk mengawasi di lapangan, aku merebahkan tubuhku di kasur pasien.


Saat aku rebahan, ada seorang kaka PMR membawa lagi pasien.


Mereka mengobrol seperti tidak menyadari kehadiranku, aku merasa suaranya tidak asing.

__ADS_1


Karena penasaran aku mengintip dari balik tirai, laki-laki itu adalah crush nya Senni.


...----------------...


__ADS_2