Sekedar Cinta Monyet

Sekedar Cinta Monyet
Chapter 5. Muka Tomat


__ADS_3

"hai... si muka tomat" kata Aland


Senni melihat ke arahku


"kasian Aland jangan di ledekin terus" balas Senni


hatiku senang tidak kentara, dia menjuluki aku dengan nama spesial.


Tapi aku wajib menyembunyikan kesenanganku didepan Senni.


"oh iya, nih buat kamu !" Senni menyodorkan makanan dan minuman pada Aland, dan diterimanya penuh sukacita.


"makasih ya!" ucapnya sambil sibuk menyantap roti bakar favorite nya.


Fikirku hebat banget Senni tau sampai sedetail itu.


"Sen, aku duluan!" ucapku berpamitan dari mereka


"oke bye muka tomat" hahaha ucap Aland tertawa renyah


Mereka mengobrol lama sekali.


Sudahlah Raline, kamu ga boleh suka sama gebetan Senni, Aland cocoknya sama Senni, kataku pelan.


"oo..." jawab Johan


Aku masih sibuk mengamati mereka berdua.


"jadi kamu juga suka sama Aland?" ucap seseorang di sebrang tembok


Aku menolehkan kepalaku ke sebelah kanan, dan sejak tadi ternyata ada Johan


"apaan sih?"


Aku panik dan buru-buru masuk ke dalam kelas, diikuti Johan.


Dia pantang menyerah banget, padahal aku sudah terang-terangan menolaknya.


Dia mencoba menggodaku, tapi tak sedikitpun aku tanggapi, mungkin dia cemburu


"mandangin kamu yang makin hari makin cantik juga udah cukup buat aku" celotehnya


“hhhuuuuuhhhhh” Membuat seisi kelas riuh “Raline... terima donk!” teriak salah satu teman sekelasku.


"tak apa kau tidak mencintaiku, tapi suatu saat kau akan jadi jodohku" tambahnya.


Seisi kelas bersorak “romantis banget Jojo aku... ngiri deh sama Raline” sindir yang lainnya.


Aku menutup telinga, tapi rasa maluku tak dapat menghentikan rona wajahku yang memerah.


"idih mukanya merah, berarti...." Johan kembali nyerocos


"suka sama aku ya" timpalnya.


Aku kembali terdiam seribu bahasa.


Fikiranku kacau, entah karena aku menyukai laki-laki yang disukai sahabatku, ataukah Johan?


Mukaku memerah setiap kali aku merasa malu. Apakah Johan melakukan ini hanya untuk iseng.


Apakah Aland pun sama, dia meledekku hanya untuk suka-suka?


Seketika pun aku menyadari, bahwa perubahan ini, hanya menduplikat Senni saja. Aku merasa kehilangan jati diriku yang sebenarnya.


Aku terus bergelut dalam perasaan yang rumit.


Aku mulai merasa insecure.


Senni yang menangkap gelagat anehku langsung mengetahui, sebelum aku bicara.


“Raline, kamu kenapa?”


“Sen, sekonyol itukah aku?”


“maksud?”

__ADS_1


“semua orang entah meledek atau membuat aku jadi bahan lucu-lucuan, apa aku seaneh itu?”


“apaan sih ga jelas !!” ucap Senni tak menghiraukan omonganku


“...”


Nyatanya setiap hari saat Aku dan Senni berpapasan, Aland selalu meledekku.


Terkadang dia lewat di depanku sepulang sekolah sambil menyapaku


“Bye muka tomaaaatttt...”


Aku kadang hanya diam dan tertunduk saja, ingin rasanya aku balas candaannya.


Tapi persahabatanku dengan Senni tidak sebecanda itu,


Tuhan, apa yang harus aku lakukan.


Aland terus saja menggodaku, dan aku berusaha untuk menghindarinya pelan-pelan.


“Raline....”


Dipersimpangan menuju rumah, Aland memanggilku.


Aku menoleh, dan buru-buru pergi


“Raline tunggu” dia menahanku, memegang tanganku.


“ada apa?”


“kamu kenapa?”


“aku ga apa-apa Kak..”


“Kak?” tanyanya aneh, biasanya dia di panggil dengan namanya saja


“kamu kan seniorku di sekolah”


“bukan, pasti gara-gara aku ledekin terus kan?”


“Kamu ga suka?”


“aku ngerasa ga nyaman”


“aku minta maaf Ra...”


“it’s ok, but not to be ok”


“soo...”


“ya, mungkin gini lebih baik, anggap aja kita ga saling kenal”


“Tapi..”


Aku melongos, meninggalkannya tanpa memperpanjang pembicaraan.


Aland sepertinya merasa bersalah padaku, tapi jika aku menganggapnya lebih, aku takut sahabatku semakin kecewa ketika tau yang sebenarnya.


“ga bisa gitu Raline, aku suka sama kamu”


Teriaknya.


Seriously? Aku tak secepat itu percaya, candaan apa lagi ini, benar-benar ga masuk akal, seistimewa apa aku?


Cuacanya cerah pagi ini, terlebih di lorong sekolah, dedaunan segar karena habis di siram.


Aku pun merasa tenang sebab sekarang aku akan bersikap biasa saja pada Aland, aku membiasakan diriku tidak seantusias dulu.


“pagi Raline...” Aland nongol di depan pintu kelasnya yang kebetulan bersebrangan dengan kelas ku


Aku pura-pura tak mendengarnya. aku memandang lurus ke arah kelasku.


Setiap Aland berusaha ingin mengobrol denganku, aku buru-buru masuk ke kelas, tak ada celah untuknya.


“Raline... kamu sehat?” tanya Senni.

__ADS_1


“sehat koq”


“belakangan ini kamu berubah banget perasaan?”


“iya, aku suka aku yang sekarang, Johan...Aland ga ngeledekin aku ataupun gangguin aku, aku jadi ga risih lagi”


“oohh...”


“eh..Ra... kamu tau ga? Aland ngirim pesan tadi katanya ngajak ketemuan nanti di Cafe Coffe, kamu temenin aku yaaa...”


“ga mau ah...”


“emmhh... kebiasaan”


“mungkin dia mau nyatain perasaannya ke kamu” jawabku


“semoga aja “ Harap Senni sampai kedua matanya berbinar


“eh kalo kalian jadian, inget-inget aku yah”


“ah kamu.. bisa aja bikin aku ge-er”


Kadang perilaku Aland tak bisa di tebak, dia dengan berani datang ke kelas kami dan tiba-tiba dia memegang tangan Senni


Aku yang menyaksikan nya di buat bengong.


“Senn, aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacar aku?”


Dia menyatakan cintanya pada Senni, tapi aku melihatnya mencuri pandang padaku, seolah dia berniat membalas dendam atas perlakuanku, yang selama ini nyuekin dia


Senni menanggapi Aland dengan bahagia. Mereka saling tersenyum satu sama lain kemudian Senni memeluknya.


“Aku mau...” ucapnya. Di ikuti keriuhan seisi kelas,


Hari itu Aland resmi menjadi pacarnya Senni. Jangan tanya perasaanku hancurnya seperti apa, aku menahan tubuhku yang gemetar, dadaku terasa sesak, nafasku mulai tak beraturan.


Aku ingin menangis skencang-kencangnya, lemas langsung tubuhku.


Aku masih menerka-nerka kenapa Aland melakukan itu di depan mataku.


Apakah mungkin Aland merencanakan sesuatu...


Kenapa ini, kenapa hatiku ini, harusnya aku turut senang karena setelah usaha Senni


Yang cukup panjang akhirnya usahanya membuahkan hasil.


Aku meyakinkan diriku, bahwa ini hanyalah perasaan biasa, sakit hati ini akan pulih seiring berjalannya waktu.


Aku tak harus menjadi orang yang paling menderita.


“Gratz Senni... akhirnya...” aku langsung memeluknya pura-pura bahagia


“iya....” Senni memelukku erat saking bahagia.


Aku kemudian memandang Aland dan menjabat tangannya.


“Thanks Aland, hari ini adalah hari yang takkan mungkin aku lupakan, tolong bahagiain Senni, jangan sekalipun buat dia nangis”


“pasti !!!”


Jawabnya singkat dan penuh makna, ia tersenyum padaku seolah puas melihat raut wajahku yang tak ikut berbahagia.


Dia tersenyum sinis padaku, lalu dia seolah memanas-manasiku terus menerus, memperlihatkan bahwa betapa beruntungnya Senni. karena merasa risih aku pindah ke bangku paling belakang.


“Kenapa Ra?” tanya Aland


“Ga apa-apa, aku takut ganggu”


“Ga lah Ra, kamu kan sahabat aku, ga mungkin kamu ganggu kita” kata Senni sambil tersenyum pada Aland dan Aland pun membalas senyumnya.


“hehehe...” tawaku datar


Bagus Aland kamu memang aktor yang sangat hebat ! Waktu itu kamu bilang suka aku, sekarang kamu nembak Senni di depan mataku sendiri.


Kamu punya niat apa sebenarnya, sungguh kedatanganmu kekelasku pun suatu yang tak terduga...

__ADS_1


 


__ADS_2