
Kami sudah berjalan cukup jauh dari sekolah.
“Johan lepasin, tangan aku sakit !!”
“Ma..maaf...”
“lagian kenapa sih kamu, aneh” tatapku sinis, aku pergi meninggalkannya lalu berlari sekencang mungkin.
“Raline... Raline...” teriaknya
Aku tak menggubisnya karena kesal.
Lama-lama Johan menjadi over protected, pandanganku tentangnya berubah 100%
Aku tak lagi respect padanya. Gara-gara dia aku jadi bahan cerita setiap hari dikelas,
mereka semakin sering menggodaku, aku selalu diam tidak bisa melakukan apapun,
dan tidak berani melawan ataupun mengklarifikasi.
Dulu aku fikir itu hanya takkan bertahan lama,tapi pada akhirnya sekarang itu sama sekali mulai tidak lucu.
Sungguh memuakkan.
Aku pulang dengan wajah yang kusut, rambutku berantakan.
Aku merebahkan tubuhku di kursi ruang tamu, sambil pelan membuka sepatuku.
Tak lama kemudian ponsel Mama berbunyi, sengaja ku setting dengan nada dering khusus jikalau yang menelpon adalah Senni.
Dan ternyata memang Senni menelpon, lalu ku reject saja.
Senni selalu melakukan Misscall sebelum kami mengobrol
“Hai bestie... gimana sekolahnya?”
“biasa aja”
“kamu marah sama Johan?”
“koq tau”
“ya dia cerita tadi ama aku lewat whatsapp”
Sudah ku duga, selain dia terlalu over, dia juga ternyata jago mengeluh. Nilainya semakin minus dimataku.
“btw, kamu tadi di ruang UKS ngapain?”
“mo pengsan gweh.. terus Johan bawa aku ke ruang UKS”
“iyee”
“baek banget Johan, pengertian syekalee”
“haha.. Ya kalii” jawabku singkat sambil memutar kedua bola mataku, cih... baek gerutuku jijik.
“terus..terus.."
“ada salam dari Kak Aland, dia bilang makasih udah ngasih minuman kemaren”
“wah kamu ketemu Kak Aland?"
“iye”
“ah... menyesal aku ga sekolah”
“derita loe”
“terus dia bilang apa lagi?"
“dia ketawa-ketawa kecil waktu ngebahas kamu, dia bilang dia ngerasa jadi laki-laki tertamvan”
“haha...” Senni langsung mengajakku Video call, dan aku jawab sekenanya saja, bisa panjang ceritanya kalau aku bilang soal jaket yang Aland pinjamkan padaku.
Terdengar dari nada suaranya aku tahu kalau dia merasa sangat senang mendengarnya.
“nanti kamu terus jadi mata-mataku yah?”
“dipikir agen rahasia”
“dia ga bakalan mungkin jujur sama aku, jadi aku minta kamu buat tanya-tanya soal aku ke dia”
“dih... kamu aja !”
“please”
Aku tak menjawabnya, jika seandainya Senni tau aku pun menyukainya, aku merasa tak berhak mengganggu kerja keras yang Senni lakukan untuk Aland.
Setiap harinya seperti biasanya, Senni serius membahas tentang Aland, tapi kini terasa aneh, entah kenapa aku merasa sangat cemburu.
Aku merasa bergetar jika Senni selalu membahas tentangnya.
Ia begitu gigih, rasa iri pun muncul
__ADS_1
Aku bercermin memperhatikan diriku sendiri,
aku pun mulai mencoba-coba memakai minyak wangi kesekolah,
aku senang memutar-mutar tubuhku di cermin,
terkadang aku mencoba memakai bedak yang dulu mama belikan dan baru aku lirik belakangan ini.
Terkadang aku senyum-senyum sendiri ketika mengingat betapa baiknya Aland padaku.
Aku yang terbiasa mengepang rambutku atau mengikat rambutku asal-asalan jika ke sekolah.
Sekarang mencoba membiarkannya terurai, dengan memakai beberapa bando yang Mama belikan.
“eeuumm... wangi banget”
“hehe..”
“nah gitu donk, Mama suka kamu berubah, cantik banget” pujinya, ia lalu merapikan pakaianku.
“hehe” aku senang mendengarnya.
Semua orang di kelas melongo melihatku, Senni tersenyum dan menyambutku
“Tuhanku.. kamu cantik sekali bestie”
Dari kejauhan Johan mengangguk pelan
Aku masih sensi padanya, aku merasa senang dia tidak menggangguku lagi,
tapi seisi kelas masih saja meledek Johan, dan Johan hanya tersenyum saja.
Senni melirik pada Johan, seolah memberi tanda, Senni masih berfikir aku berubah karena ingin mendapat perhatian dari Johan.
“buat Johan ya kamu berubah”
“eenggaaakkk...” jawabku.
“terus?”
“aku pengen aja berubah kaya idolaku”
“siapa? Punya crush kah sekarang? Cieee...”
“kaya kamu Senni” ucapku meyakinkannya.
Sekilas aku mengingat Aland, dan tersenyum dikulum.
Senni bilang, dia dapat no whatsappnya dan sekarang sering ngobrol, aku turut senang.
“paling juga nanyain jaketnya” jawabku datar, ooppss aku kelepasan, sontak Senni menghentikan suapan nasi gorengnya.
Aku cemas takut Senni marah
“kenapa ga bilang ke aku” ujarnya malah senang.
“????” aku malah merasa aneh, dia bukannya marah, Senni jiwanya positif sekali, kalau aku di posisinya aku akan langsung marah dan bersumpah serapah
“aakk..aku...”
“aaww... ya ampun jaketnya Aland” ucapnya kegirangan “dimana?dimana? aku ga liat?” tanyanya sambil celingak celinguk, membuat seisi kantin menatap pada Senni.
“ada di rumah”
“kasihin ke aku ya?”
“wokeh, pulang sekolah ya”
“wokey”
Gaya childishnya muncul lagi, dia loncat-loncat di koridor sekolah sambil mengayunkan kedua tangannya.
Senni melambaikan tangan pada Aland saat melewati lapangan, Aland balas senyum padanya.
DEEEAAARRR GOD AKU CEMBURU
Aland membuat gerakan tak terduga, dia menghampiri kami berdua.
“Raline ya?” katanya
Senni hanya memandang kami berdua, dan beralih kembali pada Aland
Aku lagi-lagi hanya menunduk malu.
“cantik juga” ujarnya, Ia lalu tertawa keras
Dan seketika mukaku memerah
Senni yang memperhatikan kami langsung bingung
“ada apa nih? Siapa yang cantik ” tanya Senni heran, tapi tak dijawab Aland.
“liat mukanya merah”
Senni pun memandangku sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“apanya yang lucu Aland” tanya Senni heran.
“ceritain jangan?” kata Aland bertanya padaku
“Ja...jangaann jangan...” jawabku panik “Sen, aku kekelas duluan ya?”
aku langsung berlari meninggalkan mereka
Senni mengangkat kedua bahunya
Dari kejauhan mereka tampak berbincang dan tertawa
Kemudian Senni berlari kepadaku
“thanks ya, kamu emang bestie ku” ucapnya sambil memelukku.
“apa sih yang engga buat kamu” balasku memeluknya
“Hati-hati loh Sen, tikungan tajem” Johan nyeletuk sambil memandangku.
Gotcha seolah dia tau isi hatiku yang juga menyukai Aland.
“maksudnya?” Senni kemudian melepaskan pelukannya dan berbalik ke arah Johan.
“tanya sendiri aja sama Raline” jawab Johan santai.
“??” Senni kembali memandangku. Aku menggeleng, dan pembicaraan kami pun terhenti.
Jam pulang tiba, Senni di jemput abangnya dengan menggunakan mobil dan aku pun diajaknya pulang sama-sama.
“tau ga Bang, Raline seminggu lalu, pas aku ga masuk, jatoh tengkurep di depan ruang UKS !” kata Senni
membuka pembicaraan.
Aku sendiri kaget Aland menceritakan itu padanya.
“wah?” jawab Abangnya Senni sambil tertawa “pasti malu banget ya”
“hehe”
“sakitnya sih ga seberapa, malunya ya Ra..”
“hooh...” aku tertawa pelan sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
“maafin Aland ya Ra, dia jadi suka menggodamu” ucap Senni blak-blakan
“kenapa emangnya?”
“dia suka ketawa kalo liat mukamu memerah”
“iyee” aku kesal, ternyata Aland mengingat keburukanku.
“Ra, aku ga turun ya, aku nunggu di mobil aja”
“oke bentar”
Aku bergegas masuk ke rumah dan memberikan jaketnya Aland pada Senni.
“di cuci ga nih?” tanya Senni
“nggaaa” jawabku singkat “aku tau pasti kamu bakalan suka dan meluk-meluk jaketnya, baunya masih bau Aland ‘kan?”
“kenapa ga bilang dari dulu sih?!!” Senni kemudian memeluk jaketnya.
“ya kali, aku takut kamu ngamuk”
“kalau kamu nikung baru aku ngamuk!” jawabnya.
DUAAARRR...
Aku terdiam mendengar kata-katanya. Mungkin dia terpengaruh oleh kata-kata Johan waktu di kelas.
“ngga lah Senn...” jawabku.
“bener ya?”
“iyaaa...”
Sebenarnya aku bahagia karena Aland masih mengingatku, tapi ancaman Senni membuatku tak bisa mengungkapkannya,
aku lebih menghargai Senni yang sangat tergila-gila padanya. Meskipun aku sedikit kecewa, karena aku kelepasan bicara sehingga jaketnya Aland pun bukan aku yang akan mengembalikannya.
Aku ga bisa berterima kasih secara langsung padanya.
Aku mengingat-ngingat Aland yang tadi saat istirahat tiba-tiba menghampiri kami, seperti sengaja,
aku ingat kalau dia bilang aku cantik.
Aku tersipu malu dan memandang cermin berkali-kali,
sambil mengurai senyum dan mengelus-elus rambutku yang panjang.
“fikirku... Aland pun menyukaiku dan perubahanku yang signifikan”.
__ADS_1