
"Menu apa lagi yang harus ku buat untuk besok?"
Ayla membolak-balikkan buku resep sambil sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ini sudah buku ke tujuh yang ia buka, tetapi inspirasi memasak untuk esok hari belum juga ia temukan. Ayla khawatir, ia tidak berhasil memberikan menu yang di sukai oleh Ferro.
Alasan yang tidak masuk akal. Tentu saja, Ayla hanya ingin terlihat keren karena jago memasak. Apalagi dengan menu yang berbeda setiap harinya. Para laki-laki di sekolahnya akan men-cap dirinya sebagai calon istri idaman. Ferro tidak pernah pilih-pilih makanan. Ia akan memakan apapun yang bisa dimakan. Ayla tahu benar tentang hal itu. Tetapi keinginan untuk membuat Ferro berkesal tidak surut.
Ia melempar buku resepnya ke sembarang arah. Tangannya terlipat di depan dada dengan wajah yang tampak begitu kesal. Ia ingin sekali menanyakan Ferro, 'Apa menu makanan yang kau inginkan besok?'. Sayangnya hal itu tidak mungkin ia lakukan. Sangat tidak mungkin. Ia sudah mengenal Ferro selama lebih dari 9 tahun. Dan tidak pernah sekali pun ia chattingan dengan lelaki yang baru ia taksir selama 4 bulan itu.
Bagi Ayla, cinta pada pandangan pertama itu hanyalah omong kosong. Apalagi cinta pertama pada pandangan pertama. Lebih omong kosong lagi. Ia butuh waktu hampir 10 tahun untuk mengenal Ferro dan menjadikan lelaki itu sebagai cinta pertamanya.
Pertama kali Ayla mengenal Ferro Butler ketika ia masih Sekolah Dasar. Walaupun selalu berada di kelas yang sama selama 6 tahun. Hal itu tidak benar-benar membuat mereka saling mengenal dan berteman baik. Mereka hanya seperti dua orang manusia yang kebetulan berada di kelas yang sama. Mereka nyaris tidak pernah berkomunikasi selama 6 tahun. Satu-satunya hal yang Ayla ingat tentang Ferro saat masih Sekolah Dasar adalah ketika mereka terlibat percekcokan tidak penting.
Saat itu Ayla dan Ferro masih kelas 3. Seorang guru memberikan mereka tugas yang ada dibuku cetak. Karena masih semester baru, tidak semua murid memiliki buku cetak, jadi mereka harus saling meminjamkan satu sama lain. Entah dianugrahi apa, Ayla yang selalu menjadi peserta terakhir karena sering lambat mengerjakan tugas, menjadi murid yang pertama siap. Guru dan teman-temannya hanya menatap heran sambil berkomentar, 'Tumben'.
Karena Ayla memiliki buku cetak, ia segera memberikan buku cetaknya pada siapapun yang membutuhkannya setelah ia mengantar tugasnya. Selagi menunggu bukunya di kembalikan, Ayla menghabiskan waktunya dengan memandang ke luar jendela sambil berkhayal.
Hal yang ia khayalkan selalu sama, ia ingin menjadi seorang putri kerajaan. Pasti senang sekali jika memiliki wajah yang cantik, gaun mewah yang banyak, dan istana megah yang indah. Dan yang paling penting dari khayalan itu adalah berjodoh dengan pangeran tampan yang menunggangi kuda putih.
Sedangkan di kehidupan nyata, Ayla jauh dari itu semua. Ayla tidak memiliki wajah rupawan yang mampu memikat seluruh teman lelakinya. Ia hanya seorang perempuan berbadan kecil dengan kulit putih penyerupai pucat. Matanya bulat berbinar, hidung kecil, dan bibir merah muda yang tipis. Cukup manis, tapi tidak benar-benar mampu membuat para lelaki bertekuk lutut padanya.
Bel pertanda jam pelajaran habis pun berbunyi. Teman-temannya berebut untuk mengantar tugas lebih dahulu. Sedangkan ia hanya duduk diam, menonton sambil menopang dagu. Sudah hampir 5 menit. Tetapi buku cetak yang ia pinjamkan tidak juga kembali. Dengan kemampuan mengingatnya yang minim, ia mendatangi meja laki-laki yang ia yakini meminjam bukunya tadi.
Memang benar, ada buku di sana. Tanpa banyak kata ia langsung mengambil buku tersebut dan bersiap untuk menuju tempat duduknya. Tetapi tangan besar yang menggenggam pergelangan tangan kanannya membuatnya tertahan.
Ayla mengerutkan alisnya penuh tanda tanya, "Ya?"
Apa yang membuat lelaki asing yang kebetulan sekelas dengannya ini menahan dirinya?
"Ada apa dengan buku milikku?" Bukannya menjawab, Ferro justru memberi pertanyaan kembali. Ayla hanya menatapnya heran, "Maaf?"
"Kau mengambil bukuku!"
'Apa-apaan orang aneh ini? Main nge-gas aja. Jelas-jelas aku tidak mengambil miliknya," batin Ayla.
"Aku hanya mengambil buku milikku yang kau pinjam," Ayla mencoba menjelaskan dengan damai. Berusaha meredam emosinya yang entah kenapa bisa muncul. Karena tidak ingin membuat keributan, ia berusaha mengabaikan Ferro dan kembali ke tempat duduknya. Tetapi sekali lagi ia tertahan oleh tangan hangat itu. Dengan cengkraman yang sedikit lebih kuat.
"Apa-apaan, sih?!" Sekali lagi, bukannya menjawab, Ferro malah merampas buku cetak yang ada di tangan Ayla. Tangannya membuka cover buku hingga menampakkan tulisan bukti memilik buku yang sebenarnya.
Ferro Butler.
Ayla merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana bisa buku itu bisa berubah nama? Ia yakin, bahwa yang ia perhatikan sedari tadi itu adalah buku miliknya. Tapi.. Tapi kenapa..?
Ferro menatap Ayla dengan tatapan yang seakan-akan berkata, 'Tuh, kan!' Sedangkan Ayla hanya menatap Ferro dengan pandangan bingung.
"Bagai.. Bagaimana bisa? Itu.. Itu tadi milikku" Dengan pandangan yang meremehkan, Ferro menyodorkan buku yang tertera namanya ke wajah Ayla. "Apa kau tidak dapat membaca, Ayla?"
"Lalu kemana buku milikku?" tanya Ayla dengan pipi yang memerah. Berusaha menyembunyikan rasa malunya karena dengan pede nya mengaku-ngaku bahwa buku itu adalah miliknya. Ferro hanya menjawab dengan menggerakan bahunya ke atas. Setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Ayla yang kehilangan bukunya.
Jika pun buku Ayla terbawa oleh temannya yang lain, pasti suatu saat akan di kembalikan karena menyadari bahwa bukunya lah yang terbawa. Tetapi sudah 2 minggu berlalu, tidak ada tanda-tanda bukunya akan kembali. Ayla tidak memiliki pilihan lain selain merelakannya.
Hingga tiga tahun kemudian ia di datangi oleh Tristan Moore, teman sekelasnya sepulang sekolah. Lelaki itu membawa buku yang tidak asing di mata Ayla.
"Ayla, nih, dari Ferro," ujarnya sambil memberikan buku tersebut kepada Ayla. Alis Ayla mengerut heran, "Ferro?"
Tristan mengangguk sebelum menepuk bahu Ayla dua kali. Berpamitan ingin pulang lebih dahulu. Sedangkan Ayla membuka cover buku yang tidak asing itu dan mendapati nama pemiliknya.
Ayla Baker.
Manusia itu!, maki Ayla di dalam hati. Ia kesal karena masih mengingat dengan baik ekspresi wajah menyebalkan Ferro saat berbangga hati menyodorkan buku yang terdapat namanya. Dan ia lebih kesal lagi ketika mendapati buku miliknya -yang Ayla tebak juga terbawa oleh Ferro- di kembalikan 3 tahun kemudian. Belum lagi yang lelaki itu lakukan bukannya mengembalikan sendiri lalu meminta maaf. Ia hanya menitipkan buku tersebut pada Tristan dan menyuruhnya mengembalikan ke Ayla. Tanpa menitip ucapan 'maaf' ataupun 'terima kasih'. Padahal mereka sekelas.
__ADS_1
Benar-benar tidak gentleman!
Ayla bersumpah bahwa lelaki se-spesies Ferro sama sekali bukan tipe idealnya.
Ketika Ayla memasuki Sekolah Menengah Pertama, ia kembali di pertemukan dengan Ferro. Hanya saja tidak berada di kelas yang sama. Dan Ayla sangat bersyukur akan hal itu. Ia masih kesal dengan tindakan Ferro saat masih di Sekolah Dasar.
Walaupun sudah berada di kelas yang sama selama 6 tahun, hal itu tidak membuat Ayla dan Ferro saling bertegur sapa ketika di sekolah. Mereka bersikap seolah-olah tidak pernah mengenal sama sekali. Dan itu nyaris benar. Ayla dan Ferro hanyalah orang asing yang kebetulan pernah berada di kelas yang sama. Sering kali Ayla dan Ferro memalingkan muka ataupun berpura-pura saling tidak melihat ketika bersinggungan di sekolah.
Mereka kembali di pertemukan saat memasuki bangku Sekolah Menengah Atas. Dan di sinilah titik balik dari semua yang terjadi.
Suatu ketika, Ferro memanggilnya dan membicarakan satu hal yang ia lupa tentang apa itu. Ayla tidak benar-benar mendengar apa yang Ferro tanyakan padanya. Ia malah terfokus pada tatapan mata Ferro yang ternyata begitu enak untuk dipandangi terus menerus. Mata Ferro sedikit sayu dengan tatapan yang dalam. Menenangkan.
Berawal dari itulah Ayla akhirnya merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Perihal membawa bekal untuk Ferro bermula dari Ayla yang memang sering membawa bekal dari rumah. Karena tidak enak makan sendiri di antara teman-temannya -khususnya laki-laki- yang memilih menghemat uang jajan, dengan rasa sedikit tidak rela Ayla menawarkan bekalnya pada mereka. Tetapi perasaan itu musnah seketika karena mendapati Ferro termasuk salah satu orang yang ikut mengantri menanti makanan darinya.
Rejeki tidak boleh ditolak, itu adalah slogan Ferro setiap kali Ayla menawarkan makanan miliknya. Dan apapun jenis makanan yang Ayla punya, tidak sekali pun Ferro pernah menolaknya. Ia benar-benar bukan orang yang pemilih dalam masalah makanan. Dan Ayla dengan senang hati membagikan bekal miliknya setiap hari pada Ferro dan teman-temannya untuk dinikmati bersama.
"Sepertinya, aku akan membuat tartlet saja untuk besok." Ayla berbicara sendiri sambil mengambil jaket. Lalu bergegas menuju toserba untuk membeli bahan-bahan yang ia butuhkan dalam membuat tartlet spesial ala dirinya untuk Ferro.
Seperti biasa, Ayla selalu terbangun jam 3 pagi. Di saat orang lain masih tidur dengan nyenyaknya, Ayla sudah bergerak sana-sini membuat makanan untuk bekalnya hari ini. Dengan piyama merah muda dan rambut di cepol tinggi, Ayla sibuk mengolah adonan menjadi gumpalan, dan membentuknya agar bisa di cetak.
Ia melakukan pekerjaannya sambil bersenandung ria, menyanyikan lagi The Best of Love oleh Michael Bolton dengan ear phone yang menempel di telinganya.
Setelah beberapa saat dan beberapa tahapan, tartlet spesial penuh cinta buatan Ayla berhasil di keluarkan dari oven. Ia menatap hasil kerja kerasnya dengan tatapan penuh cinta.
"Aku membuatnya dengan cinta. Ku harap Ferro memakannya dengan cinta pula."
***
Hari senin adalah hari yang paling dibenci oleh anak sekolah kebanyakan. Ayla pun termasuk salah satunya. Monday is Monster Day, katanya. Setelah melalui hari yang santai dan menenangkan saat weekand lalu besoknya harus mengabiskan waktu di sekolah dengan segala macam dramanya adalah hal yang paling mengesalkan.
Pagi yang membosankan ini harus Ayla dan teman-temannya isi dengan mata pelajaran matematika. Pelajaran yang paling Ayla benci. Tangannya menopang dagu memperhatikan sesosok manusia yang menjelaskan materi di depan kelas. Bukan, bukan guru matematikanya yang berkacamata dan cupu. Melainkan sesosok laki-laki remaja dengan tubuh yang proporsional untuk ukuran laki-laki seumurannya. Ferro menjelaskan materi yang jelas tidak dipahami oleh Ayla dengan penggaris kayu panjang di tangannya.
"Ayla! Jangan hanya melamun!" tegur Ferro tiba-tiba yang membuat Ayla terlonjak kaget. Matanya menerjap-nerjap dengan ekspresi bengong yang tidak dapat di sembunyikannya.
"Aira, hargai temanmu yang sedang menjelaskan di depan!" Tegur Mrs. Brown sambil membenarkan kacamata putihnya.
"Nama saya Ayla, Mrs. Brown. Bukan Aira," koreksi Ayla. Ini bukan pertama kalinya Chole Brown melupakan namanya. Bukan hal yang aneh memang, karena pada dasarnya Ayla bukan orang yang mencolok. Ia tidak pintar. Tidak hebat berorganisasi. Dan bukan pula orang yang terkenal karena ulah nakalnya hingga semua guru -khususnya guru BK- mengenalnya. Ia hanya pelajar biasa dengan kapasitas otak yang pas-pasan. Kemampuannya di bidang akademis cukup buruk, tetapi tidak sampai benar-benar hancur. Kemampuannya di bidang seni cukup baik, hanya saja tidak mendapatkan apresiasi yang baik dari orang-orang di sekitarnya.
"Aku tidak peduli."
Selalu begitu.
"Yang harus kau lakukan hanya maju ke depan dan mengulang apa yang sudah dijelaskan oleh Fedo!"
"Hmm.. Maaf Ma'am, nama saya Ferro. Bukan Fedo," koreksi Ferro. Berbanding balik dengan apa yang ia lakukan pada Ayla. Mrs. Brown menanggapi ucapan Ferro dengan menepuk dahinya dan memijat pelipisnya. Seolah-olah ia melakukan kesalahan fatal hanya karena melupakan nama muridnya yang paling pintar.
"Oh, astaga. Maafkan aku, Ferro. Aku sedikit keliru. Namamu mirip dengan pengunjung setia ruang BK, Fedo." Ferro mengeluarkan senyum sopannya. "Tidak masalah."
Ayla memutarkan bola matanya. Kesal. Dasar guru tidak profesional! Hanya karena aku tidak sepintar Ferro bukan berarti dia berhak mendiskriminasikanku!
"Aira! Cepat maju ke depan dan jelaskan pada teman-temanmu!" perintah Mrs. Brown sambil berkacak pinggang. Matanya melotot pertanda ancaman. Bukannya menakutkan, guru matematika itu malah lebih terlihat menggelikan di mata Ayla.
"Ayla, Ma'am,"
"Terserah!"
Ayla dapat menangkap Ferro yang menatapnya dengan pandangan geli. Ayla mengendus kesal dan mengkode melalui tatapan bahwa ia kesal dengan Mrs. Brown. Ferro membalas mengangguk dan menyeringai. Tangannya terangkat seolah-olah mempersilahkan Ayla untuk maju ke depan bersamanya.
__ADS_1
"Silahkan maju, nona Baker," ujar Ferro jahil. Ayla membalas dengan dengusan kasar dan berdiri di samping Ferro. Hanya berdiri. Ia tidak melakukan apa-apa karena tidak ada isi otak yang dapat ia jelaskan pada teman-temannya. Mrs. Brown menatapnya sambil berkacak pinggang, "Tidak bisa?"
Ayla tidak mengatakan apapun. Hanya menyengir kuda. Sedangkan Ferro mencoba menahan tawanya dengan meletakkan tangannya yang dikepal ke depan mulut. Berdehem kecil.
"Izinkan saya membantu Ayla, Ma'am," tawar Ferro dengan nada yang kelewat sopan. Jika sudah begitu, mana bisa Mrs. Brwon menolaknya. Ia selalu membiarkan murid kesayangannya melakukan apapun yang ia suka.
"Silahkan," ucapnya lembut dengan tatapan mata hangat yang dibuat-buat. Sedetik kemudian berubah 180 derajat. "Kau tetap berdiri di depan Aira!"
Namaku Ayla. A-Y-L-A!
Walaupun begitu, ia tetap bahagia karena Ferro bersedia membantunya. Suatu hal yang sangat jarang sekali Ferro lakukan. Hingga Ayla ragu bahwa Ferro hari ini bukanlah Ferro yang ia kenal sejak bertahun-tahun silam. Berterima kasihlah pada Mrs. Brown yang tidak mengizinkannya kembali ke tempat duduknya. Dengan begitu ia bisa melihat Ferro lebih dekat. Pipi Ayla memerah mendapati wajah tampan Ferro yang berada di jarak 1 meter darinya. Ia terlihat begitu luar biasa dengan segala pesonanya dalam mengajar.
Terima kasih untuk hari ini, Ferro.
***
Bel istirahat pun berbunyi setelah hampir 45 menit Ayla berdiri di depan. Sedangkan Ferro langsung menuju ke tempat duduknya sesaat setelah ia menyelesaikan penjelasannya. Ayla sama sekali tidak menyimak apa yang Mrs. Brown jelaskan untuk tugas minggu depan. Setelah mengucap salam, Mrs. Brown pergi ke luar kelas sambil menatapnya tajam. Ayla hanya membalas dengan senyum canggung.
Setelah memastikan Mrs. Brown sudah benar-benar pergi, ia berjalan menuju bangkunya dengan senyum yang lebar. "Akhirnyaa! Waktunya makan!"
"Tampaknya berdiri di depan membuatmu seperti binatang kelaparan," sahut Brianna Green sambil mengambil uang sakunya di dalam tas.
"Tentu saja. Berdiri juga butuh tenaga," balas Ayla santai. Brianna tertawa. Dan teman-teman lain yang mendengarkan ikut terkekeh. Sedangkan Ferro hanya memandang Ayla dengan pandangan geli sambil menggeleng-geleng.
"Ikut ke kantin, Aira?" tawar Evelyn Hunt sambil mengejek panggilan dari Mrs. Brown. Ayla mengikuti alur yang dibuatnya. "Nama saya Ayla. Bukan Aira."
"Aku tidak peduli!" celatuk Noah Dawson dengan irama yang persis sama dengan pemilik asli kalimat keramat tersebut. Hal itu tentu saja mengundang tawa. Satu persatu dari mereka mulai berlakon meniru Mrs. Brown.
"Jelaskan ulang apa yang sudah di lakukan oleh Fedo!" ucap Jessica Harris dengan mimik wajah yang lucu. Ferro berdehem sebelum ikut menimpali, "Nama saya Ferro, Ma'am."
"Oh, Maafkan aku, Ferro." Max Hamilton ikut menyambung dengan nada sedih yang berlebihan. Tawa kembali menggelegar. Jessica menepuk bahu Ayla, memintanya bersabar atas hukuman yang telah di dapatkannya. Lalu berpamitan menuju kantin dengan teman-teman yang lain.
"Aku bangun kesiangan. Jadi tidak sempat membuat bekal. Aku ke kantin, ya? Kau tidak apa-apa sendiri?" tanya Violet, teman sebangku Ayla dengan nada khawatir. Kecemasan yang tak sebenarnya perlu ada karena Violet hanya akan ke kantin yang letaknya tidak terlalu jauh dari kelas mereka.
"Aku tidak benar-benar sendiri, Violet. Ada mereka," sahut Ayla sambil memandangi teman laki-lakinya yang masih duduk di bangku masing-masing sambil bercerita jarak jauh.
Berbeda dengan teman perempuannya yang seketika langsung berhambur ke kantin begitu bel istirahat berbunyi. Teman laki-laki di kelas Ayla lebih memilih untuk berdiam diri di kelas. Menghemat uang jajan yang nantinya akan dibelikan jam tangan mahal. Lalu akan mengerumuni siapa pun yang datang ke kelas dengan membawa makanan.
"Oh, bukan begitu. Tapi.. Ah sudahlah! Aku ke kantin dulu, ya?" Ayla mengangguk. Mengizinkan. Setelah Violet melangkahkan kakinya ke luar kelas, Ayla meraih 2 box yang ada di laci dan meletakkannya ke atas meja. Tangannya dengan cekatan membuka penutup dan menampilkan tartlet-tartlet dengan berbagai macam toping dan desain.
Seperti biasa, Ayla langsung menawarkan teman-temannya yang ada di kelas. Satu per satu mereka mengerumuni Ayla dan mengambil tarlet.
"Buat sendiri lagi, Ayla?" tanya Joshua Hill berbasa-basi. Joshua tahu pasti bahwa Ayla hebat di dapur. Terlebih lagi membuat kue-kue manis dengan hiasan yang cantik. Ayla mengangguk.
"Sebanyak ini?" tanya David Jones. Ayla menjawab dengan bercanda, "Iya. Biar sekalian kalian ikut makan. Kasihan kalian menahan liur melihatku menikmati sendiri."
"Ayla, Oh Ayla! Kau perhatian sekali. Benar-benar cocok menjadi istri masa depanku," ujar Max gemas sambil mengacak rambut Ayla hingga berantakan ke sana-sini. Ayla menepis tangan Max lalu menampilkan wajah dengan ekspresi ngeri. Seolah-olah berkata, amit-amit.
Setelah yang lain selesai mengambil tartlet dan kembali ke tempatnya masing-masing, barulah Ferro datang menghampiri Ayla dan menagih jatahnya. Ferro berbicara dengan nada yang berirama, "Punyaku mana.. Punyaku mana.."
"Terima kasih sudah membantuku tadi, Ferro," ujar Ayla sambil menyodorkan box yang masih terdapat beberapa tartlet agar Ferro dapat memilih sendiri yang ia inginkan.
"Kau di hukum justru karena Ferro, Ayla. Ia yang menegurmu saat melamun," celatuk Noah yang di balas pelototan oleh Ferro. Jari telunjuknya berada di depan bibir, menyuruh Noah untuk diam. Ayla terdiam sebentar sambil memutar kembali memorinya pada kejadian beberapa saat lalu. Ia baru tersadar bahwa Ferro-lah yang berkata 'jangan melamun.'
"Kau benar, Noah. Dialah biangnya. Kalau begitu tidak jadi," ujar Ayla santai sambil menutup box tartlet-nya lalu bersiap-siap menyimpannya ke laci meja. Ferro kelabakan dan berusaha menahannya, "Yah, jangan gitu, dong!"
Ayla menyengir dan menatapnya dengan mata seperti bulan sabit. Ia kembali membuka box tartlet dan mempersilahkan Ferro untuk mengambilnya. "Aku bercanda. Ambilah."
Ferro memilih tartlet dan mendudukkan dirinya di bangku Violet yang kosong. Di sebelah Ayla. Hal yang tidak Ayla duga sebelumnya sehingga ia menjadi salah tingkah. Ferro menatapnya geli, "Kenapa?"
__ADS_1
Ayla menggeleng sambil tersenyum canggung. Lalu menatap ke arah depan sambil mencicipi tartlet buatannya. Berusaha mengabaikan laki-laki tampan di sampingnya. Tetapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa pipinya terasa hangat. Semoga saja Ferro tidak menyadari pipinya yang memerah.