Sekotak Bekal Untukmu

Sekotak Bekal Untukmu
Chapter 4


__ADS_3

Hal yang sangat jarang terjadi pada akhirnya harus terjadi di hari ini. Padahal saat ini adalah waktu yang paling penting untuk mengetahui nasib pertemanan antara Ayla, Max dan Ferro. Ayla berniat membuatkan makanan istimewa khusus untuk Ferro sebagai permintaan maafnya. Sekaligus menjadi alasan untuk memberi Ferro sekotak bekal yang dibuat khusus oleh Ayla untuk pertama kalinya. Sayangnya, Ayla harus bangun terlambat di pagi ini.


Ia membuka matanya ketika jam sudah menunjukkan pukul 06:45 sedangkan sekolahnya dimulai pada pukul 08:00. Cukup cepat bagi kaum rebahan, tetapi tidak untuk Ayla. Walaupun Ayla sedikit pemalas untuk melakukan hal-hal tertentu, tetapi bangun pagi tidak termasuk salah satunya. Ia selalu menjadi orang yang pertama bangun di rumah.


Setelah mengucek-ngucek mata dan tersadar bahwa hari sudah siang -menurut kamus Ayla-, ia segera menuju kamar mandi dengan kecepatan kilat. Hal itu menyebabkan ia nyaris terpeleset dan tersungkur di kamar mandi dengan cara yang paling menyedihkan. Syukur saja dewi keberuntungan masih berpihak padanya


Ia menghabiskan 30 menitnya untuk mandi dan bersiap-siap. Rekor tercepatnya di tahun ini. Ia sama sekali tidak sempat sarapan karena panggilan dari Max terus saja berbunyi.


"Cepatlah! Aku sudah di depan rumahmu!"


Tit.


Singkat. Padat. Dan jelas.


Hal yang tidak pernah Ayla duga dari Max pada hari ini adalah ia datang dengan sebuah sepeda. Ada dua hal yang membuat Ayla tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Max hari ini. Pertama, Max itu anak orang yang luar biasa kaya. Pergi ke sekolah menggunakan sepeda bukanlah kelasnya. Tapi yang satu ini sedikit keliru. Karena walaupun begitu, Max sama sekali tidak keberatan menaiki bus disaat ia memiliki supir pribadi yang siap mengantarnya kemana saja. Intinya walaupun kaya, ia tidak sombong.


Yang kedua, Max itu anak orang yang luar biasa kaya -lagi-, oleh karena itu dia tidak bisa mengendarai kendaraan apapun. Dan ternyata selama ini asumsi Ayla salah. Ferro bisa naik sepeda. Bahkan dalam sekali lihat saja Ayla tahu bahwa sepeda yang dimiliki Ferro bukanlah sepeda murahan.


"Kau memakai sepeda? Tumben."


"Ferro mengajakku bersepeda minggu lalu," Ayla menatapnya tak yakin, "Kau yakin dia masih mau mengajakmu?"


Max menggidikkan bahu, "Entahlah. Tapi tak ada salahnya mencoba, bukan?"


"Jadi.. Mana sepedamu?" Lanjut Max bertanya. Ayla hanya menyengir kuda. Max kembali bertanya, "Bukannya kau punya sepeda?"


"Rusak."


"Baiklah, silahkan kau naik di sepedaku," tawar Max. Ayla menatap sepeda mahal Max dengan tatapan bertanya. Tidak ada kursi boncengan di sepeda Max. Jadi dimana Ayla harus naik?


Max yang mengerti isi pikiran Ayla langsung berkata, "Berdiri di belakang, Ayla. Apa kau tidak lihat ada besi kecil di bawah untuk dinaiki oleh kakimu."


"Apa?! Kau serius?! Tapi aku perempuan, Max!" Max memasang tampang terkejut yang berlebihan. Matanya melebar dan mulutnya terbuka. "Kau seorang perempuan?!"


Ayla menatapnya datar, "Aku jalan saja." Lalu ia berjalan lebih dahulu meninggalkan Max. "Oh, baiklah."


Ayla kembali berbalik dan menaiki sepeda Max di bagian belakang. Ia berdiri sambil memegang bahu Max. "Jangan ngebut, oke?"


Ayla tentu saja tidak dapat melihat seringai jahil Max dari belakang. Tanpa aba-aba Max langsung mengayuhkan sepedanya dengan kecepatan maksimal yang ia bisa. Sedangkan Ayla mencengkram bahu Max keras sambil memekik ketakutan. "MAX! KAU MAU MEMBUNUHKU?!"


"Nanti kita terlambat, Ayla. Kita harus menuju rumah Ferro terlebih dahulu"


"TIDAK PERLU MENGEBUT!"


Max benar-benar mengabaikan teriakan Ayla yang jelas-jelas mengundang tatapan dari orang-orang yang mereka lewati. Dengan tidak tahu dirinya Max berkata, "Siap menuruni jembatan, Ayla?"


"MAX, TIDAK! JANGAN MAX, JANGAN!"


"YUHUUUUUUUUUUUU!" Max berseru ketika sepedanya berjalan menuruni jembatan. Ia menghentikan kayuhannya dan merentangkan tangannya selebar mungkin. Mengadah menatap langit sambil memejamkan matanya. Menikmati angin yang menerbangkan rambut-rambutnya. Sedangkan Ayla secara spontan memeluk erat bahu Max. Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan mantra-mantra. Berdoa agar ia dan Max selamat dari aksi nekat ini.

__ADS_1


"Awas! Max, AWAS!" teriak Ayla keras. Max membuka matanya dan melihat sesosok manusia yang juga memakai sepeda keluar dari gang. Ia berusaha mengambil alih kendali sepedanya. Tetapi terlambat. Bencana lebih dahulu tiba sebelum ia sempat melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya dan Ayla.


Bruk!


***


Ayla, Max dan Ferro terlambat 17 menit dari waktu yang telah di tetapkan oleh sekolah. Para murid yang terlambat akan di kenai hukuman berdiri di lapangan sambil hormat ke tiang bendera selama 1 jam. Setelah itu mereka di suruh membersihkan sekolah. Entah itu kamar mandi, gudang, ruang osis, ruang guru, dan sebagainya.


Entah merupakan anugrah atau musibah, keterlambatan Ayla, Max, dan Ferro tidak mendapatkan hukukan. Mereka hanya diceramahi oleh satpam dan guru bahasa Inggris mereka yang punya kedisiplinan yang ketat. Setelah itu barulah mereka di persilahkan menuju UKS.


Mentiadakan hukuman bagi murid yang terlambat tidaklah bisa diberikan begitu saja. Termasuk kasus Ayla, Max, dan Ferro saat ini. Mereka tiba dengan keadaan penuh luka. Tragedi sok-sokan Max membuat dirinya dan Ayla menabrak seseorang yang baru saja keluar dari sebuah gang. Dan sialnya lagi seseorang itu adalah Farro Butler. Belum selesai masalah mereka mengenai lembar-lemparan, mereka harus mendapatkan masalah baru. Dan sialnya dengan Ferro lagi.


Sedari tadi tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Ferro. Ia hanya membaringkan tubuhnya di atas kasur UKS. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi matanya. Sedangkan Max sesekali menanyakan keadaan Ayla. Walaupun sudah diobati dan di beri minum, wajah Ayla tetap sepucat ketika kecelakaan itu terjadi. Max sampai begitu khawatir dengan kenyataan bahwa ia hampir membuat pingsan anak orang.


Ayla menatap ke arah Ferro sekilas yang ia rasa lelaki itu mulai tertidur. Terlihat dari hembusan nafasnya yang teratur. Sehingga Ayla memutuskan untuk ikut berbaring dan datang ke alam mimpi. Sedangkan Max sibuk mengipasi luka Ayla yang berada dilutut.


***


Setelah kebablasan tidur hampir 3 jam lamanya. Ayla, Max dan Ferro kembali menuju kelas. Para teman-teman mereka langsung mengerubuni layaknya semut bertemu gula.


"Apa yang terjadi?"


"Kenapa bisa begini?"


"Apa kalian tidak apa-apa?"


"Ayla, bagaimana mungkin kau bisa ikut kecelakaan bersama mereka?" Tanya Noah yang mengundang rasa penasaran yang lain. Ayla mencoba menenangkan teman-temannya yang memberikan pertanyaan yang sama. "Ceritanya panjang,"


"Intinya, ini semua salah dia!" Tunjuk Ayla pada Max. Max menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Yaa.. Ini memang salahku. Tapi aku sudah minta maaf, Ayla."


Ayla berdesis sambil menatap Max dengan sinis, "Apa permintaan maafmu bisa membuat luka dilututku hilang?"


Jessica mengangguk. Menyetujui perkataan Ayla yang jelas-jelas seorang korban. Lalu terjadilah bacotan-bacotan yang menyerbu Max.


"Makanya jangan ngebut!"


"Bawa anak orang hati-hati, dong."


"Benar, nanti kalau orang tua Ayla meminta pertanggung jawabanmu, bagaimana?" sahut Noah ambigu.


"Padahal Ayla sudah memperingatimu untuk pelan-pelan"


"Apalagi yang menjadi korban untuk ke dua kalinya adalah Ferro." Max dan Ayla meringis. Max menyalahi dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa mereka bertiga pagi tadi. Sedangkan Ayla menyalahkan dirinya sendiri karena menyetujui Max untuk ikut naik di sepedanya. Jika saja Ayla milih untuk berjalan sebentar dan menaiki bus, ia tidak akan mendapatkan luka-luka pedih di lutut dan sikunya. Ia tidak akan mendapatkan masalah ke dua dengan Ferro. Yang pertama saja belum kelar.


"Ayla, kau masih terlihat sangat pucat," ujar Evelyn. "Kau tak apa-apa?"


Ayla mengangguk, "Aku hanya sedikit... Trauma."


"Lebih baik kau memakan bekalmu untuk mengisi tenaga. Dari pada nanti kau pingsan," ujar Brianna mengasih saran. Ayla sekali lagi mengangguk. Brianna benar, bagaimana pun nasib siku, lutut, dan pertemanannya yang sebenarnya memang tidak dekat dengan Ferro, ia tetap harus makan. Perutnya tetap membutuhkan nutrisi. Hingga Ayla memutuskan untuk mengambil kotak bekalnya yang tidak ada di tas sekolah Ayla.

__ADS_1


"Bekalku!"


"Kenapa?" Tanya Violet.


"Kotak bekalku tidak ada. Kotak bekalku hilang!" Violet menyerit heran. "Kau yakin bukan Max yang mencurinya?"


Max memasang tampang masam. "Aku tahu telah mengakibatkan sahabat gorila-mu itu kecelakaan. Tapi aku tidak mencuri."


Violet tersenyum malu karena sudah menuduh Max yang tidak-tidak. Ia langsung memudarkam senyumnya ketika melihat wajah Ayla yang menyengir kuda.


"Kenapa?" Tanya Violet heran. Beberapa saat lalu Ayla terlihat sangat panik ketika kehilangan kotak bekal kesayangannya. Sekarang si mungil itu malah senyum-senyum tidak jelas. "Aku lupa bahwa bahwa pagi tadi aku terlambat bangun. Jadi aku tidak membuat bekal untuk hari ini."


Teman-teman lain yang juga menyimak sedari tadi spontan langsung melempar barang apapun yang ada di dekat mereka pada Ayla. Ayla hanya tertawa, "Maaf.. Maaf.."


"Kalau begitu kita ke kantin saja. Aku akan menemanimu," tawar Violet. Ayla mengangguk. Ia mengambil dompetnya di dalam tas dan segera beranjak menuju kantin.


"Kalian tidak mengajakku?" Tanya Max polos. Ayla menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Max yang memasang tampang imut yang gagal total. Alih-alih menjawab, Ayla malah menjulurkan lidahnya pada Max. Setelah itu barulah ia pergi menyusul Violet yang sudah pergi lebih dulu.


"Aku ingin ke kantin untuk mengisi energi kita yang hilang karena jatuh tadi. Kau mau ikut?" Max memberanikan diri mengajak Ferro. Max memang dekat dengan Ferro. Mereka sudah saling mengenal sejak SMP. Walaupun sudah mengenal lebih dan berteman lebih dari 3 tahun, Max takut jika harus menghadapi Ferro yang berwajah datar dan masam. Seperti saat ini. Wajah Ferro tidak mengekspresikan apapun sehingga tidak ada siapa pun yang bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Ferro Butler.


Ferro beranjak dari kursinya tanpa mengatakan apapun. Tapi Max tahu bahwa Ferro menerima ajakannya. Ia menatap lelaki itu dari belakang sambil senyum-senyum sendiri. Tampaknya Ferro tidak bisa benar-benar marah padanya. Bagaimana pun juga mereka sudah lama berteman baik. Entahlah dengan Ayla Baker. Walaupun Max tahu bahwa mereka sudah mengenal sejak Sekolah Dasar, mereka sama sekali tidak menunjukkan keakraban sebagai teman lama. Justru seperti orang asing.


Max, Ferro, dan Ayla berasal dari SMP yang sama. Max sering melihat Ayla berlalu lalang di sekolah mereka dengan senyumnya yang secerah mentari. Tak jarang ia memuji Ayla terang-terangan di depan teman-temannya, termasuk Ferro. Ia berusaha keras mencari tahu nama Ayla melalui koneksi-koneksi yang ia punya. Tanpa tahu bahwa teman dekatnya, Ferro, mengenal Ayla.


Ketika dipersatukan dengan Ayla di kelas yang sama saat mereka memasuki bangku SMA, Max senang bukan main. Sering kali ia mengoceh pada Ferro tentang suasana hatinya yang sangat bahagia dengan keberuntungan yang ia miliki. Tetapi Ferro yang tidak tertarik dan selalu merasa jenuh dengan kisahnya hanya mengabaikan Max. Sedangkan Max tahan mengoceh berjam-jam hanya untuk membicarakan Ayla.


Pernah sekali Max marah pada Ferro. Di hari pertama mereka bersekolah, ia melihat Ayla mendatangi meja mereka dengan rambutnya yang dibiarkan terurai. Max dengan pedenya mengira bahwa Ayla ingin berkenalan dengannya. Berdasarkan pengalamannya yang cukup banyak disukai oleh perempuan membuatnya berani berpikir seperti itu.


Ia mengeluarkan jurus senyuman manisnya saat Ayla sudah tiba di depan meja mereka. Ayla yang juga membalas senyuman Max sukses membuat lelaki itu melayang ke langit. Sebelum ia sadar bahwa tarikan di kedua sudut bibirnya itu hanya bentuk dari kesopanan. Ayla malah berbicara pada Ferro -yang bagi Max tidaklah setampan dirinya- seolah-olah mereka sudah saling mengenal sebelumnya.


"Well.. Kita bertemu lagi di kelas yang sama, Ferro." Ferro tersenyum mendengar sapaan tidak biasa dari Ayla. "Apa kau kecewa kembali melihat mukaku di kelas yang sama denganmu?"


"Yeah, sedikit." Ayla mengaku sambil terkekeh kecil. Ferro membalas pengakuan tidak sopan Ayla dengan gelengan maklum. Terkadang Ayla memang sedikit aneh. Tetapi tidak jarang keanehannya sukses membuat orang merasa ingin tertawa dan gemas secara bersamaan.


"Aku hanya ingin berteman baik denganmu, Ferro. Mengingat dulu hubungan kita sedikit.. tidak baik," ujar Ayla dengan menekankan kata hubungan. Berharap Ferro mengingat kejadian buku yang hilang saat mereka berada di tahun ke-3 Sekolah Dasar.


Tetapi sepertinya Ferro tidak peka dengan kode yang diberikan Ayla. Atau memang Ferro tidak mengingat kejadian itu hingga ia hanya menyetujui dan sepakat dengan permintaan Ayla. Walaupun hasilnya tidak sebagus yang di harapkan. Mereka tetap seperti orang asing yang hanya berkomunikasi saat Ayla membuka kotak bekalnya.


Setelah Ayla mendapatkan tempat yang tepat dan mendudukinya, barulah Max bertanya dengan kesal pada Ferro, "Kau mengenal Ayla Beker? Bagaimana bisa?!"


"Aku sekelas dengannya saat SD," jawab Ferro santai. Max kembali bertanya dengan kesal, "Dan kau tidak memberitahukannya padaku?!"


Ferro menatap Max seolah-olah lawan bicaranya itu adalah orang gila. "Kenapa aku harus memberitahukan hal itu padamu?"


Pertanyaan Ferro jelas membuat Max tambah kesal. "Kau tahu bahwa aku mencari tahu namanya saat SMP dulu. Kau tahu sebesar apa perjuanganku, bukan?"


"Aku tahu," sahut Ferro santai sambil memainkan Handphonenya. "Lalu kenapa kau tidak memberitahukan namanya padaku dari awal?!"


"Kau tidak pernah bertanya padaku, Max," jawab Ferro sambil meletakkan handphonenya. Ia memilih untuk menatap Max yang sedang kesal daripada memainkan instagram-nya. "Oleh karena itu aku tidak memberitahukanmu, Max Ha-Mil-Ton yang terhormat."

__ADS_1


***


To Be Continue


__ADS_2