Sekotak Bekal Untukmu

Sekotak Bekal Untukmu
Chapter 2


__ADS_3

"Kau tahu apa yang sudah di lakukan Ferro?" tanya Ayla heboh pada Violet yang duduk di hadapannya sambil makan es krim. Violet menggeleng tanpa suara. Tetap fokus pada makanannya.


Saat ini sedang pelajaran olahraga. Entah beruntung atau sial Ayla dan teman-temannya mendapatkan guru yang tidak terlalu serius dalam mengajar. Atau mungkin memang tidak serius sama sekali. Jika guru olahraga akan mengajarkan muridnya satu-persatu bermain bola kaki, basket, dan sebagainya. Guru yang satu ini -Gordon Ford- hanya menyuruh murid-muridnya untuk melakukan pemanasan. Setelah itu mereka bebas melakukan apapun yang diinginkan.


Para laki-laki sudah pasti memilih kegiatan yang menguras keringat dan tenaga. Bahkan ketika jam kosong dan hujan lebat pun mereka tetap bertahan di lapangan dan bersenang-senang. Berbanding balik dengan mereka, para perempuan -termasuk Ayla dan Violet- memilih untuk bersantai. Entah itu makan di kantin atau bergosip di kelas.


Ayla dan Violet memilih untuk bercengkrama sambil duduk santai di teras depan kelas dengan cemilan yang sudah mereka beli sebelumnya. Hanya berdua. Walaupun mereka bersahabat sejak Sekolah Menengah Pertama, bukan berarti mereka memiliki kepribadian yang mirip.


Ayla merupakan orang dengan kepribadian yang riang. Cenderung ceroboh dan blak-blakan. Sering kali Ayla membuat sahabatnya itu geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang sangat ekstrovert. Belum lagi rasa penasarannya yang tinggi hingga taraf tidak masuk akal. Salah satunya ketika Ayla berkata bahwa ia ingin berenang di kolam hiu karena penasaran dengan rasanya. Jangankan berada di tempat yang sama dengan seekor hiu, berenang saja Ayla tidak bisa. Si ceroboh itu selalu membuat Violet memijat kepalanya karena tingkahnya.


Sedangkan Violet adalah orang yang nyaris berbeda 180 derajat dari Ayla. Ia perempuan anggun, pendiam dan tenang. Tidak banyak tingkah seperti Ayla. Tetapi jika hanya berdua dengan Ayla, ia bisa lebih cerewet dari pada sahabatnya itu.


"Tadi Ferro duduk di sampingku," ujar Ayla dengan mata berbinar. Kedua tangannya saling menangkup di depan dada. Lalu memegang pipinya yang hangat ketika teringat peristiwa duduk bersebelahan tadi.


"Kau terlalu berlebihan. Itu sudah biasa," sahut Violet. Ayla menggeleng keras. "Itu luar biasa, Violet. Hampir 10 tahun aku mengenalnya baru kali ini ia melakukan hal itu."


Violet tersenyum geli, "Kau yakin mengenalnya hampir 10 tahun lamanya? Bukannya kalian hanya orang asing yang kebetulan sekelas?"


"Kau benar," sahut Ayla sambil merengut dalam. Ucapan Violet benar-benar menurunkan semangatnya. Membuat keceriaannya hari ini perlahan-lahan surut dan hilang.


"By the way, Bagaimana dengan Josh?" tanya Ayla mencoba mengalihkan pembicaraan. Tidak perlu di ragukan lagi, Ayla selalu menjadi orang yang mendominasi jika mereka saling bercengkrama. Entah karena Ayla memang mempunyai lebih banyak kisah untuk di ceritakan atau Violetnya saja yang enggan curhat. Hingga Ayla harus memancing-mancing agar Violet mau membuka suara. Jarang sekali Violet mau bercerita secara cuma-cuma tanpa diminta lebih dulu.


Violet sudah menyukai Joshua Hill sejak pertama kali menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas. Walaupun ia tidak memiliki wajah serupawan dan mencolok Ferro, tetapi wajah Josh juga tidak bisa di katakan jelek. Ia cukup manis dengan lesung pipi dan kacamata intelektual yang selalu bertengger di telinganya. Sama sekali bukan orang yang memalukan untuk di ajak jalan-jalan dan dipamerkan ke khalayak ramai.


Ayla selalu merasa gemas sendiri dengan kisah cinta Violet dan Josh. Ayla yakin bahwa Josh adalah laki-laki yang lebih peka dibandingkan Ferro. Jika Violet bertindak sedikit saja pasti Josh akan mengerti. Tidak seperti Ayla yang mencoba melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Ferro yang tak kunjung juga di dapatkan. Violet lebih memilih cinta dalam diam.


"Ya.. Begitulah," sahut Violet lemah. Ayla menaikkan sebelah alisnya, "Hanya itu?"


"Setidaknya cobalah untuk mengobrol dengannya."


"Aku mengobrol dengannya tadi." Ayla mengendus kesal. Violet pasti tahu mengobrol seperti apa yang Ayla maksud.


Bertukar cerita adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan dalam mendekatkan diri dengan pujaan hati. Tidak perlu memposisikan diri sebagai orang yang jatuh cinta. Cukup menjadi teman dan mendengar yang baik. Ada peluang besar untuknya merasa nyaman padamu dan akan tertarik padamu.


Ayla juga pernah mengalami hal yang sama. Ia memiliki beberapa sahabat laki-laki yang selalu menjadi teman berbagi cerita saat masih SD dan SMP. Ayla merasa senang karena ada orang yang mau mendengarkan dan memahaminya dengan baik. Sementara si laki-laki berakhir jatuh cinta pada Ayla yang tidak mempunyai perasaan yang sama. Alhasil, mereka tertolak.


Karena itulah Ayla lebih berhati-hati dalam memilih teman untuk berbagi cerita. Walaupun jika menyangkut sebuah rahasia laki-laki itu lebih dapat dipercaya dari pada perempuan. Tetapi, tetap saja jika seseorang yang kau anggap teman yang menyenangkan jatuh cinta padamu akan terasa sangat canggung.


"Membahas perihal persamaan linear tiga variabel bukan termasuk mengobol, Violet!" Violet terkekeh melihat Ayla yang mengeluarkan ekspresi gemasnya sambil memijit pangkal hidungnya. "Apa bedanya membahas matematika dengan kehidupan pribadi? Sama-sama berkomunikasi, kok."


"Terserah, terserah!"


***


Ayla menopang dagu sambil memaksakan matanya untuk terus terbuka. Sesekali kepalanya tertunduk turun. Lalu diikuti dengan sentakan yang membuat matanya menerjap-nerjap. Ia menoleh ke sisi kanannya. Violet tampak serius memperhatikan Mr. Brook yang sedang menjelaskan materi. Sedangkan Ayla berusaha keras untuk tetap terjaga dari rasa kantuk yang luar biasa.


Liam Brook adalah guru sejarah yang paling membosankan seantero dunia. Pria paruh baya itu memiliki penampilan dan gaya mengajar yang sangat membosankan. Ia sering kali menjelaskan materi dengan tubuh yang membelakangi murid-muridnya. Suaranya memang lantang, tetapi akan berbanding balik jika ia mencoba memandang ke arah para pendengar. Suara besarnya tiba-tiba berubah menjadi begitu lirih dan bergetar.


Saat ini Mr. Brook sedang menjelaskan materi tentang manusia purba. Seperti biasa, ia menjelaskan dengan memandang papan tulis. Setiap 37 detik ia akan menatap pada murid selama kurang dari 5 detik, dan akan kembali melanjutkan pandangannya pada papan tulis yang tidak ada menarik-menariknya.


Karena sudah tidak mampu menahan rasa kantuknya yang kian berat, Ayla memilih menyerah. Ia langsung meletakkan kepala ke atas tangannya yang terlipat di atas meja. Tak tanggung-tanggung, matanya terpejam dengan mulut yang sedikit terbuka. Sesekali kepalanya bergerak kecil mencari posisi yang nyaman. Sedangkan Violet tetap fokus pada pelajaran.


Setelah beberapa menit tertidur pulas, Ayla merasakan sesuatu mengenai kepalanya. Bukan benda yang keras, tetapi sukses membuatnya terbangun. Ia menegakkan kepala dan memandang Violet. Bertanya 'siapa pelakunya' dengan tatapan mata. Violet hanya menggidikkan bahunya. Mencoba tidak peduli, Ayla kembali meletakkan kepalanya dan mencari posisi yang nyaman.


Belum ada 1 menit, lemparan kedua kembali mengenai kepalanya. Ia langsung bangun dan meraih gumpalan kertas yang berada di bawah mejanya. Tangannya mengangkat bola kertas tersebut sebatas dada dan mengedarkan pandangannya. Mencoba mencari dalang dari lemparan yang mengenainya.


Jessica, Evelyn, dan Brianna yang kebetulan memandangnya menggelengkan kepala. Pertanda bukan mereka pelakunya. Ia kembali mengedarkan kepalanya kepenjuru ruangan. Terciduklah seorang Max Hamilton yang sibuk menunduk. Berusaha menyembunyikan dirinya di balik badan Ferro. Tingkah lakunya begitu ketara sehingga Ayla langsung tahu bahwa dia lah pelakunya.

__ADS_1


Karena lemparan Max sudah mengenai kepalanya sebanyak dua kali, ia ingin membalas dengan sekali lemparan. Tetapi dapat membuat kepalanya menjadi benjol. Ayla meraih pena cantik hello kitty-nya dan melemparnya setelah membidik tepat di kepala Max.


Goal!


Ayla bersorak dalam hati. Ia tersenyum pongah pada Max karena berhasil balas dendam. Sedangkan Max hanya menaduh kesakitan sambil mengelus kepalanya.


"Ayla, jangan begitu. Kasihan dia," Violet menasehati. Ayla menatapnya tidak terima, "Tapi dia yang mulai."


"Iya. Tapi... Kasian dia." Ayla memberengut kesal. "Lalu aku tidak dikasihani?"


Belum sempat Ayla ingin berceramah lebih panjang, ia kembali merasakan hantaman yang mengenai telinganya. Sebuah penghapus kembali di lempar oleh Max. Ayla menatap Max tajam seolah-olah berkata, 'Oh, begitu mau-mu? Baiklah!'. Dan Max membalasnya dengan tatapan, 'siapa takut!'


Komunikasi antara kedua pasang mata itu adalah pertanda bahwa perang dunia ketiga telah dimulai.


Ayla memandang Mr. Brook yang sedang asik berceloteh sambil memandang papan tulis. Merasa keadaan sudah aman, ia meraih penghapus yang tadi dilempar oleh Max dan 2 buah pena milik Violet. Ia melemparkan ketiganya satu persatu dan tidak ada satu pun yang meleset. Beruntung Ferro menyadari bahwa sedang ada perang saat ini. Ia menunduk ketika Ayla membidik pelurunya ke arah Max.


Max kembali mengaduh dan mengelus sebentar bagian tubuhnya yang terkena lemparan. Ia melirik sebentar ke arah Mr. Brook sebelum mengambil buku cetak milik Ferro dan melemparnya ke arah Ayla.


Ayla berhasil menghindari buku tersebut. Ia dengan cekatan turun dari kursi dan berlindung di bawah meja. Sedangkan buku tersebut terkena tepat di wajah Violet. Ayla tertawa lebar tanpa suara dari bawah meja karena melihat dengan jelas tampang bodoh Violet ketika terkena lemparan. Max mengatupkan kedua tangannya, memohon maaf. Sedangkan teman lain yang menyaksikan berusaha keras untuk meredam tawa. Tetapi Noah yang memang memiliki ketawa yang besar tidak mampu menahannya. Ia sudah cukup tersiksa ketika harus mendekap mulutnya sendiri hingga mengeluarkan suara aneh karena menahan tawa.


David yang duduk di samping Noah harus mendekap paksa mulut Noah agar tidak meluncurkan tawa. Tetapi hal itu gagal. Mr. Brook menyadari ada sesuatu yang terjadi tanpa dia sadari.


"Apa yang membuat menahan tawa, Noah?" tegur Mr. Brook. Noah menggeleng dengan tawa tanpa suaranya. Sedetik kemudian tawanya menggelegar.


"HAHAHAHAHAHA."


"Maaf, Mr. Brook. Sepertinya Noah sedang kerasukan setan," ujar David mengacau. Liam Brook adalah lelaki tua yang kolot. Ia sangat mempercayai hal-hal mistik. Sehingga yang dia lakukan adalah membereskan bukunya dengan tergesa-gesa.


"Begitukah?Ba..ba..baik. Kalian pasti bisa mengatasinya sendiri, bukan? Tiba-tiba aku teringat pada panggilan penting. Aku pergi dulu," ujar Liam Brook dengan badan gemetar yang ketara. Ia langsung mengambil langkah seribu untuk meninggalkan kelas.


"JIAHAHA"


"Jika saja aku tahu akan menjadi seperti itu, sedari dulu aku akan pura-pura kerasukan."


"Oh, tentu saja harus begitu. Cara mengajarnya benar-benar membosankan!"


"AYO KITA BERPERANG!" teriak Ayla heboh dan mengambil bola kertas yang sempat ia gulung ketika berdiam di bawah meja dan melemparnya ke teman-temannya.


"Kyaaaaaa.. Ayla!"


"Hahaha."


"Aku berhasil mengenai wajahmu, Jackie."


"Aku berhasil mengambil hatimu, Claire."


"Violet! Awas!"


"Hahaha."


"MAX!" ketika yang lain sibuk menyerang secara bersamaan, Max tetap membidik pelurunya yang berupa peraut pensil ke arah Ayla. Lemparannya begitu cepat hingga Ayla gagal menghindarinya. Ayla pun membalas dendam. Matanya terarah pada kotak pensil besi berwarna biru milik Violet. Ia melempar ke arah Max tanpa membidik dengan teliti hingga lemparannya meleset. Mendarat ke hidung mancung Ferro dengan sempurna.


Seketika peperangan berhenti. Mereka menatap Ferro yang meringis kesakitan sebelum melihat ke arah Ayla dengan mata melotot, 'kau akan mati, Ayla.'


Aku benar-benar akan mati.


Sedari tadi Ferro hanya menikmati teman-temannya yang bermain lempar-lemparan. Sesekali tertawa ketika melihat salah satu temannya terkena lemparan. Ferro selalu memilih menjadi penonton daripada ikut berpartisipasi. Ferro tidak melakukan apa-apa untuk mendapatkan lemparan dari kotak pensil besi dari Ayla.

__ADS_1


Satu hal yang perlu di ketahui tentang Ferro adalah dia sedikit... pemarah. tatapan matanya yang tadi terlihat hangat dan cerah seketika menggelap. Ia mengelus hidungnya dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Ayla berjalan pelan ke arah Ferro dan mencoba menyentuh tangannya yang senantiasa berada di hidungnya. Ferro langsung menepis kasar tangan Ayla.


"A..ak..aku.. Ferro ma.. Maafkan aku.. Aku tidak sengaja," ujar Ayla gagap. Lelaki itu menatap Ayla sebentar. Tajam. Hingga membuat Ayla gemetaran. Lalu ia beranjak dari kursi dan meninggalkan kelas.


Tidak ada satu pun yang berbicara. Ayla terdiam di tempat sambil memikirkan nasib hidung Ferro dan nasibnya.


Kenapa diantara semua orang harus Ferro yang kena?


Otak Ayla kosong memikirkan bagaimana cara agar Ferro bersedia memaafkannya. Dari tatapan mata lelaki itu sudah tampak sekali bahwa ia marah besar. Diamnya Ferro lebih mengerikan daripada bentakkannya.


"Aku harus bagaimana?" ujar Ayla lirih. Violet yang entah sejak kapan ada disebelahnya mengelus pelan bahu kanan Ayla.


"Untuk sementara ini biarkan dulu dia sendiri. Jangan dekati dan minta maaf. Setelah situasinya cukup mendukung baru kau lakukan." Violet memberi nasehat. "Bukankah semakin cepat maka akan semakin baik?"


"Kau tahu bahwa Ferro itu agak temperamental," celatuk Max.


"Tapi jika kau berani mendapat amarah dan omelannya, ya.. Silahkan saja," sambungnya lagi. Ayla bergidik ngeri membayangkan dirinya sedang menunduk dalam sambil menautkan kedua tangannya. Sedangkan di hadapannya terdapat Ferro yang menatapnya gelap sambil mengata-ngatainya dengan sarkas. Ayla menggeleng, mencoba menepis bayangan itu. Akan sangat mengerikan jika hal itu memang terjadi. Oh, Ayla tidak ingin itu terjadi. "Aku takut."


"Tunggu saja sekitar 2 atau 3 hari. Moodnya pasti akan kembali," saran Evelyn. David menggeleng tidak setuju. "Kurasa butuh waktu minimal 2 minggu. Ferro itu pendendam."


"Hanya meminta maaf pun tidak akan cukup baginya."


"Kau benar, Noah. Paling tidak dia akan memperlakukanmu seperti romusha selama beberapa waktu."


"Dia akan berbicara dengan kasar denganmu dan senantiasa mengancammu."


"Jangan membuatku takut." Ayla merengut kesal. Bukannya malah memberi solusi yang baik, mereka malah membebani Ayla dengan prasangka-prasangka buruk tentang Ferro.


"Ferro memang galak. Tapi tidak akan sampai seperti itu... menurutku," sahut Ayla dengan nada pelan di akhir kalimat.


"Aku akan membantumu, Ayla. Bagaimana pun pula, akulah dalang dari semua ini," ujar Max. "Akulah yang memulainya."


Ayla menatap teman sebangku Ferro tersebut dengan mata penuh harap, "Sungguh? Kau akan membantuku?"


Max mengangguk. "Oh, Max. Kau benar-benar gentleman sejati."


Max menyeringai jahil, "Tentu saja. Aku akan membantumu dengan berdoa sepanjang malam agar kau tidak di makan hidup-hidup oleh Ferro."


"Max!" Mata Ayla mendelik sebal. Sedangkan Max dan yang lainnya tertawa. Ayla mengambil sembarang buku dan memukuli Max berkali-kali.


"Aduh, aduh. Ayla.. sakit," Max mengaduh dengan nada sok manja. Tangan Ayla tidak berhenti memukuli Max. "Kau.. Kau membuatku kesal!"


"Baik..baik.. Baiklah, Ayla." Max menahan kedua tangan Ayla yang berusaha memberontak. "Aku akan membantumu."


Tidak dapat melepaskan cekalan Max di tangannya bukan berarti ia menyerah. Aira menggerakkan kakinya, menendangi betis dan lutut Max dengan membabi buta. Sedangkan teman-teman yang lain tidak berniat memisahkan Ayla dan Max. Mereka menyaksikan sambil bersorak layaknya menonton pertandingan tinju.


"Sungguh. Aku akan membantumu, Ayla. Aku bersumpah," Ayla menghentikan serangannya dan menatap Max dengan mata menyipit.


"Katakan sekali lagi," ucapnya galak. Max menelan ludahnya sambil mengangangkat kedua tangannya. Seperti pelaku kriminal ketika di tangkap oleh polisi berpistol. "Aku bersumpah, Ayla."


Wajah ragu Ayla terlihat begitu ketara sehingga Max mengulurkan jari kelingkingnya, "Aku berjanji."


"Jika kau melanggar janjimu, aku akan memakanmu, Max Hamilton!" ancam Ayla. Max tersenyum geli sambil menggerak-gerakkan alisnya naik-turun. "Oh, aku akan senang sekali jika kau benar-benar memakan dan menelanku."


"Max!"


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2