
Ayla menatap Max yang bersandar santai di sofa rumahnya. Toples berisi cookie coklat buatannya berada di pangkuan lelaki itu. Max hampir menghabiskan makanan itu sendirian. Kini hanya tersisa tiga perempat dan Max sama sekali tidak terlihat akan menghentikan aksi makannya sekarang. Tak apa. Tujuan Ayla membuat makanan memang untuk dihabiskan.
"Mau sampai kapan kau menatapiku terus?" Tanya Max dengan mulut yang dipenuhi cookie coklat. Sedikit rempahannya terkeluar dari mulut Max. Anehnya, lelaki itu sama sekali tidak terlihat jelek. Dia terlihat seperti model tampan dengan cara makan yang menggemaskan. Tidak ada buruk-buruknya. "Aku terlalu tampan untuk kau lewati bukan?"
Ayla mencibir. Anak itu memiliki penyakit kepedean tingkat dewa. Mentang-mentang dia sadar bahwa dirinya cukup tampan. Pandangan Ayla teralih pada Ferro yang duduk dengan sebelah kaki yang bertumpu pada kaki satunya. Kedua tangannya menyatu di atas lutut. Badannya tegap dan tatapannya tetap mengintimidasi seperti biasa, bahkan di suasana santai seperti saat ini. Dari pose duduknya saja sudah terlihat sekali bahwa Ferro orang yang cukup arogan dan berkuasa. Ayla yakin saat mereka sudah dewasa nanti, Ferro akan menjadi petinggi perusahaan besar yang kaya raya. Berwajah tampan dan berbody proporsional. Seperti di cerita-cerita CEO dalam novel.
"Apa kau tidak ingin makan, Ferro?" Tanya Ayla. Ferro sama sekali tidak menyentuh apapun selain jus jeruk yang ia sediakan. Sedangkan Max mencoba semua hidangan yang ia sediakan dan hampir menghabiskan setoples cookie coklat. Padahal Ayla selalu ingat kata-kata mutiara dari Ferro setiap kali Ayla menawarinya makanan. Rejeki tidak boleh ditolak.
"Hanya melihat Max makan dengan rakus, aku terasa kenyang sekali," sindir Ferro. Mengomentari cara makan Max yang menurutnya sangat berlebihan. Apalagi disaat mereka berada di dalam rumah seorang perempuan. Sangat tidak sopan.
"Mau bagaimana lagi? Buatan Ayla selalu menjadi yang paling enak," puji Max sebelum kembali memasukkan Cookie coklat terakhir yang ada di dalam toples. "Kau benar-benar calon istri idamanku, Ayla."
Ayla dan Ferro kompak mengeluarkan ekspresi seperti orang mau muntah.
Ngomong-ngomong perihal kedatangan Ferro dan Max sangat tidak di duganya. Ayla mengira bahwa urusannya dengan Ferro sudah selesai dan ia akan kembali kehidupan biasa. Kehidupan di mana mereka berinteraksi hanya ketika Ayla membuka kotak bekalnya. Ternyata Ferro malah mengikutinya hingga ke rumah, tanpa ia sadari.
Lelaki itu meninggalkan sepedanya di sekolah dan masuk ke dalam bus yang sama dengan Ayla. Ferro duduk tepat di belakang gadis itu. Sementara Ayla sama sekali tidak sadar kapan Ferro masuk ke dalam bus. Ia baru tersadar setelah tiba di halte dekat rumahnya. Ayla sangat terkejut ketika melihat Ferro yang tiba-tiba ada di dekatnya.
"Kau.. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Ayla dengan nada sedikit gagap. Dia benar-benar terkejut ketika menyadari bahwa ia tidak sendirian saat keluar dari bus. "Aku mengantarmu pulang."
"Ya. Tapi.. Mengapa?"
"Kau kecelakaan pagi tadi. Kau terluka." Ya. Begitu juga dengan dirimu, Ferro. Lupakah dirimu bahwa kaulah korban yang paling apes?
"Dan? Kau ingin bersikap gantleman dengan mengantarkanku pulang?" Berbanding balik dengan apa yang lelaki itu lakukan saat ingin mengembalikan buku milik Ayla yang hilang.
"Ya, anggap saja begitu." Ayla mengangguk paham. Mencoba menganggap apa yang dilakukan Ferro adalah hal yang biasa. Dia tidak boleh baper dan terbang tinggi begitu saja hanya karena ditemani pulang oleh Ferro. Akan sangat menyakitkan jika Ayla jatuh dan terhempas dari ketinggian.
Ayla memilih mengabaikan Ferro yang ada di belakangnya dan berjalan menuju rumahnya. Tugas lelaki itu sudah selesai. Tetapi mengapa dia tetap mengikuti Ayla? Ah, mungkin dia ingin memastikan Ayla tetap selamat sampai ke depan pintu rumah. Jadi yang Ayla lakukan adalah berdiam diri sepanjang jalan menuju rumahnya. Dan Ferro pun melakukan hal yang sama. Anak itu sama sekali tidak mencoba membuat suasana agar tidak canggung.
Sesampai di depan rumah Ayla, ia terkejut melihat kehadiran Max di depan gerbangnya sambil membawa keranjang buah. Ayla kira Max dan Ferro bersongkol untuk mendatangi rumahnya. Tetapi lelaki itu juga bingung dengan kehadiran Max.
"Kenapa anak itu bisa di sini?" tanya Ferro pelan. Ayla menatap Ferro dengan tanda tanya, "Bukankah kalian janjian?" Ferro menggeleng.
Ayla tidak mempunyai pilihan selain mengizinkan mereka bertamu. Apalagi Max sudah repot-repot membeli bermacam-macam buah yang dihias dengan cantik di dalam keranjang. Padahal Ayla ingin berendam air hangat untuk menenangkan diri. Ia masih agak shock dengan aksi jatuhnya pagi tadi bersama dua lelaki ini. Tapi ya sudahlah. Setidaknya Ferro tidak marah lagi dengannya.
__ADS_1
Ayla memutuskan untuk ke dapur, meninggalkan Max dan Ferro yang asik menonton televisi di ruang tamu. Tangannya dengan cekatan mengambil toples-toples yang berisi cookie di dalam kabinet dan membungkusnya. Ia tahu bahwa Max ketagihan dengan apapun yang dibuatnya. Dan Max tidak pernah menolak makanan. Sehingga ia memutuskan untuk memberi keduanya cookie untuk dibawa pulang.
Max dan Ferro berpamitan saat hampir menjelang malam. Max tidak berhenti mengucapkan terima kasih, memuji-muji Ayla, bahkan memintanya untuk menikah dengan Max lima tahun lagi. Sedangkan Ferro hanya mengucapkan terima kasih ala kadarnya. Senyum tipis dan simpul sebagai pemanis. Benar-benar biasa. Dan Ayla semakin sadar diri bahwa Ferro tidak memiliki perasaan khusus dengannya.
***
Pagi ini, seperti biasa, Ayla sudah terbangun sejak jam 3. Ia mengambil bahan-bahan yang sudah di belinya tadi malam. Tangannya dengan cekatan mengolah adonan. Mencampurkan tepung terigu, garam, dan baking powder sebelum mengaduknya. Di dalam wadah yang lain, ia memasukkan telur dan gula pasir. Lalu mengaduknya menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi.
Setelah 15 menit mengurus adonan, ia masukkannya ke dalam loyang yang sudah ia alasi dengan kertas muffin secara merata. Dengan tingkat kecepatan yang lumayan, Ayla berhasil memasukkan adonan ke dalam loyang sebanyak 3/4nya. Ia membawa adonan muffin-muffinnya ke dalam oven dan memanggangnya selama 30 menit.
Setelah matang, Ayla mengangkat muffin sederhana buatannya dan mencium aromanya. Nikmat. Ia yakin Ferro pasti suka. Setelah jam sudah menunjukkan pukul 5:30, ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Ayla tersenyum di sepanjang koridor sekolah. Sesekali ia menyapa orang yang ia kenal. Ayla bahagia sekali hari ini. Ferro sudah memaafkannya, dan Ayla membawa makanan yang pasti disukai oleh pujaan hatinya itu. Tanpa sadar bahwa ada sesuatu yang ia lupakan.
Sesampainya di kelas, Ayla harus kalang kabut mengerjakan pr matematika yang entah kapan di berikan oleh guru yang bersangkutan. Di kepala Ayla hanya berisi Ferro, Ferro, dan makanan untuk Ferro. Violet bahkan belum tiba sehingga Ayla mau tidak mau meminjam contekan pada orang lain.
Mata Ayla tertuju pada Ferro yang duduk santai sambil memainkan gedgetnya. Laki-laki sepintar dan serajin Ferro tentu tidak sama dengannya yang kalang kabut mencari contekan. Ia pasti sudah mengerjakannya di rumah. Dan Ferro adalah sasaran empuk untuk di mintai contekan. Masalah berapa nilai yang akan di dapatkannya nanti, ia percaya sepenuhnya pada otak lelaki itu. Ferro itu bukan main-main pintarnya. Yang menjadi kendala di sini adalah kesediaan Ferro menjadi pemberi contekan untuk Ayla. Jarang sekali ada manusia pintar dan baik hati dalam memberi jawaban pada temannya dengan ikhlas. Termasuk Ferro. Anak itu sangat pelit jawaban. Bahkan ketika Max, teman sebangkunya sedang membutuhkan jawaban pun tidak ia beri. Apa lagi Ayla yang notebane-nya seperti orang asing. Akan menjadi tanda-tanda kiamat jika hal itu terjadi.
"No," sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari gadget-nya. Sesekali ia berseru karena asik memainkan game yang entah apa namanya. Ayla mencabikkan wajahnya.
'Dasar pelit! Pelit! Kenapa aku bisa jatuh cinta pada manusia seperti dia? Ya Tuhan, pelit sekali dia' maki Ayla dalam hati. Ayla tidak punya pilihan selain mengatupkan kedua tangannya dan memohon pada Max.
Walaupun ia selalu seperti Tom & Jerry dengan Max Hamilton, Ayla akui bahwa anak konglomerat itu jauh lebih manusiawi. Tanpa pikir panjang dan basa basi ia langsung memberikan bukunya pada Ayla.
"Makanya kerjakan pr di rumah!" Omel Max yang kesekian kalinya selama mereka kenal. Ayla hanya menyengir kuda sebelum kembali ke tempat duduknya dan mengerjakan tugas dengan kecepatan kilat.
Hanya tinggal 7 menit lagi, lonceng pertanda masukan akan berbunyi. Ayla harus bisa menyalin jawaban Max dengan kecepatan maksimal. Walaupun pada akhirnya tulisan Ayla tidak dapat di baca, setidaknya buku tulis Ayla tidak kosong. Setidaknya ada yang ia kerjakan. Meskipun harus berupa coretan cakar ayam.
Ayla berhasil menyelesaikan tugasnya tepat saat lonceng berbunyi. Dan saat itu pula Violet datang dengan keadaan yang tidak biasa. Wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan, dan matanya sembab. Sangat berantakan. Ayla baru saja ingin menanyakan kekhawatirannya yang harus tertunda karena bertepatan dengan kedatangan Mrs. Brown.
"Kumpulkan tugas kalian padaku. Yang tidak mengerjakan, silahkan maju ke depan."
Para murid segera maju ke depan untuk mengantar tugas yang mayoritas adalah hasil contekan. Begitu pula dengan Ayla, ia meraih bukunya dan beranjak dari kursinya. Ia baru mengambil satu langkah menuju meja Mrs. Brown sebelum terhenti karena gumaman Violet.
__ADS_1
"Sial! Aku lupa jika hari ini ada pr."
"Masih kurang 2 orang, siapa lagi yang belum?" Violet mengangkat tangan kanannya sambil sedikit menunduk. Mencoba menyembunyikan wajahnya yang terlihat begitu jelas habis menangis.
"Yang tidak membawa pr silahkan keluar dari kelas saya! Siapa lagi satunya?" Ayla memandang buku tugasnya ragu. Sesekali ia mengalihkan pandangannya ke arah Violet yang berjalan ke luar kelas dengan langkah yang lesu dan kembali menatap tugasnya.
"Satu orang lagi!" Ujar Mrs. Brown tegas sambil berkacak pinggang. Ayla sudah mengambil keputusan. Ia memasukkan buku tugasnya ke dalam tas dan mengangkat tangan kanannya. "Aku.. Aku lupa membuat pr!"
Tidak sepenuhnya bohong. Ayla benar-benar lupa sehingga ia mencontek milik Max. Mrs. Brown menatap Ayla tajam, "Kau lagi, Aira."
"Ayla, Ma'am."
"Aku tidak peduli! Sekarang keluar dari kelasku." Ayla mengangguk dan menyusul Violet yang sudah lebih dahulu pergi. Sebelum Ayla benar-benar meninggalkan kelas, ia sempat mendengar perintah Mrs. Brown yang entah bagaimana ia harus menanggapinya.
"Aira, setelah jamku habis silahkan datang ke ruanganku untuk mengambil tugas tambahanmu." Ayla membalikkan badannya dan menunjuk dirinya sendiri, "Hanya aku seorang?"
Mrs. Brown mengangguk mantap, "Temanmu itu pintar. Ia hanya lupa. Berbeda dengan kau yang bodoh. Kau sengaja untuk tidak mengerjakannya." Ayla mengumpat dalam hati.
Perihal Violet, memang benar apa kata guru matekatika tercintanya itu. Violet cukup pintar di kelas dan selalu rajin mengerjakan tugas sekolah. Ayla yakin Violet lupa dengan tugas yang diberikan adalah akibat dari alasan di balik matanya yang sembab.
Sedangkan pernyataan Mrs. Brown tentang dirinya, tidak sepenuhnya salah. Ayla memang bodoh dalam pelajaran. Apalagi matematika. Tetapi sangat tidak pantas sekali rasanya mengatai Ayla dengan kata 'bodoh' begitu saja. Setidaknya gunakanlah kata-kata yang sedikit lebih sopan seperti 'tidak mampu'.
Walaupun Ayla tidak bisa matematika, bukan berarti ia sengaja tidak mengerjakan. Ayla benar-benar lupa. Jika Ayla ingat, ia pasti sudah mengerjakannya malam tadi. Meskipun jawaban yang ia dapat bukanlah murni hasil kerja otaknya, melainkan contekan yang ia dapatkan di group chat kelas.
"Aku akan meminta Ferro untuk memberimu pelajaran tambahan." Ayla melototkan matanya mendengar ucapan Mrs. Brown. Mulutnya tergagap ketika meminta kepastian. "A..a..apa?"
"Ferro akan menjadi tutor untukmu hingga menjelang ujian. Aku tidak sanggup mengajarkanmu." Ayla menatap Ferro dengan pandangan 'benarkah?'. Sementara lelaki itu hanya mengangguk malas.
"Sekarang silahkan ke luar, Aira!" Pinta Mrs. Brown. Ayla mengangguk sambil berusaha keras menyembunyikan senyumannya. Ia langsung berlari menuju kantin sambil berseru.
Ayla tidak tahu harus bersyukur atau tidak atas tugas dan kelas tambahan yang diberikan Mrs. Brown. Ia sedikit kesal karena si wanita pikun nama itu pilih kasih. Mentang-mentang ia bodoh. Tugas sedikit saja ia tidak mampu mengerjakan. Apalagi banyak. Tapi di sisi lain Ayla bersyukur karena intensitasnya bertemu Ferro bertambah. Ia sudah membayangkan setampan apa Ferro saat mengajarinya. Dan lebih istimewanya lagi, hanya Ayla yang menjadi murid Ferro. Tidak ada orang lain. Hanya Ayla seorang. Ayla benar-benar harus berterima kasih pada Mrs. Brown yang tanpa sadar memberikannya kesempatan emas.
Ayla tiba di kantin sambil senyum-senyum sendiri. Sebelum akhirnya memudarkan senyumannya dan memasang tampang bingung. Ia lupa apa yang ingin ia lakukan hingga sampai di tempat ini. Setelah hampir 3 menit berpikir, ia akhirnya ingat bahwa ia ingin membeli beberapa cemilan dan minuman sebelum menuju ke atap sekolah. Ayla tebak Violet sedang berada di atap sekolah karena tempat itu memang sangat cocok untuk menyendiri. Apalagi Violet seperti sedang dilanda masalah besar. Ayla akan menghampiri Violet setelah ia selesai dengan belanjaannya.
Ada apa dengan Violet sebenarnya?
__ADS_1
To Be Continue