Sekotak Bekal Untukmu

Sekotak Bekal Untukmu
Chapter 5


__ADS_3

Ayla kira saat ia melihat Max berhasil membawa Ferro itu artinya mereka sudah termaafkan. Hmm.. mungkin bukan mereka, hanya Max yang dimaafkan. Untuk saat ini. Ayla dengan senang hati menyambut kedatangan mereka di kantin seolah-olah ia lah yang berjualan. Mempersilahkan Ferro duduk dengan nada bersahabat yang sama sekali di tanggapi oleh lelaki itu. Ferro masih marah padanya. Dan pada Max juga, ternyata. Sedari tadi ia tidak menjawab satu pun pertanyaan dari Max. Ferro yang sedang marah dengan cara berdiam diri jauh lebih mengerikan dari pada mendengar ucapan sarkasnya yang menusuk.


Yang membuat Ayla salah tingkah adalah ketika Ferro memilih tempat duduk berhadapan dengannya. Ayla tidak akan selemah itu jika Ferro hanya duduk tenang sambil memakan makanannya dalam diam. Terlebih lagi lelaki itu memang marah, berdiam diri adalah salah satu bentuk kemarahannya.


Jika kau mengira bahwa Ferro seketika mengomeli Ayla saat duduk berhadapan, maka kau salah besar. Ferro masih berdiam diri. Jelas, karena dia masih marah. Tetapi matanya sama sekali tidak lepas dari Ayla yang berada tepat di hadapannya. Bahkan ketika ia menyuapkan makanannya, ia hanya melirik sekilas ke arah sendok yang dipegangnya. Setelah itu ia melanjutkan kegiatan menatapi Ayla tanpa henti.


Ayla tersipu dan merasa ngeri bersamaan. Tatapan dalam Ferro tidak bisa ia tebak maknanya. Disisi lain ia sangat ingin merasa bahwa tatapan Ferro adalah tatapan cinta. Tetapi kenyataannya ia adalah seorang gadis biasa yang sialnya sudah melemparkan kotak pensil ke wajah tampan itu. Bagaimana mungkin Ferro memberi tatapan cintanya pada perempuan yang menjadi sumber kesialannya. Tidak masuk akal.


"Ferro, bisakah kau berhenti.. menatapiku terus?" Cicit Ayla. Ia tidak tahu bahwa menyatakan apa yang ia pikirkan adalah keputusan yang baik atau tidak.


Ferro tidak menjawab sama sekali. Ayla bernafas lega ketika Ferro mengalihkan pandangannya dari Ayla ke makanannya yang sudah habis. Ia membereskan sisa-sisa makanannya dan beranjak pergi. Meninggalkannya bersama Violet dan Max. Kelegaan Ayla tidak bertahan lama. Ferro sempat menatapinya selama 15 detik sambil melangkah sebelum benar-benar menghilang di balik koridor.


"Ferro, tunggu aku!" Teriak Max sambil melahap makanannya dengan cepat. Beberapa detik kemudian ia selesai dan berlari menyusul Ferro yang sudah tidak terlihat lagi keberadaannya.


"Kau.. Kau lihat tadi bagaimana Ferro menatapiku?" Tanya Ayla kelabakan. Violet mengangguk sambil menyeruput minumannya. "Kenapa dia harus berbuat begitu?!"


"Tatapan dalam itu... Kenapa? Kenapa? Apa dia sudah jatuh cinta padaku?" Sambung Ayla heboh. Syukurnya suasana kantin cukup sepi sehingga tidak ada yang menatap Ayla dengan pandangan aneh. Setidaknya Violet tidak ikutan malu akibat tingkah ajaib sahabatnya.


Violet melemparkan sedotan bekas Ferro ke kening Ayla sebagai reaksi atas ucapannya. "Jatuh cinta dari Hongkong! Kau kira dia menjadi tergila-gila padamu karena lembaran mautmu itu?"


Ayla menatapnya kecewa, "Eh, bukan ya?"


"Jangan berkhayal. Kau jelas bukan tipenya."


"Aku tahu," jawab Ayla sedikit tersinggung. Benar-benar tidak menyenangkan sekali memiliki teman yang terlalu jujur. Seperti Violet. Ucapannya sama sekali tidak menyenangkan. Setidaknya ia harus sedikit berbohong untuk membuat hati Ayla merasa bahagia.


"Aku hanya tak ingin kau patah hati nantinya." Violet menjelaskan niat baiknya.


'Aku sudah patah hati,' batin Ayla.


Di sepanjang jalan menuju kelas, Ayla terus merenungi apa yang terjadi sebenarnya. Seharusnya tidak masalah jika wajah Ferro harus berbenturan dengan sebuah kotak pensil. Ayla kan tidak sengaja. Kenapa Ferro harus semarah itu seolah-olah Ayla baru saja memotong sebelah kakinya. Oh, baiklah! Mungkin yang ini sedikit berlebihan. Intinya Ferro tidak usah merajuk segitunya. Pendendam sekali anak itu.


Dan Ayla.. Kenapa harus memikirkannya sejauh itu? Bukankah ia bisa meminta maaf dan memaksa Ferro menjabat tangannya. Ferro menerima permintaan maafnya atau tidak, itu urusan belakang. Yang penting ia sudah mengakui kesalahannya. Kenapa kemarahan Ferro harus membayang-bayanginya setiap saat? Padahal dulu Ferro adalah sesosok orang asing yang nyaris tidak pernah Ayla pikirkan. Kecuali saat tragedi buku hilang dan dengan tidak gantle-nya lelaki itu mengembalikan buku Ayla lewat temannya. Ayla bahkan bersumpah bahwa Ferro sama sekali bukan idamannya. Well, yang terjadi di sini Ayla termakan ucapannya sendiri.


Apakah seandainya Ayla tidak melakukan itu maka ia tidak akan pernah menyukai Ferro? Belum tentu. Walaupun Ferro cukup tampan dan memiliki badan yang proporsional untuk remaja seukurannya, Ayla tidak pernah merasa akan tertarik pada Ferro.


Sampai di 4 bulan yang lalu. Ketika kelas kesenian di mulai, dan mereka di beri tugas melukis. Ayla yang menyukai seni tentu saja sangat antusias. Apa lagi hanya ini yang benar-benar ia bisa. Ia sama sekali tidak mampu di pelajaran-pelajaran akademik. Jadi Ayla membawa semua alat lukis yang ia punya.


Berbanding balik dengan Ferro. Otaknya cemerlang. Tapi tangannya tidak mampu berkreasi. Bahkan pensil warna pun ia tidak punya. Ia hanya memiliki buku-buku tebal yang jelas akan membuat kepala Ayla pusing jika membacanya.


Ferro mencoba meminjam alat lukis milik Ayla, dan di balas gelengan oleh pemiliknya. Ayla bilang, ia terlalu cinta pada alat lukisnya sehingga tidak berani meminjamkan pada orang lain. Apa lagi ini adalah Ferro Butler. Laki-laki yang pernah membawa bukunya selama tiga tahun. Apa manusia itu lupa? Ayla sedikit trauma karenanya.


Ferro terus mencoba memujuk Ayla untuk meminjamkan alat lukis. Ayla tetap bersikeras dengan gelengannya. Bayangkan saja dua orang yang sama-sama keras kepala harus berinteraksi seperti itu. Membutuhkam waktu yang lama dan pengendalian emosi yang baik, tentunya.


Sampai pada titik di mana Ayla melihat mata teduh Ferro. Sudah mengenal Ferro sedari Sekolah Dasar tentu saja membuat Ayla cukup sering melihat mata itu. Tetapi tidak pernah benar-benar memandangnya. Sampai di hari itu. Mata teduh itu terdapat sesuatu yang membuat Ayla seperti tersihir untuk berkata 'ya'.


Dan itulah yang membuat Ayla menjadi jatuh cinta pada Ferro. Hanya karena mata teduh itu Ayla harus rela menelan sumpahnya sendiri. Dan kini Ayla uring-uringan memikirkan Ferro yang sedang merajuk.

__ADS_1


Ketika sampai di depan kelas, Ayla harus melihat pemandangan yang memanjakan mata. Sekaligus menyakiti hati.


Amanda Bailey. Tidak ada yang tidak mengenal dia. Termasuk Ayla. Walaupun ia tidak benar-benar mengenalnya secara personal, setidaknya ia mengetahui siapa gadis cantik itu. Ia tinggi semampai. Kaki jenjangnya benar-benar sesuatu yang sangat ingin Ayla miliki sedari dulu. Rambutnya pirang bergelombang. Seperti aktris iklan shampoo ternama. Fitur wajahnya mempesona seperti model-model barat kebanyakan. Benar-benar berbeda dengan Ayla.


Ayla adalah keturunan Asia. Tidak heran ia memiliki wajah yang sedikit terlihat pucat, tubuh pendek, dan rambut hitam legam. Sering kali ia merengek pada ibunya agar di izinkan mengecat rambutnya menjadi pirang. Agar rambutnya cantik seperti Amanda. Ayla yang merupakan seorang perempuan saja mengakui kecantikan Amanda. Apalagi laki-laki.


Ayla selalu kagum melihat Amanda. Ia terlalu cantik. Benar-benar memanjakan mata. Tetapi untuk saat ini hatinya tersakiti. Ia harus melihat Ferro tertawa ria bersama gadis yang memiliki kecantikan luar biasa itu. Kemana wajah gelapnya ketika ia marah pada Ayla dan Max? Apakah kehadiran Amanda benar-benar langsung membuat suasana hatinya berubah 180 derajat? Kalau begitu Ayla cemburu.


Ayla berusaha untuk tidak melirik Amanda dengan tatapan tajam. Ia hanya memandang lantai ketika berjalan masuk menuju kelasnya. Mengabaikan Ferro yang sama sekali tidak meliriknya. Laki-laki itu!


Setelah sampai dibangkunya, Ayla duduk menyamping menghadap Violet yang sibuk dengan handphone-nya.


"Enak, ya.. Menjadi orang cantik." Violet tidak bersuara. Mengabaikan Ayla.


"Jika aku tidak bisa secantik Amanda Bailey, setidaknya biarkan aku menjadi secantik dirimu," oceh Ayla.


Violet hanya menaikkan alisnya mendengar ocehan Ayla. Memang benar bahwa Violet itu cukup cantik. Ia pun mengakuinya. Tetapi bersikap seolah-olah Ayla adalah orang yang jelek itu salah besar. Ayla cukup manis dengan wajah kekanakannnya. Ia selalu tampak lebih muda dari temam-temannya. Seharusnya Ayla bersyukur.


Ayla terus mengoceh tentang bayangannya jika ia menjadi seorang Amanda Bailey.


"Aku akan bahagia jika menjadi perempuan yang paling dekat dengan Ferro."


Benar. Amanda sangat dekat dengan lelaki yang ditaksir oleh Ayla itu. Bahkan tak jarang mereka digosipi berpacaran. Ferro hanya tersenyum jika ditanyai oleh teman-temannya mengenai rumor itu. Ia tidak mengiyakan. Tidak juga membantah.


Sering kali Ayla melihat Ferro menemani Amanda ketika mereka ada kegiatan ekstrakulikuler. Ferro adalah pemain basket dengan otak cemerlang. Sedangkan Amanda merupakan cheerleader cantik dengan kemampuan akademis yang bagus. Sempurna. Benar-benar pasangan yang sempurna.


***


Ayla menyerah. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Rasa bersalah terus membayang-bayangi dirinya. Tetapi penerimaan dari maafnya belum juga diterima. Ayla akan memaksa Ferro untuk berbicara empat mata dengannya. Jangan hanya diam seperti anak kecil yang sedang merajuk. Malu sama umur, Ferro sudah besar.


Dari kejauhan Ayla dapat melihat Ferro berjalan sendirian menuju parkiran sepeda. Tanpa menunggu waktu lagi Ayla berlari kecil menghampirinya.


"Ferro!" Lelaki itu menoleh sekilas. Keningnya mengerut sebelum ia menggidikkan bahunya. Mencoba tidak peduli dan berbalik, kembali menyibuki diri dengan sepedanya yang sedikit rusak akibat tragedi pagi tadi.


"Ferro, dengarkan aku!" Bentak Ayla kesal. Rasa takutnya dengan Ferro yang jelas-jelas memiliki aura berbeda ketika marah entah hilang kemana. Rasa kesalnya karena diabaikan terus lebih mendominasi. Atau mungkin.. Rasa cemburu, Ayla?


Ayla menggeleng sendiri memikirkan itu. Ia tidak cemburu. Oh, ia tidak boleh berbohong. Setidaknya pada dirinya sendiri. Ia memang sedikit cemburu karena Amanda yang luar biasa cantik. Tetapi bukan itu alasan mengapa ia kesal pada Ferro. Memangnya siapa dirinya yang berhak cemburu? Hanya orang asing yang kebetulan sekelas dengan Ferro.


Tangan Ferro bergerak memegangi stang sepeda dan menggiringnya. Sepedanya jelas tidak bisa ia naiki. Jadi ia tetap berjalan kaki. Baru 5 langkah ia berjalan melewati Ayla, ia merasakan tarikan yang cukup bertenaga dari belakang. Ayla sedang memegangi ranselnya dan memaksanya bertahan di sana.


Ferro melawan tanpa suara. Ia tetap mencoba melangkah seolah-olah Ayla tidak ada di sana. Bagaimana pun juga, ia adalah seorang lelaki. Tenaganya jauh lebih kuat daripada perempuan. Apalagi untuk ukuran Ayla yang mungil.


Tetapi dugaan Ferro salah. Entah bagaimana caranya Ayla yang bahkan tidak bisa dalam pelajaran olahraga mampu menahannya agar tidak pergi. Ferro tidak mempunyai pilihan lain selain melayani gadis itu. Atau mereka akan tetap berada di sini sampai malam tiba.


"Apa maumu, Ayla?" Tanya Ferro datar. Ayla masih setia memegangi Ferro. Bisa saja Ferro langsung melarikan diri seketika ia melepaskan tangannya. "Aku ingin bicara padamu."


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Ferro sambil melepaskan tangan Ayla dari ranselnya. Ia berbalik menghadap Ayla sambil berkacak pinggang. "Aku mau minta maaf."

__ADS_1


Ferro menaikkan sebelas alisnya. "Begitu? Perbuatanmu yang memaksa ini kau sebut dengan permintaan maaf?"


Ayla meringis. "Itu salahmu! Kau yang mengabaikanku terus. Jadi aku tidak punya pilihan lain."


"Intinya aku minta maaf," sambung Ayla sambil mengulurkan sebelah tangannya. Ia menatap tepat di mata Ferro. Menunggu lelaki itu menyambut uluran tangannya.


Alih-alih saling menjabat sebagai bentuk perdamaian, Ferro menahan tangan Ayla yang terulur menggunakan tangan kirinya. Ia menarik Ayla agar sedikit lebih dekat dengannya. Lalu sebelah tangannya yang bebas terangkat menuju kening kecil Ayla dan menjentiknya.


Ayla mengaduh. Jentikan laki-laki tidak pernah main-main, selalu menyakitkan. Ia menggunakan tangannya yang terbebas untuk mengelus keningnya yang kena sasaran jari Ferro.


"Kau.. Apa yang kau lakukan, Ferro?!" Tanya Ayla kesal. Ferro yang tetap menahan tangan kanan Ayla menjawab dengan santainya. "Menjentikmu, tentu saja. Memangnya apalagi?"


Ayla terperangah dengar jawaban Ferro yang bersikap seolah-olah ia tidak melakukan apapun. Tidakkah laki-laki itu dengar bunyi jentikan itu di keningnya yang sangat keras? Bahkan Ayla merasa pandangannya berkunang-kunang untuk sesaat ketika rasa sakit itu menimpa kening cantiknya.


"Aku tahu.. Tapi.. Tapi kenapa?"


"Aku hanya balas dendam padamu," sahut Ferro ringan.


'Dasar pendendam' batin Ayla.


Belum sempat Ayla menyerukan protesnya. Tangan kanan Ferro yang tadi ia gunakan untuk menjentik Ayla mendarat di pipi gadis itu. Ia memencit kedua pipi gadis itu dengan sedikit kuat sehingga wajah Ayla terlihat sangat konyol. Tangan kiri Ferro tetap menahan sebelah tangan Ayla hingga gadis itu tidak bisa melawan dengan maksimal.


Setelah beberapa detik melihat wajah konyol Ayla, Ferro baru terpikir sesuatu. Ia melepaskan pegangannya di tangan Ayla dan meraih handphone di saku celananya. Tangannya terangkat, mengambil gambar wajah Ayla yang tampak menggemaskan diantara tangan kanannya yang mencengkram ke dua pipi itu.


"Kau.. Apa lagi yang kau lakukan?!" Tanya Ayla heboh setelah ia berhasil melepaskan diri dari Ferro dan mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak aman.


"Balas dendam."


"Tadi kan sudah," protes Ayla. Pipinya merah merona seperti kepiting rebus. Jantungnya berdetak kencang. Ayla samlaj khawatir jika Ferro dapat mendengar suara organ yang ada di dalam tubuhnya. Apalagi ketika merasakan tangan Ferro di kedua sisi pipinya. Ayla tidak tahu jika ada cara balas dendam yang manis seperti tadi. Bisa-bisa Ayla tidak bisa tidur malam ini karena sibuk memikirkan perasaannya yang kian membuncah pada Ferro.


"Yang ini untuk kesalahanmu yang lain." Ayla memiringkan kepalanya. Apa Ferro ingin membodohinya? Mentang-mentang ia memang bodoh. Jelas-jelas ia tidak melakukan kesalahan apapun pada Ferro selain hantaman keras di kening lelaki itu. "Kau membuatku menjadi korban tabrakan pagi tadi."


Ayla menatapnya dengan pandangan tidak terima, "Aku juga korban, oke? Max yang membuat kita terjatuh. Salahkan saja dia!"


"Well, anak itu tidak ada di sini. Karena kau juga terlibat dengan tragedi itu, kau saja yang kau hukum," jelas Ferro santai. Padahal dia sedang mendzolimi orang lain.


'Ferro sialan! Kurang ajar!'


'Gampang sekali ia berkata begitu!'


'Apa dosaku hingga harus jatuh hati pada makhluk seperti ini, Tuhan?'


Ayla terus memaki-maki dalam hati. Tetapi ia tidak mampu mengatakannya langsung pada Ferro. Ia tidak mau mencari masalah. Jelas, Ayla takut. Daripada keceplosan dan menambah masalah, Ayla memutuskan untuk mengambil langkah meninggalkan Ferro. Ayla sudah minta maaf dan Ferro sudah membalaskam dendamnya. Clear. Tidak ada lagi yang harus Ayla dan Ferro lakukan. Semuanya impas.


Ayla sudah berjalan cukup jauh dari Ferro. Tetapi lelaki itu tidak mendatanginya. Ferro serius? Apa ini benar-benar berakhir? Tidak ada kelanjutan dari pertengkaran sepele yang berlanjut ke kisah cinta seperti di film-film? Oh, jangan banyak bermimpi, Ayla! Bagaimana pun jadinya dunia ini, seorang Ferro tidak akan mungkin tertarik pada Ayla. Apalagi di depan mata lelaki itu terdapat Amanda yang cantik menggoda. Ayla hanyalah upik abu jika dibandingkan dengannya.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2