
Ayla duduk di ruangan Ms. Brown sambil menautkan tangannya satu sama lain. Kepalanya menunduk dalam sebagai bentuk penyesalan sekaligus menghindari tatapan sinis yang membuat dirinya cukup untuk merasa merinding. Siapa lagi jika bukan Ferro Butler yang memberi tatapan menakutkan itu padanya. Sedangkan Mrs. Brown menampilkan mata yang melotot di balik kaca matanya.
Ketika Ayla dan Violet tiba di depan kelas, ia melihat Ferro yang bersandar di pintu dengan tatapan bosan dan kesal. Tanpa berkata apa-apa lelaki itu langsung pergi yang Ayla tebak menuju ruangan Mrs. Brown. Ayla dan Violet mengekorinya sambil bergendengan tangan. Sesekali ia meremas tangan Violet sebagai pertanda bahwa ia sangat gugup. Belum lama terselesaikannya masalah yang dahulu, Ayla sudah berbuat ulah lagi.
Sepanjang jalan, Violet tidak berhenti memandang Ayla dengan tatapan 'rasakan! Aku sudah memperingatimu.' Ayla hanya bisa meringis.
Dan berakhirlah Ayla di sini. Di ruangan Mrs. Brown yang sejuk dan berangin. Duduk di samping Ferro yang terus menatapnya sambil melipat kedua tangannya ke depan dada. Sedangkan Mrs. Brown yang duduk dihadapannya terus melotot ke arahnya sebelum menghembuskan nafasnya. Ayla membutuhkan Violet sekarang. Tapi sahabatnya itu sedang berada di luar ruangan untuk menunggunya. Ia butuh tangan seseorang untuk ia remas karena ia begitu gugup sekarang. Tangan besar Ferro begitu menggoda untuk ia raih dan mencengkramnya kuat-kuat. Tapi ia tidak ingin di pukul oleh lelaki itu sehingga ia memutuskan untuk meremas tangannya sendiri.
"Darimana saja kau, Aira?"
'Ayla, Ma'am' sahut Ayla dalam hati. Jelas ia tidak ingin mengutarakan ucapan itu sekarang karena suasana yang tidak mendukung. Bisa-bisa ia di keluarkan dari sekolah setelah mengucapkan hal itu. Walaupun mulut Ayla sangat gatal karena ingin mengkoreksi namanya yang selalu salah disebutkan oleh guru matematikanya itu.
"Aku dari... atap sekolah." Cicit Ayla.
"Mencoba membolos, huh?" desis Mrs. Brown. Ayla menggeleng kuat. Jelas ia dikeluarkan dari kelas oleh orang yang saat ini duduk di hadapannya karena tidak membuat tugas. Lebih tepatnya tidak mengantar. Ayla bersumpah ia mengerjakan tugasnya, walaupun hasil menyontek pada Max yang ia kerjakan di detik-detik terakhir sebelum bel berbunyi.
Ia tidak menyangka akan kebablasan dan lupa waktu. Dimana seharusnya ia berada di sana selama dua jam menjadi hampir dua kali lipat lebih banyak. Ia lupa dengan panggilan Mrs. Brown ke ruangannya untuk memberi tugas tambahan sebagai hukuman. Bahkan ia melupakan bahwa pujaan hati yang sedang duduk di sampingnya ini ditunjuk langsung oleh Mrs. Brown sebagai tutornya.
"Jika tidak membolos, mengapa kau tidak datang ke ruanganku setelah jamku habis? Aku dengar dari teman-temanmu bahwa kau juga tidak memasuki pelajaran setelahnya!"
Ayla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia memutar otak untuk mencari jawaban yang bisa membantunya, "Itu.. Aku tertidur." Alasan yang bagus Ayla.
"Aku tidak peduli apakah kau benar-benar tertidur atau itu hanya akal-akalanmu saja, Aira!"
'Namaku Ayla. Ayla Butler. A-Y-L-A' teriak Ayla di dalam hati.
"Aku sudah melihat gelagatmu sejak pertama kali aku masuk ke kelas kalian. Kau begitu bodoh dan tidak bisa diatur. Tapi jangan membawa-bawa temanmu untuk membolos. Jika kau memang ingin, bolos saja sendiri! Jangan mati membawa orang!"
Ayla terdiam mendengar ucapan Mrs. Brown yang agak.. kasar, menurutnya. Perkataan wanita paruh baya itu benar-benar menusuk dadanya hingga ia mencoba mati-matian menahan air matanya yang ingin tumpah.
Ia sama sekali tidak bermaksud untuk membolos. Bahkan ia tidak menginginkan keluar di jam pelajaran matematika walaupun ia tidak suka. Hanya saja Violet benar-benar membutuhkannya. Apakah kesalahan yang ia baru perbuat sekali tidak bisa di maafkan? Di luar sana sudah banyak murid yang melakukan kesalahan lebih banyak darinya.
Terlebih lagi saat ia mengatakan bahwa Ayla bodoh dan tidak bisa di atur. Perihal bodoh, Ayla tidak bisa mengelak lagi. Mau tak mau ia harus mengakui hal itu. Tapi menjadi orang yang kemampuan otaknya di bawah rata-rata bukanlah keinginannya. Ayla juga ingin memiliki otak cemerlang seperti Ferro atau Amanda. Ayla juga ingin berdiri di lapangan setiap akhir semester saat pengambilan raport tiba. Ia juga ingin merasakan menjadi juara yang selama ini belum pernah dirasakannya.
Dan selama ini Ayla termasuk siswi yang nyaris tidak pernah melanggar aturan. Ia selalu memakai rok di bawah lutut. Ia tidak memakai riasan tebal yang mengundang omelan guru-guru. Ia berusaha datang ke sekolah tepat waktu. Ia selalu mengerjakan tugasnya walaupun kebanyakan ia lakukan di sekolah dan hasil menyontek.
__ADS_1
Hanya kali ini. Hanya hari ini Ayla memutuskan untuk tidak mengantar tugas miliknya agar dapat menemani Violet. Hanya hari ini Ayla disuruh keluar dari kelas pada jam pelajaran matematika. Selama ini Mrs. Brown hanya menyuruhnya berdiri di depan kelas. Terkadang dengan sebelah kaki yang terangkat dan tangan yang memegangi telinga. Hanya hari ini ia membolos. Sebelumnya Ayla hanya keluar sebentar menuju toilet jika bosan dengan pelajaran tertentu. Tidak bisakah ia dimaafkan atas kesalahannya hari ini?
Dan yang paling Ayla tidak suka adalah jika seseorang membawa-bawa kemampuan otaknya untuk menyalahkannya. Seperti yang Mrs. Brown lakukan saat ini, ia sibuk membanding-bandingkan Ayla dengan teman-temannya yang pintar. Kesalahan Ayla hari ini hanya membolos dan lupa ke ruangan Mrs. Brown. Jangan membahas kemampuannya yang minim di bidang akademik.
Ayla mencoba menulikan telinganya sambil menatap ke arah langit-langit sambil menghitung cicak yang ada. Setelah selesai, ia mengalihkan pandangannya pada jendela dan menghitung jumlah daun yang tampak dari jendela. Setelah beberapa menit Mrs. Brown mengoceh. Ia memberikan beberapa lembar kertas yang berisi soal-soal yang ia tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya. Ia hanya menerima dengan tatapan kosong sambil sok-sok melihat soal yang jelas sama sekali tidak ia pahami.
"Kau akan berguru pada Ferro selama 2 bulan. Dan semua tugas itu harus diantar secara berangsur setiap minggunya," jelas Mrs. Brown. Ayla mengangguk paham. Tidak bisa ia pungkiri bahwa di dalam dirinya yang terdalam, ia merasa bahagia dan berbunga-bunga. Walaupun tadi ia sangat kesal dan sedih dengan semua omongan Mrs. Brown.
Astaga, semudah itukan Ferro mengubah suasana hatimu, Ayla?
Di dalam kepalanya sudah ada adegan-adegan manis seperti di drama-drama romantis yang sering ia tonton. Pertemuan yang lebih sering dengan Ferro akan menghasilkan perasaan yang tumbuh di hati laki-laki itu. Ayla sangat berharap hal itulah yang benar-benar terjadi. Sebelum ia mendengar Ferro yang menghela nafas beratnya.
Melihat reaksi Ferro sekarang sangat menunjukkan bahwa laki-laki itu sangat tidak antusias dan tertarik. Ia bahkan menunjukkan wajah yang luar biasa bosan sehingga Ayla tidak memiliki pilihan apa-apa selain cemberut.
Mendapatkan hati Ferro tidak semudah yang di drama-drama. Perkelahian kecil yang akan menimbulkan perasaan suka bukanlah sesuatu yang akan dialaminya dengan Ferro. Yang ada laki-laki itu semakin tidak suka padanya.
Ayla hanya perlu menjadi perempuan yang pintar dan cantik. Seperti Amanda Bailey. Sayangnya Ayla tidak akan pernah menjadi seperti perempuan bertalenta itu. Dirinya tetaplah Ayla yang sederhana dan membosankan.
***
"Perasaan apa?" tanya Ayla balik dengan malas.
"Ferro menjadi tutormu."
"Biasa saja," jawab Ayla penuh kebohongan. Violet hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
Saat ini mereka berada di kamar Ayla. Sepulang sekolah Violet memutuskan untuk pulang sebentar ke rumahnya untuk mengambil beberapa kepentingan sebelum ikut ke rumah Ayla. Keadaan keluarga yang cukup hancur membuatnya tidak ingin berada di rumah dan memilih untuk menginap di rumah Ayla. Ayla dengan senang hati mengizinkan sahabatnya itu untuk menginap. Ia tahu bahwa Violet membutuhkan waktu untuk berpikir dan menenangkan diri.
"Kau bisa membuat Ferro jatuh cinta padamu selama kalian belajar bersama," ujar Violet.
"Seperti di drama-drama," ujar mereka secara bersamaan. Violet tertawa melihat kekompakan mereka. Sedangkan Ayla menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sambil menghela nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya dengan kasar.
"Ferro bukan laki-laki seperti di drama. Kau tahu itu, Violet sayang," sahut Ayla. Violet bertanya dengan ringan, "Jadi kau menyerah?"
Ayla menggeleng. "Aku tidak ingin menyerah sebenarnya. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Hanya perempuan sempurna seperti Amanda yang dapat meluluhkan hati sekeras batu seperti Ferro."
__ADS_1
Violet mengangguk setuju, "Amanda benar-benar luar biasa. Jika aku seorang lelaki, aku akan memilihnya sebagai pasanganku."
Ayla menatap Violet dengan kesal, "Tidakkah kau seharusnya berkata seperti, 'jangan menyerah, Ayla!' untuk menyemangatiku. Yakinkan aku bahwa aku juga bisa."
Violet menggeleng, "Aku ingin, tapi tidak bisa. Sainganmu adalah Amanda Bailey."
Ayla merengek sambil menenggelamkan wajahnya ke bantal. Violet benar-benar tidak bisa di harapkan mengenai masalah begini. Sahabatnya itu selalu menyatakan pernyataan menyakitkan yang sayangnya sangat benar. Ia memilih menusukkan pisau ke jantung Ayla lebih dulu daripada menyaksikan Ferro sendiri yang melakukannya. Ia lebih memilih menyakiti Ayla sebelum Ferro yang melakukannya. Teman yang luar biasa.
"Amanda tidak pernah menjadi sainganku, Violet. Dia sudah menang sejak awal. Aku pun sudah tertolak sejak awal."
"Nah itu kau tahu."
Teman sialan!
Violet ikut membaringkan tubuhnya di samping Ayla dan memandang ke atap kamar. Ia mendesah pelan sebelum berkata, "Aku akan kehilangan ayahku."
Ayla terdiam sesaat sebelum menjawab, "Ia masih ayahmu. Bagaimana pun juga ia tetap ayahmu."
Violet tersenyum miris. Air mata mulai keluar dari sudut matanya, "Aku tidak ingin mempunyai ayah yang menyakiti hati ibuku," bisiknya lirih.
Ayla memilih untuk diam. Tidak tahu harus berkata apa. Tapi Ayla memastikan bahwa ia akan membenci ayahnya juga jika ia berada di posisi yang sama dengan Violet. Sangat berat untuk menerima kenyataan bahwa pria yang paling kau cintai ternyata memiliki perempuan lain selain ibumu.
"Aku tidak tahu apa yang membuat ibu rela bertahan hingga bertahun-tahun."
"Dalam kasus seperti ini, biasanya seorang ibu rela menyakiti hatinya sendiri demi anak-anaknya," jawab Ayla. Ayla sudah sering mendengar pernyataan seperti itu dari berbagai media. Dan Ayla masih tidak menyangka bahwa yang akan mengalami posisi tersebut adalah ibu dari sahabatnya sendiri.
"Ibu tidak perlu melakukan itu untukku. Apa yang ia lakukan justru menyakiti hatiku. Aku terluka jika ibu juga terluka," isak Violet. Perkataan Violet kembali sukses membuat Ayla ikut menjatuhkan cairan bening dari matanya.
"Aku ingin merelakan ayah. Tapi sangat berat." Ayla mengerti, Violet. Bagaimana pun juga ia tetaplah seorang ayah.
Ayla menepuk bahu Violet dua kali untuk menenangkannya. "Aku yakin kau bisa melewati hal ini, Violet."
"Aku yakin badai ini pasti akan berlalu."
To Be Continue
__ADS_1