Sekotak Bekal Untukmu

Sekotak Bekal Untukmu
Chapter 3


__ADS_3

Sekembalinya Ferro setelah kejadian hantaman kotak pensil, lelaki itu hampir terdiam di sepanjang jam pelajaran berlangsung. Hanya menjawab saat guru bertanya, itupun dengan jawaban yang sangat singkat. Ferro yang cerewet jika menyangkut pelajaran berubah menjadi orang yang irit kosakata.


Dan di sepanjang waktu itulah Ayla tidak berhenti memandangi Ferro. Biasanya, Ferro selalu memergoki Ayla yang memandanginya dengan dagu ditopang. Kali ini, entah Ferro sadar atau tidak, ia sama sekali tidak ingin melirik ke arah Ayla. Sedikit pun. Dan Ayla benar-benar diliputi perasaan bersalah.


"Aku sudah tidak tahan lagi!" ucap Ayla tiba-tiba. Violet berhenti mengemas barang-barangnya dan menatap Ayla dengan alis mengerut, "Kenapa?"


Mata Ayla menatap sedih pada bangku Ferro yang sudah kosong. Lelaki itu langsung keluar seketika Mr. Payne, guru kesenian mereka, melangkah keluar kelas. Sama sekali bukan dirinya yang biasa. Bahkan Ferro membereskan peralatan tulisnya dimenit ke-5 sebelum bel pulangan berbunyi. Kemana perginya Ferro yang selalu menjadi orang terakhir pulang? Terlebih lagi dia adalah ketua kelas hingga ka selalu memastikan kelas yang ditinggalkan sudah kosong dan aman. Kesalahan Ayla benar-benar merubah semuanya.


"Aku tidak tahan didiamkan begini terus," ujar Ayla gemas dengan tingkah Ferro. Ferro yang berdiam diri jauh lebih menyebalkan daripada Ferro yang hobi mengomel dengan ucapannya yang sarkas. Violet menatap Ayla lucu, "Bukankah biasanya kalian memang saling mendiamkan?"


"Katamu, kalian adalah orang asing yang kebetulan berada di kelas yang sama," sambungnya. Ayla berdecak kesal. Repot sekali mempunyai sahabat yang terlalu jujur. Terlebih lagi kejujurannya membuatmu patah hati. Seperti ditusuk ribuan jarum raksasa."Jangan diperjelas."


Violet tertawa sambil menyandang tasnya ke kedua bahunya. "Tapi aku benar, bukan? Seharusnya kau tidak perlu merasa kehilangan seperti itu. Seolah-olah dia kekasihmu saja."


Ayla membalas dengan mengerucutkan bibirnya, "Ya, kan aku berharapnya seperti itu."


Violet menjentik dahi Ayla. Sedangkan Ayla mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap tempat yang menjadi sasaran jari lentiknya Violet. "Aduhh.. Sakit."


"Kau berlebihan," cibir Violet. Ayla membalas dengan melototkan mata, "Ini memang sakit, Violet!"


Ayla selalu iri pada Violet yang memiliki badan seperti Barbie. Ia berkaki jenjang dengan tubuh yang ramping. Lebih mendekati kurus. Terlihat sangat rapuh sehingga orang-orang tidak akan menyangka bahwa ia memiliki kekuatan yang tidak main-main. Termasuk jentikannya. Entah bagaimana jari kurus nan panjang itu bisa menghasilkan rasa sakit yang tiada duanya.


"Aku harus minta maaf pada Ferro."


"Sekarang?" tanya Violet. Ayla menangguk. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan maaf dari Ferro. Baru beberapa jam diabaikan lelaki itu, Ayla sudah kalang kabut. Seolah-olah mereka berteman baik. Padahal ketika masih SD hanya ada percekcokan tentang hilangnya buku Ayla yang menjadi percakapan mereka. Ketika SMP lebih parah lagi, tidak sekalipun mereka bertegur sapa. Bahkan hanya dengan melempar senyum sopan pun tidak.


"Kau yakin? Bukankah dia sudah pulang?"


"Ini hari senin, Violet. Pastilah Ferro sedang berlatih di lapangan basket." Violet bertepuk tangan dengan wajah takjub yang dibuat-buat. Dasar Ayla. Ia nyaris selalu tahu kegiatan Ferro setiap harinya disaat jadwal pelajarannya saja ia tidak hapal. "Kau benar-benar bucin sejati."


Ayla hanya menggidikkan bahunya lalu pergi ke luar kelas. Menuju lapangan basket yang ia tebak terdapat Ferro di sana.


Seperti yang ia yakini, Ferro sedang bermain basket sendirian di sana. Ia berulang kali melakukan dribbling sebelum menembak ke keranjang sambil melompat. Ferro tampak begitu tampan dengan keringat yang mengalir di pelipisnya. Ayla sempat terpana sesaat sebelum mendengar sahutan dari arah belakang tubuhnya.


"Ferro!" Ferro menoleh ke arah Ayla. Tepatnya belakang Ayla. Ayla tidak melepaskan tatapannya dari Ferro. Ayla bersumpah bahwa Ferro juga membalas tatapannya.


Ferro mengangkat sedikit sudut kiri bibirnya. Ia melangkah dengan gagahnya ke arah Ayla. Ayla menautkan kedua tangannya ke depan dada. Saling meremas karena gelisah.


"Ferro... A..Aku.." Ucapan Ayla terpotong. Ferro tidak kemari untuknya. Ferro tidak mendatanginya. Seolah-olah tidak melihat Ayla yang ada di hadapannya, lelaki itu berjalan melewati Ayla dengan santainya. Bahkan bahu Ayla sempat bertabrakkan dengan lengan atas Ferro.


Ayla membalikkan badannya dan berniat kembali memanggil Ferro. Ia mengurungkan keinginannya karena melihat Ferro juga mengacuhkan Max yang sejak tadi ada di belakang Ayla dan memanggil Ferro.


"Sepertinya dia benar-benar marah," sahut Max pelan setelah mengambil beberapa langkah dan berdiri di depan Ayla. Ayla mengangguk pelan. Ekspresi sedihnya benar-benar tidak bisa di sembunyikan lagi. "Kita harus bagaimana?"


"Well, kita coba saja lagi besok. Bagaimana?" Ayla kembali mengangguk. Menyetujui. "Baiklah, kalau begitu aku akan pulang sekarang."


"Biarkan aku yang mengantarmu." Ayla menatap Mex heran dengan sebelah alis yang terangkat. Mengerti apa yang dipikirkan Ayla, Max mengangkat tangannya dan mencoba menjelaskan. "Ohoo Easy, girl."


"Aku hanya ingin kita membicarakan rencana kita untuk Ferro. Jangan berpikir macam-macam. Kau kira aku tertarik denganmu?" Ayla menatap Max garang dengan mata menyipit, "Aku juga tidak tertarik denganmu!"


"Bagus, kalau begitu." Max meraih sebelah tangan Ayla dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Ayo pulang," ujarnya santai sambil menyeret Ayla yang berusaha keras melepaskan cengkraman Max. "Lepaskan dulu tanganku, Max!"


"Kenapa? Kau baper, ya?" Ujar Max dengan nada geli. Alisnya ia naik-turunkan untuk menggoda Ayla. Sedangkan gadis itu hanya menatapnya masam. "Kau takut jatuh cinta padaku, Ayla?"


Plak!


Ayla sukses memberikan tepukan kuat pada pipi kiri Max dengan tangannya yang bebas. Max mengaduh kesakitan. Tak butuh waktu yang lama, ia melepaskan cengkramannya di pergelangan tangan Ayla dan menggantinya dengan menyentuh pipi miliknya yang digampar Ayla. "Kau ini kasar sekali. Seperti gorila."


"Apa katamu?!" Tanya Ayla sambil mengancungkan tinjunya. Beri ancaman pada Max jika ia mengatakannya sekali lagi, maka tangan kecil Ayla akan melayang ke arahnya.


"Badanmu kecil, tetapi kekuatanmu sangat kuat. Seperti gorila! Kau seperti gorila, Ayla! Aku yakin bahwa kau sebenarnya bukan..." Ucapan Max terputus karena tangan Ayla sudah berada di rambut indahnya. Mencengram kuat dan menjambaknya membabi buta. "Kau bilang aku apa tadi? Gorila?! Rasakan kekuatan gorila yang ada di dalam tubuhku!"


"Argg... Sakit! Ayla hentikan! Ayla!" Ayla mengabaikan ucapan Max dan tetap melanjutkan aksinya. Bagaimana pun juga, Ayla tetaplah seorang perempuan. Dengan badan yang kecil dan pendek, Ia sama sekali tidak ada tandingannya dengan Max yang jangkung dan memiliki kaki panjang seperti burung onta. Sehingga Max dapat dengan mudah melepaskan cengkraman Ayla di kepalanya dan melarikan diri sambil teriak, "GORILA!"


"BERHENTI KAU, MAX!" balas Ayla berteriak sambil berlari mengejar Max.


Sedangkan Ferro menatapi mereka dari kejauhan dengan pandangan yang tidak terbaca.


***


Seperti yang telah di katakan oleh Max, ia akan mengantar Ayla pulang. Dan itu memang benar. Di sepanjang perjalanan, Ayla tidak melepaskan cengkramannya pada rambut Max yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Max mencoba menutup-nutupi wajahnya dengan buku karena pandangan aneh dari penumpang bus yang sedang mereka naiki.


"Apa kau benar-benar tidak berniat melepaskan tanganmu dari rambutku, Ayla? Kau tidak melihat bagaimana cara mereka memandang kita?" Ayla terkikik geli. "Tidak, Max."


Max Hamilton ikut tertawa kecil. Ia mengalihkan buku tersebut dari wajahnya untuk menutupi wajah Ayla. "Biar kau tak terlalu malu."


Setelah beberapa saat bercanda sambil tertawa geli karena mengatai penumpang lain yang menurut mereka aneh -dengan tangan Ayla yang tetap tidak mau lepas- mereka akhirnya tiba di halte bus dekat rumah Ayla. Mereka berjalan berdampingan sambil bergurau ria menuju rumah Ayla yang tidak jauh dari sana.


"Kau sudah SMA, kenapa masih sependek ini?" Tanya Max dengan nada mengejek. Tangannya ia letakkan pada pucuk kepala Ayla dan menggesernya ke arah dadanya. "Lihat, kau hanya sedadaku."


Tangan Ayla terulur mencubit lengan kanan Max. "Jangan bertingkah menyebalkan, Max!"


Max mengangguk. Mengucapkan kata maaf sambil meringis kesakitan yang jelas dibuat-buat. Padahal Ayla tidak menyubitnya sekuat itu. Mereka akhirnya tiba di depan rumah Ayla yang minimalis dan bersih. Max memandang rumah Ayla dengan tatapan takjub, "Rumahmu terlihat sangat nyaman untuk di tinggali. Kau beruntung."


Ayla tersenyum geli, "Tidak seberuntung dirimu karena rumahmu jauh lebih besar dan mewah. Seperti istana."


Max meringgis mendengar ucapan Ayla. Agak berlebihan tapi memang benar. Max itu anak dari arsitek yang sangat-sangat kaya. "Kalau begitu menikahlah denganku kelak. Maka kau akan mendapatkan rumah yang besar."


Ayla merespon candaan Max dengan mata melotot, "Kau kira aku perempuan seperti apa? Aku tidak bisa dibungkam dengan harta."


"Aku tahu, Ayla. Aku tahu." Max tertawa sambil mengangguk. "Masuklah. Sudah waktunya untukmu beristirahat."


"Kau ingin mampir terlebih dahulu?" Tawar Ayla. Max menggeleng, "Lain kali saja."


Ayla mengangguk dan tersenyum pada Max. "Terima kasih sudah mengantarku pulang dengan selamat. Hmm.. Hati-hati di jalan, Max." Max balas tersenyum dan mengucapkan terima kasih kembali sebelum pergi meninggalkan rumah Ayla.


Sedangkan Ayla yang sudah tiba di rumah tidak langsung masuk ke kamar tidurnya. Ia terlebih dahulu menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Di dapur yang selalu Ayla gunakan untuk memasak terdapat ayah dan ibunya yang sedang mengobrol santai sambil meminum teh. Ayla datang menghampiri lalu mencium kedua pipi mereka.


"Bagaimana harimu disekolah, Ayla?" tanya ayah. Ayla mengambil biskuit coklat buatannya di dalam toples dan memakannya. Tangan kanannya terulur meraih cangkir teh milik ayahnya yang isinya tinggal setengah. Lalu Ayla meneguknya hingga tidak bersisa. "Baik, ayah."


'Buruk. Ferro marah besar padaku dan Max.'

__ADS_1


"Baguslah, ayah lihat tadi kau pulang dengan seorang lelaki. Pacarmu ya?" Jika Ayla masih mengunyah biskuit, ia pastikan bahwa dirinya berpotensi meninggal karena tersedak. "Tidak ayah. Dia Max Hamilton. Hanya teman."


"Mau lebih dari teman pun tidak masalah," sahut ibunya menggoda. Ayla bergidik ngeri membayangkan bahwa ia akan menjalin hubungan dengan Max. Bukannya Ferro.


"Sudahlah, aku ingin menuju ke kamarku dulu," pamit Ayla sambil meraih satu keping biskuit. Ia setengah berlari menuju kamarnya dengan kepingan biskuit yang berada di antara bibirnya.


Setelah tiba di kamarnya yang serba berwarna pastel, ia melemparkan tasnya kesembarang arah. Ayla melemparkan tubuhnya ke atas kasur queen size sambil mengerang kenyamanan. Matanya tiba-tiba terasa begitu mengantuk. Rasanya ia memilih untuk langsung tidur saja tanpa mengganti seragam sekolahnya.


I don't know why


You said goodbye


Just let me know you didn't go


Forever my love


Alunan lagu lawas favorit Ayla berbunyi di balik saku roknya. Dengan gerak malas ia meraih handphone nya dan melihat siapa yang menghubunginya sore-sore begini.


Max Hamilton.


Alih-alih mengangkatnya, Ayla memilih untuk tetap mendengarkam suara Dan Byrd yang menyanyikan lagu dengan judul Boulevard


Please tell me why


You make me cry


I beg you please I'm on my knees


If that's what you want me to


Jika remaja pada umumnya eelalu mencoba untuk tetap update dengan lagu-lagu keluaran terbaru, maka Ayla adalah sebaliknya. Ayla adalah penggemar lagu-lagu lawas. Apa yang didengarkan oleh Ayla 90% adalah lagu-lagu yang tidak di kenali oleh teman-temannya. Dan Ayla tidak masalah dengan hal itu. Ia benar-benar mencintai lagu jadul.


Setelah merasa cukup mendengar suara Dan Byrd, ia akhirnya mengangkat panggilan dari Max. "Ya, Max?"


"Aku ingin bilang, jangan lupa bersiap-siap lebih cepat. Kita akan pergi menuju rumah Ferro pagi-pagi."


"Hmm.." jawab Ayla dengan malas. Ia tetap berbaring tengkurap di atas kasur dengan mata yang terpejam. Ayla hanya meletakkan handphone-nya begitu saja di dekat telinganya.


"Ayla, kau dengar aku?" tanya Max. Ayla menyahut dengan lirih "Iya.."


"Maaf Max, tiba-tiba saja mataku terasa berat. Aku mengantuk."


"Baiklah-baiklah, nikmati tidurmu."


"Hmm.."


"Jangan lupa mandi, badan kecilmu itu mengeluarkan bau yang cukup untuk membuat 10 orang pingsan karenanya."


Tiiit


'Max sialan!' makinya dalam hati

__ADS_1


Ayla memejamkan matanya dan membiarkan mimpi mengambil alih dirinya.


To Be Continue


__ADS_2