
Karena terlarut dengan cerita-cerita yang terus bergilir hingga tengah malam, Ayla terbangun heboh saat matahari sudah muncul cukup tinggi. Ia menyaksikan sendiri bahwa sahabatnya hanya duduk di kursi baca sambil menatap ke arahnya dengan pandangan bosan.
Violet sudah tampil rapi dengan seragamnya. Bahkan Ayla melihat dengan jelas ransel Violet yang berada di punggungnya. Pertanda bahwa ia sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
Sedangkan Ayla berpenampilan sebaliknya. Wajah bangun tidurnya terlihat sangat jelas dengan rambut yang acak-acakan. Belum lagi piyama pink dan bandana berwarna serupa yang melekat di tubuhnya.
"Sudah jam berapa sekarang?" desak Ayla. Violet mengendus sebal sambil memutar bola matanya sebelum menjawab, "Jam berapa pun sekarang, yang pasti kita sudah telat ke sekolah."
Ayla langsung melompat menuruni kasur dan berlari ke arah kamar mandi sambil berteriak, "Kenapa tidak membangunkanku sedari tadi?!" Lalu membanting pintu kamar mandi.
"Aku sudah membangunkanmu sejak berjam-jam yang lalu! Kau bilang ingin mengajariku di dapur. Tau-taunya malah tidur nyenyak seperti ****!" balas Violet dengan kesal.
Kemarin sepulang sekolah, ia dan Ayla sudah berbelanja banyak untuk mengajari Violet bereksperimen di dapur. Violet sudah berekspektasi tinggi bahwa ia akan berhasil membuat makanan-makanan cantik nan lezat seperti yang selalu Ayla lakukan. Karena guru memasaknya agak teledor hingga tidak bangun-bangun walaupun Violet berteriak di dekat telinganya, ia gagal mendapat kelas memasaknya hari ini. Apesnya lagi mereka terlambat ke sekolah.
Setelah menunggu Ayla bersiap-siap dengan kecepatan kilat, mereka berhasil tiba di sekolah setelah 30 menit. Walaupun sudah mandi, penampilan Ayla sama sekai berbeda dengan sahabatnya. Rambutnya masih lembab dan agak berantakan. Wajahnya tidak dipolesi apapun hingga menampilkan kulit pucatnya. Bahkan baju kemejanya tidak dimasukkan ke dalam.
Satpam sekolah berbadan gemuk dan berkumis tebal menyuruh mereka untuk berdiri di bawah tiang bendera sambil hormat. Ayla dan Violet tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya.
Belum ada lima menit mereka menjalani hukuman, Ayla sudah mulai mengoceh dengan nada lesu, "Sepertinya aku tidak sanggup melakukan ini selama tiga puluh menit."
Violet melirik ke arah Ayla sebentar sebelum kembali mengalihkan fokusnya pada bendera yang berkibar. "Stt.. Diamlah. Mrs. Brown sedang berjalan ke arah sini," bisiknya.
Ayla melirik ke arah guru matematika -nya itu yang kebetulan juga sedang menatapnya tajam. Ia melangkah ke arah Ayla dengan ke dua tangan yang berkacak pinggang. Matanya yang melotot membuat Ayla tahu bahwa ia akan diomeli lagi oleh wanita itu.
"Kau terlambat lagi, Aira?!" Ayla meringis, "Ayla, Ma'am," koresksinya. Violet melototkan matanya mendengar Ayla yang sama sekali tidak takut mengoreksi kesalahan seorang guru. Ia menyikut pelan pinggang Ayla dan memberi tatapan 'diam saja!' kepada sahabatnya itu.
Ayla yang melihat Violet sama sekali tidak berpihak dengannya langsung mengerucutkan bibirnya. Bagaimanapun juga Mrs. Brown harus tahu identitasnya dengan jelas. Jangan sembarangan menyebut nama orang. Kasihan orang tuanya yang bersusah payah menemukan nama cantik untuk putri semata wayangnya, tapi malah digonta-ganti dengan nama yang lain.
"Aku tidak peduli!" Bentakan Mrs. Brown selalu berhasil membuat Ayla terperanjat kaget. Walaupun ia sudah menebak bahwa kalimat itulah yang akan keluar dari mulut Mrs. Brown setiap ia mengoreksi kesalahan gurunya itu.
Suara nyaringnya sukses membuat Ayla merasa tambah pusing. Sial sekali dia hari ini. Sudah telat bangun, penampilan berantakan, tidak sarapan, dibentak pula.
"Apa kau sama sekali tidak berminat ke sekolah, Aira?"
'Ayla! Namaku A-Y-L-A!' jerit sang pemilik nama dalam hati.
"Saya minat bersekolah, kok."
"Lalu apa yang akan kau jadikan alasan untuk penampilan berantakanmu ini?" omelnya sambil melihati Ayla dari ujung kaki hingga kepala. 'Aku tidak semenjijikkan itu!'.
"Saya terlambat bangun. Tidak ada waktu untuk memperbaiki penampilan. Saya tidak ingin terlambat lebih dari ini," ujar Ayla sedikit bangga. Mencoba menunjukkan bahwa ia hanya peduli pada sekolah. Bukan penampilan. Walaupun sebenarnya ia bukan orang begitu. Ayla jelas tidak terlalu suka sekolah dan tidak hobi belajar. Ucapan yang ia lontarkan jelas hanya untuk mencari muka saja.
"Itu artinya kau tidak berminat ke sekolah, Aira! Bagaimana bisa kau membiarkan dirimu terlambat bangun di saat kau sendiri tahu bahwa besok kau harus sekolah?! Dasar pemalas!"
Ayla menelan ludahnya. Skak mat!
__ADS_1
"Violet, kau tetap dihukum berdiri di sini selama 30 menit. Sedangkan Aira harus membersihkan lapangan hingga waktu hukuman kalian selesai. Anda mengerti itu, Aira?!"
Ayla!
"Tapi, Ma'am," ucapan Ayla terputus saat Mrs. Brown mengangkat sebelah tangannya. Pertanda bahwa ia tidak ingin dibantah. "Keputusanku sudah bulat. Sekarang kerjakan hukumanmu." Lalu wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Violet dan Ayla yang sedang memaki-maki dalam hati.
"Wow, aku mengagumi kesialanmu hari ini, Ayla," ujar Violet dengan nada takjub yang dibuat-buat. Ayla mengendus kesal dan melengos begitu saja meninggalkan Violet yang tertawa cekikikan melihat penderitaan sahabatnya.
Ayla tidak punya pilihan lain selain menjalankan hukumannya dengan hati yang jengkel. Jadi di sinilah ia saat ini. Berkeliling di tepi lapangan dan memungut apapun yang bisa ia pungut. Mulai dari sampah, dedaunan, bahkan pena yang masih terlihat baru. Ia membuang benda-benda yang telah dipungutnya ke dalam tempat sampah terdekat. Kecuali pena baru yang ia temukan. Ayla memasukkan benda itu ke dalam saku roknya. Lumayan untuk menambah harta benda.
Belum ada lima belas menit ia mengerjakan hukuman, ia sudah merasakan pusing luar biasa di kepalanya. Belum lagi pandangannya yang bergoyang, seolah-olah sedang gempa bumi. Hal terakhir yang dilihat Ayla adalah Violet yang berlari kecil ke arahnya sambil menyerukan namanya. Sebelum semuanya terlihat gelap.
"Ayla!"
***
Ketika ia membuka mata, Ayla menyadari bahwa ia masih di dalam dunia mimpi yang indah. Ayla sedang berbaring cantik di atas rumput hijau yang segar. Di sekelilingnya terdapat pepohonan, bunga-bunga dan burung-burung yang berterbangan ke sana kemari. Pemandangan yang sangat indah. Tapi keindahan itu terkalahkan oleh sesosok lelaki tampan di atasnya yang terus menatapinya dengan seksama.
"Pangeran berkuda," gumam Ayla. Lelaki itu tersenyum manis sebelum membalas dengan perkataan yang sukses membuat Ayla melayang hingga langit ke tujuh.
"Ya, tuan putri. Aku pangeran berkuda putih-mu." Ayla tersenyum lebar. Akhirnya! Akhirnya! Sesuatu yang sudah menjadi impian Ayla sejak kecil sedang terjadi saat ini.
"Ya Tuhan, tampan sekali," lirih Ayla. Pangeran itu kembali membalas dengan senyuman manisnya sebelum berkata, "Aku tahu,"
"Apa kau datang untuk mempersuntingku, pangeran?" tanya Ayla penuh harap sambil menatap dalam ke arah manik mata gelap itu. Senyuman pangeran yang manis di gantikan dengan seringai yang licik.
"Awwwh!" teriak Ayla sambil menutupi dahinya yang ia yakini telah terkena jentikan yang rasanya cukup menyakitkan. Ia terus meringis kesakitan sambil mengusap dengan mata yang terpejam.
Ketika Ayla membuka matanya semua pemandangan yang ia lihat tadi -pepohinan, rumput, dan bunga-bunga- tergantikan oleh ruangan kecil berwarna putih dengan bau obat yang cukup menyengat. Sedangkan pangeran tampan dengan senyuman manis digantikan oleh ketus kelasnya dengan seringai yang terlihat jelas di wajah rupawan itu.
"Kau?! Bagaimana bisa kau di sini?!" Desak Ayla sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari sesuatu
"Kenapa memangnya? Mencari pangeran berkudamu?" Ujar Ferro dengan nada yang meremehkan. "Kau sudah besar. Tapi impianmu tidak berubah sejak Sekolah Dasar."
Ayla cemberut mendengar ejekkan lelaki yang sayangnya sedang ia taksir. Bukan hanya karena lelaki itu mempunyai mimpi yang jelas dan berkualitas artinya ia boleh meremehkan mimpi sederhana Ayla sejak ia berumur enam tahun.
Memori masa kecil Ayla kembali terngiang di kepalanya.
"Anak-anak hari ini kita akan berbicara tentang cita-cita. Apakah kalian sudah tahu ingin menjadi apa di masa depan nanti?"
"Tau!" Teriak semua teman sekelas Ayla. Sedangkan Ayla tidak termasuk ke dalam golongan 'orang yang mempunyai rencana masa depan' seperti teman-temannya. Ia hanya diam dengan tenang di bangkunya. Mendengarkan teman-temannya yang sibuk menjelaskan kelak ingin menjadi apa.
"Miss, aku ingin menjadi guru. Aku ingin mengajar agar murid-muridku menjadi orang yang cerdas." Namanya Tara. Perempuan bertubuh tambun itu tidak diragukan lagi kepintarannya. Ia pesaing sejatinya Ferro di sekolah. Tidak heran ia memiliki cita-cita yang mulia sebagai guru.
"Aku ingin menjadi polisi! Membantu menangkap penjahat yang merugikan orang-orang!" Ujar Adrian dengan menggebu-gebu. Laki-laki dengan kulit coklat manis itu baru saja mengalami kemalingan di rumahnya beberapa waktu yang lalu. Ia menangis hingga tidak bersekolah hampir seminggu karena kehilangan PlayStation kesayangannya.
__ADS_1
"Aku ingin menjadi dokter. Menyuntik dan mengobati orang-orang adalah pekerjaan yang hebat." Kedua orang tua Emma juga seorang dokter. Ia sudah familiar dengan hal-hal yang berbau kesehatan hingga Ayla merasa ngeri sendiri ketika melihat temannya itu mengobati kakak kelas yang terjatuh hingga mendapat luka yang penuh darah.
"Kalau aku ingin menjadi detektif." Semua orang bertepuk tangan mendengar cita-cita tak biasa yang dilontarkan oleh Ferro. Impian yang langka dan terdengar sangat keren ditelinga anak Sekolah Dasar berusia enam tahun seperti Ayla dan teman-temannya.
Ayla tahu dengan jelas seberapa obsesinya Ferro dengan hal-hal misterius yang bisa dipecahkan oleh seorang detektif. Lelaki itu memikiki semua buku tentang Sherlock Holmes yang digilainya. Orang sekeren Ferro pasti akan terlihat sangat menawan dengan pakaian ala-ala detektif yang sering Ayla lihat di televisi.
"Jika tidak bisa jadi detektif, hanya menjadi presiden pun tak apa," sambung Ferro yamg kembalu disambut oleh tepuk tangan dari teman-temannya.
'Hanya' katanya? Seolah-olah menjadi presiden itu bukanlah hal yang besar. Manusia sekelas Ferro memang tidak ada tandingannya.
"Nah, Ayla, sekarang giliranmu menceritakan cita-citamu."
"Hmm.." Gumam Ayla pelan. Keringatnya meleleh dari pelipis ketika menyadari semua mata tertuju pada dirinya. Menanti suara Ayla yang menceritakan impiannya.
"Aku.. Tidak tahu ingin menjadi apa." Cicit Ayla. Tidak ada satupun yang merespon ucapan Ayla. Semuanya hanya diam dengan mata yang tidak lepas memandanginya.
Ia bukan Tara yang pintar hingga dengan mudah menentukan cita-cita. Ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjadi guru.
Ia juga bukan seperti Adrian yang menemukan cita-citanya dari pengalaman buruk yang telah dialaminya. Pengalaman terburuk Ayla tidak lebuh buruk dari terjatuh ketika belajar naik sepeda.
Ayla juga bukan seperti Emma yang ingin menjadi seperti orang tuanya. Ayah Ayla bukanlah orang kaya dengan segudang prestasi. Ia hanya karyawan biasa yang kebetulan bekerja disalah satu perusahaan besar. Ayla jelas tidak ingin seperti ayah yang kerjanya datang ke kantor pagi-pagi dan pulang disore hari. Membosankan.
Tapi Ferro menemukan keinginannya menjadi detektif karena tokoh yang ia suka. Apa mungkin Ayla akan menemukannya jika ia memikirkan tokoh yang ia sukai?
"Aku ingin menjadi..." Ucap Ayla terputus sambil membayangkam seseorang yang selalu menghantui kepalanya beberapa saat terakhir.
"Aku ingin menjadi seorang putri dengan segudang gaun yang cantik dan istana yang megah." Lanjut Ayla bersemangat. Oh, anak perempuan mana yang tidak pernah bermimpi seperti Ayla?
Ayla sempat tersenyum bangga ketika ia berpikir bahwa ia mempunyai mimpi yang tidak kalah keren dengan Ferro. Tetapi senyum itu pudar ketika ia menyadari teman-temannya menertawakan impian yang baru ia dapatkan beberapa saat lalu.
"Setelah itu apa? Kau ingin bertemu dengan pangeran tampan dan hidup bahagia selamanya?" Ledek Adrian.
Ayla mengangguk ragu. Ia tidak ragu dengan impian bertemu seorang pangeran. Tapi ia takut kembali ditertawakan oleh teman-temannya.
"Semua anak perempuan menginginkan itu, bukan?" Tanya Ayla polos. Dan dibalas gelengan oleh teman-temannya. Sesekali mereka memberi komentar yang sedikit menyakiti hati Ayla.
Hey! Memangnya apa yang dipikirkan anak berusia enan tahun terhadap masa depannya?
Ayla terperanjat kaget dan keluar dari bayangan masa lalu saat Ferro menjentikkan tangannya di depan wajahnya.
"Apa yang kau pikirkan, Ayla? Sampai melamun seperti itu." Ayla tersenyum kecil, "Hanya bernostalgia dengan masa lalu."
Ferro kembali menyeringai. Sudah berapa kali manusia di hadapannya itu melakukan hal itu? Sebelumnya Ayla tidak pernah menemukan Ferro menyeringai sebanyak hari ini.
"Apa kau sudah selesai dengan urusan masa lalumu?" Sebenarnya Ayla ingin melakukannya lebih lama lagi. Tapi akan menjadi kurang ajar jika ia menuruti keinginan bodohnya itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kita mulai belajar matematika-nya. Aku adalah gurumu saat ini, Ayla. Hormati aku," ujar Ferro sambil meletakkan buku-bukunya di atas pangkuan Ayla.
Seriously, Ferro? Di saat Ayla baru saja terbangun dari peristiwa pingsannya?