
Olimpiade kian dekat, persiapan-persiapan kini mulai diketatkan. Sebagaimana jam bimbingan Desta dan Sema yang semakin diperpanjang, pula semakin padat. Meninggalkan jam pelajaran dengan bergelut pada buku-buku tebal penuh materi.
Sema menghela napas, sudah seminggu tidak pernah mengikuti jam pelajaran lantaran harus bimbingan, sudah seminggu pula ia jarang bertemu dengan Haru. Hanya sesekali melakukan panggilan video di malam hari, itupun terkadang berakhir Sema yang ketiduran lantaran kelelahan.
Belum lagi nasib ketinggalan catatan, Sema tidak suka sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi? Olimpiade juga membantunya mendapat beasiswa kelak.
"Ibu ada kelas, kalian berdua belajar mandiri ya?" Ucap guru pembimbing. Desta dan Sema mengangguk. Lantas guru itu segera merapikan bukunya untuk mengajar. Sudah percaya pada Sema dan Desta.
Sebenarnya bukan hanya Fisika dan Geografi saja yang dilombakan. Ada juga olimpiade debat kelompok, namun pelatihannya sengaja dipisah. Sudah berbeda tujuan, untuk Desta dan Sema butuh ketenangan. Sedangkan untuk olimpiade debat, bukankah mereka harus pintar bicara untuk menang?
Untuk tempat lomba juga berbeda, Sema dan Desta mewakili provinsi ke tingkat nasional. Jadilah mereka harus keluar kota karena tempat pelaksanaan lomba berada diluar kota mereka.
"Desta!" Panggil Sema yang mulai pusing dengan sederet kalimat-kalimat dan istilah-istilah. Otaknya butuh hiburan, perutnya butuh makan. Seminggu ini pula setidaknya Sema dan Desta sudah saling mengenal. Sudah ke tahap saling memiliki nomor untuk memudahkan komunikasi, selebihnya... Tidak ada. Mungkin hanya sebatas teman olimpiade saja.
Desta mendongakkan kepalanya menanggapi panggilan Sema. Anak itu irit bicara, jadi Sema sudah tau sekarang saatnya bicara. Tak perlu menunggu Desta menjawab, pemuda itu kebanyakan memakai bahasa tubuh untuk merespon.
"Ke kantin yuk? Beli makan. Gue laper." Ajak Sema, sekedar basa-basi sebenarnya, pun biar Desta tau kalau Sema ingin ke kantin. Sudah seminggu sering bersama, seminggu pula Sema tau Desta itu tak mudah diajak ke kantin. Lambungnya mungkin hanya makan dari rumus-rumus yang Desta baca. Mengerikan kalau sampai benar.
Desta terdiam sejenak, sebelum kemudian menutup bukunya. Menatap Sema lagi sembari mengangguk.
Hey, tunggu!
"L-lo nggak nolak?" Tanya Sema saking terkejutnya sampai terbata. Desta memicing, bingung tentu saja. Alisnya naik sebelah. "Gue laper." Ucapnya seadanya tapi cukup agaknya untuk menjawab semua pertanyaan tidak berguna Sema. Memilih berjalan terlebih dahulu, Desta tak peduli Sema yang masih mematung beberapa saat sebelum melangkah juga.
Sema telah sampai di kantin, mendapati Desta telah terlebih dahulu memesan makanan. Pemuda itu membawa nampan menuju meja terdekat. Tidak ada meja khusus bagi Desta, ia juga jarang ke kantin. Disusul Sema yang memesan juga, ia ragu membawa nampan menuju tempat Desta duduk. Tapi tidak mungkin juga ia duduk berjauhan dari Desta. Aneh saja terlebih kantin sepi karena jam pelajaran masih berlangsung.
"Gue boleh duduk disini?" Tanya Sema yang berdiri di depan Desta, pemuda itu mengangguk cepat tanpa menoleh. Ia masih fokus pada makanannya.
Sema akhirnya mengambil tempat duduk di depan Desta. Keadaan canggung, namun sepertinya hanya bagi Sema, sebab Desta tak peduli. Fokusnya menghabiskan makanan lalu kembali ke perpustakaan.
"Kita berangkat besok ya?" Tanya Sema, ia mulai memakan makanannya perlahan. Desta mengangguk sebagai respon, walaupun ia tahu Sema hanya basa-basi. Jelas-jelas tadi guru pembimbing sudah mengingatkan bahwa besok mereka akan berangkat ke luar kota.
Tiga hari, terhitung dari hari Senin mereka berangkat.
Keadaan kembali hening, tak ada yang membuka suara. Keduanya kini fokus pada makanan masing-masing.
__ADS_1
Interaksi macam apa ini?
...****************...
Pukul tujuh malam, tak seharusnya Sema terus memaksakan diri setelah seminggu berjuang dengan materi. Besok adalah keberangkatannya bersama Desta keluar kota, ini bukan pertama kalinya bagi Sema mengikuti olimpiade. Tapi tetap saja rasanya mendebarkan. Sema yakin ia tidak akan bisa tidur malam ini.
Sema meregangkan tubuhnya di kursi belajarnya. Ia menutup buku-bukunya untuk bersantai sejenak. Sebenarnya ia juga sudah menguasai materi, tadi itu hanya formalitas saja. Membuka-buka buku acak sebab tak tahu harus berbuat apa.
Di kala kegiatannya, pintu kamar terbuka dari luar membuat Sema menoleh. Ia memberikan pandangan bingung kala melihat kepala Mama nya menyembul di balik pintu. Mama nya terlihat rapi, katanya tadi sih mau kondangan bersama Papa.
"Mama sama Papa pergi dulu ya dek, jangan begadang loh." Ucap sang Mama. Sema mengangguk, untuk masalah keperluan Sema selama olimpiade sudah ia siapkan bersama sang Mama sore tadi.
"Hati-hati ya Ma." Ucap Sema sembari tersenyum. Mama Sema mengangguk. Sesaat kemudian sang Mama melenggang. Setelahnya terdengar bunyi mobil meninggalkan pekarangan rumah tanda kedua orang tua Sema telah berangkat.
Sema menghela napas, ia memilih turun ke bawah, mengambil cemilan acak lalu membawanya ke ruang televisi. Jujur saja Sema agak takut sendirian di kamar. Jadilah ia memilih di ruang televisi saja, daripada bingung harus berbuat apa.
Tak lama sejak Sema menonton televisi, bunyi bel pintu membuat atensi nya teralih. Alisnya tertaut, tidak mungkin orang tua nya pulang secepat ini. Lagipula jika orang tua nya kembali untuk mengambil sesuatu tidak perlu menekan bel, mereka kan memiliki kunci. Pemikiran tersebut tentu membuat Sema was-was. Jarang sekali ada tamu di malam hari.
Ya, jarang.
"SEMA!" Sema terkejut dengan Haru yang memanggilnya tepat saat Sema membuka pintu.
"Tumben dateng malem-malem?" Tanya Sema, ia menggeser badan agar Haru dapat masuk. Pemuda itu berbalik badan setelah beberapa langkah dari Sema.
"Pengen nasi goreng." Ucapnya sembari mengangkat dua kresek yang ia bawa. "Buatin ya?" Tanya Haru. Lebih seperti perintah. Sema mendengus kesal lalu menutup pintu kembali.
"Kenapa nggak beli aja sih kalo pengen? Kenapa harus bawa bahan mentahnya kesini?" Walaupun terkesan menolak, Sema tetap mengikuti Haru yang berjalan menuju dapur. Gadis itu tetap membuatkan Haru-nya ini nasi goreng. Cuma nasi goreng mah mudah.
Sema memperhatikan barang-barang yang Haru bawa. Ada telur selusin, beras sekilo, sosis, bakso,dan ayam. Lalu coklat. "Emang nasi goreng pake coklat ya?" Tanya Sema. "Itu buat Lo." Jawab Haru.
Sema menyimpan beras nya di lemari, menggantinya dengan nasi yang sudah matang lalu mengambil kol di kulkas.
"Nggak usah dikasi sayur." Tegur Haru. Sema seakan tak peduli, ia tetap memotong kol itu menjadi kecil-kecil.
"Sema! Kol nya balikin lagi aja, ntar dicariin sama tante lho."
__ADS_1
Sema berbalik. "Diem, atau pulang?" Ucap Sema. Tangannya memegang pisau yang sengaja ia arahkan ke arah Haru.
"Ah ngancemnya pake pisau, nggak asik." Haru kembali duduk di meja makan, membiarkan Sema melakukan semuanya sendiri, daripada kena tusuk. Kan tidak lucu besok-besok ada berita seorang pemuda meninggal dibunuh menggunakan pisau dapur akibat tidak bisa diam.
"Besok olimpiade ya?" Tanya Haru membuka percakapan. Sema mengangguk tanpa menoleh.
"Tiga hari?" Tanya nya lagi. Sema kembali mengangguk sementara Haru menghela napas berat. Sampai-sampai Sema mendengarnya. Pemuda itu menyangga kepala dengan tangannya lalu tangan yang lain membuat pola abstrak di meja makan. Memikirkan bagaimana tiga hari ia melewatkan waktu tanpa Sema.
"Sama zombie yang waktu itu ya?" Sema berbalik spontan mendapati kata asing masuk ke telinganya. Ini maksudnya Haru apa?
"Zombie?" Tanya Sema mengulangi ucapan Haru, takut salah dengar.
"Yang waktu itu lho."
"Desta?"
"Nggak tau nggak kenal. Pokoknya yang orangnya kayak mayat hidup itu lho." Ucap Haru ngawur. Tanpa disadari ucapan random Haru mampu membuat Sema tersenyum di sela ia memasak nasi goreng untuk tuan Muda Haru. Heran, di rumah Pak Heru Radhika seenggaknya ada tiga sampai empat pembantu, namun anak mereka malah datang ke Sema meminta makan. Walaupun dengan cara elegan membawa bahan masakannya sendiri.
Setelah beberapa saat nasi goreng ala-ala sudah tersedia di depan Haru. Jumlah nasi dan topingnya hampir setara, malah banyakan topingnya. Tapi itulah yang disukai tuan muda Haru. Intinya tidak pedas sebab Haru membenci semua makanan pedas. Sempat aneh saat Sema mengingat waktu makan seblak berdua dengan Haru. Saat itu Haru meminta tambahan Gula karena seblak nya terlalu pedas. Walaupun sudah mendapat dua sendok gula tetap saja Haru menghabiskan tiga gelas es teh. Sepedas itukah?
"Udah tau Gue mau olimpiade besok, Lo malah ngerusuh malem-malem gini." Omel Sema, kalimat tersebut mana mempan di Haru. Terbuki dari cengiran pemuda itu dengan mulut penuh makanan. Ia mengunyahnya sampai habis baru kemudian menjawab ucapan Sema.
"Justru karena Lo besok olimpiade, makanya Gue mau nginep disini." Perkataan santai Haru membuat Sema kontan terbatuk, tersedak nasi goreng yang baru saja memasuki mulutnya. Sialan.
"Pelan-pelan." Ucap Haru sembari memberikan gelas berisi air.
Pertanyaan Haru memang biasa saja. Haru kan sudah sering menginap, tapi itu dulu. Saat cara bicara mereka masih cadel, saat gigi mereka masih ompong, dan saat dimana tidak ada yang menganggap tabu ketika mereka tidur bersama berdua dalam satu ranjang. Itu sudah sangat lama sekali, terakhir kali Haru menginap waktu ditinggal orang tua nya ke Amerika. Dan itu waktu Haru berumur tujuh tahun.
Dan sekarang, bahkan mereka berdua berada dalam satu rumah—hanya berdua—sudah termasuk salah jika didasarkan pada asas kesusilaan yang tertanam di masyarakat.
"Nginep? Lo mau tidur dimana?" Tanya Sema. Hey, rumah Sema tak sebesar rumah keluarga Radhika untuk sekedar menyisakan satu ruangan untuk kamar tamu. Mungkin ada sih satu ruangan, namun sudah mirip gudang. Kan tidak mungkin Sema menyuruh Tuan muda Radhika tidur di gudang.
"Di kamar Lo lah, Gue udah izin sama Om sama Tante, katanya boleh." Ucap Haru santai.
"Ngawur, mana bisa kayak gitu."
__ADS_1