
...Jungkook membenamkan kepalanya ke dada Jiyeon. Masih terus mengatakan beberapa kalimat tidak terimanya, menumpahkan segala kepedihannya untuk menetap di tempat paling ia sukai. Bersandar di dada bidang yang kini sudah menjadi mantan kekasihnya. Nyaman sekali disini....
..."Tapi semesta-nya aku itu kamu, Jiyeon" isak Jungkook masih bersikukuh dengan pendiriannya tidak ingin berpisah dengan Jiyeon....
..."Iya, udah ya. Kesayangannya Jiyeon jangan nangis gini, nanti tampannya hilang, gimana?"...
π
Meskipun hubungan yang telah Jungkook dan Jiyeon jalani bersama sampai mencapai waktu dua tahun. Namun, memang baik dalam urusan pertemuan bunda Kyla dan nenek Lena secara resmi ataupun hanya tidak sengaja bertemu di tempat mana, itu belum sama sekali terjadi. Salah satu alasannya, karena rumah mereka berdua tidak searah pun cukup jauh jaraknya. Namun, sekarang mereka bisa memiliki kesempatan untuk berkunjung. Ini bukan hanya antara Jiyeon dan Jungkook, tetapi juga bunda Kyla dan nenek Lena.
Mereka berdua sudah berdiri di depan pintu putih berukir laser bunga. Sangat cantik. Bunda Kyla tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya akan bertemu keluarga Jiyeon. Sampai ia sendiri membeli beberapa sesuatu seperti buah-buahan dan makanan lezat, yang dipegang oleh Jungkook dengan senang hati. Jungkook mengetuk pintu beberapa kali agar penghuni rumah mendengar ada kedatangan tamu. Sejurus kemudian, pintu terbuka lebar dan menampakkan kekasih Jeon Jungkook yang teramat cantik itu. Jiyeon sangat rapi, memakai baju formal---kemeja putih yang dimasukkan ke dalam rok hitam span selutut-nya, sudah seperti mau melamar pekerjaan saja, atau malah seperti akan kedatangan presiden. Begitu rapi. Bikin gemas. Pikir Jungkook.
"Silahkan masuk. Tamu terhormat." kata Jiyeon dengan senyuman paling manisnya yang ia miliki.
Bunda Kyla dan Jungkook kompak terkekeh kecil. Kemudian, mereka berdua berjalan bersama menuju ruang tamu. Mempersilahkan keduanya untuk duduk nyaman sembari menunggu nenek Lena selesai berdandan. Meski sudah terbiasa, Jiyeon tetap dibuat heran. Bisa-bisanya sudah nenek-nenek tetapi kalau dandan lama sekali melebihi gadis remaja yang akan pergi berkencan.
Jungkook mengambil yang ia letakkan dibawah samping kursi. Lalu menyerahkannya pada Jiyeon. Bingkisan. "Dari bunda. Di terima ya."
Tangannya langsung menyapu, mengusir pada apa yang sedang Jungkook pegang dengan kedua tangannya mengarah ke Jiyeon. "Apa-apaan ini. Nggak usah, ga mau aku." Lalu menatap langsung ke Bunda Kyla. "Bunda, jangan berlebihan gini. Kalau mau kesini cukup bawa tubuh sendiri aja, nggak usah segala bawa sesuatu yang lain. Jiyeon gak mau terima. Maaf."
Bunda Kyla mengambil yang sedang dipegang Jungkook dengan setia, walaupun jelas begitu berat dirasa. Sudah ditangannya, ia langsung meletakan bingkisannya ke atas meja yang kosong dari makanan. "Bunda nggak mau denger kata penolakan. Harus diterima. Hargai apa yang diberikan sama orang lain. Kalau kamu nggak mau karena nggak suka, kasih ke nenek kamu aja."
Setiap katanya seperti ada penekanan yang jelas itu artinya final dari semuanya. Jiyeon takut bunda Kyla malah kesal dan kecewa, padahal ia tidak bermaksud menolak karena tidak suka, hanya tidak enak menjadi merepotkan. ''Jiyeon suka, bunda. Oke Jiyeon terima ya. Terimakasih banyak." katanya dengan ramah serta senyumnya yang terhias apik.
Bunda Kyla tersenyum tipis. "Gitu dong, kan bunda jadi senang." Jiyeon nampak ingin membuka mulut ingin bersuara, tetapi diurungkan ketika yang ditunggu lama telah muncul ke permukaan. Maksudnya ke ruang tamu menemui yang bertamu.
Nenek Lena seperti terburu-buru melangkahkan kakinya, mungkin sadar begitu lama waktu yang ia kerahkan untuk berdandan. Merasa malu dan bersalah. Hingga saat pribadi yang telah memiliki beberapa helaian rambut putih di kepalanya sampai di depan para tamu. Kedua matanya melebar kaget tidak menyangka dengan siapa yang sedang berada di depannya.
"Jeon Kyla??"
"Song Lena??"
Bunda Kyla langsung berdiri mendekati seseorang yang kemunculannya begitu mengagetkan dirinya. "Nenek Lena? Beneran nenek? Kenapa bisa ada disini?" tiga pertanyaan dalam satu hembusan nafas ia lontarkan begitu cepat. Bunda Kyla tidak ingin semakin di buat penasaran.
Yang lebih muda---Jeon Jungkook termangu dengan situasi tidak menduga saat ini. Masih duduk ditempat tanpa mengalihkan perhatiannya pada kedua insan yang saling melemparkan tidak yakinnya pada nama pemiliknya masing-masing. Jungkook melirik sebentar ke arah Jiyeon, langsung dibalas bahu yang terangkat naik. Jiyeon juga bingung. Bagaimana keduanya tampak seperti dua orang yang saling kenal tetapi terpisah lama dan baru bertemu sekarang di rumah Jiyeon? Bagaimana bisa? Mereka tetangga dimasa lampau?
"Iya ini aku. Yang sedang kau singgahi saat ini adalah rumahku." jawab nenek Lena, lalu sedikit mendekatkan diri ke arah Bunda Kyla. Tatapannya terjun begitu saja pada pribadi berbaju putih di atas kursi empuk sana. "Jadi, Jungkook itu putramu? Anak keduamu bersama mendiang suamimu----Jeon Liam?" tanya nenek Lena begitu abu-abu sekali untuk dimengerti.
Jiyeon dan Jungkook lalu bangkit bersama dari kursi yang telah memberi rasa nyaman. Kemudian berjalan menghampiri yang membuat pening kepala. Perkataan nenek Lena barusan sangat tidak terduga. Bagaimana pribadi itu bisa mengenal nama lengkap ayah Jungkook? yang paling mencengangkan adalah saat ia bertanya bahwa Jungkook anak kedua? Kenapa memberi kalimat seperti itu padahal jelas Jungkook anak semata wayangnya bunda Kyla?
"Nek, Jungkook anak tunggal. Bunda Kyla hanya punya satu anak kenapa malah bertanya seperti itu? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Jiyeon benar-benar tidak mengerti."
Nenek Lena mengabaikan apa yang Jiyeon katakan sebab sedang fokus pada yang didepannya sekarang. Menunggu jawaban yang sejujurnya ia sendiri tidak ingin mendengarnya. Tidak siap. "Iya." dan akhirnya tiga huruf yang sudah cukup tertebak oleh kepala nenek Lena sejak tadi keluar dari bibir tipis milik Jeon Kyla.
"Iya apanya, Bunda? Iya untuk pertanyaan yang mana?" kata Jungkook sembari mengguncang lengan bundanya. Menuntut penjelasan sebab Jungkook tidak mau kepalanya menerka-nerka ke arah negatif.
Bunda Kyla meraih tangan Jungkook yang berada di lengannya. Digenggamnya erat. Sorot matanya telah berubah menjadi sendu. Ada kepedihan yang membuat Jungkook memikirkan hal yang tidak baik. Jangan, tolong. "Iya untuk semuanya, Nak."
"Jiyeon... ternyata itu kamu? Selama ini yang bunda cari itu kamu?" kata bunda Kyla yang jelas terdengar sekali getaran dalam suaranya. "Anak pertamanya bunda."
"B-bunda...." Suara yang keluar dari Jungkook sangat menyedihkan. "Bunda... Tolong jelaskan apa yang dimaksud perkataan bunda barusan."
__ADS_1
"Song Jiyeon adalah Jeon Jiyeon. Saudara kembar kamu, Kook. Kalian berdua saudara sekandung. Anak-anaknya bunda."
Tubuh Jungkook gemetar seketika. Dia benar-benar tidak mempercayai dari penjelasan bundanya yang sangat tidak masuk akal. Tidak. Itu tidak mungkin.
Bunda Kyla melepaskan tangan Jungkook darinya. Kemudian, ia langsung menghamburkan tubuhnya pada tubuh yang sedang mematung serius. Memeluk Jiyeon erat-erat. Membenamkan kepalanya pada leher Jiyeon.
''Bunda rindu kamu, Nak. Maafin bunda yang selama ini nggak pernah ngenalin kamu sebagai anak bunda. Bunda bener-bener minta maaf."
Rasa bersalahnya begitu besar terasa. Tangisnya pecah di dalam peluk sang putri yang telah lama ada di dekatnya tetapi dianggap kekasih Jungkook bukan sebagai kakak Jungkook.
Jantung Jiyeon berhenti. Seharusnya ia telah mati, tapi jelas masih hidup. Dia terdiam, karena berbagai alasan. Membingungkan. Tetapi yang jelas hatinya sakit oleh kata-kata bunda Kyla, tapi di satu sisi pelukan yang ia berikan padanya begitu menenangkan. Memberi rasa nyaman mendadak. Seperti Jiyeon akhirnya menemukan sentuhan yang begitu ia rindukan dari sosok ibu yang ia inginkan. "B-bunda Kyla---" Jiyeon tergagap. "Bundanya Jiyeon?" bahunya langsung merasakan anggukan dari dagu yang begitu menekan sampai beberapa kali. Sudah cukup membuktikan ini benar menimpa hidupnya. Kenyataan pahit. Paling pahit yang ia terima dari selama Jiyeon hidup.
Punggungnya diusap pelan oleh tangan yang sudah merawatnya sebagai cucunya selama ini. Nenek Lena berkata. "Kamu masih memiliki orang tua Jiyeon. Jeon Kyla itu ibu kandung kamu. Ada alasan dibalik ini semua, tapi nenek cuma ingin kamu percaya dan jangan benci siapapun. Nanti akan kami ceritakan dari awal sampai akhir."
Suara Jungkook keras, geraman dalam suaranya terpancar di dalam ruangan. "Apa-apaan semua ini bunda!" Jungkook marah, langsung menjauhkan yang sedang berpelukan baru sebentar. "Jangan bercanda, aku nggak punya saudara kembar. Aku nggak punya kakak!"
Jiyeon dengan hati-hati tetapi kuat, tangannya melingkari lengan bawah Jungkook. "Tenang, Kook. Kendalikan dirimu, jangan berteriak begitu sama bunda kita."
Jungkook langsung menyingkirkan tangan Jiyeon darinya. Kenapa Jiyeon begitu bodoh. "Kita? Jiyeon jangan gila! Jangan percaya semua omong kosong ini. Kita bukan saudara! Aku pacarmu, bukan adikmu!" Emosinya meledak. Jungkook berteriak yang ia masih yakini jika itu dibenarkan. Masih menyangkal yang sebetulnya malah semakin menyiksa diri.
"Aku akan gila kalau bener-bener nggak bisa mempercayai ibu kandungku sendiri, Kook." kata Jiyeon dengan nada rendahnya. "Nenekku nggak pernah bisa bohong, aku tau kalau ini beneran serius terjadi. Karena itu aku bisa percaya yang dijelaskan padanya. Apa kamu beneran nggak bisa bedain mana yang serius dan bercanda? Kamu pasti lebih kenal gimana bunda kamu, Kook." Jiyeon tentu sakit, tapi sebisa mungkin berusaha untuk dewasa. Jika keduanya berantakan, pasti tidak akan kelar dan semakin runyam. Jiyeon hanya minta cerita selengkap-lengkapnya tanpa teriakan tidak sopan.
"Jungkook, sayang." panggil bunda Kyla dengan penuh kasih sayang. Mendekat pada yang masih kesal dengan menggenggam kedua tangannya. "Bunda tahu ini sangat berat diterima. Bunda sendiri juga masih nggak nyangka, tapi inilah kenyataannya, Kook. Jiyeon saudara kembar kamu."
Jungkook mundur selangkah dan ia terdengar menelan ludah. Kesadaran akan kalimat terakhir yang bundanya sendiri katakan. Jiyeon saudara kembar kamu. Setelah beberapa menit saat ia perlahan-lahan mulai menerimanya. Hanya dengan empat kata yang diperlukan untuk kebahagiaannya hancur lebur berkeping-keping. Didepannya saat ini ada dua orang paling penting bagi hidupnya. Satu, orang tuanya sendiri. Kedua, kekasihnya. Tetapi sekarang mereka semua bahkan saling terhubung dengan ikatan keluarga sedarah. Kenapa? Bagaimana bisa terjadi? Kenapa selama ini Jiyeon tinggal bersama nenek Lena dan dianggap cucunya sendiri? Mengapa bundanya bahkan tidak pernah memberitahu tentang ia yang memiliki dua anak? Kenapa semua ini dirahasiakan sampai pada akhirnya perasaan Jungkook sudah jatuh terlalu dalam pada Jiyeon sebagai kekasih tercintanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul berkecamuk dalam benaknya.
"Ini nggak mungkin terjadi. Aku nggak mau. Aku nggak akan pernah percaya----" Jungkook berhenti ketika air matanya mulai turun perlahan mengenai pipinya. Jatuh ke lantai bawah bersamaan pilu yang menyiksanya. Jungkook terus menggelengkan kepalanya. Jungkook melirik ke arah Jiyeon sebentar sebelum akhirnya ia berlari menuju kamar Jiyeon berada, masuk kedalam langsung menutup pintu dengan sangat keras. Terbanting dengan segala emosinya.
Jadi, dulu saat suami Jeon Kyla---Jeon Liam meninggal dunia sebab penyakit jantung yang ia derita sudah cukup lama, ia meninggalkan istri, dan kedua anaknya dengan segudang hutang. Keluarganya terlilit banyak hutang dengan rentenir dan bank. Jeon Kyla setengah mati bekerja, sampai dengan berat hati teramat sangat harus mengikhlaskan rumah satu-satunya peninggalan sang suami dijual guna sedikit mengurangi jumlah hutang yang membludak, masih banyak yang ditanggung hingga tidak memiliki pilihan lain lagi, dirinya pergi ke Seoul. Meninggalkan Busan serta anak pertamanya---Jeon Jiyeon yang terpaksa ia titipkan pada nek Lena di panti asuhan miliknya. Hanya membawa sang putra kedua yaitu Jeon Jungkook. Alasannya karena Jungkook saat itu benar-benar tidak bisa ditinggal sedetikpun, akan menangis selama mungkin sampai bisa bertatap muka dengan bundanya baru mau berhenti. Sulit sekali ditangani. Sementara, Jiyeon memiliki sikap cukup dewasa dibandingkan dengan Jungkook. Bisa diberitahu baik-baik tanpa menangis kencang, sebab dan alasan kenapa Jiyeon harus tinggal bersama nenek Lena, meskipun jauh dari itu, Jeon Kyla mengerti, Jiyeon hanya menganggukkan kepala seolah paham padahal sama sekali bingung hanya untuk menjadi anak yang baik dan penurut. Luar biasa terharu. Kemudian, beberapa tahun kemudian panti asuhan ditutup. Banyak anak-anak yang telah keluar begitu bertemu yang akan merawatnya dengan dianggap sebagai anak sendiri, semakin sedikit yang menetap di sana, bisa dihitung jari yang memberi donasi, lama-kelamaan menjadi sangat sunyi, tidak ada yang berkunjung membantu, yang tersisa hanya Jiyeon dan dua anak lainnya. Akhirnya nenek Lena membawa Jiyeon pindah ke Seoul---ke rumah salah satu keluarganya. Sementara, yang dua itu di adopsi oleh tetangga terdekat yang tidak bisa punya anak. Beberapa kali, bunda Kyla berusaha untuk menghubungi kontak nenek Lena yang ia ketahui, sayangnya sudah tidak aktif. Sempat ke panti asuhan di Busan, ternyata sudah tidak ada lagi, bangunannya diganti menjadi restoran makanan rusia. Tidak tahu harus berbuat apa, dengan berat hati menyerah mencari. Hanya berharap suatu saat nanti dipertemukan dengan keadaan yang saling baik-baik saja.
Lalu, bicara dari sisi nenek Lena, bukannya ia tidak berniat untuk mempertemukan Jiyeon kembali dengan keluarga kandungnya, hanya saja Seoul itu besar, tidak tahu harus melangkah dari mana, kemana untuk berhasil bertemu dengan Jeon Kyla. Maka ia urungkan niat itu selamanya tanpa mencari, sudah terlalu nyaman juga hidup bersama Jiyeon, sudah dianggap cucu sendiri, dengan itu ia mengganti marga Jeon menjadi Song. Untuk urusan dua tahun itu, selama berjalan memang baik Jeon Kyla dan Song Lena tidak menaruh curiga ketika Jungkook atau Jiyeon berbicara tentang panggilan biasa bunda Kyla, atau nenek Lena. Pikirnya, di Korea banyak nama yang sama.
Ya, begitulah akhir cerita yang rumit tetapi pada kenyataan menyentuh hati hingga ingin menangis.
Setelah mendengar cerita dari nenek Lena dan bunda Kyla, Jiyeon memutuskan untuk menenangkan Jungkook, ia berjalan sampai akhirnya berdiri di depan pintu kamar miliknya. Menghembuskan nafas pelan-pelan, kemudian mengetuk pintu sangat sopan. "Jungkook...." panggil Jiyeon dengan suara sehalus mungkin.
Tidak ada jawaban. Hening.
"Kook, boleh buka pintunya? Aku mau masuk juga." tanyanya dengan sangat tenang.
"Enggak! Kamu pergi sana! Aku lagi pengin sendiri. Nggak mau di ganggu." teriak Jungkook dari balik pintu tebal itu. Suaranya serak, pasti karena terlalu lama menangis.
"Tapi aku pengin sama kamu, Kook."
"Aku pengin sendirian Jiyeon! Aku nggak pengin ngeliat wajah kamu yang bikin makin tersiksa. Ini berat banget buat aku terima."
Jiyeon menggeleng lirih tidak percaya kala ucapan yang baru saja ia dengar dari Jungkook menyentak hatinya begitu dalam. Egois sekali. Seakan-akan apa yang sedang terjadi hanya tentang dirinya. Hanya tentang Jungkook dan bunda Kyla, lalu melupakan bagaimana Jiyeon juga terseret dalam keadaan menyiksa. Apakah Jungkook benar-benar berfikir hanya dirinyalah yang terluka dalam kenyataan kelam ini? Apa hanya dia yang berhak marah dan kecewa? Jiyeon juga sama pedihnya seperti Jungkook! Ini sakit. Sakit sekali.
''Kook, apa kamu lupa? Ada aku juga. Ini bukan hanya antara kamu dan bunda aja, tapi juga tentang aku. Aku terlibat disini dan kamu nggak berfikir gimana perasaanku saat ini? Pikirmu aku bahagia dengan ini semua? Aku juga terluka. Ini juga berat sekali bagiku, Kook. Tolong, mengerti."
Jiyeon mencoba untuk tetap setenang mungkin. Bagus. Kini, sudut matanya mulai berair, mengaburkan penglihatannya, bahkan tubuhnya mulai melemas. Jungkook bodoh. Ia memang tidak layak bersanding dengan Jiyeon, mungkin inilah kenapa akhir hidupnya membawanya pada ikatan sedarah dengan Jiyeon, bukannya ikatan pernikahan bersamanya. Bagaimana Jungkook melupakan Jiyeon dalam menangani masalah ini? Pasti Jiyeon jauh lebih terluka. Jungkook ingin memeluknya sambil meminta maaf dengan tulus.
__ADS_1
Dengan itu, Jungkook berdiri, membuka pintu yang langsung bertemu pada mata indahnya yang sedang teduh, sayu. Kini hanya ada kepedihan tersemat. Begitu memilukan untuk Jungkook tatap begitu lama.
"Jiyeon... Maafin aku." kata Jungkook begitu pilu. Meringis hati Jiyeon sekali.
Jiyeon langsung memeluk Jungkook. Menenangkan yang lebih muda. Wajah jiyeon berkilat kesakitan, dagunya bergetar. ''Nggak papa. Nggak papa, Jungkook." isak Jiyeon pada akhirnya. Menangis juga di bahu Jungkook.
Jungkook menggigit bibir bawahnya. Air matanya mulai mengalir di pipinya, membanjiri baju Jiyeon. "Aku nggak mau pisah sama kamu, Jiyeon. Aku cinta kamu. Aku sayang banget sama kamu." tangis Jungkook pecah diiringi bahu yang naik-turun tidak beraturan. Sangat kacau. Jiyeon tidak merespon apa yang Jungkook katakan, melainkan ia mendorong tubuh Jungkook ke belakang, lalu membantunya untuk duduk bersama di tepi ranjang.
Mata Jiyeon berlinang air mata, bibirnya bergetar. "Aku juga cinta dan sayang banget sama kamu, Kook." Jiyeon menghembuskan nafasnya. Lalu melanjutkan. "Tapi sekarang kita saudara kandung. Nggak bisa lagi buat dilanjut pacaran."
Jungkook langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju. "A-aku nggak mau. Aku nggak bisa Jiyeon. Nggak bakal bisa."
"Harus bisa, Jungkook. Semua yang kita lakuin selama ini udah melewati batas, kita udah kena dosa. Jangan sampai pengin terus dilanjut lagi, nanti Tuhan semakin marah, lalu kita mendapat banyak dosa. Yang menanggung dosa kita orang tua kita, jangan membebani mereka karena sikap kita yang susah diatur gini." ucap Jiyeon dengan kedewasaannya. "Tolong, Jungkook. Terima semua ini. Untuk kebaikan kita juga." kata Jiyeon memohon dengan sangat sakit. Tubuhnya bertambah gemetar karena gelombang suara yang bergema di dalam tenggorokannya.
Jungkook membenamkan kepalanya ke dada Jiyeon. Masih terus mengatakan beberapa kalimat tidak terimanya, menumpahkan segala kepedihannya untuk menetap di tempat paling ia sukai. Bersandar di dada bidang yang kini sudah menjadi mantan kekasihnya. Nyaman sekali disini.
"Tapi semesta-nya aku itu kamu, Jiyeon." isak Jungkook masih bersikukuh dengan pendiriannya tidak ingin berpisah dengan Jiyeon.
"Iya, udah ya. Kesayangannya Jiyeon jangan nangis gini, nanti tampannya hilang, gimana?"
"Kadang, semesta yang telah kita yakini bahwa kita memang telah ditakdirkan untuk bersama, ada ikatan lain yang jauh lebih terikat dalam. Membawa pilihan jatuh pada yang tak terduga." Jiyeon berbicara dengan nada rendahnya dengan penuh kasih sayang. Tangannya membelai rambut Jungkook yang tebal tetapi sangat halus dirasa. "Semesta-nya kita masih tetap kita berdua. Selamanya. Tapi bedanya, sekarang itu berubah menjadi ikatan hubungan sedarah, bukan lagi ikatan hubungan sepasang kekasih."
Kini, baik Jiyeon maupun Jungkook sendiri telah menyadari, bahwa yang menjadi bercandaan teman-temannya soal kemiripan mereka dari mulai tawa, letak tahi lalat, kepribadian, fitur wajahnya, pun dengan kesamaan yang lain, itu bukan semata hanya kebetulan, tetapi lebih dari itu karena mereka adalah saudara kembar.
Akhir.
...-----------------------ππβ¨...
...Sedih banget. Nulisnya sambil nangis, gak rela bikin mereka pisah dengan cara yang nyakitin banget gini, tapi mau gimana lagi? Aku lagi pengen buat cerita sad ending :) :) Udah cup kesayangannya semesta jangan nangis lagiβΉβΉ...
...SEMESTA...
...Jeon Jungkook & Jeon Jiyeon...
...-...
...-...
...-...
...-...
...-...
...Halo, cantiknya semesta :)...
...yah, ini sudah berakhir. Terimakasih untuk semuanya, aku harap kalian menyukai karya-ku kali ini β£...
^^^Dah, sampai bertemu dengan kisah baru lagi nanti ya. Ditunggu saja. Ciuman terakhir dari Taeri J π^^^
__ADS_1