SEMESTA

SEMESTA
50. Pengakuan


__ADS_3

Sema dengan wajah hang over berjalan terhuyung-huyung di sekitar hotel tempat prom nite. Ia terus merancau tidak jelas. Kali pertamanya mencoba alkohol membuatnya seperti ini.


Sema terhenti kala di depannya ada dua orang asing yang menghadang. "Hai cantik." Sapa salah satu, wajah samar itu membuat Sema tidak nyaman. "Sendirian aja, ikut kita yuk?" Ujar yang lain. Sema menggeleng cepat, ia berbalik badan mendapati ternyata bukan hanya dua orang yang menghadangnya tetapi empat.


"Mau apa kalian?" Tanya Sema meski kesadarannya sudah tidak dapat dipertahankan. Kepalanya teramat pusing.


Sema mencoba menepis tangan yang mencoba menyentuhnya. Tetapi semakin Sema melawan empat orang itu justru malah tertawa senang. "Terlalu basa-basi, sikat aja udah." Ucap salah satu. Salah seorang mencoba menarik Sema membawanya hingga gadis itu memberontak di sisa kesadarannya.


"Lepasin Gue." Keadaan malam hari yang sepi membuat Sema kian takut. Tapi pusing di kepala nya semakin mendominasi ditambah ia harus melawan empat orang laki-laki. Kalah jumlah sekaligus kalah tenaga membuat Sema dengan mudah diseret satu orang menuju mobil hitam tak jauh dari mereka.


Sema masih memberontak sekalipun mulutnya dibekap. Ia menggeleng ribut agar kesadarannya tak terenggut.


"Akhh." Salah seorang memekik terkejut kala Sema menggigit tangannya. Keadaan itu dimanfaatkan gadis itu untuk memukul lelaki yang menariknya dengan tas. Ia berhasil lepas sekalipun tak lama. Yang ia hadapi bukan cuma satu, Sema dengan mudah diseret kembali dipaksa memasuki mobil.


"Lepasin." Sema berusaha keras agar tak masuk mobil.


"Udah diem." Sentak salah satu lelaki tadi. Sema menangis keras masih memberontak walaupun tenaganya tak seberapa.


Bughh.


Bughh.


Bughh.


Sema terdiam saat melihat orang-orang yang menyeretnya tadi satu-persatu perlahan tumbang.


Gadis itu mengamati satu objek yang nampak kabur. Sema memicing guna menyaksikan siapa yang tengah beradu fisik dengan empat orang disana.


Bertepatan dengan empat orang yang sudah tumbang di aspal. Desta dengan piyama tidurnya dan wajah bantalnya menghampiri Sema yang sudah sembab akibat menangis. Pria itu tergesa-gesa walaupun matanya memerah, agaknya Desta baru saja tertidur.


"Lo nggak papa kan?" Tanya Desta khawatir. Pemuda itu mengabsen setiap inci tubuh Sema memastikan sang gadis tak terluka.


"Lo siapa? Kok mirip sama Desta Gue?" Desta menyadari ada yang janggal dari Sema. Tatapan gadis itu sayu memerah. Tak menyimpan tenaga. Dugaannya benar agaknya, terbukti dari alkohol yang tercium dari Sema.


"Desta Lo?" Tanya Desta, kedua tangannya memegang kedua lengan atas Sema agar gadis itu tak terjatuh. Sema mengangguk setengah terpejam. "Iya Desta Gue, tapi dia jahat. Dia suka sama cewek lain." Selepas kalimat itu Sema malah menangis keras sembari menubruk tubuh Desta. Gadis itu memeluk Desta erat.


"Gue kangen Desta." Rancu Sema sembari terisak dalam dada bidang Desta. Sementara sang pemilik mata elang itu menyimak sembari mengelus surai legam yang memeluknya teramat erat.


"Gue sayang sama Desta, Gue bahkan lupain Haru dengan cepet karena dia. Terus sekarang siapa yang bakal bantu Gue buat lupain Desta?" Kalimat demi kalimat Desta dengar. Isakan pilu gadis itu membuat Desta semakin dilanda rasa bersalah.


"Gue juga sayang sama Lo." Ucap Desta membuat Sema mengurai pelukannya. Ia menatap manik teduh milik pemuda tegap itu. Netra yang begitu Sema rindukan kini berdiri di depannya. Air mata Sema kembali meluruh, bersama kepalanya yang semakin memberat. Tubuh Sema oleng membuat Desta dengan sigap menangkap tubuh rapuh itu.


Bersamaan dengan Sema yang kehilangan kesadarannya, Desta mengetahui jika perasaan gadis itu sepenuhnya ada padanya. Seperti beban yang terlepas begitu saja.

__ADS_1


...-o0o-...


Sepasang manik yang terpejam rapat kini terbuka sempurna kala mendapati perutnya bergejolak. Seperti menahan sesuatu yang hendak meledak, Sema dengan cepat bangkit hingga menyebabkan tubuhnya terhuyung karena tak siap.


"Sema." Seseorang yang baru datang membuat gadis itu terlonjak. "Nggak papa?" Tanya nya lagi.


"Lo ngapain disini?" Tanya Sema yang masih terkejut.


"Ini rumah Gue." Jawaban Desta membuat Sema membulatkan matanya. Baru menyadari jika ia berada di dalam ruangan yang asing. Bukan kamarnya. "Gimana-huek." Sema menahan mulutnya agar tak muntah disini. Seakan mengerti Desta segera mengangkat gadis itu lalu secara tiba-tiba. Membawanya menuju pintu coklat toilet yang sedikit terbuka.


Sema tak melawan, setelah diturunkan Desta, Sema segera memuntahkan segala isi perutnya di wastafel. Desta membantu dengan memijit pelan tengkuk gadis itu.


Sema merasa lemas setelah memuntahkan cairan pahit dari perutnya, dengan sigap Desta memegangi gadis itu walaupun Sema sudah berpegangan pada pinggiran wastafel.


"Gue bisa sendiri." Ucap Sema ketus. Desta menghela napas, ia kembali mengangkat Sema seenaknya lalu mendudukkannya kembali di ranjang.


"Gue mau pulang." Desta tak menyahut, ia mengambil nampan yang sempat ia letakkan di nakas. "Kata Mama makan dulu." Ucapnya kini ikut duduk di pinggiran ranjang, tepat di depan Sema.


"Gue mau pulang." Ucap Sema lagi. Ia baru menyadari jika gaun semalam sudah berganti menjadi piyama. "Mama yang gantiin, tenang aja." Sahut Desta seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Sejurus kemudian sebuah uluran suapan terulur kepada Sema.


"Gue mau pulang." Ujar Sema lagi tanpa berniat menerima suapan dari Desta.


"Makan dulu, baru Gue anter Lo pulang." Sema menghela napas, pada akhirnya memilih menerima suapan makanan dari Desta sekalipun perutnya bergejolak tidak ingin diisi. Ia hanya ingin cepat pulang. Ia terpikir mungkin saja Haru mencarinya.


"Lo mabuk, Lo nangis, Lo pingsan, nggak mungkin Gue bawa Lo pulang ke rumah Lo. Yang ada orang tua Lo khawatir anaknya kenapa-kenapa." Pernyataan Desta tak dapat diterima dengan mudah oleh Sema. Seingatnya ia sedang minum, lalu menelepon Haru. mungkin mabuk dapat diterima tapi menangis? Pingsan? Bertemu Desta?


"Bukannya Lo nggak ikut prom nite?" Desta yang hendak memberikan suapan kedua terhenti. Ia terdiam sejenak. "Gue emang nggak ikut." Sahutnya, lantas memberikan suapan keduanya kepada gadis itu.


"Terus kok Lo bisa ada disana?" Tanya Sema di sela kunyahannya.


"Kan Lo yang nelpon Gue." Sema dipaksa keras mengingat kejadian semalam yang samar-samar. Seingatnya ia minum, menelepon Haru lalu? Menelepon Haru agaknya sedikit Sema ragukan.


Sema sekilas melihat wajah Desta, ada beberapa luka lebam di wajah putih itu. Detik itu pula Sema ingat ia hampir dilecehkan oleh beberapa orang semalam. Dan...


Astaga, Sema mengingat semuanya.


Wajahnya seketika memerah ketika mengingat kalimat-kalimat aneh yang ia lontarkan kepada Desta.


"Gue mau pulang." Ucap Sema entah keberapa kalinya. Menyadari gerak-gerik tak biasa dari Sema membuat Desta tersenyum kecil. "Udah inget?" Tanya nya dengan tersenyum jahil.


"Inget a-apa?" Sialan, kenapa harus gugup sekarang.


Desta meletakkan nampan berisi makan itu di nakas. Kini tatapannya berubah serius, merubah suasana yang tadinya santai. Tiba-tiba saja kedua tangan Desta menggenggam penuh tangan Sema. Gadis itu terkejut berusaha melepaskan pegangan itu namun sia-sia. Sema kini terdiam saat sepasang manik menatapnya intens.

__ADS_1


"Harus Lo tau, nembak Lo bukan bagain dari rencana Keyra tapi kemauan Gue sendiri. Gue emang suka sama Keyra. Tapi itu jauh sebelum Gue nembak Lo. Gue serius sayang sama Lo Sema, harusnya Gue sadar sama perasaan Gue dari awal." Kalimat tulus itu meluncur dengan tatapan Desta yang teduh. Dari sorot matanya tersirat kebenaran akan setiap kalimat yang ia ucapkan.


"Maafin Gue."


"Dari awal cuma Lo orang yang ngebuat Gue sengaja ganti beberapa jawaban Gue waktu olimpiade agar Gue nggak menang waktu itu, tapi ternyata Gue tetep juara tiga. Cuma Lo yang bikin Gue mau repot-repot nolongin Lo yang kekunci di toilet padahal Gue bisa nyuruh orang lain. Cuma karena liat Lo hipotermia Gue sampe ngedobrak ruangan papa Gue cuma biar ngecek keadaan Lo. Cuma Lo yang bikin Gue ngehabisin makanan rumah sakit. Cuma Lo yang buat Gue pengen ngerasain hal-hal aneh kayak nerobos hujan bareng Lo. Cuma Lo yang bikin hati sama otak Gue nggak sinkron. Cuma Lo Sema." Kalimat panjang Desta menghipnotis Sema, gadis itu diam menyimak menunggu kelanjutan kalimat yang mungkin Desta ucapkan.


"Gue nggak pinter soal memahami perasaan Gue, yang jelas saat Gue nembak Lo Gue beneran yakin sama apa itu cinta." Logika Desta menertawakan pemuda itu. Hal-hal yang selalu dihindari Desta kini malah berbalik menyerangnya. Desta mengalaminya sendiri sekarang.


"Apa nggak ada kesempatan kedua buat Gue?" Jujur Sema agak bingung harus menjawab bagaimana. Jantungnya berdegup lebih cepat, bersama desiran hangat yang menjalar. Sema tak bisa bohong kalimat Desta memberikan sengatan menyenangkan di dalam dirinya.


Kedua hening beberapa saat, Desta rasa memang tak ada celah. Pemuda itu bangkit. "Ayo, Gue anter pulang." Desta berbalik badan menyembunyikan rona kecewanya.


Setelah menghela napas, Desta melangkah. Tapi terhenyak saat sepasang tangan melingkar di perutnya. Sesuatu yang menempel di punggungnya membuat Desta mengernyit bingung. Ia meraih tangan yang melingkar di perutnya.


"Sema?"


"Iya, cuma kesempatan kedua, nggak ada kesempatan lainnya."


Mendengar itu membuat Desta tersenyum lebar. Sangat lebar, merasakan sengatan menyenangkan menjalar di seluruh tubuhnya.


"Jadi Lo nerima Gue?"


"Kan kita belum putus."


Desta membalikkan badannya sembari merubah posisi menjadi memeluk Sema. Gadis itu menyembunyikan wajahnya yang memerah dalam dada bidang Desta, merasakan tangan Desta mengusap rambutnya.


"Tapi Gue mau ulangin lagi hari ini."


Desta mengurai pelukannya. Ia berjalan keluar memantik ekspresi kebingungan dari Sema. Tak lama pemuda itu kembali dengan sesuatu di tangannya. Sebuah miniatur planet Saturnus berwarna ungu, Desta memberikannya kepada Sema.


"Apa ini?" Tanya Sema.


"Miniatur planet." Jawab Desta.


"Gue tau, tapi buat apa?" Tanya Sema lagi.


"Buat tanda kalo hari ini, kita resmi pacaran."


"I love you Sema."


Sema tersenyum, ia kembali memeluk Desta erat. Menyembunyikan wajahnya yang memanas. Samar-samar ia berucap walaupun malu-malu.


"I love you too Desta."

__ADS_1


__ADS_2