
Seminggu berlalu semenjak kejadian 'mari berjarak' itu. Tak ada lagi sapa hangat dari seorang Haru di pagi hari. Menjemput Sema atau mengantarnya pulang. Mungkin satu sekolah yang mengikuti alur gosip mereka bertanya-tanya mengapa kedua insan yang awalnya seperti perangko dan surat kini mendadak seperti saling menjaga jarak. Jika biasanya Haru dan Sema adalah dua orang yang terlihat duduk berhadapan di kantin dalam satu meja kini pemandangannya jauh berbeda.
"Are you happy?"
Sema menoleh dengan ekspresi bingung mengingat lawan bicaranya ini baru mengucapkan sepatah kalimat setelah terbuai dalam hening. Menyelesaikan gigitan terakhirnya pada roti isi yang dibelinya dari kantin, kini gadis itu mengerutkan keningnya.
"About what?" Tanya Sema.
Desta tak langsung menjawab, membawa tubuhnya bersandar pada kursi taman sekolahan. Pandangannya tertuju pada kantin yang samar-samar terlihat dari sini.
"Seminggu berjarak, gimana rasanya? Are you happy about this?" Sema terdiam, netranya sibuk mengamati dua orang yang terlihat duduk bersampingan, bercanda tawa bersama beberapa orang laki-laki.
"Mungkin." Sema mengayunkan kakinya. Waktu istirahat terasa amat kosong baginya selama seminggu ini. Sema mengamati Desta sesaat, sebelum kembali pada pemikirannya. Sudah kali ketiga ia makan bersama Desta di kursi taman sekolah alih-alih duduk di kantin. Hanya karena berpapasan saja mereka bersama. Tapi entah kenapa Sema juga merasa dirinya semakin dekat dengan Desta. Entah hanya Sema yang merasa atau pemuda itu juga.
"Lo mau ke rumah?" Kali ini Sema kembali dibuat bingung dengan kalimat Desta yang selalu setengah-setengah. Berakhir pemuda itu mendengus lalu mengulangi pertanyaannya. "Pulang sekolah mau ke rumah Gue?" Tanya Desta.
Kerutan di dahi Sema kian ketara. "Ngapain?" Tanya Sema. Pasalnya ini baru pertama kali Desta mengajak Sema ke rumahnya. Pun sangat mendadak.
"Nggak tau, main mungkin? Lo bilang orang tua Lo lagi jenguk kakak Lo di luar kota." Sema menatap sepatunya sekilas. Kalau diingat-ingat biasanya Haru yang mengajaknya ke rumahnya saat kedua orang tua Sema tengah menjenguk kakaknya. Kenangan sederhana seperti itu menguar begitu saja menimbulkan senyuman tipis di bibir gadis itu.
"Emang nggak papa?" Tanya Sema.
"Daripada Gue nemenin Lo di rumah Lo yang sepi?" Sema memukul lengan Desta spontan. Si pemilik lengan bahkan tak berkutik, pukulan seperti itu mana terasa. "Lagian Gue nggak minta ditemenin." Sahut Sema. Desta bergeming tak menjawab.
"Tapi orang tua Lo juga pulang malem kan?" Tanya Sema.
"Setidaknya di rumah Gue ada bibi yang bantu bersih-bersih."
"Oke."
Desta spontan menoleh, rasa terkejutnya tak bertahan lama. Pada akhirnya memilih menatap lurus kembali. Kalau dipikir-pikir aneh, dia yang mengajak tapi dia juga yang terkejut ketika Sema mau-mau saja di ajak ke rumah. Tetapi kalau ditelusuri lagi semua yang Desta lakukan akhir-akhir ini aneh. Bahkan mau repot-repot menemani Sema yang sendirian aja sudah terhitung aneh.
...—o0o—...
Ucapan Desta tak main-main. Terlihat dari pemuda itu yang kini memberhentikan motornya di depan sebuah rumah berlantai dua. Cat dominan minimalis. Putih, abu-abu, dan sedikit krem di beberapa bagian. Di depan rumah banyak sekali pot-pot yang tersusun dengan beraneka macam bunga dan tanaman hias.
Tak berselang lama semenjak Desta memasukkan motornya ke garansi rumah. Pemuda itu kini menghampiri Sema yang sedang memeta rumah Desta.
"Ayo." Ucap Desta kemudian berjalan lebih dulu untuk memandu. Meskipun mengikuti langkah Desta, Sema tetap mengamati keadaan asing di sekitarnya.
Terlebih setelah dirinya memasuki pintu berwarna coklat kayu hingga bagian dalam rumah Desta kini nampak.
Tak jauh berbeda, ruang tamu yang terlihat lapang dengan cat tembok berwarna putih. Semua benda tertata rapi. Desta mempersilahkan Sema untuk duduk sementara dirinya berlalu ke dapur memanggil asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman. Setelahnya Desta masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti baju.
Sema berdiri, sibuk mengamati benda-benda di sekitarnya hingga dirinya terpaku dengan hiasan yang diletakkan di sebuah rak yang berfungsi sebagai sekat. Miniatur planet Saturnus dengan ukuran sedang. Lumayan cantik, hingga pandangan Sema tak terlepas dari benda itu.
__ADS_1
"Suka?" Sema tersentak, ia memegangi dadanya yang berdetak kencang akibat terkejut. Dilihatnya Desta yang sudah duduk di sofa dengan pakaian berganti menjadi kaos hitam dan juga celana santai.
"Sejak kapan Lo disitu?" Tanya Sema, gadis itu kini menghampiri pemuda itu.
"Baru aja." Jawabnya.
Tak lama minuman dan beberapa camilan datang. Sema tersenyum sembari berterimakasih kepada asisten rumah tangga itu. Sementara Desta datar-datar saja. Desta terulur, mengambil camilan lalu memakannya sekali lahap. Sejujurnya ia bingung ingin melakukan apa.
"Lo suka planet?" Tanya Desta membuka suara. Sema menoleh, ia mengangguk.
"Kenapa?" Tanya Desta..
"Bagus aja kalo dilihat." Jawab Sema sembari meletakkan gelas di meja kembali. Keduanya terdiam cukup lama.
"Lo mau lihat yang kayak gitu lebih banyak lagi nggak?" Tanya Desta sembari menunjuk hiasan berbentuk Saturnus itu. Sema melihat arah tunjuk Desta sebelum mengangguk antusias.
"Ayo." Desta berdiri, disusul Sema.
Keduanya kini menaiki tangga menuju satu ruangan. Desta membukanya, ia masuk terlebih dahulu kemudian disusul Sema.
Gadis itu mematung di ambang pintu. Mengitari seluruh ruangan dan benda-benda yang ada di dalamnya mengunakan matanya.
"Ini?"
"Kamar Gue." Desta dengan santai duduk di ranjangnya mengamati Sema yang masih mematung. Gadis itu tak mengira jika Desta akan membawanya ke tempat privasi seperti ini. Sema tak kunjung beranjak membuat Desta berdecak. "Lo mau berdiri disitu terus? Lo pikir Gue mau ngapain Lo?" Mendengar kalimat itu membuat Sema merasakan panas menjalar di kedua pipinya. Telinga gadis itu memerah bercampur sebal. Lantas ia memberanikan diri untuk masuk lebih dalam.
Sebenarnya tak banyak, tapi kini pandangan gadis itu jatuh pada rak etalase berisi segala hiasan miniatur planet. Sema mendekat. Sama seperti yang ia lihat di ruang tamu tadi, bedanya di kamar Desta jauh lebih lengkap. Tidak hanya yang sedang, bahkan ada yang kecil membuat Sema semakin kagum. Tatapannya terus berpindah-pindah mengamati benda-benda itu.
"Buka aja." Ucap Desta. Sema menoleh sesaat pada pemuda yang masih duduk di ranjang. Kini tangan Sema terulur untuk menggeser kaca etalase hingga terbuka. Merasa senang saat dapat menyentuh miniatur-miniatur itu.
Dari tempatnya duduk, Desta dapat melihat betapa antusiasnya Sema menyentuh miniatur planet-planet itu. Ia tersenyum tipis.
"Lo mau?" Tanya Desta. Sema yang sedang memegang miniatur itu menoleh spontan.
"Emang boleh?" Tanya Sema.
Desta tersenyum membuat Sema juga ikut tersenyum antusias. "Enggak." Jawab Desta sembari menggeleng membuat senyum Sema luntur berganti dengan decakan sebal.
"Kalo gitu ngapain nawarin?" Sahut Sema dengan nada kesal. Ia kembali meletakkan miniatur itu ke tempatnya.
Desta berdiri menghampiri gadis itu. "Nggak gampang nyari yang begini. Gue udah ngumpulin dari lama." Ucap pemuda itu. Kini ia berdiri dengan kedua tangan melipat di depan dada. Bertumpu pada lemari di sampingnya.
Sema tak peduli, ia masih kesal.
"Tapi Lo boleh ngefoto, setidaknya Lo punya fotonya sekalipun nggak punya benda nya."
__ADS_1
Dih, Sema hanya mendelik sembari mencebik. Ia kembali fokus. Kini menjelajahi rak buku yang penuh. Sema lihat kebanyakan diisi oleh komik koleksi Desta. Sema hanya melihat-lihat saja, sebab ia kurang suka cerita bergambar itu.
Gadis itu hampir saja terjungkal kala mendapati sebuah rangka tengkorak berdiri di depannya. Lengkap dari kepala hingga kaki. Tak sengaja mendapati suara tawa, Sema berbalik badan. Ia mendengus kesal lantaran Desta yang tertawa ke arahnya. Posisi pemuda itu masih sama seperti tadi.
"Lo nggak ngeri nyimpen tengkorak di kamar Lo?" Tanya Sema.
Desta menyudahi aksi tertawa singkatnya itu. "Itu kan cuma plastik." Jawabnya. Sema bergeming. Iyasih cuma plastik, tapi tetap saja mengerikan kalau dilihat. Kini gadis itu memicing ke arah Desta membuat kerut bingung pada dahi pemuda itu.
"Jangan-jangan Lo psikopat ya?" Tuduhnya.
"Sembarangan." Sahut Desta cepat-cepat.
"Lo kan sok-sokan misterius gitu, persis kayak psikopat." Ujar Sema sembari menunjuk Desta.
"Kalo bener Lo berarti dalam bahaya karena masuk kandang psikopat."
Sema merinding, sesaat napasnya tercekat. Terlebih saat mendapati ekspresi Desta yang mengerikan. Pemuda itu menyeringai. Tetapi sesaat kemudian tawa menggelegar karena melihat Sema begitu ketakutan.
"Ngapain Lo ketawa?"
"Pengen aja, lagian jarang-jarang kan Lo liat Gue ketawa?"
Sema memutar bola matanya malas. "Lo malah makin aneh kalo ketawa." Gadis itu tak lagi peduli, kini langkahnya menuju kanvas-kanvas yang tergantung. Lukisan-lukisan buatan tangan itu nampak menarik setelah miniatur planet.
"Ini buatan Lo?" Tanya Sema sembari mengusap lukisan itu.
"Menurut Lo?" Pemuda itu mendekat. "Lo bisa lihat ada nama Gue di pojok." Sema meneliti lagi lukisan itu, dan benar saja. Nama lengkap dengan tanda tangan turut menghiasi.
Tak ingin membuka percakapan lebih lanjut, Sema sibuk kembali dengan benda-benda di kamar Desta. Sampai sebuah benda terulur tepat di depan matanya. Sema memiringkan kepalanya penuh tanya.
"Apa ini?" Tanya nya. Dilihatnya gantungan kunci berbentuk Saturnus kecil.
"Gantungan kunci." Jawab Desta.
"Iya Gue tau—"
"Terus ngapain nanya?" Sahut Desta memotong ucapan Sema.
"Buat apa?" Sema mengubah pertanyaannya.
"Buat Lo." Desta menyerahkan paksa gantungan kunci itu kepada Sema. "Kenapa Lo kasih ke Gue?" Tanya Sema sembari mengangkat gantungan kunci berbentuk planet Saturnus itu sebatas mata. Mengamati gantungan kecil yang lucu menurutnya itu.
"Seenggaknya gantungan kunci lebih murah harganya daripada miniatur planet tadi." Jawab Desta.
Sema tersenyum, ia mengambil tas di gendongannya. Lantas memakaikan gantungan kunci itu pada resleting tas. Sema tersenyum puas setelahnya.
__ADS_1
"Makasih."