SEMESTA

SEMESTA
16. Perjalanan pulang


__ADS_3

Jingga mulai nampak semenjak jam menunjukkan pukul lima lebih. Di dalam kamar hotelnya, Sema sesekali menatap keluar jendela. Namun mobil yang ditumpangi oleh dua guru nya dan Desta belum juga nampak.


Setahu dirinya kemarin tidak sampai se-sore ini. Apa olimpiade fisika lebih susah? Banyak babak nya? Atau bagaimana?


Sema menghela napas. Kalau saja dirinya tidak mendadak lemas tadi pagi mungkin ia sekarang bersama Desta. Ikut menemani pemuda itu berjuang. Ingin lihat juga bagaimana pemuda itu tegang dan gugup sebelum memulai lomba. Walaupun faktanya tadi pagi pemuda itu santai-santai saja.


Sejujurnya Sema lebih menanti hasil olimpiade Desta daripada kedatangan lelaki itu. Ya, kurang lebih seperti itu.


Lima menit kemudian kira-kira, Sema melihat sebuah mobil berjalan masuk pada pekarangan hotel. Sema mengangkat kepala semangat, ini yang ia tunggu sedari tadi. Sema memakai cardigan nya, merapikan rambutnya yang berantakan. Lalu berjalan keluar.


Ia tak menghampiri Desta, memilih menunggu di depan pintu sembari menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa degupan jantungnya terasa dipercepat.


Tak lama presensi pemuda itu datang sendirian, berjalan sembari mengerutkan keningnya bingung dengan gadis yang berdiri di depan pintu. Pun Sema sama bingungnya, kemana Bu Nila dan Bu Rosa? Ia pun segera menghampiri Desta tak sabaran.


"Kenapa?" Tanya Desta.


"Bu Rosa sama Bu Nila mana?" Tanya Sema. Ia bahkan lupa tujuannya menunggu Desta di depan pintu.


"Pulang."


"Hah?"


"Bu Rosa sama Bu Nila langsung pulang tadi." Ujar Desta melangkah menuju kamarnya. Ia berbalik hendak menutup pintu, tetapi presensi gadis yang agaknya masih penasaran itu membuat Desta menghela napas. Ia membuka lebar-lebar pintu kamar nya kembali.


"Mau masuk?" Tanya Desta. Tanpa menjawab Sema segera berjalan menerobos sisi kiri Desta. Kemudian duduk di sofa. Menunggu Desta datang dengan sejuta pertanyaan di kepala kecilnya. Ia bahkan tak memikirkan kini ia tengah memasuki kamar seorang laki-laki. Walaupun kamar hotel, tapi kan?


Desta meletakkan tas nya ke dalam koper. Tak lupa memasukkan beberapa buku nya yang ia keluarkan.

__ADS_1


"Jadi Bu Nila sama Bu Rosa udah pulang duluan?" Tanya Sema.


"Iya, nanti kita pulang jam tujuh malam." Sahut Desta lengkap agar tak lagi mendapat pertanyaan dari gadis itu. Sema mengangguk, ia memang sudah tau, ia sudah berkemas juga. Tinggal pulang.


Desta masih sibuk dengan kegiatannya sampai sebuah pertanyaan terlempar kepadanya.


"Gimana hasilnya? Juara satu pasti." Tanya Sema, disertai jawaban hasil asumsinya tentu saja. Desta disana berdecak pelan. Tak berniat menjawab cepat.


Setelah selesai dengan berkemas nya, Desta duduk di tepi ranjang memainkan ponselnya. "Senin juga Lo bakal tau." Jawabnya. SEMA mendengus, kalau menunggu Senin itu artinya lusa. Tapi tunggu? Bukannya kalau begitu tandanya Desta memang menang? Tidak tahu juara berapa tapi kalau diumumkan di hari Senin berarti memang mendapatkan juara.


"Berarti emang menang ya?" Tanya Sema lagi.


"Lo nggak bodoh ternyata." Gumam Desta yang di dengar samar oleh Sema.


"Hah?" Desta menoleh. "Udah keluar sana, Lo cewek. Nggak baik cewek main di kamarnya cowok." Usir Desta secara terang-terangan. Sema berdiri sembari mendengus. "Biasanya juga Gue main ke kamarnya Haru nggak apa-apa." Ucapnya sebelum membanting pintu lumayan keras. Hey, ini pintu hotel. Kalau rusak bagaimana?


Bukan karena bantingan pintu nya, tapi untuk apa Sema main ke kamarnya Haru?


Desta menggeleng pelan, menyingkirkan pikiran-pikiran anehnya. Lalu kembali pada ponselnya.


Fokus Desta!


...—o0o—...


Langit mulai menggelap, bersama kedua orang yang kini telah berjalan dengan koper masing-masing, hendak kembali ke kota mereka. Desta yang sudah lebih dulu turun kini memilih duduk lalu berkutat pada ponselnya, tanpa peduli dari arah Lobi Sema masih bersusah payah menarik koper nya keluar. Perasaan waktu berangkat tidak seberat ini.


Mungkin memang Sema yang lemah.

__ADS_1


Ia menstabilkan napasnya yang memburu sehabis memasukkan koper nya ke bagasi, dibantu supir untungnya. Tapi keadaan gadis itu terlihat seperti sehabis marathon. Langsung saja Sema menyandarkan dirinya pada sandaran jok mobil.


Mobil melaju penuh keheningan. Hanya ada suara yang muncul dari game online yang dimainkan Desta membuat Sema jadi bosan. Perlahan ia menutup matanya, hendak tertidur. Tapi sebelum itu ia memastikan dirinya menyandar ke arah jendela karena tak mau kejadian waktu berangkat beberapa hari lalu terulang kembali. Berujung dirinya memeluk Desta dengan nyamannya. Sema tak mau malu lagi. Makanya sekarang ia melepas cardigan rajutnya menyisakan kaos putih yang ia kenakan. Lalu meletakkan cardigan itu di dekat jendela untuk menjadi bantal kepalanya. Setidaknya sekarang lebih nyaman daripada waktu tidak memakai bantalan apa-apa. Tapi kalau boleh jujur lebih nyaman pundak Desta daripada bersandar pada jendela. Tapi kan ya tidak mungkin Sema bersandar pada mayat hidup itu.


Perlahan perjalanan membosankan ini membuatnya mengantuk. Sema memutuskan untuk tidur beberapa saat kemudian.


Sedangkan disisi Sema, Desta yang nyatanya terlihat fokus pada game nya terlihat terusik dengan kegiatan gadis itu melepas cardigan menyisakan kaos putih. Bukan niat Desta memikirkan hal yang bukan-bukan, tapi Desta kan juga laki-laki normal.


Berulang kali mencoba menepis pikirannya dengan fokus pada game, bahkan mengganti posisi menghadap ke jendela sedikit membelakangi Sema tak membuat pria itu tenang. Ia mengusak rambutnya ke belakang, cukup kasar sampai beberapa helai tercabut.


Desta kemudian meletakkan ponselnya di sisi nya. Bergerak melepas jaket denim yang sedari tadi melekat pada tubuhnya. Dinginnya pengatur suhu langsung mendominasi. Menusuk kulit putihnya yang kini hanya mengenakan kaos. Awalnya Desta ragu, tetapi tangannya bergerak cepat melempar jaketnya begitu saja hingga mengenai tubuh Sema.


Gadis itu awalnya terlonjak masih dengan mata tertutup, namun mendapati kehangatan dari benda yang menimpanya ini entah apa, ia kemudian mengeratkan jaket Desta untuk menutup tubuhnya sampai di leher. Gadis itu kembali mencari kenyamanan.


Desta menegang.


Mencari kenyamanan membuat Sema berbalik arah dan berakhir di pundak Desta, lagi. Gadis itu sepertinya mulai pulas lagi dilihat dari napasnya yang teratur dan pegangan tangannya yang mulai mengendur. Bahkan jaket Desta sudah melorot sampai di perut gadis itu.


Desta menggigit bibir bawahnya. Terakhir kali begini membuat badannya pegal. Alih-alih membangunkan, Desta lebih memilih memindahkan kepala Sema pelan-pelan kembali ke tempat asalnya dengan cardigan sebagai alasnya. Desta juga cukup baik hati kali ini, ia menaikkan jaket nya hingga menyelimuti Sema.


Desta bernapas lega setelahnya, ia kembali meraih ponselnya. Bermain game lagi sampai berulang kali. Kemenangan beruntun membuatnya sedikit bosan. Ia hendak beralih ke aplikasi web komik yang selalu ia baca tetapi ekor matanya menangkap kepala Sema yang terus-menerus terbentur jendela lantaran jalanan yang mereka lewati kali ini terdapat beberapa kerusakan.


Desta mengutuk diri, kenapa saat seperti ini matanya selalu menangkap hal-hal yang mengganggunya. Desta kembali melempar ponselnya, ia bersandar pada jok mobil frustasi sembari mengusap wajahnya sendiri.


Tetapi sesaat kemudian ia bangkit, dengan ragu ia membawa Sema untuk kembali bersandar padanya. Desta merasa aneh sebenarnya.


Tapi untuk kali ini, hanya kali ini dan hari ini saja . Ia akan sedikit berbaik hati pada teman olimpiade nya itu.

__ADS_1


__ADS_2