SEMESTA

SEMESTA
24. Rumah sakit


__ADS_3

Pintu terbuka cukup keras setelah satu dobrakan kuat. Napasnya tergantung begitu menyaksikan penampilan gadis di depannya ini. Desta semakin terkejut mendapati darah keluar dari hidung Sema. Penampilan gadis itu mengenaskan, bibirnya pucat kebiruan. Tubuhnya menggigil. Seragamnya lembab. Matanya pun sembab, sendu. Gadis ini sekarat.


Pemuda itu tak menunggu waktu untuk menghampiri. Setelahnya melepas jaket yang membalut tubuhnya menyisakan kaos putih polos. Desta sekarang menyelimuti tubuh Sema dengan jaket miliknya. Lantas menyisipkan kedua tangannya untuk membawa Sema dalam gendongannya.


Hawa hangat dari pemuda itu lantas menjalar, masih dapat Sema rasakan detak Desta sedang tak karuan. Di sisa kesadarannya yang entah tinggal berapa ini, Sema melihat wajah Desta dari bawah sini. Pemuda itu nampak khawatir seolah mereka telah saling mengenal dalam waktu yang lama.


Darah dari hidung Sema tak berhenti keluar, bahkan mengotori kaos putih Desta. Sementara gadis itu masih mencoba mempertahankan kesadarannya walaupun agak susah dengan pusing yang kian menjadi.


Desta berjalan setengah berlari menuju mobilnya. Ia berhenti kemudian, menyadari mobilnya sudah tidak layar pakai. Ia berfikir sejenak sampai sebuah mobil menyapa pelataran sekolah. Berhenti tepat di dekat mobil Desta membuat pemuda itu menghampiri mobil itu cepat-cepat.


Itu Pak Bobby.


Guru tata tertib itu keluar hendak menghampiri muridnya, namun Desta sudah lebih dulu membuka pintu belakang mobilnya, memasukkan Sema dalam posisi duduk. Lalu dirinya ikut masuk.


"Pak, nanti aja nanya nya. Sekarang ke rumah sakit." Perintah Desta. Sangat tidak sopan namun keadaan sedang mendesak. Pak Bobby akhirnya kembali masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya tak secepat Desta. Membuat pemuda itu terus mengeluh sepanjang perjalanan.


Sementara itu di jok belakang, Desta sesekali mendengar lirihan dari Sema. Gadis itu masih kedinginan meskipun sudah memakai jaket milik Desta.


"Dingin." Lagi-lagi lirihan kecil lolos dari bibir gadis itu. Pemuda itu tidak ada pilihan lain selain merapatkan dirinya dengan gadis di sampingnya. Memberikan rengkuhan untuk menyalurkan hangat suhu tubuhnya, kepada gadis yang masih menggigil itu.


"Sabar, bentar lagi." Ucap Desta. Sema hanya mendengar suara Desta samar-samar. Telinganya berdengung. Nyeri di kepalanya kian menjadi. Sedangkan darah di hidungnya semakin deras menetes. Setiap air mata Sema hanyalah membuat kepalanya semakin pusing. Di samping itu, sedikit rasa dinginnya menghilang akibat rengkuhan hangat Desta.


"Pak cepetan." Eluh Desta. Pak Bobby berdecak. "Bapak punya anak masih kecil Desta, jangan ngajak mati." Sahut Pak Bobby. Malam hari dengan rintik hujan membuat jalanan jauh lebih berbahaya. Walaupun hujannya tidak deras, hanya rintik kecil tetapi cukup membuat kaca depan blur.


Beberapa saat kemudian, mobil pak Bobby telah sampai di depan rumah sakit. Desta segera membuka pintu di sampingnya, lalu memutar menuju pintu di samping Sema. Menggendong gadis itu keluar lantas pergi begitu saja meninggalkan Pak Bobby sendirian.


Pemuda itu masuk dengan tergesa. Mencuri perhatian siapa saja.

__ADS_1


Sema kini dibawa ke unit gawat darurat. Beberapa perawat dengan cepat menangani. Desta tak langsung dapat duduk tenang. Perasaannya terus membawanya untuk sesekali menengok keadaan gadis itu lewat kaca kecil di pintu. Sesekali mondar-mandir saking cemasnya.


Sementara Pak Bobby baru datang selepas memarkirkan mobilnya. Guru paruh baya itu sedikit heran dengan tingkah tak biasa yang ditunjukkan salah satu murid kebanggaan SMA ini.


"Desta, duduk dulu." Ujarnya. Guru itu terlihat lebih tegas dari tadi. Desta menoleh sejenak, lalu ingat sesuatu.


"Sebentar pak, saya kembali lagi nanti." Pemuda itu segera berlari entah kemana. Panggilan Pak Bobby pun tak dihiraukan.


Seolah tak lelah, pemuda itu berlari kencang lalu berhenti di sebuah ruangan. Seperti ruangan praktik dokter. Tanpa permisi pemuda itu membukanya hingga orang di dalamnya terkejut.


"Loh, Desta?"


...—o0o—...


Pak Bobby tak lagi mampu menahan diri untuk sekedar menutup mulut dengan benar. Tercengang dengan kelakuan murid pintar yang satu ini. Pemuda yang biasanya minim ekspresi itu datang-datang membawa seseorang. Bukan membawa, lebih tepatnya menyeret. Seolah tak sabaran, sementara seseorang dengan jas putih itu menurut saja di tarik Desta.


"Desta?" Pak Bobby tak habis pikir. Pemuda itu berhenti tepat di depan ruangan unit gawat darurat.


Desta menghela napas lega, memperhatikan seorang gadis yang terbaring dengan pakaian yang sudah diganti. Terlihat gadis itu sedang diperiksa oleh orang yang ia bawa tadi.


Itu Papa nya.


Desta yang sadar akan tatapan bertanya dari pria lainnya disini pun peka. "Dokter itu Papa saya pak." Ucap Desta. Padahal yang kini berada di otak Pak Bobby tak hanya sekedar 'siapa yang Desta seret kemari' tapi juga perihal tadi.


Pak Bobby mengambil tempat di sebelah Desta. "Sema kenapa bisa gitu?" Tanya Pak Bobby.


"Ke kunci pak di toilet." Jawab Desta sembari menyadarkan kepala pada tembok bercat putih itu. Mengusak rambutnya ke belakang. Keringatnya mulai berangsur-angsur mengering karena dinginnya suasana malam ini.

__ADS_1


"Kok bisa? Yang pegang kunci toilet kan cuma tukang bersih-bersih?" Tanya Pak Bobby. Pernyataan guru itu menarik atensi Desta sepenuhnya. Pemuda itu memposisikan badannya menghadap sang guru. Ia bukannya tak memikirkan beberapa asumsi sejak tadi. Hanya saja setelah pernyataan keluar dari mulut sang guru, Desta kini lumayan yakin satu hal.


"Asumsi saya kayaknya benar Pak." Gumam Desta.


"Asumsi apa?"


"Bullying."


Pernyataan Desta membuat Pak Bobby terdiam sesaat. Terkejut sekaligus berfikir. "Masa iya sih? Perasaan saya udah patroli tiap pulang sekolah." Ujar Pak Bobby.


Desta memutar bola matanya malas. "Bapak kan cuma ngecek taman belakang sama Rooftop doang. Target bapak kan siswa laki-laki. Mana pernah bapak menginjakkan kaki di toilet siswi?" Pak Bobby terdiam sejenak. Tersentak nan tertohok lebih tepatnya. Memang sih dalam kamus nya yang nakal pasti laki-laki. Padahal perempuan yang nakalnya melebihi laki-laki lebih banyak.


"Jadi maksud kamu?" Tanya Pak Bobby. "Sema di-bully sama temen perempuannya gitu?" Imbuhnya.


"Baru asumsi." Peringat Desta.


Pemuda itu memilih menghadap ke depan lagi. "Bapak udah hubungin orang tua nya Sema." Desta menoleh tanpa minat mendengar ucapan Pak Bobby


"Kalo bener bullying ini bisa panjang urusannya. Nama sekolah juga kena." Pak Bobby berargumen. Desta menghela napas kasar. "Tangkap pelakunya, bukan suap korbannya." Entah kenapa Desta berkata demikian. Tapi sesaat kemudian pemuda itu bangkit.


"Mau kemana kamu?" Tanya Pak Bobby. Pemuda itu berbalik. Lalu menunjuk ke arah pipi nya yang terluka akibat goresan kaca sewaktu dirinya nekat menabrak gerbang sekolah.


"Saya mau ngobatin ini. Bapak mau ikut?" Pak Bobby menggeleng membiarkan Desta pergi.


Pemuda itu menuju ke ruangan ayahnya. Dulu ia sering sekali kesini. Tapi karena semakin besar, Desta agak gengsi menyapa ayahnya di ruang kerja. Ia mencari kotak P3K untuk mengobati lukanya.


Beberapa saat kemudian dering telepon menginterupsi kegiatannya. Desta menoleh pada unknown number yang tertera. Wajah Desta berubah bingung, namun ia tetap mengangkat teleponnya.

__ADS_1


"LO BAWA SEMA KEMANA, BANGSAT!"


Tanpa bertanya siapa, Desta tentu tau ini siapa.


__ADS_2