
Haru berjalan gusar menuruni tangga. Berlari sepanjang koridor sekolahan untuk cepat sampai di lapangan namun nihil. Hanya bunyi sirine ambulan yang perlahan menjauh. Menyaksikan kerumunan yang perlahan memudar menyisakan pemuda yang juga tengah menatap kepergian ambulan itu.
Haru mendekatinya.
Bughh.
Pikirannya kalut hingga melayangkan pukulan bertubi-tubi pada pemuda di depannya. Merasa menerima serangan tiba-tiba, pemuda itu tak tinggal diam.
"LO APA-APAAN!" Pemuda itu berkata keras sekali hingga membuat kerumunan yang perlahan memudar kini kembali lagi menyaksikan pertarungan sengit si visual sekolah dan si otak sekolah.
Haru dan Desta, keduanya terlibat adu fisik. "MATI LO, BANGSAT." Haru terus memukuli Desta bertubi-tubi, Desta pun tak kalah menyerang Haru. Memberikan luka yang sama yang Haru berikan kepadanya. Tidak ada yang berani memisahkan, sebab dua orang yang tadi memisahkan menjadi samsak salah arah. Keduanya mundur perlahan, membiarkan Haru dan Desta terlarut dalam emosi masing-masing.
"HARU, DESTA BERHENTI!" Di balik kerumunan Keyra datang dengan wajah cemasnya memperhatikan sang kekasih dan sahabatnya terlibat adu fisik. Darah mencuat dimana-mana. Di sudut bibir bahkan di pelipis. Hidung Desta pun mengeluarkan darah. Mereka sama-sama sekarat namun tak ada niatan untuk berhenti.
"KALIAN JANGAN DIEM AJA DONG, PANGGIL PAK BOBBY." Keyra membentak teman-teman yang malah sibuk menonton. Baru berinisiatif memanggil guru setelah bentakan Keyra barusan.
"DENGER, LO ITU CUMA ORANG BARU YANG KEBETULAN SERU. LO JAUHIN SEMA, BANGSAT."
"PANTES AJA SEMA LARI DARI LO. COWOK KAYAK LO EMANG NGGAK PANTES BUAT SIAPAPUN." Kalimat Desta memantik Haru. "BANGSAT." Pekik Haru. Pemuda itu kian buas, Desta hampir kewalahan mengimbangi hingga akhirnya sayup-sayup Pak Bobby datang membelah kerumunan.
"DESTA, HARU BERHENTI!!!" Omongan Pak Bobby bak angin lalu. Nyatanya keduanya masih saling melayangkan tinju.
"BERHENTI ATAU SAYA PANGGIL ORANG TUA KALIAN KESINI?" Ancaman pak Bobby sedikitnya membuat mereka berdua akhirnya sama-sama berhenti. Meskipun kilat permusuhan masih terpancar. Napas mereka tersengal-sengal. Wajah mereka hampir semua dipenuhi lebam, tapi anehnya mereka masih kuat berdiri.
__ADS_1
"Kalian apa-apaan sih?" Keyra menghampiri cemas kedua pemuda yang saling mengibarkan tatapan tajam. Sama-sama nyalang, seolah masih belum puas dengan perkelahian mereka.
"KALIAN SEMUA BUBAR!" Ucapan Pak Bobby membuat sebagian orang kecewa karena tontonan yang jarang sekali terjadi harus berakhir. Malah kalau diingat-ingat, Haru bahkan tak pernah memiliki urusan dengan Desta.
"Keyra, kamu juga kembali ke kelas."
"Tapi pak?"
"Keyra kembali ke kelas." Keyra menghela napas kasar. Mau tak mau ia harus kembali ke kelas. Walaupun dalam hati masih penasaran penyebab Haru dan Desta bertengkar. Ia juga sedikit kasihan melihat keduanya dalam luka lebam yang hampir rata.
Selepas kepergian Keyra, Pak Bobby menatap kedua muridnya yang jarang membuat masalah. Mungkin Haru beberapa kali ketahuan membolos. Tapi Desta? Ia jauh dari kata masalah.
"Kalian berdua ikut bapak." Perintah Pak Bobby. "Maaf pak, tapi saya buru-buru." Haru segera berlari menghiraukan Pak Bobby yang berteriak memanggilnya.
Semoga Sema baik-baik aja—batinnya.
...—o0o—...
Haru berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit yang baru saja diberitahukan kepadanya. Berulang kali Haru menyalahkan dirinya atas apa yang melanda Sema. Dari yang Haru dengar, gadis itu mendadak sesak napas dan pingsan di lapangan setelah bertengkar dengannya.
Haru yang kalut, terlebih saat tau lagi-lagi Desta yang menolong Sema membuatnya menyerang pemuda itu. Tak bisa dipungkiri ia benci Sema nya didekati atau terlalu dekat dengan orang lain. Barangkali Haru lupa ia yang membuat dirinya dan Sema berjarak. Semua karenanya. Kalau saja ia tak ceroboh bermain-main, mungkin Desta ataupun Keyra tak masuk diantara mereka.
Haru segera menerjang pintu salah satu bilik. Terdiam diambang menstabilkan deru napasnya yang ribut. Sekali lagi Haru melihat Sema terbaring di rumah sakit karenanya. Walaupun secara tidak langsung.
__ADS_1
"Haru?" Itu Ria, Mama Sema yang bersuara. Dilihatnya Sema yang sudah sadar juga tengah menatap ke arahnya. Wajahnya lebih pucat dari yang Haru lihat tadi pagi. Terlebih selang infus yang menempel membuat Haru kian merasa bersalah.
"Tante—"
"Ma, suruh dia pergi. Sema mau istirahat." Ucapan Haru tercekat. Begitupun dengan hatinya yang mencelos. Sesak menguar begitu saja. Apalagi saat melihat Sema memalingkan wajahnya agar tak bersinggung tatap dengan Haru.
"Sema—"
"MA, SURUH HARU PERGI!" Ria diambang dilema. "Sema ada apa sayang? Kamu ada masalah sama Haru? Dia baru dateng loh." Ria mencoba menengahi.
"Sema capek, Sema nggak mau diganggu. Mama suruh Haru pergi." Ria menatap Haru iba. Tapi senyuman serta anggukan kecil menandakan Haru baik-baik saja membuat Ria tidak enak Hati. Pemuda itu kembali menutup pintu dan keluar.
Seketika tangis Sema pecah. Ria membawa putrinya itu dalam pelukannya. Sedikit penasaran akan masalah yang sedang Sema dan Haru hadapi. Ia mengusap surai Sema lembut.
"Jangan kayak gini ya sayang, dibicarakan baik-baik sama Haru kalo ada masalah. Kalian udah bareng nggak setahun dua tahun. Kalian udah bareng dari kecil. Mama nggak suka kalian musuhan gini." Ria mencoba memberikan pengertian kepada Sema. Gadis itu tak merespon sama sekali.
"Jangan biarin masalah kecil bikin kalian jadi orang asing. Coba dengerin Haru dulu, dia keliatan nggak baik-baik aja. Mau kan sayang?" Sema menggeleng dalam dekapan sang Mama.
"Sema tau Ma, Sema bakal perbaiki semuanya tapi enggak sekarang."
"Untuk sekarang biarin Sema dan Haru berjarak dulu. Sema mau menata semuanya dulu." Ria menghela napas pasrah. Ia pun tak bisa memaksa putrinya untuk menuruti ucapannya. Yang bisa ia lakukan hanya memberikan dekapan hangat, membiarkan putrinya menyalurkan segala masalah yang ia pendam selama ini. Sekalipun Ria tak tahu pastinya masalah seperti apa itu. Kisah remaja memang rumit.
Sema sudah tumbuh sebesar ini. Sema pasti kuat.
__ADS_1
"Mama sayang Sema, apapun itu Mama dukung Sema. Sema ngerti kan?" Ria tersenyum saat Sema mengangguk menanggapi ucapannya.