Sengaja Mencintaimu Untuk Kausia-siakan

Sengaja Mencintaimu Untuk Kausia-siakan
Hilangnya Kepercayaan


__ADS_3

"Apa-apaan ini?"


Dilemparkannya beberapa foto ke atas meja, tepat berada di hadapan anak perempuannya.


Marvin Gumelar. Seorang laki-laki berusia 42 tahun yang memiliki seorang anak perempuan bernama Alisia Tsabina. Sudah hampir genap empat tahun dirinya ditinggalkan oleh istrinya. Namun, meski begitu ia tidak pernah berniat untuk mencari istri yang baru. Berkepribadian keras kepala, tidak suka dibantah, gampang curiga pada orang baru, akan tetapi ia begitu menyayangi anaknya.


"Jawab pertanyaan papa, Alis!"


Alisia Tsabina. Sering dipanggil Alis. Seorang anak semata wayang dari pasangan Marvin Gumelar dan Sri Intan. Bertubuh mungil, berkulit putih bersih, berambut panjang, juga memiliki gigi gingsul yang semakin menambah kecantikkannya.


"Alis, kamu punya telinga tidak?" bentak Marvin dengan nada suara tinggi.


Ini adalah kali pertama Marvin sangat memarahi anak perempuannya. Sesaat setelah melihat beberapa foto yang di dalamnya ternyata anaknya sedang berciuman dan melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya yang dilakukan dengan seorang laki-laki yang tidak dikenalinya.


Amarahnya meluap, matanya melotot begitu sempurna, tangannya mengepal sempurna.


"Alis?!" panggil Marvin dengan nada suara membentak.


Sementara Alisia hanya tertunduk malu saat papanya mengetahui apa yang dilakukan oleh dirinya bersama kekasihnya.


"Sejak kapan papa ngajarin buat ngelakuin hal-hal kayak gini, Alis?" tanya Marvin kembali.


"Ini tidak seperti yang papa lihat. Alis bisa menjelaskan semuanya, Pa." Alisia mulai berani untuk membuka suaranya.


"Ini sudah jelas, gak ada yang perlu dijelasin lagi," bantah Marvin.


"Vino?" teriak Marvin memanggil sopirnya.


"Iya tuan?" sahut Vino sesaat setelah berlari begitu cepat menghampiri Marvin.


"Siapkan mobil! Kita akan pergi ke rumah sakit buat ngecek apa anak ini hamil atau tidak," ujar Marvin.


Sontak Alisia kaget dan membuka matanya lebar-lebar. Ia bangkit dari duduknya.


"Pa? Alis gak hamil! Alis akui emang Alis ngelakuin semua yang ada di foto ini, tapi Alis gak sampai melakukan apa yang dipikirkan oleh Papa," ungkap Alis melakukan pembelaan diri.


"Diam kamu!" sanggah Marvin.


Tidak ada lagi alasan untuk Alisia membela diri. Marvin benar-benar sudah sangat marah kepadanya. Kekecewaannya yang begitu besar membuat Marvin hampir hilang kendali. Untung saja dirinya tidak memiliki penyakit jantung.


Sebagai orang tua, Marvin memang mengetahui dari awal bahwa pergaulan Alisia sudah menyimpang. Namun, sudah beberapa kali Marvin menasihati Alisia dan sudah beberapa kali itu juga Alisia tidak menuruti nasihat dari Marvin. Melihat foto-foto Alisia yang menurutnya sudah sangat keterlaluan, membuat dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa anaknya akan melakukan sesuatu sampai sejauh itu.

__ADS_1


Tidak menunggu waktu lama, Marvin langsung membawa Alisia ke dokter kandungan untuk mengecek apakah anaknya sedang hamil atau tidak.


"Bagaimana, Dok? Apakah anak saya sedang hamil?" tanya Marvin sesaat setelah dokter mengambil posisi duduk di kursinya.


Dengan harap-harap cemas Marvin menunggu jawaban dari dokter kandungan itu. Sementara dokter itu melihat ke arah Alisia dengan tatapan yang membuat Marvin merasa semakin cemas.


Marvin melirik ke arah Alisia dengan tatapan sinis dan penuh kekecewaan.


"Anak bapak tidak sedang hamil," ucap dokter kandungan itu.


Seketika detak jantung Marvin yang berdegup begitu kencang perlahan berjalan normal kembali, sesaat setelah mendengar jawaban dari dokter kandungan itu. Dibuangnya napasnya dalam-dalam dan sesaat matanya memejam.


"Baiklah terima kasih, Dok," ucap Marvin mengasongkan tangan kanannya.


Keduanya bersalaman. Sejurus kemudian Marvin dan Alisia keluar dari ruangan itu.


"Sudah Alis bilang, Alis gak bakalan sampai ngelakuin hal itu, Pa."


Alisia berjalan di belakang Marvin, sedangkan Marvin tidak merespon ucapan Alisia. Ia hanya fokus berjalan dan pikirannya berkeliaran ke mana-mana.


Sesampainya di depan mobil, Marvin langsung masuk mobil, begitu pun dengan Alisia. Tidak ada obrolan yang tersambung antara keduanya. Meskipun sudah mengetahui bahwa Alisia tidak hamil, tetapi amarah Marvin masih belum kunjung reda.


Gue bakalan cari orang yang sengaja ngasih foto-foto gue ke papa. Lihat aja lo! batin Alisia.


Meski Marvin sudah mengetahui hal itu, akan tetapi dalam hatinya Alisia tidak merasa bersalah sedikit pun. Ia menganggap apa yang dilakukannya masih dalam batas wajar.


"Pa?" panggil Alisia saat Marvin turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.


"Pa? Alisia kan sudah terbukti gak hamil, kok papa masih marah sih?" tanya Alisia lanjut.


Marvin masih tetap berjalan tanpa merespon ucapan anaknya, Alisia. Ia sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya selanjutnya sebagai seorang ayah untuk mencegah anaknya agar tidak terjerumus lebih dalam.


Tepat setelah beberapa langkah memasuki rumah, tiba-tiba langkahnya terhenti. Dan membuat Alisia merasa heran.


Marvin melirik ke sebelah kiri tanpa membalikkan badannya ke arah Alisia.


"Besok pagi kamu akan menikah. Papa akan nikahkan dengan seorang laki-laki pilihan papa," ungkap Marvin.


DEG!


Detak jantungnya berhenti untuk sesaat kemudian berdegup sangat kencang. Matanya begitu bulat sempurna, pikirannya semrawut ke mana-mana setelah mendengar ucapan Marvin.

__ADS_1


"Tapi Pa, Alisia kan sebentar lagi mau kuliah," ucap Alisia membela diri.


"Kamu bisa kuliah setelah nikah," sambung Marvin kembali melanjutkan langkahnya.


"Pa, Alisia mohon, Pa. Alisia janji gak bakalan lakuin hal itu lagi. Alisia janji, Pa."


Keadaan terpaksa membuat Alisia mengucapkan janji kepada Marvin.


"Papa gak bakalan terima alasan apa pun. Pokoknya kamu besok tetap akan nikah!"


Sejurus kemudian Marvin berlalu ke kamarnya dan meninggalkan Alisia di ruang tamu sendirian.


"Gue bahkan gak ngerti sama orang tua zaman sekarang. Padahal yang gue lakuin itu masih wajar-wajar aja," ujar Alisia kepada dirinya sendiri.


Ia masih tidak menyadari kesalahannya sedikit pun.


"Ini gak bisa dibiarin, gue harus ngehubungin Edgar. Edgar harus tahu akan hal ini," lanjut Alisia.


Ia berjalan begitu cepat menuju kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.


"Ah, sial! Gak aktif lagi," umpat Alisia.


Pikirannya semrawut ke mana-mana. Ia tidak bisa begitu saja menerima apa yang diucapkan oleh Marvin. Baginya, apa yang akan dilakukan Marvin besok adalah sesuatu yang berlebihan. Mana mungkin dirinya akan dinikahkan dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kenali.


"Gue gak bisa menerima semua ini. Gue gak bisa nikah sama orang yang gak gue cintai, bahkan gue aja gak tahu siapa cowok itu."


Alisia terus meracau ke mana-mana. Ia begitu menolak mentah-mentah ucapan Marvin.


"Ayo dong aktif, Gar! Gue sangat butuh lo."


Beberapa kali Alisia menelepon kekasihnya, Edgar Wiguna. Hubungannya dengan Alisia sudah hampir genap tiga tahun. Namun, selama tiga tahun itu pula Marvin sama sekali tidak pernah mengetahui akan hubungan Alisia dengan Edgar.


"Kalau Papa tetap keras kepala bakalan nikahin gue besok, malam ini gue bakalan kabur dari rumah," kata Alisia.


Saat ini ia tidak bisa berpikir jernih dan satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah dengan cara kabur dari papanya.


Di sisi lain Marvin sedang memikirkan sesuatu, termasuk ucapannya tadi. Sangat berat untuk dirinya menikahkan Alisia di usia yang masih begitu muda. Namun, ia tidak bisa terus-menerus membiarkan hal ini. Jika terus dibiarkan, ia takut Alisia melakukan lebih dari apa yang ia lihat di foto itu.


"Hallo, Vino," ucap Marvin di telepon.


"Iya tuan, kenapa?" sahut sopir itu.

__ADS_1


"Siapkan lima belas penjaga untuk menjaga rumah ini! Jangan sampai Alisia kabur," suruh Marvin pada sopirnya.


(*)


__ADS_2