
Alisia membalikkan badannya. Lalu sedetik kemudian ia memangku tangannya. Memasang raut wajah yang begitu pahit dan tentunya hatinya yang dipenuhi rasa dendam kepada Andrian.
Andrian tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Alisia. Mengapa pertanyaannya terdengar begitu menyakitkan? Bukankah yang ia tahu Setyo menikahinya dengan Alisia karena katanya Alisia pun menyukai Andrian. Sungguh, ini menjadi teka-teki bagi Andrian.
"Maksud lo apa?" tanya Andrian polos.
Bahkan, Alisia sama sekali tidak mengingat Setyo dan Gina. Padahal waktu ia berusia empat tahun hampir setiap main ke rumah Andrian. Mungkinkah Alisia benar-benar lupa akan Andrian dan keluarganya?
Alisia tertawa sinis disertai dengan tatapan yang begitu tajam.
"Masih nanya maksud gue apa?" Ia menggelengkan tangannya sembari bertepuk tangan.
"Lo **** atau pura-pura ****?"
Andrian benar-benar tidak mengerti mengapa Alisia bersikap seperti itu kepadanya. Sosok Alisia yang ia kenal dulu begitu jauh berbeda dengan Alisia yang kini berada di hadapannya.
"Gue sama sekali gak ngerti maksud lo," ujar Andrian mencari-cari jawaban dari sorot mata Alisia.
"Halah, orang kaya lo gak bakalan ngerti omongan gue. Yang ada di pikiran lo itu cuma duit," umpat Alisia.
Bagi Alisia, duit adalah alasan terkuat mengapa sosok laki-laki yang sekarang berada di hadapannya bersedia dijodohkan oleh Marvin. Pikirannya sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Mata hatinya pun sudah dipenuhi rasa dendam.
"Makanya jawab pertanyaan gue, dibayar berapa lo sama bokap gue? Biar gue bayar lebih lo malam ini buat menceraikan gue," lanjut Alisia.
DEGH!
Andrian membuka matanya sangat lebar, detak jantung semakin kencang, pun dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikirannya yang membuatnya semakin tidak mengerti.
"Jaga mulut lo, Alisia!" suruh Andrian.
Ia teringat kembali janjinya pada dirinya sendiri saat mengucapkan kabul tadi pagi. Bahwa dirinya akan menjaga Alisia sampai kapan pun dan tidak akan pernah menyakiti perasaan Alisia.
"Gue? Jaga mulut gue?" Alisia semakin mendekatkan wajahnya pada Andrian.
"Lo yang harusnya jaga diri lo buat gak pernah nikahin gue!" lanjut Alisia.
Kini jarak Alisia dan Andrian hanya satu jengkal tangan. Wajah keduanya begitu dekat. Alisia menatap Andrian dengan tatapan yang penuh kebencian, sementara Andrian menatapnya dengan penuh kebingungan.
Malam pertama yang seharusnya menjadi malam yang paling membahagiakan bagi setiap pasangan yang baru menikah, namun tidak dengan Andrian. Ia malah mendapatkan sumpah serapah dari Alisia.
Perlahan Andrian melangkahkan kakinya mendesak Alisia untuk mundur. Tatapannya kepada Alisia kini semakin dalam. Ia tidak percaya Alisia bisa berbicara sepahit itu kepadanya. Sedangkan Alisia tiba-tiba berubah menjadi ketakutan, ia tidak menyangka laki-laki yang telah diumpatinya malah semakin berani kepadanya.
"Lo--"
"Lo mau ngapain?" tanya Alisia terbata-bata.
Andrian sama sekali tidak menjawab pertanyaan Alisia. Ia masih mendesak Alisia untuk mundur. Hingga sedetik kemudian Alisia terjatuh pada ranjangnya dan merebahkan diri.
Andrian merengkuhkan badannya dan mendekatkan wajahnya pada Alisia. Baginya ini adalah salah satu cara untuk membuat seorang perempuan diam.
__ADS_1
Alisia membulatkan matanya lebar-lebar. Tidak bisa dipercaya bahwa sosok laki-laki yang berada di hadapannya begitu berani kepadanya. Sementara rasa dendam yang ada di hatinya semakin membabi buta.
Andrian semakin mendekatkan wajahnya pada Alisia sembari sedikit memiringkan wajahnya dan mendekati bibir Alisia.
"Lo mau ngapain?" Alisia semakin kaget. Napasnya begitu memburu.
"Gue sekarang adalah suami lo. Jadi jaga mulut lo baik-baik," bisik Andrian tepat di depan wajah Alisia.
Sejurus kemudian, Andrian langsung bangkit dan keluar kamar. Yang dilakukannya kepada Alisia bukan semata-mata karena ia ingin menyakiti Alisia atau membuat Alisia takut, akan tetapi karena ia adalah sosok laki-laki yang paling tidak suka kepada perempuan yang berbicara seenaknya begitu saja.
"Sial! Berani dia sama gue!" umpat Alisia penuh kekesalan.
"Sampai kapan pun gue akan berusaha agar lo menceraikan gue," lanjut Alisia.
(*)
Malam telah berpulang dan berganti menjadi pagi. Begitu pun dengan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 05:00 WIB. Para motivator bilang, awali pagimu dengan senyuman dan hati yang tulus agar lebih mudah menghadapi kerasnya terik sinar mentari yang menguras keringat saat mencari uang untuk sesuap nasi.
"Bi? Bi? Surti?" panggil Marvin sembari berjalan keluar dari kamarnya.
Matanya masih remang-remang dan ia pun masih menguap sampai beberapa kali.
Marvin memang selalu bangun lebih pagi dari Alisia. Ia tidak biasa jika harus bangun kesiangan. Baginya, kesuksesan dan keberhasilan seseorang tergantung bagaimana bangun paginya.
Sambil berjalan ia membayangkan Andrian dan Alisia seperti apa malam pertamanya. Lalu, ia membandingkan dengan malam pertamanya waktu dirinya dengan istirnya dulu. Begitu menyenangkan.
"Siapa yang tidur di sana?"
Dari jarak yang tidak terlalu jauh Marvin melihat seseorang yang sedang tertidur membelakanginya. Dengan sigap Marvin mendekatinya.
"Andrian?"
Marvin kebingungan mengapa Andrian tidur di kursi keluarga. Harusnya semalam ia tidur bersama Alisia.
"Mmmmm--"
Andrian membalikkan badannya dan merenggangkan kedua tangannya. Matanya masih begitu berat. Namun, saat ia menguap samar-samar terlihat seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Om Marvin?"
Sontak Andrian bangkit dan membuka matanya begitu sempurna.
"Kamu tidur di sini semalaman?" tanya Marvin tanpa basa-basi.
"Mmm, engga, Om. Kebetulan tadi jam dua pagi Andrian pindah ke sini, di kamar Alisia banyak nyamuk soalnya," jawab Andrian.
Ia tidak ingin Marvin mengetahui hal ini, karena kalau Marvin sampai mengetahui hal ini Alisia pasti akan dimarahi. Cukup dirinya saja yang mengetahuinya.
Marvin mengerutkan kedua alisnya. Tatapannya pada Andrian seperti orang yang sedang menyelidiki sesuatu.
__ADS_1
"Tapi kok kamu gak ganti baju?" tanya Marvin.
Andrian langsung melirik baju yang dikenakannya. Ia lupa semalam untuk mengganti bajunya lebih dulu.
Andrian cengar-cengir. Ia kebingungan harus menjawab seperti apa.
"Tuh kan, Andrian lupa juga buat ganti baju. Maklum. Semalam kebawa grogi," jawab Andrian.
"Mmm, ya udah kalau gitu Andrian mandi dulu ya, Om," lanjut Andrian merengkuhkan badannha dan bergegas pergi.
Ia tidak ingin Marvin lebih mencurigainya karena jawaban-jawabannya yang tidak masuk akal.
Apa Alisia memperlakukan Andrian dengan tidak baik? batin Marvin.
Mengingat betapa kerasnya Alisia menolak untuk dinikahkan, Marvin merasa ada yang tidak beres antara Alisian dan Andrian.
Sedangkan Andrian berjalan menaiki anak tangga, menuju ke kamar Alisia. Dibukanya pintu kamar dan dilihatnya Alisia masih tertidur.
Perlahan Andrian mendekati Alisia dan menatap wajahnya begitu dalam. Kecantikkan Alisia membuat Andrian teringat kembali masa kecilnya. Setelah sekian lama tidak bertemu dengan Alisia, kini ia bisa menatapnya sepuasnya. Apalagi wajah polos Alisia yang sedang tertidur, membuat Andrian semakin mencintainya.
Andrian tersenyum begitu manis, namun ia tidak berani untuk sedikit pun menyentuh Alisia.
"Cantik. Masih sama kayak dulu," ucap Andrian yang masih memandangi wajah Alisia.
Beberapa detik kemudian, Andrian bergegas untuk membersihkan diri di kamar mandi. Meskipun semalam sikap Alisia begitu kecut kepadanya, tetapi dalam hatinya ia akan berusaha agar sikap Alisia kembali seperti Alisia waktu dulu.
Alisia merengganggkan kedua tangannya, pertanda seseorang akan bangun dari tidurnya. Namun, matanya masih memejam dan tangannya meraba-raba ranjangnya.
"Baguslah si bodoh itu gak tidur di kamar gue," ujar Alisia perlahan membangunkan dirinya.
Mungkin hanya saat tertidur Alisia tidak merasa benci kepada Andrian. Beberapa detik setelah terbangun pun kebencian Alisia masih membabi buat kepada Andrian.
"Siapa yang lagi mandi di kamar gue?" tanya Alisia yang masih menguap.
Sejurus kemudian matanya melotot, ia melihat baik-baik bajunya dan menyusuri setiap kancing piama yang dikenakannya.
"Wah, berani-beraninya dia nyentuh gue semalam."
Alisia langsung turun dari ranjangnya. Padahal tidak ada satu pun kancing baju yang terlepas. Akan tetapi mendengar suara percikan air di dalam kamar, Alisia berpikir bahwa Andrian telah menyentuhnya tadi malam.
"Woy, buka woy!" Tanpa basa-basi Alisia menggedor-gedor pintu kamar mandi
(**)
SEMOGA SUKA YA, GUYS.
JANGAN LUPA VOTE SAMA KOMENTARNYA BIAR AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI.
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA. ❤❤❤
__ADS_1