
Di balik keputusannya yang akan menikahkan anak perempuan satu-satunya, Marvin merasa bingung karena ia tidak tahu harus menikahkan Alisia dengan siapa. Tentunya, keinginannya menikahkan Alisia dengan seorang laki-laki yang bisa menjaga dan mendidik Alisia.
"Hallo, Setyo," ucap Marvin di telepon.
"Hallo, Marvin. Sudah lama sekali kita tidak saling berkabar. Ke mana aja kamu?"
Setyo Kusuma. Adalah seorang laki-laki yang usianya tidak jauh beda dari Marvin. Lima belas tahun yang lalu keduanya adalah tetanggaan dan merupakan partner bisnis. Marvin mengajak Setyo untuk menjadi partner bisnisnya hingga sekarang Setyo bisa berdiri sendiri dan tentunya kesuksesannya hampir setara dengan Marvin.
"Saya tidak ke mana-mana. Saya masih tinggal di rumah seberang rumahmu yang dulu," jawab Marvin dengan tertawa kecil.
"Oh, masih di situ? Betah sekali kamu di situ," sambung Setyo.
"Ya mau gimana lagi, emang rumah ini membuat saya sangat betah dan tidak ingin pindah seperti kamu," sindir Marvin.
Setyo tertawa kecil mendengar ucapan temannya, Marvin.
"Bisa aja kamu. Ngomong-ngomong ada apa nih nelepon?" tanya Setyo.
"Mmmm, engga. Ada sesuatu yang harus saya bicarakan kepada kamu. Hari ini saya boleh ke rumahmu?" tanya Marvin.
"Tapi rumah kita lumayan jauh, Marvin."
"Tidak apa-apa. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus saya bicarakan," ungkap Marvin.
"Baiklah kalau begitu saya tunggu kedatanganmu teman," sambung Setyo.
Telepon itu terputus dan Marvin langsung bersiap-siap untuk bergegas ke rumah Setyo. Jarak dari rumah Marvin ke rumah Setyo kurang lebih membutuhkan waktu tiga jam.
"Vino, sekarang saya mau ke rumah teman saya. Ada pembicaraan penting yang harus saya obrolkan," kata Marvin sesaat sebelum memasuki mobil.
"Baik, Tuan mari saya antar," sahut Vino dengan sedikit merengkuhkan badannya.
"Tidak usah. Saya pergi sendiri saja. Kamu sudah siapkan lima belas penjaga buat menjaga rumah ini?" tanya Marvin sedikit mengecilkan volume suaranya.
"Siap sudah, Tuan. Masing-masing sudah berjaga tempatnya."
"Apa pun alasannya jangan sampai Alisia kabur! Kalau kabur, kamu yang akan saya pecat," ancam Marvin kepada Vino.
"Kalau nanti ada apa-apa langsung hubungi saya. Dan ingat, saya tidak suka yang namanya kegagalan," lanjut Marvin.
Sejurus kemudian, ia memasuki mobil dan mengendarainya sendirian.
Marvin adalah sosok ayah yang begitu tegas. Sedari kecil ia dibesarkan dengan ketatnya sebuah aturan dan batasan. Maka tidak heran jika seandainya sekarang ia pun mendidik Alisia dengan begitu tegas. Selain itu juga, Marvin adalah seseorang yang paling benci dengan kegagalan dan paling tidak suka dengan yang namanya kekecewaan. Jika seandainya gagal ataupun mendapati kekecewaan, apa pun akan ia lakukan dan pertaruhkan untuk memperbaiki semuanya.
"Saya tidak bisa membiarkan Alisia terus seperti ini. Kelakuannya sudah tidak bisa lagi dimaafkan. Saya harus secepatnya memperbaikinya," kata Marvin sembari fokus mengendarai mobilnya.
Seperti yang dikatakan oleh Setyo, rumahnya lumayan jauh dari rumah Marvin. Namun, Marvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan 70km/jam. Hingga ia sampai setengah jam lebih cepat daripada yang seharusnya.
Tingnong ... Tingnong ... Tingnong ...
Suara bel rumah itu berbunyi, akan tetapi belum ada seorang pun yang membukanya.
Tanpa menunggu lama, Marvin langsung menelepon Setyo kembali dan membalikkan badannya membelakangi pintu.
"Mau ke siapa, Tuan?" tanya seorang perempuan yang membuka pintu rumah.
Seketika Marvin langsung membalikkan badannya dan menutup telepon yang belum diangkat oleh Setyo.
"Setyo nya ada?" tanya Marvin singkat.
"Ada, Tuan. Silakan masuk dulu," jawab perempuan itu.
__ADS_1
Rumahnya begitu megah dan siapa pun yang melihatnya pasti menginginkan rumah itu. Di dalamnya terdiri dari lima orang pembantu dan dua orang sopir. Kesuksesan yang didapatkan oleh Setyo, tidak pernah lepas dari campur tangan dan bantuan dari Marvin.
Marvin mengambil bagian duduk di ruang sambil sesekali melihat ke setiap jengkal isi dari rumah itu.
"Ah, Marvin," panggil Setyo yang sedang menuruni anak tangga.
Marvin bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Setyo. Sedetik kemudian, keduanya saling berpelukan dan bersalaman. Sudah begitu lama sekali Marvin dan Setyo tidak bertemu.
"Masih terlihat gagah ya kamu, Setyo," ucap Marvin menepuk bahu Setyo.
"Bukannya saya memang selalu terlihat gagah?" tanya Setyo tertawa kecil.
"Mari, mari duduk dulu," lanjut Setyo dengan mengajak Marvin untuk kembali duduk.
Setyo dan Marvin memang sedari dulu sudah sedekat itu. Bahkan, Setyo sudah menganggap Marvin sebagai keluarganya sendiri karena jasa Marvin yang begitu besar untuknya dan keluarganya.
"Bi? Bi Minah?" teriak Setyo memanggil pembantunya.
"Iya, Tuan," sahut seorang pembantu yang datang dari arah dapur.
"Kamu mau dibuatkan apa, Marvin?" tawar Setyo.
"Ah, gak usah repot-repot. Jus mangga saja," jawab Marvin.
"Ya udah, Bi. Buatin jus mangga sama jus alpukat ya!" suruh Setyo pada pembantunya.
Kedatangan Marvin ke rumahnya seperti kedatangan tamu yang begitu istimewa bagi Setyo. Sudah sangat lama keduanya tidak pernah bertemu, mungkin hanya saling berkabar saja via chat sosial media.
"Wah, bahagia sekali saya kedatangan tamu yang luar biasa ini," ujar Setyo.
"Ah, kamu bisa aja," sahut Marvin.
"Ngomong-ngomong ada pembicaraan penting apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Setyo melirik dengan tatapan penuh rasa penasaran.
"Mmmm, bukan. Bukan masalah bisnis," jawab Marvin.
Dalam hati kecilnya ia kebingungan bagaimana menjelaskan niatnya kepada Setyo.
"Jadi, seperti ini, Set. Bagaimana jika anakmu dengan anak saya kita jodohkan?" tanya Marvin hati-hati.
Sontak Setyo mengerutkan kedua alisnya.
"Bukankah kamu punya seorang anak laki-laki?" lanjut Marvin.
"Mmmm, ya punya tapi sekarang dia lagi ada di luar kota. Dia sedang kuliah," ungkap Setyo.
"Ya sudah kamu coba hubungi anakmu untuk pulang secepatnya malam ini," pinta Marvin.
Setyo benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Marvin. Mengapa temannya itu tiba-tiba mengajaknya untuk menjodohkan anak-anaknya. Sungguh, ini terlalu terburu-buru bagi Setyo.
"Tapi apa alasannya? Bukannya anakmu seharusnya sekarang akan masuk kuliah?" selidik Setyo.
Diam-diam Setyo merasa ada yang tidak beres dari Marvin.
Marvin membuang napasnya dan mengambil aba-aba untuk menjelaskan semuanya. Tidak ada pilihan lain selain dari menjelaskan kepada Setyo, agar Setyo menyetujui perjodohan ini.
"Jadi, seperti ini ceritanya--"
Marvin menjelaskan semuanya dengan begitu panjang lebar. Mulai dari pertama kali ia melihat foto Alisia dengan pacarnya sampai Alisia langsung dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Ini memang sangat berat bagi Marvin, akan tetapi menurutnya inilah langkah terbaik yang harus dilakukannya.
"Seperti itu ceritanya. Saya tidak bisa membiarkan Alisia seperti ini. Saya takut Alisia akan semakin terjerumus ke lubang yang semakin kelam," jelas Marvin.
__ADS_1
Setyo menyimaknya begitu serius. Ia mempertimbangkan diri sebagai seorang ayah bagi anaknya dan sebagai seorang teman bagi Marvin. Ia tidak mau memaksa anaknya untuk menikah di usia dini, apalagi sekarang anak laki-lakinya baru menginjak semester satu. Namun, ia pun tidak ingin mengecewakan Marvin yang telah begitu berjasa dalam hidupnya.
"Kamu jangan khawatir akan biaya hidup Andrian. Bahkan, saya akan tanggung semua biaya perkuliahan Andrian sampai lulus," lanjut Marvin berusaha meyakinkan Setyo.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan coba hubungi dulu Andrian. Tapi saya tidak janji untuk menyetujui perjodohan ini. Jika Andrian setuju, maka saya pun akan setuju," sambung Setyo mengeluarkan ponsel di sakunya.
Setelah mendapat persetujuan dari Setyo, Marvin sangat berharap Andrian menyetujui perjodohan ini. Ada alasan yang sangat kuat mengapa Marvin memilih Andrian sebagai calon suami dari putrinya, Alisia.
Andrian Raka Ramatha. Begitulah nama lengkapnya. Ia sering dipanggil dengan nama Andrian atau pun terkadang Rama. Seorang anak satu-satunya dari pasangan Setyo dan Gina. Usianya masih dua puluh tahun, itulah mengapa Setyo agak berat hati menjodohkan anaknya dengan Alisia.
"Hallo, Andrian," sapa Setyo.
"Iya hallo, Pa. Ada apa Pa malam-malam gini nelepon?"
"Malam ini kamu bisa pulang ke rumah gak? Ini sangat penting," jelas Setyo tanpa basa-basi.
"Tapi, Pa besok Andrian ada jadwal kuliah."
Setyo melirik ke arah Marvin dan memikirkan bagaimana caranya agar Andrian menurutinya.
"Pokoknya kamu harus pulang malam ini juga. Ini penting. Biar nanti papa yang telepon dan minta izin ke dosen kamu," jelas Setyo.
"Tapi ada apa, Pa? Kok mendadak gini?" tanya Andrian keheranan.
"Kamu masih ingat dulu teman kecilmu gak?" tanya Setyo.
Seketika ia teringat masa lalu bahwa dulu saat dirinya masih tetanggaan sama Marvin, Alisia dan Andrian menjadi teman kecil yang begitu dekat.
"Iya masih inget lah, Pa. Alisia kan namanya?" tanya Andrian.
"Kok tiba-tiba Papa ngomongin dia?" lanjut Andrian dengan tertawa kecil.
"Ada sesuatu yang mau papa omongin tentang kamu dan Alisia. Makanya kamu malam ini juga harus pulang ya!"
"Emang ada apa dulu, Pa?" Andrian terkekeh.
"Papa akan menjodohkan kamu dengan Alisia," ungkap Setyo hati-hati.
Setyo tidak punya harapan besar bahwa Andrian bakal menyetujui perjodohan ini. Berkuliah di salah satu universitas di Yogyakarta adalah impian Andrian sejak kecil. Apalagi sekarang Andrian baru memasuki semester satu, pasti ia akan menolak mentah-mentah perjodohan ini.
"Hallo, Andrian," panggil Setyo.
Sejenak Andrian terdiam. Setyo sudah mengira bahwa Andrian tidak akan menyetujui perjodohan ini. Ia pun sebagai seorang ayah tidak bisa memaksa Andrian untuk menyetujui perjodohan ini. Hanya saja mungkin ia akan mengecewakan Marvin yang telah membantunya sampai pada tahap kesuksesannya dalam dunia bisnis.
"Kalau kamu tidak setuju, tidak apa-apa," lanjut Setyo.
Setyo dan Marvin melirik satu sama lain. Sudah terlihat raut wajah Marvin yang begitu kecewa kepadanya. Namun tidak ada pilihan lain untuknya.
"Ya udah kalau gitu papa tutup ya teleponnya--"
Setyo menggelengkan kepalanya pada Marvin.
"Eh eh, hallo, Pa jangan dulu dimatiin," cegah Andrian.
Setelah beberapa menit terdengar kembali suara Andrian.
"Baiklah malam ini Andrian akan pulang."
(*)
SEMOGA SUKA YA, GUYS. JANGAN LUPA VOTE SAMA KOMENTARNYA YA. BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT LAGI.
__ADS_1
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA. ❤❤❤