
Mendengar jawaban dari Andrian yang menyetujui perjodohan itu, Setyo dan Marvin langsung melemparkan senyum satu sama lain. Bagi Setyo menikahkan Marvin di usia yang terlalu muda ini tidak menjadi masalah lagi, karena Andrian pun menyetujuinya.
Setyo mengambil bagian duduk di sebelah Marvin sesaat setelah telepon itu terputus.
"Malam ini Andrian akan pulang dan dia menyetujui perjodohan ini," ucap Setyo penuh suka cita.
Dengan persetujuan dari Andrian secara tidak langsung Setyo tidak membuat Marvin kecewa karena permintaannya.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas semua kerja sama nya. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikanmu yang sangat besar ini," jelas Marvin. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia.
"Besok pagi saya beserta keluarga akan datang ke sana," sambung Setyo.
Sejurus kemudian Marvin bergegas pulang untuk menyiapkan semuanya. Alasan Marvin menjodohkan Alisia dengan putranya Setyo karena baginya Andrian dan Alisia adalah teman masa kecil yang begitu dekat. Melihat tingkah Andrian yang sedari kecil selalu menjaga Alisia, ia percaya bahwa sekarang pun Andrian mampu menjaga Alisia.
Memikirkan Alisia membuat Marvin tiba-tiba teringat masa kecilnya Alisia.
"Pa? Papa tahu gak Kak Rama itu baik banget deh," ucap Alisia sewaktu kecil ketika mengadu pada Marvin.
Rama adalah panggilan masa kecil Andrian. Alisia biasa memanggilnya Rama, karena baginya Rama adalah nama yang sangat cocok untuk Andrian.
"Baik gimana, Sayang?" tanya Marvin mengelus rambut Alisia.
"Kemarin waktu Alisia main di rumahnya, Alisia dikasih ice cream, diajakin main, terus pas Alisia jatuh, Kak Rama bantuin ngobatin luka Alisia," ungkap Alisia menunjukkan lututnya yang sudah di perban.
"Astaga, kamu kok bisa jatuh, Sayang? Masih sakit gak?" Marvin langsung menggendong Alisia.
"Engga sakit lagi, Pa. Soalnya udah diobatin sama Kak Rama," jawab Alisia polos.
"Pa? Nanti kalau Alisia udah besar kayak Mama, Alisia pengen banget punya pasangan yang baik kayak Kak Rama. Alisia pasti bahagia setiap hari. Diajakin main setiap hari, dijagain, diobatin kalau Alisia terluka, pokoknya masih banyak deh," jelas Alisia.
Marvin hanya tersenyum mendengar ucapan putrinya yang masih kecil itu.
"Iya sayang iya. Kamu ini masih kecil udah ngomongin pasangan aja," sambung Marvin tertawa kecil.
Alisia dan Andrian adalah teman kecil yang begitu dekat. Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama. Selain karena rumahnya yang saling berseberangan, hubungan Marvin dan Setyo pun sebagai orang tua dari keduanya begitu akrab.
"Alisia pasti senang kalau ketemu sama Andrian lagi," kata Marvin sembari membayangkan masa kecil Alisia dan Andrian yang begitu hangat.
"Apalagi kalau sampai tahu bahwa dia akan dinikahkan dengan Andrian."
Marvin begitu lega dan bahagia. Sebentar lagi Alisia akan dijaga oleh seseorang yang dianggapnya sangat tepat.
Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB. Ia mempercepat laju mobilnya agar secepatnya sampai dan mengabarkan kabar baik ini pada Alisia.
"Hallo, Vino. Bagaimana Alisia aman di situ?"
Marvin hampir saja lupa untuk menghubungi sopirnya yang dikasih amanat untuk menjaga Alisia.
"Siap aman, Tuan. Tapi sedari tadi Non Alis terus menggedor-gedor pintu kamarnya."
"Oke bagus. Jangan dibuka sebelum saya datang. Sebentar lagi saya akan sampai."
__ADS_1
Ditutupnya telepon itu dan Marvin kembali fokus mengendarai mobilnya.
Sudah berlangsung hampir dua jam setengah Marvin menghabiskan waktu di jalan. Kurang lebih sekitar lima menit ia akan sampai ke rumahnya.
Sebagai seorang ayah yang seorang diri merawat Alisia, Marvin akan berusaha memberikan yang terbaik untuk putri semata wayangnya itu. Segala usaha akan ia lakukan agar Alisia bahagia. Dan menjodohkan Alisia dengan teman kecilnya adalah jalan terbaik yang diambil oleh Marvin agar Alisia tidak terjerumus ke dalam jurang yang lebih suram.
"Buka pintunya! Woy, gue mau keluar!" teriak Alisia sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.
Baru saja Marvin menginjakkan kakinya ke dalam rumah, teriakan Alisia sudah terdengar begitu nyaring di telinganya.
"Di mana Vino?" tanya Marvin pada salah satu penjaga rumah yang berjaga di bagian pintu depan.
"Di depan pintu kamar Non Alis, Tuan," jawabnya sembari merengkuhkan kepalanya sebagai tanda hormat.
Tanpa basa-basi Marvin langsung bergegas menuju kamar Alisia. Ia berharap Alisia akan bahagia juga saat mendengar kabar baik yang ia bawa.
"Woy, lo gak punya telinga ya? Buka pintunya!" Alisia masih menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Buka pintunya!" suruh Marvin pada Vino.
"Papa?" ucap Alisia dengan raut wajah yang begitu pahit.
"Oh, Papa sengaja ngunci Alisia di kamar? Biar apa, Pa?" ketus Alisia.
"Papa ada kabar baik buat kamu, Sayang."
Marvin mencoba menenangkan Alisia dan mengajaknya duduk di pinggir ranjang Alisia. Sementara Alisia tidak meresponnya. Baginya, ini adalah sesuatu yang sangat keterlaluan.
"Besok pagi kamu akan menikah--"
"Tapi kamu dengerin dulu. Papa belum beres ngomong," sahut Marvin. Sekuat mungkin ia akan berusaha menjelaskannya baik-baik pada Alisia.
"Pa? Alisia itu mau kuliah. Bukan mau nikah. Papa pikir kuliah sambil nikah itu gampang? Engga Pa!" jelas Alisia terkekeh.
"Tapi Alis--"
"Udah deh, Pa. Sampai kapan pun Alis gak bakalan setuju dinikahin kayak gini. Apalagi sama cowok yang sama sekali Alis gak kenal."
Marvin berusaha meyakinkan Alisia tetapi penolakan Alisia jauh lebih kuat.
"Apa hanya karena Papa melihat foto Alis sama cowok itu Papa jadi nikahin Alis? Plis deh, Pa. Apa salahnya? Itu cuma sekadar ciuman, pelukan, gak lebih dari itu. Dan itu adalah hal yang wajar," ungkap Alisia menjelaskan.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi sebelah kanan Alisia. Bagi seorang ayah, melihat tingkah anak perempuannya itu sudah sangat keterlaluan. Alisia bahkan tidak membiarkan Marvin untuk menjelaskan lebih dulu dengan siapa ia akan dinikahkan.
Napasnya begitu memburu, matanya melotot sempurna. Alisia tidak menyangka Marvin bakalan setega itu padanya.
"Kamu sudah keterlaluan, Alisia. Seumur-umur papa gak pernah mengajarkan hal ini sama kamu. Kamu bahkan tidak berlaku sopan sama papa," sergah Marvin bangkit dari duduknya.
"Ini semua Alisia lakukan hanya karena Alisia gak mau dinikahin, Pa. Bahkan, Papa sama sekali gak ngertiin Alisia sebagai orang tua. Papa gak memberikan pilihan pada Alisia," tukas Alisia membela diri.
__ADS_1
Marvin menggelengkan kepalanya, "Kamu tidak bisa dibiarkan seperti ini. Papa akan menikahkan kamu besok."
"Kunci kamarnya!" suruh Marvin pada Vino.
"Tapi, Pa. Pa bukan pintunya!"
Sejurus kemudian, Marvin bergegas keluar kamar. Ia tidak mau emosinya semakin membesar. Menampar Alisia adalah kali pertama yang dilakukan Marvin seumur hidupnya. Ia sama sekali tidak pernah menginginkan hal ini, namun Alisia tidak memberinya pilihan sehingga dengan terpaksa ia menamparnya.
"Pergaulanmu sudah terlalu kejauhan, Alis. Papa sudah gagal mendidikmu sebagai orang tua. Untuk yang kali ini papa akan memperbaiki semuanya," ucap Marvin sambil merebahkan diri di kursi keluarga.
Sejenak ia berusaha menenangkan emosinya dulu agar ia bisa berpikir lebih jernih. Ditariknya napasnya dalam-dalam dan untuk sekejap matanya dipejamkan.
Kelakuan Alisia semakin membuat Marvin yakin bahwa ia harus secepatnya menikahkan Alisia dengan Andrian.
"Surti? Bi Surti?" teriak Marvin memanggil pembantu rumahnya.
Dari arah kanan dapur seorang perempuan yang bekerja sebagai pembantu di rumah itu berlari secepatnya mendekati Marvin.
"Iya ada apa, Tuan?" sahut Surti.
"Kerahkan pembantu yang lain untuk secepatnya membersihkan rumah ini sebersih mungkin dan hias rumah ini dengan hiasan yang mewah!" suruh Marvin.
"Emangnya bakalan ada acara apa, Tuan?" tanya Surti kebingungan.
"Udah, kamu gak usah banyak tanya. Besok saya akan menikahkan Alisia," jawab Marvin singkat.
"Menikahkan Non Alisia?" kata Surti mengulang pembicaraan Marvin sambil keheranan.
Marvin melirik tajam ke arah Surti.
"Kamu mau saya pecat?"
"Tidak, Tuan. Siap laksanakan sekarang." Surti langsung pergi ke arah dapur sesaat setelah mendengar pertanyaan Marvin yang begitu menyeramkan.
"Sial! Gue gak suka hidup yang kayak gini. Gue gak mau dinikahin," umpat Alisia.
Tidak ada cara lain untuk Alisia pergi dari rumah itu. Sedari tadi ia terus-menerus menghubungi kekasihnya, Edgar. Namun, sedari tadi pula Edgar tidak bisa dihubungi.
"Gue harus apa? Bahkan, gue gak bisa kabur dari rumah ini."
Alisia terus meracau ke mana-mana. Ia hanya bisa meluapkan kekesalannya sendirian. Dilemparkannya gelas yang berisi susu di meja belajarnya. Pikirannya begitu semrawut. Pun dengan selimut yang tertata rapi di atas kasur ditariknya ke bawah sebagai tanda kekesalannya.
"Gue gak mau dinikahin, Tuhan. Gue gak mau kayak gini. Gue gak mau," rengek Alisia.
Perlahan air matanya menyeruak membasahi wajahnya. Kini ia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Bahkan, kekasihnya pun tidak membantunya sama sekali.
Hampir genap setengah jam ia habiskan waktunya dengan menangis, hingga pada akhirnya tanpa dasar dirinya tertidur.
(*)
SEMOGA SUKA YA, GUYS. ❤
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE DAN TINGGALKAN KOMENTAR. BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT LAGI.
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA. ❤❤❤